Sabtu, 20 Juli 2013

ORANG TUA

          Mendengar kata orang tua, pasti kita akan melihat sesosok manusia yang tua renta, rambut sudah beruban,jalan pun sudah sempoyongan, tapi dalam tulusian ini di khususkan untuk bapak dan ibu (saya biasa memanggil mereka  mamah & bapa). Kehidupan di dunia ini tak terlepas dari hukum alam, salah satu hukum alam adalah hukum kausalitas (sebab-akibat), dimana ada akibat pasti disana ada sebab, nah orang tua adalah salah satu sebab kita terlahir di dunia ini. mereka lah yang bisa membuat kita/saya bisa seperti ini, karena tanpa orang tua, mungkin kita/saya tidak akan bisa seperti sekaranga ini. Mereka bekerja tanpa lelah dan tanpa jasa sepeserpun, bekerja dengan sepenuh hati dan cinta kasih, karena orang tua adalah salah satu wakil Tuhan di muka bumi, bahkan seorang Nabi/Rasul pun tidak akan lahir tanpa adanya manusia yang kita sebut orang tua.
          Memang orang tua saya bukanlah orang nomer satu di Indonesia, bukan juga seorang priyai, bukan anggota badan legislatif,yudikatif, ataupan eksekutif, bukan juga seorang saintis, bahkan bukan pula seorang nabi atau rasul, meskipun orang tua saya bukan seorang seperti di atas tapi saya sangat bangga mempunyai orang tua seperti mereka. sedikit cerita ketika masa kecil saya, dulu ketika disuruh untuk mengisi data orang tua, saya selalu minder, mengapa ? ya, ketika melihat biodata orang tua teman-teman saya, mereka menulis nama orang tuanya ada yang dia awali dengan Drs., S.Ag, BA, M.BA, dan gelar-gelar yang lain, biasanya juga dalam tulisan biodata orang tua suka ada kolom jenjang pendidikan orang tua, teman-teman saya menulis dengan bangga, lulusan sarjana, SMA.Hal  iniliah yang membuat saya minder karena orang tua saya hanyalah lulusan SD dan SMP. Namun dengan berkembangnya kedewasaan, saya tidak merasa minder lagi, karena saya tahu orang tua saya, bagaimanapun mereka orang hebat, ketika orang lain mempunyai anak hanya 3,4 bahkan ada yang 1, karena ikut program pemerintah (KB), tapi orang tua saya memilki anak 11, jadi saya adalah seorang yang mempunyai 10 saudara. sekali lagi saya bangga dengan hal.
          Dan di tahun 2012, meskipun orang tua saya bukan seorang lulusan sarjana, tetapi dia bisa meluluskan anak pertamanya (kakak saya) menjadi seorang sarjana komunikasi di UIN SGD Bandung,anak keduanya sedang menyelesaikan kuliahnya di UPI jurusan PGSD, anak ketiganya (saya) sedang kuliah di UIN SDG Bandung, jurusasn Hukum Tata Negara Islam, dan adik-adik saya ada yang SMA,SMP, SD dan PAUD. kebanggaanku terhadap orang tua menjadi-jadi, di kala orang lain tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi padahal anakanya cuman 2,3atau 1, tetapi orang saya bisa meskipun soerang lulusan SD dan anaknya 11 mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya.
          Mungkin itulah sepenggal kebanggaanku kepada orang tua, mungkin kawan-kawan bisa mengambil ruh positif dari kehidupan orang tua saya yang hanya lululsan SD. Pesan saya, banggalah anda dengan orang tua bagaimanapun kondisi fisik,mental, jiwa, harta mereka, karena mereka jembatan kita antara dunia ruh dan dunia materi.saya tutup tulisan ini dengan kata mutiara sunda "Indung anu ngandung Bapa anu ngayuga"

MENGGAPAI PELAJARAN DI SETIAP TEMPAT

      Di dalam kehidupan sehari-hari  pasti ada yang namanya manfaat baik itu disadari ataupun tidak. biasanya para orang tua suka memberi wejangan kepada para putranya supaya bisa mendapat hal yang baik dari kehidupannya. Pada umumnya orang-orang berkata dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan kata pelajaran, kata pelajaran sudah tidak asing lagi bagi kita semua, dan saya tidak perlu membahas terlalu panjang tentang makna pelajaran, yang terpenting adalah dalam kehiduan kita bisa mengambil ruh positif untuk bisa berlanjut di kehidupan mendatang.
        Memang kehidupan tidak terlepas dari ruang dan waktu, karena kita masih berada di alam materi. jika seorang yang bijak akan memanfaatkan kehidupan di alam materi ini. semisal Socrates dia adalah seorang filsuf Yunani yang berhasil memetik pelajaran dalam hidup dia,(meskipun berakhir dengan hukum mati), dan dia tidak hanya berhaasil bagi dirinya sendiri, bahkan dia bisa memberi pelajaran kepada orang lain. manusia yang hidup di zaman pra-modern pun mereka bisa mengambil pelajaran yang sangat penting dalam kehidupannya terlebih bisa memberi juga kepada orang lain.
        Mari kita masuk kedalam paradigma manusai era modern, apakah kita bisa mengambil pelajaran dalam tiap hembusan nafas kita ? apakah kita bisa memberi kontribusi pelajaran hidup kepada orang lain? jawabannya terletak pada diri kita masing-masing, mungkin disini saya akan seditkit memamparkan bahwa pelajaran hiudp tidak ada sekat dan batasan, pelajaran tidak hanya bisa di ambil ketika kita disekolah, di kampus, di sekolah-sekolah agama, atau di seminar-seminar. yang pasti orang bijak bisa mengambil pelajaran di manapun dan kapanpun dia berada.
          Menurut pangalaman saya, yang namanya Rumah sakit, adalah tempat yang sangat "tidak disukai", itu sangat jelas sekali, siapa sih orang yang ingin di rawat di rumah sakit, jangankan berbulan-bulan, satu hari saja orang akan merasa bosan dan jenuh dengan kehidupan di rumah sakit, kecuali para perawat,dokter dan orang-orang yang mencari nafkah di rumah sakit. Tetapi apakah kita bisa mengambil pelajaran yang positif di rumah sakit ?, jawabannya tergantung. Manusia adalah makhluk yang sarat dengan keberfikiran, dan semestinya dia bisa mernungkan kejadian-kejadian yang dia alami, terlepas itu baik ataupun buruk. seperti uraian saya di atas orang bijak bisa mengambil ruh positif dimanapun dia berada.
          Sedikit berbagi pengalaman di rumah sakit (saya tidak merasa jadi orang bijak), saya mendapatkan ruh positif di Rumah sakit,(RSP, Dr. H. A Rotunsulu), ketika kakak perempuna saya terjangkit virus tubercolosis, dia di rawat di sana sampai tiga kali, dan yang paling lama ketika pertama kali di rawat, lamanya dua bulan. Apa ruh positif yang bisa saya ambil ?, pada saat kakak saya terjangkit penyakit paru-paru, saya merasa kakak saya adalah yang paling parah terkena paru-paru, namun apa yang saya rasa itu salah besar, di RSP Rotinsulu, banyak orang yang lebih parah dari kakak saya, bahkan ada yang di kasih selang di bagian rusuk, karena ada cairan di paru-paru, ada juga yang terdapat benjolan di paru-parunya (kanker) sampai dia mengalami kerontokan rambut, akibat kemoteraphy, dan banyak lagi yang lebih parah sampai menghembuskan nafas terkahirnya. lalu ketika melihat orang-orang yang menjaga yang sakitnya, ada di antara mereka anak, kakak, adik, suami,istri, bapak, ibu dari orang yang sakit, memang mereka bermacam-macam. Saya sangat salut kepada mereka, terlebih kakak pertama saya, yang sangat telaten mengurusi kakak perempuan saya. apa pelajaran yang bisa kita ambil ? dari uraaian pertama, janganlah menggap bahwa kita yang paling di kasih cobaan terberat oleh Tuhan, karena masih banyak orang yang lebih di kasih cobaan yang lebih berat, dalam al-qur'an di sebutkan "Tuhan tidak akan memberi cobaan kecuali dengan kapasitas manusianya". dan yang kedua, saya melihat kestian sebagai bukti kesetiakawanan sosial orang timur dunia (Indonesia), ada yang membuktikan kesetiannya suami kepada seorang istri meskipum mengalami penyakit yang begitu berat, berbaktinya seorang anak kepada orang tuanya sehingga begitu telaten mengurusi orang tua, cintak kasih seroang bapak,ibu dan kakak kepada seorang adik.
           Jadi, bahwa di dalam kehidupan kita sangat banyak sekali ruh positif yang bisa kita ambil, tidak hanya di lingkungan yang baik dan senangi bahkan di lingkungan yang jelek sekalipun dan tidak di senangi kita dapat mengambil ruh positif, saya tutup dengan ayat suci al-quran " Innaa ma'al 'usry yusro : sesungguhnya di balik keburukan selalu ada kemudan dan laa takhof wa laa tahzan inna Allah ma'ana : jangan sedih dan jangan takut sesungguhnya Tuhan bersama kita"


Selasa, 28 Mei 2013

Maqashid Asy-syari’ah dan Pancasila

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Memang Indonesia bukanlah Negara yang mempunyai ideologi dari salah satu agama terutama agama islam, meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam, tetapi Indonesia berideologikan Pancasila dimana di dalamnya tertuang nilai-nilai universal seluruh agama ataupun kebbudayaan yang ada di Indonesia. Dari dulupun ada beberapa oraganisasi-organisasi yang mau merubah ideology Indonesia dengan ideology agama ataupun dengan ideology yang lain,  mereka bisa dikatakan golongan separtis, baik dari ekstrim kanan atupun dari ekstrem kiri, namun sampai sekarang kita bisa bersyukur bahwa pergerekan mereka bisa di hentikan melalu kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.
Yang jadi permasalahan, terutama bagi umat islam yang ketat dalam penerapan Syariatnya, mereka hidup dalama keadaan di Negara yang notabenenya tidak berlandaskan secara utuh kepada syariat islam. Bagaimana umat islam bisa menyikapi hali itu semua?, apakah harus dengan pergerakan yang militan? Atau harus lapang dada menerima semua keadaan?. Disini saya mencoba sedikit memaparkan sikap saya dalam realita kehidupan bernegara yang tidak berideologikan islam.
Akhir-akhir ini di Indonesia, ada beberpa oraganisasi yang mirip “separatis”, namun mereka enggan disebut separatis, jadi saya menyebutnya mirip seperatis, diamana mereka ingin menegakan Syariat Islam, yang skalanya besar sekali, bukan lagi menegakkan Syariat Islam dalam Negara, tapi skalanya adalah menegakkan Syariat Islam di Dunai, dengan kepemimpinan Islam. Menurut paradigma saya, bahwa pergerakan menegakkan syariat Islam pada saat ini khususnya di Indonesia, sarat dengan dilematis, dari satu sisi umat islam di Indonesia akan merasakan kenikmatan dalam hal menjalankan syariat, dan di sisi lain rakyat Indonesia tidak seluruhnya umat Islam, bahkan beragam suku,budaya,dan agama,yang apabila ditegakkan ideology islam dalam ideology Indonesia, sarat denga konflik social, dimana hal itu harus dihindarkan karena islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Mungkin itu gambaran bagaimana realita umat islam di Negara non-islam.
Sebelum kita membahas maqashid Asy-syariah,kita artikan dulu  kata syariah itu, menurut etimologis, syariah adalah jalan yang dilalui air untuk diminum atau tangga tempat naik yang bertingkat tingkat ada juga yang mengartikan syariah adalah jalan yang lurus.jadi menurut saya, bahwa Syariat Islam jika adalah Jalan yang lurus secara Islam. Jika dilihat berarti nilia-nilai islam mempunyai bentuk yang universal, dimana ada yang namanya Maqashid Asy-syariah,atua Tujuan-tujuan Syariah, yaitu, Menjaga Agama, menjaga akal, menjaga jiwa, menjaga keturunan, dan menjaga harta kekayaan.

Jika dilahat secara umum tujuan syari’ah, mempnyai kesinergian dengan idelogi Pancasilan, dimana tujuan syariah pertama adalah menjaga agama, dan dalam pancasila, sila pertamannya adalah Ketuhanan yang Maha Esa, berarti diasana tidak ada unsur-unsur yang bertentangan dengan tujuan syariah yaitu menjaga agama, karena didalam Islam sendri secara teologis menganut ke-Esaan Tuhan, (Allah adalah Ahad ), kita lihat sila  ke-2 : kemanusiaan yang adil dan beradab, dalam sila tersebut sudah sangat jelas sekali ada penekanan untuk hal-hal yang manusiawi dan berlandaskan kepada keadilan dan keberadaban, ini ada kaitannya dengan tujuan syariah tentang menjaga jiwa, keturunan, harta dan bahkan akal. Dan dalam sila ke-3 yaitu Persatuan Indonesia, hanya dengan bersatunya bangsa kita,dengan tidak adanya konflik-konfilk yang keras dalam bidang  social, politik,ekonomi,budaya, bahkan agama, juga dengan adanya kebersatuan masyarkat Indonesia terutam umat islam, bisa menjalankan aturan-aturan agama secara tanang. Mungkin itulah analisa saya akan kesinergian anatara Maqasid Asy-syariah dan Pancasila, disana tidak ada kontradiktif antara nilia-nilai universal agama Islam dengan Pancasila.
Jadi kalau boleh saya simpulkan bahwa sikap kita (teutama muslim) terhadapa Pancasila jangan terlalu menghakimi sendiri, dan jangan selalu mengukur kebenaran dengan subjektivitas personal atau agama, tapi ukurlah dengan nilai-nilai universalnya, bagi kita orang Indonesia nilai-nilai universal itu terkandung dalam Pancasila.


Kamis, 02 Mei 2013

DEMOKRASI, TREND POLA PEMERINTAHAN DUNIA


Oleh : Muhammad Ikmal Assidiqi

Pembahasan Demokrasi, memang sudah tidak asing lagi di telinga kita, sejak masa SMA kata demokrasi sudah mulai di kaji terutama dalammata pelajaran Pendidkan Kewarganegaraan, entah apa penyebabnya, hamper kebanyakan Negara di Dunia menggunakan sistem demokrasi, bahkan sekitar abad 18-19 di Negara-negara yang dulunya tidak manganut demokrasi, sudah menggunkan demokrasi, meskipun dalam skala kecil.
Kata Demokrasi sendiri berasal dari kata Yunani yaitu demos berarti rakyat dan cratien/cratos berarti kedaulatan, jadi saya ambil pengertian secara bebas, bahwa Demokrasi adalah pemerintahan yang berkedaulatan Rakyat. Memang jika dilihat sejarahnya bahwa demokrasi di mulai pada abad sebelum masehi, salah seorang filsuf yaitu Aristoteles mengemukakan tentang pandangannya terhadap tatatnan Negara di Yunani. Dalam perkembangannya demokrasi banyak di kaji oleh ilmuwan-ilmuwan terutam di Barat, mengemukakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Di Indonesia pun para founding father kita, ketika awal-awal kemerdekaan, mereka menggunakan demokrasa sebagai pola awal tata Negara di Indonesia, misalkan demokrasi parlementer,demokrasi terpimpin, dsb.
Demokrasi sendiri banyak sekali menimbulkan akibat-akibat, terlepas itu berakibat baik ataupun buruk, karena baik buruk sendiri sangat rentan dengan ke relatifan, ada masanya demokrasi berakibat baik terhadap tatanan Negara, dan ada masanya berakibat buruk juga, namun yang terpenting, yang sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia, dari awal perjuangan kemerdekaan sampai paska kemedekaan sangat kental sekali dengan unsur-unsur demokrasi meskipun itu berskala kecil. Salah satu bukti Indonesia sangat kental dengan unsur-unsur demokrasi yaitu di jalankannya trias politica yang merupakan sub sistem dari demokrasi, yaitu pertama, Eksekutif,Legislatif dan Yudikatif. Eksekutif sendiri adalah wilayahnya kepresidanan khususnya di Indonesia di jadikan sebagai kepala Negara, Legislatif adalah wilayahnya anggota dewan, di Indonesia disebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Yudikatif, adalah wilayahnya pemantau kinerja (khususunya Eksekutif), di Indonesia disebtu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), jika dilahat ketiaga badan tersebut satu sama lain sangat bergantung, diamana satu badan tidak ada maka kinerja yang lainnya akan terhambat, bisa disebut dengan simbiosis mutualisme.
Selain di Indonesiapun, banyak Negara yang menggunakan nilai-nilai demokrasi,misalkan Negara Inggri (U.K) yang terkenal dengan sisitem monarki parlementer, dimana satu sisi inggris menggunakan otoritas tertingginya oleh raja/ratu untuk wilayah negara Inggris, dan disisi lain ada kedudukan parlemen yang otoritasnya untuk hubungan-hubunagn internasional, yang parlemennya di pilih secara demokratis dengan di adakannya pemilu, yang di menangkan oleh Partai Konservatif, berarti Negara sekelas Inggris yang terkenal majunya menggunak unsur-unsur demokrasi.
Pada masa Globalsasi ini, Negara-negara di dunia akan merasa “modern” jika menggunaka unsur-unsur demokrasi, apa lagi di Negara-negara dunia ketiga (berkembang) yang merasa “wajib” menggunakn pola demokrasi. Memanga pada saat ini sudah sepantasnya demokrasi menjadi tren pola pemertintahan di Dunia,dengan alasannya karean dunia maju pun bisa seperti itu karena salah satunya dengan demokrasi. Namun nilai kerelatifan demokrasi tetap melekat. Jadi boleh saya simpulkan setelah melihat fenomena-fenomena yang ada bahwa pada saat ini demokrasi merupakan pola efektif dan efisien. Entah beberapa abad atau bebrapa tahun yang akan datang, masihka demokrasi masih tetap dengan kredibilitasnya ? , hanya berputarnya waktu yang akan bisa menjawab semua rahasianya.

Rabu, 01 Mei 2013

POLITIK, BENARKAH SEBIADAB ITU ?

Oleh : Muhammad Ikmal Assidiqi


Politik, ketika kita kita mendengar hal itu, sudah pasti kebanyakan dari kita akan menganggap bahwa politik itu adalah barang yang paling menjijikan, sampai-sampai kita tidak mau bersentuhan dengan sesuatau yang namanya politik, mungkin saja karena kebanyakan manusia terutama di Indonesia memandang politik tidak secara substabsial tetapi melihat kepada para praktisi politik, yang kebanyakan di Indonesi berperilaku sangat "buruuk", bisa terlihat ketika dia akan jadi anggota pemerintahan para praktisi politik memberi harapan-harapan besar kepada rakyat, padahal ketika sudah jadi anggota birokrat, mereka tidak menepati janji-janji besar mereka, mungkin itu yang menjadi salah satu sebab pandangan "buruk" kepada politik.

Mari kita sejenak refleksikan jiwa kita kepada kebenaran, secara arti politik adalah usaha mencapai kehidupan yang baik, dalam sejarahnya sejak sebelum masehi banyak para filsuf-filsuf sudah memikirkan negara, dimana mengenai negara harus menggunakan cara-cara, salah satu yang di usahkannya adalah dengan menggunakan politik, seperti Plato dan Aristoteles yang di kemudian hari terkenal dengan "jargon" en dam onia atau  the good life, sedangkan di nusantara sendiri sudah mempunyai pandangan tentang negara yang ada sangkut pautnya dengan politik, dengan adanya opini Negarakertagama yang ditulis mada masa Majapahit sekitat abad 13 dan 15 Masehdi dan Babad Tanah Jawi, namun perlu kita sayangkan tradisi ketatnegaraan Nusantara tergerus dengan datangnya orang-orang dari luar Nusantra yang membawa pemahaman-pemahaman mereka yang akhirnya karya-karya anak Nusantara tidak terlalu di kaji. Berarti salah satu tunggangan Negara atau lembaga yaitu salah satunya dengan politik, yaitu dengan usaha dan cara yang baik,untuk menjadi bangsa yang baik. Secara substansi politik adalah barang yang baik yang akan mengantarkan dan menjadikan suatu bangsa,negara atau lembaga, yang baik pula.

Permasalahannya, mengapa kebanyakan para praktisi politik berperilku tidak baik ? mungkin saja ada beberapa sebab, pertama, ada beberapa pemikir yang memahami bahwa politik adalah cara mencapai kekuasaan, yang berakibat kebanyakan para praktisi politik meyakini hal itu dan mempraktekannya pada keanyataan, yang boleh jadi cara mencapai kekuasaannya dengan cara yang tidak baik. kedua, insting manusia, salah satunya haus dengan kepuasan, ketika seseorang sudah mencapai kekuasaan yang segala sesuatunya dapat di dapatka, karena salah satu insting manusia seperti itu, sehingga cara yang buruk pun dilakukan untuk mencapai sesuatu yang dia inginkan. ketiga,terutama di Indonesia, pada akhir-akhir ini para praktisi politik, tidak proporsional dengan cara mencalonkan orang-orang yang tidak berkompeten dalam hal tata negara, untuk jadi anggota birokrat. ketiga, para sarjana atau orang yang berkompeten enggan turun jadi praktisi politik, mungkin dengan beberpa sebab, enggan memasuki dunia praktisi politik. dan banyak lagi sebab-sebab yang tidak mungkin saya tulis satu persatu.

Jadi, ketika kita mendegar kata politik jangan samakan substansi politik dengan para praktisi politik yang tidak baik, kaji lah politik itu dengan lapang dada dan penuh kesadaran intelektual supaya kelak negara kita dipenuhi oleh para birokrat yang berkompeten dalam bidangnya, karena para filsuf pun yang sangat berpengaruhh dalam kajian intelektual mereka semua "berpolitik".


Sabtu, 27 April 2013

KENAIKAN BBM = KENAIKAN PERMASALAHAN DI INDONESIA


Oleh : Muhammad Ikmal Assidiqi
            Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu sumber kehidupan manusia, pada era globalisasi ini,kedudukan BBM sebagai sumber kebutuhan hidup manusai, hampir menyamai kedudukan air, dimana semua orang sangat membutuhkan yang namanya BBM, bisa untuk transportasi, bisnis,pembangkit tenaga, dan banyak lagi manfaat lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Seperti yang kita ketahui, pada umunya tiap tahun ataupun tiap periode,BBM terutama di Indonesia, harga BBM terus melonjak. Ya, Entah apa penyebabnya ? yang pasti akibatnya sangat fatal di berbgai sector di Indonesia. Menurut isu-isu yang berkembang di media-media Indonesia, baik itu media elektronik, Media Cetak ataupun media-media massa lainnya, bahwa BBM pada akhir bulan April ini atau awal bulan Mei akan terjadi kenaikan BBM di Indonesia, dengan melakukan beberpa sistem pembelian di tiap-tipa pom bensin, ada BBM yang khusus untuk kendaraan yang bersubsidi dan ada juga BBM untuk kendaraan yang non-subsidi.
            JIka dilihat dari berbagai sudut pandang, kenaikan BBM ada sisi postif dan ada sisi negatifnya. Jika dari segi ekonomi, kenaikan BBM ada baiknya bagi pengeluaran belanja Negara, dimana pemerintah tidak perlu morogoh kocek yang dalam untuk mensubsidi BBM bagi masyarakat Indonesia, namun sisi buruknya akan terjadi kenaikan harga di berbgai sector, baik pertanian, industry, perdagangan, dan sebagainya, yang berakibat buruk terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Apabila hal buruknya terjadi, jika dilihat dari kacamata social, dalam artian mengalami kemunduran kualitas hidup masyarkat, disana rentan sekali terjadi konflik, sebagai contoh, pencurian,mutilasi,human traficing,dan pembunuhan semakin meningkat di Indonesia, padahal kasusu-kasus tersebut belum terjadi kenaikan BBM, apalagi bila terjadi kenaikan BBM, entah apa yang akan terjadi, hanya waktulah yang akan menjawab. Dan kenaikan BBM juga akan merembet ke kancah perpolitikan di Inodnesia. Ketika masyarakat mengalami kemunduran secara financial, mereka akan gampang terpengaruhi oleh orang lain terutama dengan materi (Uang). Nah, Indonesia pada tahun 2014 akan melaksanakan pesta demokrasi, yaitu pemilu 2014, dimana partai-partai politik dari jauh-jauh hari sudah mempersiapkan calon yang akan di usung oleh partai mereka baik di badan legislative,yudikatif atupaun ekskutif. Yang ditakutkan ketika masa kampanye para politisi dan partai politik menggunakan kesempatan ini, dengan cara politik yang busuk, yang pasti karena masyarkat Indonesia semakin turun eknomonya, boleh jadi cara yang paling jitu adalah dengan “money politic”, hal ini akan sangat menambah citra jelek bagi tata politik di Indonsia, dan keprustasian masyarkat kepada para praktisi politik,jika kancah perpolitik di Indonesia buruk sudah pasti Negara Indonesia pun akan semakini buruk.
            Jadi, boleh saya sarankan jika kenaikan BBM menurut ahli tata ekonomi Negara adalah cara yang  paling baik, apakah di Indonesia tidak ada lagi orang-orang yang ahli di bidang ekonomi,mungkin saja mereka bisa memberi solusi yang paling baik selain menaikkan BBM, yang bila dilakukan (kenaika BBM) sangat fatal sekali akibatnya bagi kehidupan masyarkat di Indonesia.
            

Selasa, 23 April 2013

UJIAN NASIONAL : DILEMA PENDIDIKAN INDONESIA


Oleh : Muhammad Ikmal Assidiqi
            Fenomena Ujian Nasional akhir-akhir ini mendapat guncangan yang berskala besar di mulai birokrasi sampai distribusi terdapat masalah yang sangat serius. Para siswa dan tenaga pendidikan mendapat penetrasi sangat keras dimana kinerja KEMENDIKBUD bekerja dengan tidak profesional, diantaranya distribusi soal-soal ujian yang tidak merata, apalagi kepelosok tanah air yang berakibat di undurnya pelaksanaan Ujian Nasional, juga dalam kualitas kerjas lembar jawaban komputer yang jelek sehingga gampang sobek,
            Memang dari awal diadaknnya program Ujian Nasionl, hal itu selalu bermaslah atau tidak berjalan dengan semestinya, dan yang lebih parahnya lagi kinerja KEMENDIKBUD tiap tahun bukannya lebih baik, malah lebih lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Entah apa penyebabnya, yang terjadi adalah bermunculan masalah-masalah di bidang pendidikan, yang jadi korbannya adalah tenaga kependidikan (guru) dan siswa, akhirnya yang muncul prustasi dan dilema. Satu sisi di selenggarakannya Ujian Nasional sarana untuk standarisasi pendidikan Indonesia di mata dunia, dan di sisi lain di selenggarakannya Ujian Nasional seperti membuat lingkaran “setan” dalam dunia pendidikan dimana lagi-lagi guru dan siswa yang jadi korban dan tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut, ya lingkaran “setan” tersebut sudah menjadi rahasia umum di masyarakat Indonesia.
            Dari Gambaran di atas, muncullah pertanyaan-pertanyaan, apakah ujian nasional harus terus dilaksanakan?, dan siapa yang bertanggung jawab atas kebobrokan di dunia pendidikan?. Jika menurut emosianal saya ujian nasional harus di tiadakan, karena yang saya rasakan ujian nasional hanya mencetak generasi masa depan bangsa yang bodoh,tidak adanya rasa percaya diri, tidak jujur. Namun jika di kaji secar ilmiah kita hurus melihat dulu sisi positf dan negatifnya dengan diselenggarakannya Ujian Nasiaonal tersebut.
            Menurut hemat saya, semua kehidupan di dunia ini pasti ada sisi positif atau negatifnya, misalkan sisi positifnya UN : standarisasi nilai akhir siswa, membuat para siswa lebih giat belajar (bagi yang giat). Dan dari sisi negatifnya UN : Ujian Nasional jadi patokan kelulusan yang membuat para  siswa menerim goncangan psikologis.
            Kemudain siapa yang harus bertanggung jawab, sudah pasti kebanyakan masyarakat Indonesia akan menyahkan instansi pemertintahan yang mengurus bagian pendidikan, namun apalah arti mencari kambing hitam, kita hanya perlu berinstropeksi diri saja dan dibarengi kesadaran yang akan menimbulkan ketengan yang cukup berpengaruh.
            Jadi, menurut saya, kita harus menggabungkan kedua sisi, agar kondisi UN bisa stabil, juga supaya para birokrat dan tenaga pendidikan, supayan UN harus tetap ada sebagi standarisi, namun saya hanya memberi pendapat bahwasanya Ujian Nasionla jangan di jadikan standarisasi kelulusan, biar sekolah masing-masing saja membuat keputusan  lulus atau tidaknya, dikarenakan para guru lebih insten dan lebih mengatahui keadaan dan sifat masing-masing

Sabtu, 20 April 2013

EYANG SUBUR : PENGUAT DAN PENGALIHAN ISU POLITIK

 oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Nama Eyang Subur sudah sangat tidak asing lagi di telinga kita, dan beritanya sangatmencuat sangat cepat sekali seperti kecepatan cahaya, di media-media masa  Indonesia. memang, hal ini adalah sebuah fenomenasosial  di masyarakat Indonesia yang padaumumnya sangat percaya kepada hal-hal mistik atau non-materi.Eyang subur munculdi kala ada isu-isu miring terhadap kinerja pemerintah.

analisa saya dalam hal penguat isu politik,Eyang subur (dengan keahliannya di dalam bidang kegaiban) muncul pada saat  RUU KUHP dukun santet, mau tidak mau ketikamasyarakat sudah mengetahui adanya RUU KUHP dukun santet dan melihat kasuseyang subur, akan terjadi konsensus masyarakat terhadap RUU KUHP yang akanberpengaruh kepada kelancaran di sahkannya RUU KUHP dukun santet tersebut.

Dananalisa saya dalam hal pengalihan isu politik, perlu kita ketahui dalam badan legislatifeterdiri dari banyak parpol dengan berbagai kepentingan mereka. setelah isu RUUKUHP dukun santet  mulai menurun, muncul  RUU Ormas, yang sangat menimbulkan kontra ditubuh para akifis ormas dan hal itu sangat berpengaruh terhadap kelancaran disahknnya RUU Ormas. yang sudah kita ketahui sekarang, kasus Eyang subur didalam media masa Indonesia makin menjadi-menjadi. kemungkinan besar di sini ada“permainan” para politisi untuk meredam masyarakat  akan kontranya terhadap RUU ormas.jadimasyarakat dialihkan beritanya dari RUU ormas kepada kasus Eyang subur yangsudah saya sebutkan di atas akan berpengaruh terhadap kelancaran pengesahan RUUdukun santet.

Minggu, 10 Februari 2013

Fitrah

Dalam bahasa Arab, bentuk fi'lah menunjuk pada mashdar yang memberi arti "keadaan atau jenis perbuatan". Jika mengucapkan kata jalsah , maka memberi arti "duduk". Tetapi, jika kata itu berubah jadi jilsah, maka artinya "keadaan duduk". Berdasarkan kata itu , maka fithrah yang berkaitan dengan keadaan manusia dan hubungan keadaan tersebutu dengan agama, sebagaimana dalam firman Allah SWT, " Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu",(Q.S Ar-Rum : 30). yang mengandung arti keadaan yang dengan itu manusia diciptakan. Artinya, Allah telah menciptakan kekhususan-kekhususan yang ditempatkan Allah dalam dirinya saat ia diciptkan, dan keadaan itulah yang menjadi fitrahnya.

Ada beberapa istilah yang mesti kita bedakan yaitu ;

Watak,Naluri,dan Fitrah

Watak

Watak (sitat dasar) biasanya digunakan kepada benda-benda mati,dan tidak sedikit kemungkinan bisa di terpkan kepada benda hidup.contoh,Api, "wataknya api apabila berdekatan dengan benda lain bisa menimbulkan panas, dll." Jadi, kita menyebutkan karakteristik benda-benda lain dengan watak (sifat dasar ).

Naluri

Naluri (insting), biasnya digunakan untuk binatang, dan sangat jarang digunakan kepada manusia apalagi benda mati. hakikat insting sampai sekarang belum ada interpretasi yang sebenarnya. termasuk dalam kategori insting ketika anak hewan melakukan beberapa gerakan tanpa adanya latihan.

Fitrah

Istilah ini di gunakan untuk manusia. sebagaimana halnya insting dan watak,fitrah merupakan bawaan alami. Artinya, dia merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusai,dan bukan sesuatu yang diperoleh melalui usaha. fitrah mirip dengan kesadaran. Sebab manusia mengatahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui. artinya, dalam diri manusia terdapat sekumpulan hal yang bersifat fitrah, dan ia tahu bertul tentang hal itu.Fitrah dengan insting ada sebuah pembedanya, insting berkaitan dengan hal -hal yang bersifaat fisik, sedang kan ftrah berkaitan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan kemanusiaan (metaheawani).






Referensi : Murtadha muthahhari, Fitrah, menyingkap hakikat,potensi dan jati diri manusia

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.