Selasa, 10 November 2015

EKSISTENSI FILSAFAT ISLAM DALAM PERGULATAN PEMIKIRAN POSTMODERNISME

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Mempersoalkan Filsafat Islam di era sekarng ini, kita akan diajak dahulu bernostalgia ke abad awal dan pertengahan masehi, dimana Hellenistis yang merupakan kelanjutan dari Filsafat klasik.  Pada era pasca Aristoteles tidak ada perkembangan dari orisinalitas filsafat, pembahasannya masih sama dengan filsuf sebelumnya, akan tetapi puncak dari Era Hellenis ini adalah munculnya seorang filsuf yang merupakan pendiri mazhab Neo-Platonis, yakni Plotinus.
Seperti yang diungkapkan Bertrand Russell, Plotinus sekaligus adalah awal dan akhir –sebagi akhir dalam kaitannya dengan Yunani, sebagai awal dalam kaitannya dengan umat Kristen.1 Plotinus sendiri mengusung metaphisyca monistic, dan “doktrin” inilah yang kelak di diamini oleh beberapa filsuf Islam.
Di belahan dunia yang lain,  ada sebuah monarci yang menggunakan doktrin agama, dimana mereka terus menginvasi wilayah-wilayah lain, guna menyebarkan misi keagamaan mereka. Monarki itu adalah Dinasti Abbasiyah, seperti para pendahulunya pada masa Abbasiyah melakukan Islamisasi di daerah-daerah lain. Dari proses inilah kaum muslimin bertemu dengan filsafat.
Jika pada masa pertengahan masehi, dunia Barat mengalami kemunduran secara filosofis dan peradaban karena beberapa factor internal dan eksternal, di dunia Islam justru pada era ini, mencapai kemajuan, di tandai dengan bermunculan para filsus,ilmuwan dan pemikir, dari awal Al-Kindi hingga Ibn Rusyd. Namun beberapa sejarawan barat mengatakan bahwa tradisi filsafat berakhir di tubuh Ibn Sina, yang titandai dengan kritik ortodoksi dari al-Ghazali.
Sedangkan menurut Seyyed Hossein Nasr, Filsafat islam tidak berakhir sampai Ibn Sina dengan filsafat Paripatetik nya saja, ada tradisi lain pasca Ibn Sina, yakni tradisi Filsafat Iluminasi (Isyraaqy), yang cukup berpengaruh di era selanjutnya, terlebih dalam filsafat Syadru al-Din Syirazi (Mulla Shadra).2 Ada beberapa keengganan barat untuk menerjamahkan karya-karya filsuf Iluminasi, salah satunya adala filsafat timur berakhir di Ibn Sina, dan terma-terma Iluminasi terlalu dekat dengan “agama”, tradisi mystic (tasawuf).
Akan tetapi di era sekarang, barat memulai terjemahan karya-karya filsuf Iluminasi khususnya karya Syaikh Isyraaq (Suhrawardi), salah satu penggiatnya adalah Henry Corbin yang terus konsen dalam terjemahan pengumpulan karya-karya Iluminasi. Dan menurut Hossein Nasr, tradisi filsafat dalam islam tidak berakhir sampai Ibn Sina. Perjalanan filsafat islam masih dilakukan, khususnya di kalangan ulama-ulama syiah, terbukti dengan terbentuknya Mazhab Isfahan di Persia (Iran, sekarang), yang dipelopori oleh Mir Damad, selain itu masih di Persia, muncul Mulla Shadra dengan Hikmah Muta’aliyah (teosofi transcendental).
Selain di Persia tradisi-tradisi filsafat islam juga muncul di India salah satu filsufnya adalah Syah Waliiullaah, di dunia Arab ada Mushtafa ‘Abd Al-Raziq.3dalam era sekrang pun filsafat di dunia Islam masih digandrungi, tokohnya ada Jamaluddin Afghani, Mohammed Arkoun, Murtadha Muthahhari, Allamah Husein Thabathabi, Hossein Nasr, Misbah Yazdi. Terma-terma filsafat merka pun masih relevan dengan Islam, dan tidak melupakan tradisi filsafat di dunia.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa filsafat islam itu ?
2.      Bagaimana perkembangan filsafat dalam islam ?
3.      Apa Postmodernisme ?
4.      Bagaimana Filsafat Islam di dalam dinamika Postmodernisme?
C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Untuk memahami makna dan sifat filsafat dalam khazanah intelektual Islam
2.      Untuk memahami Filsafat khususnya perkembangan filsafat dalam Islam
3.      Untuk memahami makna dan perkembangan Postmodernisme
4.      Untuk menganalisa relevansi dan eksistensi makna filsafat islam dalam dinamika Postmodernisme

D.    KERANGKA PENULISAN
Penulisan makalah  ini, terdiri dari tiga Bab
1.      BAB I.PENDAHULUAN
a.       LATAR BELAKANG
b.      RUMUSAN MASALAH
c.       TUJUAN PEMBAHASAN
d.      KERANGKA PENULISAN
2.      BAB II PEMBAHASAN
a.       FILSAFAT ISLAM
b.      POST-MODERNISME
c.       EKSISTENSI FILSAFAT ISLAM DI PERGUALATAN PEMKIRAN POSTMODERNISME
3.      BAB III KESIMPULAN





BAB II
PEMBAHASAN
A.    FILSAFAT ISLAM
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philo artinya cinta dan shopia artinya kebijaksanaan. Filsafat pada mulanya berarti memandang benda-benda di sekitar dengan penuh perhatian. Kata filsafat digunakan dengan banyak cara, sebagain secara luas dan sebagain secara sempit. Dan pembahasan-pembahasan filsafat biasanya diawali dengan pertanyaan-pertanyaan  radikal dan membutuhkan jawaban-jawaban radikal pula, dan itu tidak lah mudah harus melalui perenungan-perenungan dan wawasan yang luas.
Berbicara mengenai terma filsafat tidak akan pernah lepas dari peradaban dan kebudayaan Yunani Kuno, di era ini muncul beberapa orang yang mempertanyakan hakikat wujud, sumber wujud, semesta (universe), sehingga dari permasalahan seperti yang demikian itu  hadir para filosof seperti Thales, Anaximenes, Anaximandros, Phyatgoras yang biasa disebut dengan para Filsuf Alam yang pembahasan filsafatnya berpusat pada kosmos. Pasca Filsuf Alam, muncul Socrates,Plato,Aristoteles, yang pembahasannya lebih kepada manusia itu sendiri (microcosmos). Jika Socrates menekankan bahwa dialog merupakan subsastansi dari kemanusiaan, Plato dengan Idealisme,imortalitas semestan dan konsep mengenai Negara Utopia, lalu Aristoteles dengan Metafisika, Etika, dan yang paling penting dari Aristoteles adalah mengani Logika, sehingga apabila kita membahas logika tidak akan lepas dari pendapat-pendapat Aristoteles.
Pasca filsafat Aristotelian (meskipun jarak zaman mereka cukup jauh) ada seorang filsuf yaitu Plotinus yang merupakan pengikut mazhab Plato dan sering tulis dalam sejarah sebagi pendiri mazhab Neo-Platonis, menurut penulis perlu disinggung dalam makalah ini, karena doktrin Neo-Platonik sangat berpengaruh dalam perkembangan filsafat di dunia Islam, selain doktrin Aristotelian. Metafisika Plotinus berangkat dari suatu Trinitas Suci : Yang Esa, Ruh, dan Jiwa. Ketiganaya berbeda dangan pribadi-pribdi dlam Trinitas Kristiani, yang esa adalah yang tertinggi, Ruh di tempat berikutnya, dan Jiwa yang terakahir.1

Latar belakang Filsafat Islam

Seperti yang telah diungkapakan sebelumnya terma filsafat sangatlah dinamis jika diperbincangkan, bahkan di era sekarang pun filsafat masih di gandrungi oleh para pengkajinya. Lalu bagaimana dunia Islam sendiri ketika membahas filsafat ?, dalam menjawab persoalan tersebut tidaklah mudah, Bertrand Russel mengungkapkan Filsafat adalah adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah, antara teologi dan sains, semua pengetahuna definitive –dalam istilah Russel- termasuk sains, semua dogma  yang melampaui pengatahuan definitive, termasuk ke dalam teologi. Akan tetapi di antara teologi dan sains terdapat sebuah wilayah yang tidak dimiliki oleh seorang mansiapun, yang tidak terlindungi dari serangan di kedua sisinya, wilayah tak bertuan ini adalah filsafat.2
Jiika melihat kepada Russel, ada teologi dan sains, dalam islam pun ada teologi (kalam). Kalam islam dalam perkembangan sejarahanya sangatlah dinamis sehingga bermunculan mazhab-mazhab kalam dari yang sangat rasional hingga scriptural. Filsafat muncul dalam khazanah intelektual islam adalah ketika Islam mulai menyebar keseluruh penjuru dunia, dan berkenalan dengan agama lain bahkan dengan filsafat,juga theology skolastik awal. Menurut Fazlur Rahman pada saa itu juga dipengaruhi karya-karya filsafat dan sains Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab pada abad ke-2 H/8 M, bercabang dan berkembang menjadi suatu gerakan pemikiran filosofis dan ilmiah yang cemerlang dan kuat, yang menghasilkan karya-karya yang orisinalnya bernilai tinggi di abad ke-3H/9M sampai abad ke-6 H/ 12 M.3
Dari proses perkenalan itu terjadi dialektika, satu sisi umat islam harus mempertahankan aqidahnya sisi lain dia juga menerima kerangka filsafat dari non-islam yang tidak sama dengan kerangka islam sebelumnya, dari proses terjemahan karya-karya filsafat yunani inilah, para filsuf islam mulai mengomentari bahkan ada yang mengaimini dengan sedikit elaborasi.
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim, namun menurut Oliver Leaman dalam di sesederhana itu, dalam perkembangannya ada juga orang non-muslim yang berkerja dengan gaya dan dalam tradisi filsafat Islam.4 Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam5
Dalam tradisi Islam istilah-istilah yang digunakan bagi filsafat Islam dan juga perdebatan antara filosof, teolog, dan terkadang sufi, mengenai makna istilah-istilah Falsafah dan Hikmah, dalam beberapa hal, cukup bervariasi dari satu periode ke periode lain, meskipun tidak selamnya demikian.
Hikmah dan falsafah  tetap digunakan, namun yang menjadi perdebatan besar adalah hikmah, yang diklaim banyak oleh kaum sufi, mutakallimun, maupun filosof. Tokoh Sufi Ibn ‘Arabi menyebut kebijkasanaan yang terpapar melalui setiap manifestasi (pengejawantahan) logos sebagai hikmah. Sedang mutakallimun Fkhr Al-Din Al-Razi mengkalim kalam  dan bukan falsafah-lah yang dimaksud dengan hikmah.
Beberapa definisi yang berasal dari Yunani dan yang paling lazim di kalangan filosof Islam adalah sebagai berikut :

·         Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud
·         Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiah dan yang insaniah
·         Filsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian
·         Filsafat prasyarat bagi hikmah
Para Filosof Isalm memikirkan benar-benar definisi-definisi tentang falsafah ini, yang mereka warisi dari sumber-sumber kuno dan yang mereka identifikasi dengan istilah Quran hikmah karena merka percaya bahwa asal-usul hikmah bersifat Ilahi. Filosof Islam pertama Abu Ya’qub Al-Kindi menulis dalam Fi Al-Falsafah al-Ula, “Filsafat adalah pengetahuan tentang realitas hal-hal yang mungkin bagi manusia, karena tujuan puncak filosof dalam pengetahuan teoritis adalah untuk memperoleh kebenaran, dan dalam pengetahuan praktis untuk berperilaku sesuai dengan kebenaran.
Al-Farabi, menerima definisi filsafat Al-Kindi, akan tetapi dia menambahkan perbedaaan antara filsafat yang didasarakan pada kepastian atau keyakinan (al-yaqiiniyyah) dan filsafat yang didasarkan pada opoini atau dugaan (al-mazhnuunah), kemudaian menegaskan bahwa filsafat adalah induk ilmu-ilmu dan mengkaji segala yang ada. Menurut Ibn Sina “Al-Hikmat adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan Jiwa melalu koseptualisasi (tashawwur) atas segala hal dan pembenaran (tashdiq) realitas-realitas reoretis dan praktis berdsarkan ukuran kemampuan manusia. Ada yang dengan Ibn Sina ialah Ikhwan Al-Shafa menurut dia “Permulaan Filsafat adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan tentnag reaitas wujud sesuai ukuran kemampuan manusia, dan pamungkasanya adalah kata dan perbuatan yang sesuai denga pengetahuan itu.
Bersama Suhrawardi, kita memasuki bukan hanya periode baru, melainkan juga dunia lain filsafat Islam, sebagai pendiri perspektif intelektual baru dalam Islam, Suhrawardi lebih suka menggunakan istilah hikmal al-isyraaq  daripada falsafah al-isyraaq. Bahwa Suhrwardi dan semua filosof islam sesudahnya memandang hikmah pertama-tama dan terutama sebagai al-hikmah al-ilaahiyyah (secara harfiah, kebijaksanaan Ilahi atau teosofi) yang harus direalisasikan dalam sosok utuh manusia dan bukan hanya secara mental.
Lalu ada Mulla Shadra yang merangkum sebagian dari definisi para pendahulunya, “Falsafah adalah upaya penyempurnaan atas jiwa melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala sesuatu, sebagaiamana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka yang ditetapkan atas dasar demosntrasi (Burhan) dan bukan diturunkan dari opini atau dugaan”.
Dalam buku pertama dari Asfaar-nya Mulla Shadra membicarakan definisi hikmah : “Hikmah bukan hanya pengetahuan teoretis dan menjadi sebuah dunia intelijibel yang mencitrakan dunia intelijibel yang objektif, melainkan juga keterceraian dari nafsu dan kesucian jiwa dari cemaran-cemaran materiilnya  yang oleh filosof sebelumnya disebut sebagai tajarrud atu katarsis.
Mulla Shadra menerima makna hikmah  sebagai mana yang dipahami oleh Surhawardi, dan kemudian mengembangkan dan  memperluas makna falsafah dengan memasukkan dimensi iluminasi (pencerahan) dan realisasi yang diimplikasikan oleh pmehamana kaum Isyraqi dan kaum sufi terhadap istilah itu. Menurutnya, Falsafah atau filsafat dinilai sebagai ilmu tertinggi yang berasal-usul dari azali dari Tuhan, yang bersal dari “ceruk kenabian” dan hukama, yang dipandang sebagai sosok manusia paling sempurna dan mempunyai keududkan hanya, di bawah para nabi dan imam.
Baik karya maupun kehidupan para filosof muslim bukan hanya menjadi saksi dan bukti atas perhatian panjang mereka selama lebih dari seribu tahun terhadap konsep dan istilah filsafat, melainkan juga menunjukan signifikansi definisi dari Islam tentang filsafat sebagi realitas yang mengubah pikiran dan sekaligus jiwa, serta realitas yang pada hakikatnya tidak pernah bisa dipisahkan dari kemurnian dan kesucian spiritual tertinggi yang merupakan implikasi dari istilah hikmah dalam konteks Islam.
Sekilas Tentang Iluminasi (Al-Isyraaqy)
Dalam pembahasan sebelumnya penyusun  sudah singgung sedikit tentang Filsafat Iluminasi yang di ususng oleh Suhrawardi. Syaikh Al-Isyraq nama yang dinisbahkan kepada Suhrawardi, di lahir di Desa Suhraward di dekak kota Zanjan  dalam Persia modern pada tahun 549/1153. Ia menermi pendidikan awalnya bersama Majd Al-Din Al-Jili di Maraghah lalu pergi ke Isfahan menempuh pendidikan formalnya bersama Dhahir Al-Din al-Qari, setalah itu melancong ke Persia dan menemui beberapa guru sufi.6
Pada tahun 587/1191 ia meninggal dan sebab langsung kematiannya tidak diketahui, yang memang sebelumnya ia dijebloskan ke penjara, dengan dalih menyelewangan terhadap agama. Dalam jengkal kehidupannya yang pendek, Suhrawrdi menulis hampir lima puluh karya baik dalam bahasa Arab atau Persia yang sebagian besarnya masih ada.7
Makna Iluminasi (Isyraaqy)
Dalam bahasa Filsafat, Illumination mempunyai pengeritan sumber kontemplasi, perubahan bentuk dari kehidupan emosional untuk mencapai tindakan dan harmoni. Kata isyraaqy  diartikan ilminasi sekaligus cahaya pertama pada saat pagi hari, seperti cahaya matahari dari timur.8 Akan tetapi Filsfata iluminai tidak boleh dianggap “Timur” dalam pengertian cultural ataupun geografis, tetapi lebih menekankan “iluminasionis” (isyraaqy, agar tak terkacaukan dengan masyriiq).9
Suhrawardi merupakan failasuf pertama dalam sejarah filsafat yang membedakan dua pembagian metafisiska : metaphysica generalis, sebagaimana yang dipegang oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar tentang subjek-subjek eksistensi,kesatuan, substansi,aksiden,waktu, gerak, dan sebagainya.
Metaphysic specialis, melibatkan pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis masalah-masalah supra-rasional seperti eksistensi dan pengetahuan Tuhan. “imajinasi” subjek yang mengetahui, “pembuktian” terhadap yang riil, yang disebut mundus imaginalis (‘alam al-khayal).10
Selain dalam masalah metaphysic filsafat iluminasi juga berpengaruh dan memiliki dampak cukup besar dalam bidang semantic. Masalah dalam logika ini antara lain adalah tipe penandaan; hubungan antara nama-nama kelas dengan angggota kelas; tipe-tipe cara untuk memasukkan anggota dalam kelas, dan mungkin yang paling  signifikan dari sudut pandang sejarah logika teori pengandaian yang  terdefinisi dengan baik (pemakaian terbatas dan tak terbatas dalam kuantifikasi).11
Menurut Suhrawardi, seluruh realitas tak lain dari cahaya yang memiliki beragam tindakan dan intensitas. Ia tidak memerlukan definisi, karena orang selalu mendefinisikan ketidakjelasan dan tidak ada yang leibh jelas dan lebih jernih dari cahaya. Maka tidak ada apapun yang bisa didefinsikan dalam istilah-istilah.12
Esensi Cahaya Mutlak Pertama, Tuhan, memberikan penyinaran konstan, yang dengan  itu ia termanifestsi dan membawa segala sesuatu pada keberadaan (eksistensi). Memberikan kehiupan kepadanya dengan sinarnya. Segala sesuatu di dunia berasal dari cahaya esensi-Nya dan segala keindahan dan kesempurnaan merupakan karunia dari rahmat-Nya, yang pencapian sepenuhnya pada iluminasi ini merupakan penyelamatan (salvation).13
Tujuan dasar filsafat Ilumnias Suhrawrdi adalah merumuskan jalan yang jelas menuju suatu kehidupan filosif sekaligus merupakan saran yang secara “ilmiah” lebih valid untuk meneliti sifat dan hakikat sesuatu serta sarana untuk mencapai kebahagiaan, dan juga jalan untuk meraih kebijaksanaan yang lebih praktis yang dapat dan harus digunakan untuk mengabdi kepada kekuasaan yang adil.14
Tradisi Kritik Iluminasi Suhrawardi
Meskipun Filsafat Iluminasi Suhrawardi terlahir dari embrio Filsafat Paripatetik, ia tidak menghilangkan kritik terhdap filsafat paripatetik. Ia menngkritik theisi Ibnu Sina mengenai pembedaan antara esensi dan eksistensi,15 eksistensi merupakan prinsip dan realitas esensi tergantung pada eksisetinsi. Bagi Suhrawardi, setidaknya sesuai dengan interpretasi umum atas pernyataa-pernyataan, esesni sesuati itulah yang memiliik realita dan merupakan prinsip, sedang eksistensi memainkan peran sampingan dari aksiden yang ditammbahkan pada esensi.16
Ia juga menyingkirakn dasar pembedaan yang dibuat para filosof antara Tuhan dan manusia. Sejajar denga itu, ia menyangkal pembedaan antar kemungkinan dan kemestian dan menyatakan pembedaan-pembedaan ini sebagai semata-mata bersifat mental dan subyektif. Lebih lanjut, ia menyerang ide dualita antar materi dan bentuk dan merusukan suatu doktrin tentang eksistensi murni yang hanya mentolelir perbedaan satu-satunya dalam eksistensi itu sendiri yang menyangkut ‘lebih atau kurang’ atau ‘lebih sempurna dan kurang sempurna’.17
B.     POST-MODERNISME
Istilah Posmodernisme sangat membingungkan, bahkan meragukan. Asal usulnya adalah dari wilayah seni: Musik, seni rupa, roman dan novel, drama, fotografi, dan arsitektur. Dan dari situ merembet menjadi istilah mode yang dipakai oleh beberapa wakil dari beberapa ilmu.18
Istilah ‘postmodernisme’ memang tidak mudah didefinisikan, ambigu dan mengundang perdebatan. Kaya Yilmaz 19 memaparkan tiga alasan utama mengapa istilah ‘postmodernisme’ tidak mudah untuk didefinisikan.
 Pertama, karakter dasardi dalam postmodernisme yang anti fondasional dan anti esensial mengisyaratkan suatu penolakan terhadap definisi. Dalam pengertian konvensional ‘definisi’ selalu mengandung makna fondasional (memaparkan hal-hal yang mendasar) dan esensial (mencari hal-hal yang hakiki dan bukan artifisial). Nicholson, menyatakan: ‘berbeda dengan modernism, postmodernisme harus menolak suatu deskripsi tentang dirinya sebagai serangkaian ideal yang tak terikat dengan waktu,; postmodernisme harus dipahami sebagai serangkaian sudut pandang pada suatu waktu, hanya absah di dalam waktunya sendiri.’
 Kedua, postmodernisme bukanlah teori, perspektif atau kacamata tunggal, sistematis dan koheren, tetapi lebih merupakan kecenderungan intelektual atau gabungan perspektif intelektual yang ditarik dari berbagai teori dan gerakan semisal fenomenologi, hermeneutika, poststrukturalisme, semiotika, teori kritis dan neopragmatisme, yang memiliki kesamaan pandangan di dalam menyoal asumsi-asumsi dasar di dalam modernism.
Ketiga, tokoh-tokoh utama yang menyembulkan dan menyemai ide-ide postmodernisme seperti Derrida, Lyotard, Foucault, Baudrilard, Lacan, Jameson, Kristeva, atau Rorty tidak memberikan uraian atau gambaran ringkas tentang postmodernisme. Mereka menulis sesuai dengan fokusnya masing-masing.
Cak Nur memberikan pandanganya mengenai post-modernisme yang hampir sama dengan pandangan-pandangan di atas; “Namun, seperti para pemikir pascamodernisme sendiri telah mengakui dan memang mustahil mengingkari, ada kesinambungan organik antara modernitas dan pascamodernitas. Garis kelanjutan itu telah terlebih dahulu melahirkan situasi dilematis di kalangan mereka sendiri, karena mereka, sementara berkehendak untuk melakukan “dekonstruksi” kemapanan-kemapanan,namun kemampuan melakukan dekonstruksi itu sendiri masih merupakan fungsi dari modernitas. Dengan kata lain, agaknya hanya orang, komunitas atau bangsa modern yang mampu mengembangkan pascamodernisme sebagai suatu kelanjutan wajarnya, mereka yang telah menyertai pandangan Humaniora Pencerahan”.20
Dalam makalah ini penyusun mencoba untuk melihat postmodernisme dari sadut pandang yang mungkin tidak terlalu popular, biasanya postmodernisme membahas gejala-gejala sosilogis, dan “narasi besar” modernism.
Kevin O’Donnell menyinggung Carl Gustav Jung seoranng Psikoanalis, O’Donnell menugngkapkan; Jung berbeda paham dengan Freud tentang tafsiran mimpi, dan ia menjabarakan teori yang bebeda tentang bawah sadar. Ia memberi peran sentral dalam hidup manusia pada symbol, misteri, roh dan yang tak dapat dikatakan. Penemuan kembali hal-hal penuh rahasia, tidak sempurna dan puitis merupakan aspek kunci posmodernisme. 21
Ketika membahas alam bawah sadar menurut Jung yang di kutip ole Kevin O’Donnell, bahwa diri yang dasar merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan ia berbicara tentang “Diri” dan “diri”. Diri (dengan capital) dipandang sebagai pengalaman kolektif manusia, yang darinya kita semua dapat menyadap. Diri (dengan capital) merupakan lilitan satu lingkaran, di mana diri berada tegak di tengahnya. Konsep Diri sebagi lapisan terdalam keberadaan kita diambil alih oleh berbagai aliran terapi. Mistsme Era Baru mengklaim istilah itu untuk hakikat spiritual kita, dan meminjam dari pemikiran Timur, mendeklarasikan Diri Sebagai bagian dari Allah.22
Lyotard berargumentasi untuk meninggalkan metanarasi, tetapi ia membiarkan cahaya transcendental memercikkan sinarnya. Ia menulis tentang pengalaman tentang yang luhur, hal yang melampaui  kata-kata dan bentuk, semacam perasaan kagum dan terkena pralinguistik. Ini bagian dari kehidupan, dan tidak boleh diabaikan, disangkal atau diedit diluar wacana. Karena ia melampaui bentuk, maka paling baik orang mengacunya dalam tulisan avant-grade dan seni abstrak. Itu adalah misteri yang tak terungkapkan. Kita hidup dalam rangkulnya. Lyotard berteriak demi masyarakat yang terbuka baik bagi rasa keadila maupun bagi yang tidak diketahui 23
Dalam salah satu Jurnal Teosofi : Jurnal Tasawuf dan pemikiran Islam karya Ghozi, ada yang menyinggung spiritualitas posmodern, dia membagi dua Spiritualitas, dalam arti sempit yakni spritualits dalam kerangka agama atau ordo tertentu dan arti luas yakni spiritualitas kemausiaan, tanpa harus ada agama atau ordo.
Dalam teologi posmodernisme Griffin24, terdapat empat prinsip spiritual postmodern:
·       keutamaan energi spiritual (primacy of spiritual energy) pondasi dari seluruh energi sosial—termasuk juga ekonomi, politik, dan budaya—adalah spiritual. Spiritualitas merupakan sumber legitimasi dan tranformasi sosial terdalam.;
·  spiritual sebagai perwujudan (embodied spirituality) Spiritualitas posmodern dapat digambarkan sebagai sebuah perwujudan. Hal ini berbeda dengan pemikiran klasik tentang transendensi tanpa wujud. Spiritualitas posmodern tidak memungkiri tentang kebenaran transendensi visi Tuhan. Akan tetapi, saat ini dibutuhkan energi spiritual yang mengakar dalam materi: pertama,-dalam diri, selanjutnya dalam konteks masyarakat, dan terakhir dalam alam semesta. Tubuh, masyarakat, dan alam adalah mediator utama ‘misteri’ pada kita.
·      alam sebagai perwujudan spiritual (nature as spiritual embodied) alam sebagai perwujudan spiritual. Dalam pandangan spiritualitas posmodern, tubuh manusia merupakan titik awal keterlibatan dan perwujudan sejarah dengan seluruh proses duniawi dan, bahkan, seluruh alam semesta;
·         masyarakat sebagai pengembangan spiritual manusia (society as human development spirituality) penjelmaan spiritualitas posmodern, yakni masyarakat yang diekspresikan sebagai sejarah dan mengkristal dalam institusi dan tradisi.
Teologi posmodern merupakan pencarian masyarakat Barat yang berusaha menyelesaikan permasalahan spiritualitas mereka, hubungan mareka dengan ‘Tuhan’ mereka. Sebelum gagasan ini muncul, telah muncul beberapa gagasan tentang teologi Barat seperti gagasan ‘Civil Religion’ yang ditawarkan oleh Robert N. Bellah dalam karya monumentalnya, Beyond Belief Gagasan civil religion ini juga merupakan respon atas krisis spiritulitas Barat, khususnya masyarakat Amerika.25
Bellah mencoba menangkap makna Tuhan yang disampaikan oleh beberapa Presiden Amerika dalam pidato resminya dan tokoh-tokoh penting negara Paman Sam tersebut yang tidak pernah menjelaskan ‘Tuhan’—dalam agama apa dan dalam konsep apa. Singkatnya, Bellah menyimpulkan konsep tentang Tuhan yang disampaikan oleh para tokoh tersebut sebagai ‘Tuhan’ yang mungkin dipahami berbeda oleh masyarakat Amerika, namun merupakan ‘Tuhan’ yang menjadi ‘pemersatu’ mereka. Tuhan tersebut lebih berhubungan dengan aturan, hukum, dan hak daripada terhadap keselamatan atau cinta.6 Dari sini, konsep Tuhan tersebut terkesan jauh dari transendensi agama-agama semitik dan lainnya.26



Kredo Postmodern 27
·         Terbukalah
·         Terbuka terhadap panggilan dan kehadiran
·         Hargailah Anugerah
·         Toleran terhadap orang lain dan pandangan mereka
·         Apa yang menurut pikiran kita ada mungkin tidak selalu benar
·         Jangan takut akan hal-hal besar
·         Cinta itu ada
·         Rasakan misteri berembus di wajahmu
·         Kehidupan bukannya bebas-untuk semuanya secara acak

Eksistensi Filsafat Islam di Pergualatan Pemkiran Postmodernisme
Seperti yang telah penyusun uraikan di atas bahwa perkembangan filsafat dalam islam begitu kompleks, bahkan di era sekrang tidak sedikit para filsuf, mengambil ide-ide dasar dari kebijaksanaan para filsuf islam sebelumnya, khususnya filsafat Iluminasi, yang belakangan di kaji oleh Henry Corbin.29
Di era sekarang banyak yang menyebut era post-modern, meskipun istilah itu masih banyak dipertanyakan salah satunya oleh Cak Nur30. Meskipun istilah postmodern di awali dari bahasa seni dan merembes kepada istilah-istilah sosial, Lytard lah yang membawa postmodern kepada ranah filsafat, yang menentang Grand narasi (Narasi besar) –nya modernism.
Syafwan Rozi membuat klasifikasi pemikiran di era post-modern ini. Pertama, yang mervisi pemikir modernitas, namun cenderung kembali ke pola permikiran pra modern seperti metafisika New Age. Tokohnya seperti Capra,Zuvar,dan sebagianya. Kedua, pemikiran yang mervisi modernisem tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan perbaikan sana-sini yang dirasa perlu. Tokohnya Whitehead,Gademer,dan sebgainya. Ketiga,pemikiran yang memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekedar efek samping dari pemikiran pencerahan, melainkan sebagi sesuatu yang melekat di dalamanya.31
Penyusun mengambil konsep yang pertama ketika membahas postmodern dalam makalah ini, asumsi yang di bangun bahwa filsafat tidak hanya membicarakan hal yang empirik dan positivis saja, yang kedua aliran ini selalu di kritik oleh sebagian orang disebut pemikir postmodern32. Jika melihat kepada klasifikasi pertama postmodern juga cenderung kembali kepada metafisika NewAge yang tandai dengan metafisikanya Plotinus.
Filsafat islam pun membahas beberapa metafisika, meskipun filsuf-filsuf seperti Al-farabi dan Ibn Sina terperngaruh oleh metafisikanya Aristoteles, yang berujung dengan aliran Paripatetiknya, filsafat islam tidak berthenti disitu, Suhrawardi pengusung konsep Iluminasi dan ia pun memiliki konsep metafisikanya tersendiri.
Suhrawardi merupakan failasuf pertama dalam sejarah filsafat yang membedakan dua pembagian metafisiska : metaphysica generalis, sebagaimana yang dipegang oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar tentang subjek-subjek eksistensi,kesatuan, substansi,aksiden,waktu, gerak, dan sebagainya. Metaphysic specialis, melibatkan pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis masalah-masalah supra-rasional seperti eksistensi dan pengetahuan Tuhan. “imajinasi” subjek yang mengetahui, “pembuktian” terhadap yang riil, yang disebut mundus imaginalis (‘alam al-khayal).33
Selain dalam masalah metaphysic filsafat iluminasi juga berpengaruh dan memiliki dampak cukup besar dalam bidang semantic. Masalah dalam logika ini antara lain adalah tipe penandaan; hubungan antara nama-nama kelas dengan angggota kelas; tipe-tipe cara untuk memasukkan anggota dalam kelas, dan mungkin yang paling  signifikan dari sudut pandang sejarah logika teori pengandaian yang yang terdefinisi dengan baik (pemakaian terbatas dan tak terbatas dalam kuantifikasi).34
Menurut Dr. A. Hasan Ridwan, dalam buku Dasar-dasar Epistemologi Islam, Suhrawardi menggabungkan dua kebijaksanaan, yaitu kebijaksanaan ekperensial, dan kebijaksanaan diskursif, adalah pemikiran yang secar aplikatif akan membuat umat islam tidak hanyut dalam perkembangan zaman, tetapi sebaliknya, dapat mengendalikan dan mewarnainya, baik dari segi materiil, mental maupun spiritual.35.
Perspektif ini menyediakan kunci untuk memahami agama atau agama-agama secara utuh dengan segala kompleksitas, teka-teki, dan pluralitasnya. Selain itu, ia juga menghasilkan kunci-kunci tertentu untuk membuka pintu-pintu yang menutup jalan manusia modern. Solusi yang mereka usulkanuntuk menganggulangi maslah-masalah yang timbul dari studi agma dan hubungan antar agama dalam konteks dunia sekuler modern patut dipertimbangkan secara serius oleh semua yang tertarik dengan makna keagamaan dari studi agma sekarang, juga merka yang mempunyai perhatian terhadap hakikat dan nasib manusia sebagai makluk yang jati dirinya terbentuk dari realitas yang menjadi perhatian agama yang dipahami secar perennial.36
Filsafat Iluminasi yang dibangun oleh Suhrawrdi terkesan sebagi gerakan elektik, yang di dalamnya tergabung unsur-unsur Islam,Zoroasterianisme, Hellenisme, dan lainnya.35 Sehingga gagasan filsafat Iluminasi Suhrawardi masih cukup bergema sampai sekarang. Oleh karena itu, implikasinya dapat menghasilkan nuansa harmoni dalam kehidupan, dan memberi fungsi filosofis dan spiritual dalam memaknai hidup di tengah  ide-ide postmodernisme muncul seperti relatifisme


BAB IV
KESIMPULAN
Filsafat Islam adalah bersifa isalam, bukan hanya kerna ia dibudidayakan di Dunia Islam dan dilakukan oleh kaum Muslim, melinkan juga karena menjabarakan prinsip-prinsp dan menimba inspirasi dari sumber-sumber wahyu Islam, sert mengangai banyak permasalan denga sumber-sumber wahyu Islam, serta mengangi banyak permasalahan dengan sumber-sumber Islam. Semua filosof Islam sejak Al-Kindi hingga filosof terkini seperti ‘Allamah Thabathaba’I, hidup dan bernapas di dalam sebuah dunia yang didominasi oleh realita Al-Quran dan Sunnah Nabi.
Filsasfat Islam pada dasarnya merupakan hemeneutika filosofis ats teks sakral di samping memanfaatkan khazanah filsafat zaman purba, itulah sebabnya menganpa filsafat Islam selama berabad-abad hingg hari ini tetap merupakan salah satu pespektif intelektual utama dalm peradaban Islam dengan akar yang tertanam dalam Al-Quran dan hadis, dan sama sekali bukanla sebuah fase asing dan sementara dalam sejarah pemikiran Islam.
Sedangkan Postmodernisme sendiri terbagi kedalam tiga kelas :
A.    Pertama, yang mervisi pemikir modernitas, namun cenderung kembali ke pola permikiran pra modern seperti metafisika New Age.
B.     Kedua, pemikiran yang mervisi modernisem tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan perbaikan sana-sini yang dirasa perlu.
C.     Ketiga,pemikiran yang memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekedar efek samping dari pemikiran pencerahan, melainkan sebagi sesuatu yang melekat di dalamanya.
Lyotard berargumentasi untuk meninggalkan metanarasi, tetapi ia membiarkan cahaya transcendental memercikkan sinarnya. Ia menulis tentang pengalaman tentang yang luhur, hal yang melampaui  kata-kata dan bentuk, semacam perasaan kagum dan terkena pralinguistik. Ini bagian dari kehidupan, dan tidak boleh diabaikan, disangkal atau diedit diluar wacana. Itu adalah misteri yang tak terungkapkan. Kita hidup dalam rangkulnya. Lyotard berteriak demi masyarakat yang terbuka baik bagi rasa keadila maupun bagi yang tidak diketahui. Dan salah satu kreso dari postmodernisme adalah : Cinta itu ada, Rasakan misteri berembus di wajahmu, Hargailah Anugerah, Terbuka terhadap panggilan dan kehadiran.
Meskipun Lyotard mengkritik metanarasi,tetapi dia masih bingun untuk menjelaskan hal-hal yang metafisika, sehingga dia menulis pengalaman pribadinya seperti diatas, hamper ada kesamaan dengan doktrin iluminasi, akan tetapi dia masih memandang cahaya dengan sisi transcenden (berada diluar), sedangkan doktrin iluminasi memandang cahaya secara imanen (berada didalam). 
Dari sinilah penyusun, memandang eksistensi filsafat islam di pergulatan postmodern, ketika krisis spiritual orang-orang modern tak terelakkan lagi. Seperti yang di katakana oleh A.Hasan Ridwan, filsafat iluminasi dapat menghasilkan nuansa harmoni dalam kehidupan, dan memberi fungsi filosofis dan spiritual dalam memaknai hidup.


1. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal 403
2. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 19
3.Ibid,35
1.Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal 392
2. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal xiii
4.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 2
5. Ibid, hal 29
6.Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, Terj. Maimun, Ircisod, Jogjakarta, hal.103
7.ibid, hal 107
8.Dasar-dasar epistemology dalam Islam, Ahmad hasan ridwan dan Irfan Safrudin, Pustaka Setia, Bandung, Hal.153
9.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 552
10. Ibid, 553
11. Ibid, hal 554
12.Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, Terj. Maimun, Ircisod, Jogjakarta, hal.126
13.ibid, hal 127
14. .Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal,553
15. Fazlur Rahman,Islam, terj. Ahsim Mohammad, Pustaka, Bandung 2010, hal 178
16. Ibid, hal 123
18. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 23
19. TEOLOGI POSMODERN: MENIMBANG KONSEP NATURALISME-TEISTIK,Ghozi, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam,Volume 01, Nomor 02, Desember 2011, hal 92
20.Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 3, Budi Munawar-Rachman, Mizan, Bandung,2006, hal 2351
22.Postmodernisme, Kevin O’Donnell, Kanisisu, Jogjakarta,2009,hal 70
23.Ibid, hal, 138
24. TEOLOGI POSMODERN: MENIMBANG KONSEP NATURALISME-TEISTIK,Ghozi, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam,Volume 01, Nomor 02, Desember 2011, hal 138
26. Ibid, hal 97
27. Postmodernisme, Kevin O’Donnell, Kanisisu, Jogjakarta,2009,hal 152
28.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal
39. lihat hal 12
30.Syafwan Rozi,Agama dan Postmdernisme : Menelusuri Metologi dan Pendekatan Studi-Studi Agama, Jurnal Ilmu Ushuluddin, Volume 1, Nomor 3, Januari 2012, hal 233.
31.Ben Agger, Critical Social Theories; An Introducing, Terj. Nurhadi, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003, hal 2
32. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal553
33.Ibid, hal 554
34. A.Hasan Ridwan, Dasar-dasar Epistemologi Islam, Pustaka Setia, Bandung,2011,hal 162
35. Ibid,hal 163

  1.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.