Jumat, 13 November 2015

NABI DAN RASUL : MANUSIA PILIHAN SEBAGAI KREATOR BUDAYA DAN PERADABAN ILAHIYAH

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
NABI DAN RASUL
Dalam khazanah ilmu ke-islaman terma Nabi dan Rasul sudah tidak asing lagi di dengar, dari sejak kecil kaum muslimin sudah di kenalkan kepada para Nabi yang wajib di ketahui dari mulai Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Hingga bermunculan banyak karya-karya yang membahas Nabi dari bentuk lagu hingga karya tulis ilmiah. Sejarah Nabi-nabi pun di kisahkan dari satu generasi ke generasi selanjutanya, dari Kisah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Kita ketahui bagaimana Nuh membuat perahu besar untuk menyelamatkan pengikutnya dari banjir yang sangat dahsyat, hingga saat ini para ilmuwan masih meneliti artefak tersebut, lalu kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Ibrahim, hinnga setelah mencapai pencerahan Ibrahim membuat tradisi, yang hingga hari ini tradisi tersebut dipakai oleh Umat Islam, yakni Haji.
Dari Ibrahim lah embrio ke-nabian semit bermula. Khususnya umat islam menyebut Ibrahim sebagai Bapaknya Para Nabi, dari istri pertama melahirkan Ishaq yang merupakan nenek moyang Bani Israil, dan dari Ishaq pula banyak muncul para Nabi, lalu dari Istri kedua lahir Ismail, namun tidak sama dengan saudaranya Ishaq, dari Ismail “lahir” seorang Nabi yang sangat jauh zamannya, yaitu Muhammad ibn Abdillah.
Seperti yang pada umumnya orang ketahui, sejarah para Nabi biasanya ditandai oleh satu kaum yang tatanan sosial dan kulturnya cukup semrawut, Nuh datang untuk menghilangkan tradisi menyembah berhala, Ibrahim membawa misi monotheisme, hingga dia menghancurkan patung-patung yang dibuat oleh ayahanya, Musa dengan semangat montheisme, yang mengharuskan kemerdekan, menentang kezaliman Fir’aun, dan Muhammad hadir untuk merevolusi tatanan bangsa Arab yang pada waktu itu, praktik-praktik Jahiliyah masih dilakukan.
Mari kita masuk ke dalam pengertian Nabi itu sendiri, bahwa kata Nabi berasal dari bahasa Ibrani, nabhi, ini tidak dikenal di lingkunan Arab pra Islam. Kata ini dalam bentukannya dan makan akar katanya dapat juga dilacak pada akar kata NB yang berasal dari zaman semitik kuno yang berarti “mengumumkan” atau “menyatakan”,. Kata naba yang banyak dipergunakan orang Arab pra-Islam dimaknai sebagai “ berita tentang sesuatu yang mengandung urusan yang penting atau berita yang besar manfaatnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu”.1
Sedang kata rasul  diterjemahkan sebagai “apostel”, “messenger of God” atau utusan. Kata ini berasal dari kata arsal,  yang artinya mengutus. Kata Nabi  muncul dalam Al-Quran lebih sering daripada kata-kata mubasysyirin atau basyir, mundzirin atau nadzir, dan mudzakkir, walaupun tidak sesering kata rasul. Menurut kronologi Noldeke, yang dikutip oleh Dadan Rusmana dan Yayan Rahtikawati, kata ini pertama kali muncul dalam periode Makkiyah tengah. Akan tetapi dalam penanggalan Richard Bell, keseluruah contoh penggunaan kata ini dimasukkan ke dalam ayat-ayat Madaniyyah dengan pengecualian Q.S. Al-Isra :17,. Menurut Watt, berdasar pada kronologi Bell, yang dikutip Dadan Rusamana dan Yayan Rahtika, hali ini dapat saja menunjukkan bahwa kaum muslim mulai akrab dengan kata nabi  tersebut melalu hubungannya dengan orang-orang Yahudi Madinah.2
Adapun menurut istilah, nabiyy dan rasul adalah seseorang yang diberi wahyu berisikan Syariat (wahyu), dan ditugaskan menyapaiakan wahyu tersebut kepada umatnya. Oleh karena itu, nabi dan rasul bermakna sama, artinya utusan atau orang yang mengemban risalah3. Adapun pendapat lain yang mebedaka antara nabi dan rasul. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu syariat dari Allah untuk dilaksanakan sendiri, sedang rasul adalah seerong yang mernerima wahyu syariat dari Allah untuk dilaksankan sendiri dan agar disampaikan kepada umatnya.4 Jika mengikuti pendapat yang kedua bahwa setiap rasul pasti nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul.
Dengan murujuk Al-Quran sebagai sumber primer umat Islam (Q.S Maryam ayat 51,54) Dadan Rusamana dan Yayan Rahtikawati berkesimpulan bahwa Al-Quran tidak pernah menerangkan perbedaan antara nabi dan rasul seperti di atas, tetapi menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, yang menunjukkan bahwa kara rasul merupakan sebutan lain untuk kata nabi. Orang yang sama, kadang-kadang disebut rasul, tetapi di tempat lain disebut nabi, kadang-kadang disebut rasul dan nabi sekaligus.

Kalaupun ada,  perbedaannya hanya terletak pada kenyataan bahwa para rasul itu mengandung arti yang lebih luas, yang maknanyay dapat diterapkan kepada sembarang utusan yang mengemban suatu pesan.5

MISI NUBUWWAH DAN HUBUNGANNYA SEBAGI KREATOR BUDAYA
1.           Misi ke Tauhidan.
Dalam surat Al-Anbiya ayat 25, yang artinya :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selai Aku, maka sembahlah Aku”.

Jika melihat teks ayat di atas sangat jelas sekali, bahwa di utusnya Nabi adalah untuk menyampaikan bahwa tidak ada sembahan selain Allah, inilah misi Tauhid jika menurut Nurcholis Madjid dalam Ensiklopedi Nurcholis Madjid yang disusun oleh Budy Munawwar-Racman :6
“Kata-kata itu merupakan kata benda kerja (verbal noun) aktif (yakni memerlukan pelengkap penderita atau objek), sebuah derivasi atau tashrîf dari kata-kata “wâhid” yang artinya “satu” atau “esa”. Maka makna harfiah “tawhîd ialah “menyatukan” atau “mengesakan”. Bahkan dalam makna generiknya juga digunakan untuk arti “mempersatukan” hal-hal yang terserak-serak atau terpecahpecah, misalnya, penggunaan dalam Bahasa Arab “tawhîd al-kalîmah” yang kurang lebih berarti “mempersatukan paham”, dan dalam ungkapan “tawhîd al-quwwah” yang berarti “mempersatukan kekuatan”. Sebagai istilah teknis dalam Ilmu Kalam (yang diciptakan oleh para mutakallim atau ahli teologi dialektis Islam), kata-kata “tawhîd”dimaksudkan sebagai paham “me-Maha Esa-kan Tuhan”, atau lebih sederhananya, paham “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atau “monoteisme”. Meskipun bentuk harfiah kata-kata “tawhîd” tidak terdapat dalam Kitab Suci Al-Quran (yang ada dalam Al-Quran ialah kata-kata “ahad” dan “wâhid”). Bahkan kata-kata tawhîd juga secara tepat menggambarkan inti ajaran semua nabi dan rasul Tuhan, yang mereka itu telah diutus untuk setiap kelompok manusia di bumi sampai tampilnya Nabi Muhammad Saw., yaitu ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Masalah dampak pembebasan semangat tawhîd dalam hidup manusia sering muncul dalam berbagai percakapan serius di masa masa akhir ini. Pembahasan itu biasanya merupakan bagian dari dambaan manusia, khususnya kaum Muslim, kepada pandangan hidup yang mampu membawa kebebasan dari berbagai belenggu zaman modern”.


Selain membawa misi ke-Tauhidan para Nabi pun membawa misi kebajikan dan kebijaksanaan, seperti yang di ungkapkan Ali ibn Abi Thalib dalam Khotbahnya yang di susun dalam Nahjul Balaghah :7
“Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya, untuk berhujah kepada mereka dengan tablig, untuk membukakan di hadapan mereka kebajikan-kebajikan dan kebijakasanaan yang tersembunyi, dan menunjukan kepada mareka tanda-tanda Kemahakuasaan-Nya, yakni langit yang dintinggikan di atas mereka, bumi yang ditempatkan di bawah mereka, rezeki yang memlihara mereka, ajal yang mematikan mereka, sakit yang menuakan mereka, dan kejadian susul menyusul yang menimpa mereka. Allah Yang Mahasuci tak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argument yang mengikat atau dalil yang kuat”.

Jadi misi pertama adalah Tauhid (meniadakan sembahan lain selain Allah), dan ini berlaku untuk semua nabi, ekses dari Tauhid inilah akan memunculkan kesamaan ketika memandang makhluk Allah, logika sederhananya, jika Allah satu maka selain Allah banyak (plural), jika Allah Mutlak maka makhluknya nisbi (relafif), maka tidak ada makhuk pun yang bisa dijadikan sandaran, karena akan menciderai nilai-nilai ke-Tauhidan itu sendiri. Dampak terhadap kehidupan sosial inilah maka manusia adalah sama, kecuali yang membedakannya adalah ketaqwaan, Q.S Al-Hujurat 13.
Maka dari itu, sejarah para nabi selalu berhadapan dengan kaum mustakbiriin (meminjam bahasa Ali Syari’ati). Seperti Musa melawan tirani Fira’aun yang begitu sombongnya hingga dia menganggap dirinya sebagai sembahan (Tuhan), dan Muhammad yang menentang perbudakan dalam atmosfer sosial kultur Arab Jahiliyah pada waktu itu.
2.           Misi Mewujudkan Keadilan
Persoalan Keadilan dalam Islam, sangatlah luas dan membentang sepanjang sejarah. Dari mulai membahas Keadilan Ilahi, yang merdampak terhadap munculnya mazhab kalam dalam Islam (theology). Dalam pembahasan kali ini penulis tidak akan membahas Keadilan Ilahi dalam perspektif kalam Islam, akan tetapi membahas misi nubuwwah yang salah satunya adalah mewujudkan keadilan, seperti dalam surat Al-Hadid : 25 :
“Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusai dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdpat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi tiu) dan suapaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padalah Allah tidak dilihatnya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa”.

Dalam ayat ini, nabi mengemban misi untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manuisia, dan juga agar manusia bangkit menegakkan keadilan, jadi, menurut ayat ini, tugas Nabi dan Rasul adalah menegakkan keadailan di tengah-tengah masayarakat. Namun para Nabi pun memerlukan cara bagaimana keadilan ditengah-tengah masayarkat bisa diwujudakan.
Menurut Nurcholis Madjid keadilan merupakan misi suci nubuwwah, para nabi semit (ibrahimiyyah), dikelompokan dalam ajaran yang berorientasi pada sejarah, Yakni, para nabi mengarahkan sasaran ajaran mereka kepada usaha memperbaiki peri- kehidupan manusia sebagaimana terwujud dalam sejarah. Dan disebut sejarah, karena cita-cita perbaikan itu hendak diwujudkan dalam pengalaman nyata hidup kolektif manusia di dunia ini, dalam konteks ruang dan waktu. Jadi, dapat disebut bahwa tema pokok usaha perbaikan (ishlâh) masyarakat oleh para nabi bangsa bangsa Semit ialah menegakkan keadilan. Dengan kata-kata lain, keadilan merupakan inti tugas suci (risâlah) para nabi.8
Menurut Jalaluddin Rakhmat, ketika Nabi menegakkan (pemerintahan) di muka bumi ini, Nabi pun tidak hanya menggunakan al-bayyinah, al-kitab, dan al-mizan, tetapi juga al-hadid, sebab ada saja orang-orang dalam setiap masyarakat ketika kita hendak menegakkan keadilan- yang tidak bisa diyakinakan denga al-kitab, tidak bisa diajak kepada keadilan dengan al-mizan. Bagi orang-orang seperti ini, tidak ada cara lain untuk mengadapinya kecuali dengan bahasa binatang yakni al-hadid atau besi yang didalamnya ada kekuatan-kekuatan dahsyat.9
Maka perbaikan sejarah merupakan misi suci kenabian, dan salah satu perbaikan sejarah itu bisa dilakukan dengan menegakkah keadilan, bisa dengan al-bayan, al-kitab,al-mizan. Ataupun dengan al-hadid karena seperti dalam letiratur sejarah bahwa para nabi selalu berhadapan dengan kaum mustakbiriin (pembesar), dimana tradisi feodalistik masih dipertahankan, dan biasanya para nabi dilahirkan dari kaum yang sederhana (secara ekonomi), maka kaum mustakbiriin enggan untuk menerima ajaran-ajaran para nabi. Maka dari itu al-hadid dirasa perlu untuk di pakai, dalam artian menggunakan logika kekuatan.
Penulis menputip dua misi nubuwwah ; pertama ke-Tauhid-an untuk mencapainya tidak harus menggunakan dalil-dalil rasionalistik dan empiric, tapi ada dimensi-dimensi lain yang boleh jadi manusia belum bisa menemukannaya, sebagai pendapat, kalaulah hakikat ke-esaan Allah bisa dicapai oleh makhluk berarti Allah masihlah terbatasi oleh pengetahuan manusia, maka di sinilah letak perlunya nabi untuk memberi pencerahan kepada ummatnya. Kedua ke-Adil-an secara sosial, berangkat dari nilai-nilai ke-Tauhidan, bahwa manusia satu tidak boleh menindas manusia lain, manusia manapun tak ada yang layak disembah dalam artian kita harus terus tunduk dan patuh, tanpa menganalisa dan mengkritisi terlebih dahulu.
Ada kesimpulan yang menarik dari Ali Syari’ati ketika membahas misi nubuwwah, Nabi adalah juga seorang dengan dua wajah yang kontras yang mengejawantah secara indah dalam satu spirit. Wajah keduniaanya mengejawantah dalam perang dan aksi-aksi sosial, dalam memerangi kekuatan-kekuatan yang destruktif di tengah-tengah masyarakat. Sedangakan wajah sucinya menampakkan diri dalam menyampaiakan amanat-amanat Allah bagi umat manusia. Dalam dirinya kenabian dan kempemimpinan memadu dan menyatu secara sangat serasi, sebagai penuntun yang membimbing kemanusiaan kearah suatu tujuan tertentu dan sebagai seorang hamba yang saleh, yang selalu berdoa dan mengabdi.10
   
Peran Nabi Muhammad Sebagai Kreator Budaya
1.                       Ke-Tauhidan,Ke-Adilan dan Ke-Ummatan
Nabi Muhammad ibn Abdillah dilahirkan pada tahun gajah kurang lebih sekitar 570 M, (12 Rabiul Awal),12 tahun ketika pasukan Abrahah menyerang mekah untuk menghancurkan Ka’bah, namun bukan kemenangan yang dicapai malah kehancuran. Ayahnya Abdullah ibn Abd Muthallib meninggal di kala Muhammad masih dalam kandungan Ibunda nya Aminah binti Wahhab.
Tempat kelahiran Nabi Muhammad, yang menurut Karen Armstron merpukan daerah tak bertuhan dan tak satu agama pun yang lebih maju dan modern berhasil di daerah tersebut.13 Pada saat itu, ghazwu antar suku, merendahkan harkat perempuan, tidak ada pemerataan ekonomi, sudah menjadi kebiasaan Arab pada masa itu, jika umumnya orang menyebut bangsa Arab Jahiliyah, bukan berarti bodoh, tidak bisa baca tulis atau mengembangkan teknologi, tapi bodoh secara mental,moral dan spiritual.
Seperti dalam pembahasan sebelumnya misi nubuwwah adalah ke-Tauhidan dan ke-Adilan, sudah pasti karena Muhammad seorang Nabi, misi sucinya pun akan sama. Di kala atmosfer Arabia yang pemahaman ke-Tuhannannya masih polytheistic, Nabi Muhammad datang dengan konsep monotheistic, tidak ada yang wajib disembah kecuali  Allah, dan konsekuensi logisnya adalah berahala-berhala yang mengelilingi Ka’bah harus di hancurkan.
 Lalu tentang ke-Adilan, Jalaluddin Rakhmat dengan mengutip pendapat Karen Armstrong, bahwa Reformasi pertama yang dilakukan Rasulullah adalah mengubah masyarakat yang berdasarkan penindasan kepada masyarakat yang berdasarkan keadilan. Salah satu unsur masyarakat yang berdasakan keadilan adalah masyarakat yang tuduk kepada Hukum. Semua orang tunduk kepada hukum; tidak ada orang yang bisa lepas dari ketentuan hukum.14 Terbutki beliau membuat konstitusi berdasakan musyawarah dengan orang Yahudi , Nashara, dan orang kafir tidak beragama, yang disebut Piagama Madinah, dan Piagam itu menurut Robert Bellah sangat maju pada zamannya, bahkan konstitusi pertama di Dunia adalah Piagam Madinah.
 Ada satu lagi kontribusi Nabi Muhammad adalah membangun umat, yaitu mengubah masyarakat dari system sosial yang berdasarakan kesukuan, kekeluargaan, dan kelompok komunitas yang berdasarkan ideology Islam; dari tribalisme ke komunitas, dari perasaan kekabilahan ke sebuah system yang didasarkan pada ikatan keislaman atau ukhuwah Islamiyyah.15
2.                       Lemah Lembut dan Pemaaf
Ada karakteristik lain sebagai kontribusi Nabi Muhammad yaitu budi pekerti luhur (al-akhlaq al-karimah), seperti dalam Surat Al-Qalam ; 3-4.
“sesungguhnya, bagimu Muhammad, pahala yang tiada terbatas dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”

Salah satu karakteristik dari budi yang luhur adalah Lemah lembut, bahwa Pemimpin itu hendaklah dia bersiap-siap untuk kecewa melihat kinerja para pegikutnya. Namun, selain harus sipa kecewa, dia juga harus siap tidak marah, dan harus bersikap lemah-lembut. Itu sangat sulit. Bagaiamana mungkin ketika kecewa, seseorang harus bersikap lemah lembut. Orang tidak bisa melakukannya kecuali dengan Rahmat Allah.16
Yang kedua adalah memaafkan, karena dala Surat Al-Imran ; 59. “…maafkan mereka mohonkan ampunan buat mereka…” menurut sebagian ahli tafsir, kata “maafkan mereka” masih berlaku jika kesalahan mereka itu berkenaan dengan hak kita, misalnya, mengecewakan kita, menyakiti kita, mengkhianati kita. Jika kesalahannya seperti itu, mereka harus kita maafkan. Tetapi, kalau mereka itu berdosa terhadap Allah, mohonkanlah ampunan buat mereka.17
Itulah kreasi budaya oleh Nabi Muhammad, pada saat Arabia yang gersang dengan karakter manusianya yang keras dan pedendam, beliau mengusulkan perilaku yang lemah lembut lagi pemaaf. Siapa pun yang mempelajari kehidupan Nabi tak dapat tidak pasti akan terkesan oleh watak spiritualnya serta keterampilan  politik dan admnistrasinya, suatu hal yang demikikan luar biasa dalam kepemimpian ummat manusia yang dalam kasus Nabi keterampilan tersebut seluruhnya diabdikan kepada visi spiritual yang direalisirnya. Sesungguhnya, sekali kita telah megnakui kenyataan ini, maka kita telah mengakui keunikan utusan Tuhan ini,yang tidak mengklaim apa pun juga bagi dirinya kecuali bahwa ia hanyalah alat dari risalah yang dibwanya, dan dengan demikian kita menermia tema pokok Islam.18



_____________________________________________________________
1.Dadan Rusmana dan Yayan Rahtikawati, Tafisr ayat-ayat Sosial Budaya,Pustaka Setia,Bandung,2013. hlm 200
2. Ibid, hlm 200
3. Ibid, hlm 201
4. Ibid, hlm 201
5.Ibid, hlm 201
6.Budy Munawwar-Rachman,Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 4,Edisi Digital Democracy Project,Jakarta,2012. Hal 3327
7. Syarif Radhi, Sarah Syed Ali Raza, Terj. Hasyim Assagaf,Puncak Kefasihan,Pilihan khotbah,surat, dan ucapan Ali bin Abi Thalib r.a.,Lentera,Jakarta,1997. hlm 6
8. Budy Munawwar-Rachman,Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 2,Edisi Digital Democracy Project,Jakarta,2012. Hal 1296
9. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 53
10. Ali Syari’ati, Tugas Cendikiawan Muslim,terj. M.Amien Rais, Rajawali Press,Jakarta,1991. Hal 18
12.Dedi Supriyadi,Sejarah Peradaban Islam,Pustak Setia,Bandung,2008. Hal 59
13. Karen Armstrom, Muhammad Sang Nabi,Risalah Gusti, Surabaya,2001. Hal 55
14. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 81
15. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 86
16.Ibid, 66
17.Ibid 69



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.