BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Mempersoalkan
Filsafat Islam di era sekarng ini, kita akan diajak dahulu bernostalgia ke abad
awal dan pertengahan masehi, dimana Hellenistis yang merupakan kelanjutan dari
Filsafat klasik. Pada era pasca
Aristoteles tidak ada perkembangan dari orisinalitas filsafat, pembahasannya
masih sama dengan filsuf sebelumnya, akan tetapi puncak dari Era Hellenis ini
adalah munculnya seorang filsuf yang merupakan pendiri mazhab Neo-Platonis,
yakni Plotinus.
Seperti yang
diungkapkan Bertrand Russell, Plotinus sekaligus adalah awal dan akhir –sebagi
akhir dalam kaitannya dengan Yunani, sebagai awal dalam kaitannya dengan umat
Kristen.1 Plotinus sendiri mengusung metaphisyca monistic, dan “doktrin” inilah yang kelak di diamini
oleh beberapa filsuf Islam.
Di belahan dunia
yang lain, ada sebuah monarci yang menggunakan doktrin agama,
dimana mereka terus menginvasi wilayah-wilayah lain, guna menyebarkan misi
keagamaan mereka. Monarki itu adalah Dinasti Abbasiyah, seperti para
pendahulunya pada masa Abbasiyah melakukan Islamisasi di daerah-daerah lain.
Dari proses inilah kaum muslimin bertemu dengan filsafat.
Jika pada masa
pertengahan masehi, dunia Barat mengalami kemunduran secara filosofis dan
peradaban karena beberapa factor internal dan eksternal, di dunia Islam justru
pada era ini, mencapai kemajuan, di tandai dengan bermunculan para
filsus,ilmuwan dan pemikir, dari awal Al-Kindi hingga Ibn Rusyd. Namun beberapa
sejarawan barat mengatakan bahwa tradisi filsafat berakhir di tubuh Ibn Sina,
yang titandai dengan kritik ortodoksi dari al-Ghazali.
Sedangkan
menurut Seyyed Hossein Nasr, Filsafat islam tidak berakhir sampai Ibn Sina
dengan filsafat Paripatetik nya saja, ada tradisi lain pasca Ibn Sina, yakni
tradisi Filsafat Iluminasi (Isyraaqy),
yang cukup berpengaruh di era selanjutnya, terlebih dalam filsafat Syadru
al-Din Syirazi (Mulla Shadra).2 Ada beberapa keengganan barat untuk
menerjamahkan karya-karya filsuf Iluminasi, salah satunya adala filsafat timur
berakhir di Ibn Sina, dan terma-terma Iluminasi terlalu dekat dengan “agama”,
tradisi mystic (tasawuf).
Akan tetapi di
era sekarang, barat memulai terjemahan karya-karya filsuf Iluminasi khususnya
karya Syaikh Isyraaq (Suhrawardi),
salah satu penggiatnya adalah Henry Corbin yang terus konsen dalam terjemahan
pengumpulan karya-karya Iluminasi. Dan menurut Hossein Nasr, tradisi filsafat
dalam islam tidak berakhir sampai Ibn Sina. Perjalanan filsafat islam masih
dilakukan, khususnya di kalangan ulama-ulama syiah, terbukti dengan terbentuknya
Mazhab Isfahan di Persia (Iran, sekarang), yang dipelopori oleh Mir Damad,
selain itu masih di Persia, muncul Mulla Shadra dengan Hikmah Muta’aliyah (teosofi
transcendental).
Selain di Persia
tradisi-tradisi filsafat islam juga muncul di India salah satu filsufnya adalah
Syah Waliiullaah, di dunia Arab ada Mushtafa ‘Abd Al-Raziq.3dalam
era sekrang pun filsafat di dunia Islam masih digandrungi, tokohnya ada
Jamaluddin Afghani, Mohammed Arkoun, Murtadha Muthahhari, Allamah Husein
Thabathabi, Hossein Nasr, Misbah Yazdi. Terma-terma filsafat merka pun masih
relevan dengan Islam, dan tidak melupakan tradisi filsafat di dunia.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa filsafat islam itu ?
2.
Bagaimana perkembangan filsafat dalam
islam ?
3.
Apa Postmodernisme ?
4.
Bagaimana Filsafat Islam di dalam
dinamika Postmodernisme?
C. TUJUAN
PEMBAHASAN
1.
Untuk memahami makna dan sifat filsafat
dalam khazanah intelektual Islam
2.
Untuk memahami Filsafat khususnya
perkembangan filsafat dalam Islam
3.
Untuk memahami makna dan perkembangan
Postmodernisme
4.
Untuk menganalisa relevansi dan
eksistensi makna filsafat islam dalam dinamika Postmodernisme
D. KERANGKA
PENULISAN
Penulisan
makalah ini, terdiri dari tiga Bab
1.
BAB I.PENDAHULUAN
a.
LATAR BELAKANG
b.
RUMUSAN MASALAH
c.
TUJUAN PEMBAHASAN
d.
KERANGKA PENULISAN
2.
BAB II PEMBAHASAN
a.
FILSAFAT ISLAM
b.
POST-MODERNISME
c.
EKSISTENSI FILSAFAT ISLAM DI PERGUALATAN
PEMKIRAN POSTMODERNISME
3.
BAB III KESIMPULAN
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
FILSAFAT
ISLAM
Filsafat berasal
dari bahasa Yunani yaitu philo artinya
cinta dan shopia artinya
kebijaksanaan. Filsafat pada mulanya berarti memandang benda-benda di sekitar
dengan penuh perhatian. Kata filsafat digunakan dengan banyak cara, sebagain
secara luas dan sebagain secara sempit. Dan pembahasan-pembahasan filsafat
biasanya diawali dengan pertanyaan-pertanyaan
radikal dan membutuhkan jawaban-jawaban radikal pula, dan itu tidak lah
mudah harus melalui perenungan-perenungan dan wawasan yang luas.
Berbicara
mengenai terma filsafat tidak akan pernah lepas dari peradaban dan kebudayaan
Yunani Kuno, di era ini muncul beberapa orang yang mempertanyakan hakikat
wujud, sumber wujud, semesta (universe), sehingga dari permasalahan seperti
yang demikian itu hadir para filosof
seperti Thales, Anaximenes, Anaximandros, Phyatgoras yang biasa disebut dengan
para Filsuf Alam yang pembahasan filsafatnya berpusat pada kosmos. Pasca Filsuf
Alam, muncul Socrates,Plato,Aristoteles, yang pembahasannya lebih kepada
manusia itu sendiri (microcosmos). Jika Socrates menekankan bahwa dialog
merupakan subsastansi dari kemanusiaan, Plato dengan Idealisme,imortalitas
semestan dan konsep mengenai Negara Utopia, lalu Aristoteles dengan Metafisika,
Etika, dan yang paling penting dari Aristoteles adalah mengani Logika, sehingga
apabila kita membahas logika tidak akan lepas dari pendapat-pendapat Aristoteles.
Pasca filsafat
Aristotelian (meskipun jarak zaman mereka cukup jauh) ada seorang filsuf yaitu
Plotinus yang merupakan pengikut mazhab Plato dan sering tulis dalam sejarah
sebagi pendiri mazhab Neo-Platonis, menurut penulis perlu disinggung dalam
makalah ini, karena doktrin Neo-Platonik sangat berpengaruh dalam perkembangan
filsafat di dunia Islam, selain doktrin Aristotelian. Metafisika Plotinus
berangkat dari suatu Trinitas Suci : Yang Esa, Ruh, dan Jiwa. Ketiganaya berbeda
dangan pribadi-pribdi dlam Trinitas Kristiani, yang esa adalah yang tertinggi,
Ruh di tempat berikutnya, dan Jiwa yang terakahir.1
Latar
belakang Filsafat Islam
Seperti yang
telah diungkapakan sebelumnya terma filsafat sangatlah dinamis jika
diperbincangkan, bahkan di era sekarang pun filsafat masih di gandrungi oleh
para pengkajinya. Lalu bagaimana dunia Islam sendiri ketika membahas filsafat
?, dalam menjawab persoalan tersebut tidaklah mudah, Bertrand Russel
mengungkapkan Filsafat adalah adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah, antara
teologi dan sains, semua pengetahuna definitive –dalam istilah Russel- termasuk
sains, semua dogma yang melampaui
pengatahuan definitive, termasuk ke dalam teologi. Akan tetapi di antara
teologi dan sains terdapat sebuah wilayah yang tidak dimiliki oleh seorang
mansiapun, yang tidak terlindungi dari serangan di kedua sisinya, wilayah tak
bertuan ini adalah filsafat.2
Jiika melihat
kepada Russel, ada teologi dan sains, dalam islam pun ada teologi (kalam). Kalam islam dalam perkembangan sejarahanya sangatlah dinamis
sehingga bermunculan mazhab-mazhab kalam
dari yang sangat rasional hingga scriptural. Filsafat muncul dalam khazanah
intelektual islam adalah ketika Islam mulai menyebar keseluruh penjuru dunia,
dan berkenalan dengan agama lain bahkan dengan filsafat,juga theology skolastik
awal. Menurut Fazlur Rahman pada saa itu juga dipengaruhi karya-karya filsafat
dan sains Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab pada abad ke-2
H/8 M, bercabang dan berkembang menjadi suatu gerakan pemikiran filosofis dan
ilmiah yang cemerlang dan kuat, yang menghasilkan karya-karya yang orisinalnya
bernilai tinggi di abad ke-3H/9M sampai abad ke-6 H/ 12 M.3
Dari proses
perkenalan itu terjadi dialektika, satu sisi umat islam harus mempertahankan
aqidahnya sisi lain dia juga menerima kerangka filsafat dari non-islam yang
tidak sama dengan kerangka islam sebelumnya, dari proses terjemahan karya-karya
filsafat yunani inilah, para filsuf islam mulai mengomentari bahkan ada yang
mengaimini dengan sedikit elaborasi.
Filsafat
Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim, namun
menurut Oliver Leaman dalam di sesederhana itu, dalam perkembangannya ada juga
orang non-muslim yang berkerja dengan gaya dan dalam tradisi filsafat Islam.4
Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain.
Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya
filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian
menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka,
bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru
Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas
lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam,
karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah
pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam5
Dalam
tradisi Islam istilah-istilah yang digunakan bagi filsafat Islam dan juga
perdebatan antara filosof, teolog, dan terkadang sufi, mengenai makna
istilah-istilah Falsafah dan Hikmah, dalam beberapa hal, cukup
bervariasi dari satu periode ke periode lain, meskipun tidak selamnya demikian.
Hikmah dan falsafah tetap digunakan,
namun yang menjadi perdebatan besar adalah hikmah,
yang diklaim banyak oleh kaum sufi, mutakallimun,
maupun filosof. Tokoh Sufi Ibn ‘Arabi menyebut kebijkasanaan yang terpapar
melalui setiap manifestasi (pengejawantahan) logos sebagai hikmah.
Sedang mutakallimun Fkhr Al-Din Al-Razi mengkalim
kalam dan bukan falsafah-lah
yang dimaksud dengan hikmah.
Beberapa
definisi yang berasal dari Yunani dan yang paling lazim di kalangan filosof
Islam adalah sebagai berikut :
·
Filsafat adalah pengetahuan
tentang segala yang ada qua maujud-maujud
·
Filsafat adalah pengetahuan
tentang yang ilahiah dan yang insaniah
·
Filsafat mencari perlindungan
dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian
·
Filsafat prasyarat bagi hikmah
Para Filosof Isalm memikirkan benar-benar definisi-definisi
tentang falsafah ini, yang mereka
warisi dari sumber-sumber kuno dan
yang mereka identifikasi dengan istilah Quran hikmah karena merka percaya bahwa asal-usul hikmah bersifat Ilahi. Filosof Islam pertama Abu Ya’qub Al-Kindi
menulis dalam Fi Al-Falsafah al-Ula, “Filsafat
adalah pengetahuan tentang realitas hal-hal yang mungkin bagi manusia, karena
tujuan puncak filosof dalam pengetahuan teoritis adalah untuk memperoleh kebenaran,
dan dalam pengetahuan praktis untuk berperilaku sesuai dengan kebenaran.
Al-Farabi, menerima definisi filsafat Al-Kindi, akan tetapi dia
menambahkan perbedaaan antara filsafat yang didasarakan pada kepastian atau
keyakinan (al-yaqiiniyyah) dan
filsafat yang didasarkan pada opoini atau dugaan (al-mazhnuunah), kemudaian menegaskan bahwa filsafat adalah induk
ilmu-ilmu dan mengkaji segala yang ada. Menurut Ibn Sina “Al-Hikmat adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan Jiwa melalu
koseptualisasi (tashawwur) atas
segala hal dan pembenaran (tashdiq)
realitas-realitas reoretis dan praktis berdsarkan ukuran kemampuan manusia. Ada
yang dengan Ibn Sina ialah Ikhwan Al-Shafa menurut dia “Permulaan Filsafat
adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan tentnag reaitas wujud
sesuai ukuran kemampuan manusia, dan pamungkasanya adalah kata dan perbuatan
yang sesuai denga pengetahuan itu.
Bersama Suhrawardi, kita memasuki bukan hanya periode baru,
melainkan juga dunia lain filsafat Islam, sebagai pendiri perspektif
intelektual baru dalam Islam, Suhrawardi lebih suka menggunakan istilah hikmal al-isyraaq daripada falsafah
al-isyraaq. Bahwa Suhrwardi dan semua filosof islam sesudahnya memandang hikmah pertama-tama dan terutama sebagai
al-hikmah al-ilaahiyyah (secara
harfiah, kebijaksanaan Ilahi atau teosofi)
yang harus direalisasikan dalam sosok utuh manusia dan bukan hanya secara
mental.
Lalu ada Mulla Shadra yang merangkum sebagian dari definisi para
pendahulunya, “Falsafah adalah upaya
penyempurnaan atas jiwa melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala
sesuatu, sebagaiamana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka
yang ditetapkan atas dasar demosntrasi (Burhan)
dan bukan diturunkan dari opini atau dugaan”.
Dalam buku pertama dari Asfaar-nya
Mulla Shadra membicarakan definisi hikmah
: “Hikmah bukan hanya pengetahuan teoretis dan menjadi sebuah dunia
intelijibel yang mencitrakan dunia intelijibel yang objektif, melainkan juga
keterceraian dari nafsu dan kesucian jiwa dari cemaran-cemaran materiilnya yang oleh filosof sebelumnya disebut sebagai tajarrud atu katarsis.
Mulla Shadra menerima makna hikmah
sebagai mana yang dipahami oleh Surhawardi,
dan kemudian mengembangkan dan
memperluas makna falsafah dengan
memasukkan dimensi iluminasi (pencerahan) dan realisasi yang diimplikasikan
oleh pmehamana kaum Isyraqi dan kaum sufi terhadap istilah itu. Menurutnya, Falsafah atau filsafat dinilai sebagai
ilmu tertinggi yang berasal-usul dari azali dari Tuhan, yang bersal dari “ceruk
kenabian” dan hukama, yang dipandang
sebagai sosok manusia paling sempurna dan mempunyai keududkan hanya, di bawah
para nabi dan imam.
Baik karya maupun kehidupan para filosof muslim bukan hanya
menjadi saksi dan bukti atas perhatian panjang mereka selama lebih dari seribu
tahun terhadap konsep dan istilah filsafat, melainkan juga menunjukan signifikansi
definisi dari Islam tentang filsafat sebagi realitas yang mengubah pikiran dan
sekaligus jiwa, serta realitas yang pada hakikatnya tidak pernah bisa
dipisahkan dari kemurnian dan kesucian spiritual tertinggi yang merupakan
implikasi dari istilah hikmah dalam
konteks Islam.
Sekilas Tentang Iluminasi
(Al-Isyraaqy)
Dalam pembahasan sebelumnya penyusun sudah singgung sedikit tentang Filsafat
Iluminasi yang di ususng oleh Suhrawardi. Syaikh Al-Isyraq nama yang
dinisbahkan kepada Suhrawardi, di lahir di Desa Suhraward di dekak kota Zanjan dalam Persia modern pada tahun 549/1153. Ia menermi
pendidikan awalnya bersama Majd Al-Din Al-Jili di Maraghah lalu pergi ke
Isfahan menempuh pendidikan formalnya bersama Dhahir Al-Din al-Qari, setalah
itu melancong ke Persia dan menemui beberapa guru sufi.6
Pada tahun 587/1191 ia meninggal dan sebab langsung kematiannya
tidak diketahui, yang memang sebelumnya ia dijebloskan ke penjara, dengan dalih
menyelewangan terhadap agama. Dalam jengkal kehidupannya yang pendek, Suhrawrdi
menulis hampir lima puluh karya baik dalam bahasa Arab atau Persia yang
sebagian besarnya masih ada.7
Makna Iluminasi (Isyraaqy)
Dalam bahasa Filsafat, Illumination mempunyai pengeritan sumber
kontemplasi, perubahan bentuk dari kehidupan emosional untuk mencapai tindakan
dan harmoni. Kata isyraaqy diartikan ilminasi sekaligus cahaya pertama
pada saat pagi hari, seperti cahaya matahari dari timur.8 Akan
tetapi Filsfata iluminai tidak boleh dianggap “Timur” dalam pengertian cultural
ataupun geografis, tetapi lebih menekankan “iluminasionis” (isyraaqy, agar tak terkacaukan dengan masyriiq).9
Suhrawardi merupakan failasuf
pertama dalam sejarah filsafat yang membedakan dua pembagian metafisiska : metaphysica generalis, sebagaimana yang
dipegang oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar
tentang subjek-subjek eksistensi,kesatuan, substansi,aksiden,waktu, gerak, dan
sebagainya.
Metaphysic specialis, melibatkan pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis
masalah-masalah supra-rasional seperti eksistensi dan pengetahuan Tuhan. “imajinasi”
subjek yang mengetahui, “pembuktian” terhadap yang riil, yang disebut mundus imaginalis (‘alam al-khayal).10
Selain dalam masalah metaphysic
filsafat iluminasi juga berpengaruh dan memiliki dampak cukup besar dalam
bidang semantic. Masalah dalam logika ini antara lain adalah tipe penandaan;
hubungan antara nama-nama kelas dengan angggota kelas; tipe-tipe cara untuk
memasukkan anggota dalam kelas, dan mungkin yang paling signifikan dari sudut pandang sejarah logika teori
pengandaian yang terdefinisi dengan baik
(pemakaian terbatas dan tak terbatas dalam kuantifikasi).11
Menurut Suhrawardi, seluruh realitas tak lain dari cahaya yang
memiliki beragam tindakan dan intensitas. Ia tidak memerlukan definisi, karena
orang selalu mendefinisikan ketidakjelasan dan tidak ada yang leibh jelas dan
lebih jernih dari cahaya. Maka tidak ada apapun yang bisa didefinsikan dalam
istilah-istilah.12
Esensi Cahaya Mutlak Pertama, Tuhan, memberikan penyinaran
konstan, yang dengan itu ia termanifestsi
dan membawa segala sesuatu pada keberadaan (eksistensi). Memberikan kehiupan
kepadanya dengan sinarnya. Segala sesuatu di dunia berasal dari cahaya
esensi-Nya dan segala keindahan dan kesempurnaan merupakan karunia dari
rahmat-Nya, yang pencapian sepenuhnya pada iluminasi ini merupakan penyelamatan
(salvation).13
Tujuan dasar filsafat Ilumnias Suhrawrdi adalah merumuskan jalan
yang jelas menuju suatu kehidupan filosif sekaligus merupakan saran yang secara
“ilmiah” lebih valid untuk meneliti sifat dan hakikat sesuatu serta sarana
untuk mencapai kebahagiaan, dan juga jalan untuk meraih kebijaksanaan yang
lebih praktis yang dapat dan harus digunakan untuk mengabdi kepada kekuasaan
yang adil.14
Tradisi Kritik Iluminasi
Suhrawardi
Meskipun Filsafat Iluminasi Suhrawardi terlahir dari embrio Filsafat
Paripatetik, ia tidak menghilangkan kritik terhdap filsafat paripatetik. Ia
menngkritik theisi Ibnu Sina mengenai pembedaan antara esensi dan eksistensi,15
eksistensi merupakan prinsip dan realitas esensi tergantung pada eksisetinsi.
Bagi Suhrawardi, setidaknya sesuai dengan interpretasi umum atas
pernyataa-pernyataan, esesni sesuati itulah yang memiliik realita dan merupakan
prinsip, sedang eksistensi memainkan peran sampingan dari aksiden yang
ditammbahkan pada esensi.16
Ia juga menyingkirakn dasar pembedaan yang dibuat para filosof
antara Tuhan dan manusia. Sejajar denga itu, ia menyangkal pembedaan antar
kemungkinan dan kemestian dan menyatakan pembedaan-pembedaan ini sebagai
semata-mata bersifat mental dan subyektif. Lebih lanjut, ia menyerang ide
dualita antar materi dan bentuk dan merusukan suatu doktrin tentang eksistensi
murni yang hanya mentolelir perbedaan satu-satunya dalam eksistensi itu sendiri
yang menyangkut ‘lebih atau kurang’ atau ‘lebih sempurna dan kurang sempurna’.17
B.
POST-MODERNISME
Istilah Posmodernisme sangat
membingungkan, bahkan meragukan. Asal usulnya adalah dari wilayah seni: Musik,
seni rupa, roman dan novel, drama, fotografi, dan arsitektur. Dan dari situ
merembet menjadi istilah mode yang dipakai oleh beberapa wakil dari beberapa
ilmu.18
Istilah
‘postmodernisme’ memang tidak mudah didefinisikan, ambigu dan mengundang
perdebatan. Kaya Yilmaz 19 memaparkan tiga alasan utama mengapa
istilah ‘postmodernisme’ tidak mudah untuk didefinisikan.
Pertama, karakter dasardi dalam postmodernisme
yang anti fondasional dan anti esensial mengisyaratkan suatu penolakan terhadap
definisi. Dalam pengertian konvensional ‘definisi’ selalu mengandung makna
fondasional (memaparkan hal-hal yang mendasar) dan esensial (mencari hal-hal
yang hakiki dan bukan artifisial). Nicholson, menyatakan: ‘berbeda dengan
modernism, postmodernisme harus menolak suatu deskripsi tentang dirinya sebagai
serangkaian ideal yang tak terikat dengan waktu,; postmodernisme harus dipahami
sebagai serangkaian sudut pandang pada suatu waktu, hanya absah di dalam
waktunya sendiri.’
Kedua, postmodernisme bukanlah teori,
perspektif atau kacamata tunggal, sistematis dan koheren, tetapi lebih
merupakan kecenderungan intelektual atau gabungan perspektif intelektual yang
ditarik dari berbagai teori dan gerakan semisal fenomenologi, hermeneutika,
poststrukturalisme, semiotika, teori kritis dan neopragmatisme, yang memiliki
kesamaan pandangan di dalam menyoal asumsi-asumsi dasar di dalam modernism.
Ketiga,
tokoh-tokoh utama yang menyembulkan dan menyemai ide-ide postmodernisme seperti
Derrida, Lyotard, Foucault, Baudrilard, Lacan, Jameson, Kristeva, atau Rorty
tidak memberikan uraian atau gambaran ringkas tentang postmodernisme. Mereka
menulis sesuai dengan fokusnya masing-masing.
Cak Nur
memberikan pandanganya mengenai post-modernisme yang hampir sama dengan
pandangan-pandangan di atas; “Namun, seperti para pemikir pascamodernisme
sendiri telah mengakui dan memang mustahil mengingkari, ada kesinambungan
organik antara modernitas dan pascamodernitas. Garis kelanjutan itu telah
terlebih dahulu melahirkan situasi dilematis di kalangan mereka sendiri, karena
mereka, sementara berkehendak untuk melakukan “dekonstruksi”
kemapanan-kemapanan,namun kemampuan melakukan dekonstruksi itu sendiri masih
merupakan fungsi dari modernitas. Dengan kata lain, agaknya hanya orang,
komunitas atau bangsa modern yang mampu mengembangkan pascamodernisme sebagai
suatu kelanjutan wajarnya, mereka yang telah menyertai pandangan Humaniora
Pencerahan”.20
Dalam makalah
ini penyusun mencoba untuk melihat postmodernisme dari sadut pandang yang
mungkin tidak terlalu popular, biasanya postmodernisme membahas gejala-gejala
sosilogis, dan “narasi besar” modernism.
Kevin O’Donnell
menyinggung Carl Gustav Jung seoranng Psikoanalis, O’Donnell menugngkapkan;
Jung berbeda paham dengan Freud tentang tafsiran mimpi, dan ia menjabarakan
teori yang bebeda tentang bawah sadar. Ia memberi peran sentral dalam hidup
manusia pada symbol, misteri, roh dan yang tak dapat dikatakan. Penemuan
kembali hal-hal penuh rahasia, tidak sempurna dan puitis merupakan aspek kunci
posmodernisme. 21
Ketika membahas
alam bawah sadar menurut Jung yang di kutip ole Kevin O’Donnell, bahwa diri
yang dasar merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan ia berbicara
tentang “Diri” dan “diri”. Diri (dengan capital) dipandang sebagai pengalaman
kolektif manusia, yang darinya kita semua dapat menyadap. Diri (dengan capital)
merupakan lilitan satu lingkaran, di mana diri berada tegak di tengahnya.
Konsep Diri sebagi lapisan terdalam keberadaan kita diambil alih oleh berbagai
aliran terapi. Mistsme Era Baru mengklaim istilah itu untuk hakikat spiritual
kita, dan meminjam dari pemikiran Timur, mendeklarasikan Diri Sebagai bagian
dari Allah.22
Lyotard
berargumentasi untuk meninggalkan metanarasi, tetapi ia membiarkan cahaya
transcendental memercikkan sinarnya. Ia menulis tentang pengalaman tentang yang
luhur, hal yang melampaui kata-kata dan
bentuk, semacam perasaan kagum dan terkena pralinguistik. Ini bagian dari kehidupan,
dan tidak boleh diabaikan, disangkal atau diedit diluar wacana. Karena ia
melampaui bentuk, maka paling baik orang mengacunya dalam tulisan avant-grade
dan seni abstrak. Itu adalah misteri yang tak terungkapkan. Kita hidup dalam
rangkulnya. Lyotard berteriak demi masyarakat yang terbuka baik bagi rasa
keadila maupun bagi yang tidak diketahui 23
Dalam salah satu
Jurnal Teosofi : Jurnal Tasawuf dan pemikiran Islam karya Ghozi, ada yang
menyinggung spiritualitas posmodern, dia membagi dua Spiritualitas, dalam arti
sempit yakni spritualits dalam kerangka agama atau ordo tertentu dan arti luas
yakni spiritualitas kemausiaan, tanpa harus ada agama atau ordo.
Dalam teologi
posmodernisme Griffin24, terdapat empat prinsip spiritual
postmodern:
· keutamaan energi spiritual (primacy of
spiritual energy) pondasi dari seluruh energi sosial—termasuk juga ekonomi,
politik, dan budaya—adalah spiritual. Spiritualitas merupakan sumber legitimasi
dan tranformasi sosial terdalam.;
· spiritual sebagai perwujudan (embodied
spirituality) Spiritualitas posmodern dapat digambarkan sebagai sebuah
perwujudan. Hal ini berbeda dengan pemikiran klasik tentang transendensi tanpa
wujud. Spiritualitas posmodern tidak memungkiri tentang kebenaran transendensi
visi Tuhan. Akan tetapi, saat ini dibutuhkan energi spiritual yang mengakar
dalam materi: pertama,-dalam diri, selanjutnya dalam konteks masyarakat, dan
terakhir dalam alam semesta. Tubuh, masyarakat, dan alam adalah mediator utama
‘misteri’ pada kita.
· alam sebagai perwujudan spiritual
(nature as spiritual embodied) alam sebagai perwujudan spiritual. Dalam
pandangan spiritualitas posmodern, tubuh manusia merupakan titik awal
keterlibatan dan perwujudan sejarah dengan seluruh proses duniawi dan, bahkan,
seluruh alam semesta;
·
masyarakat sebagai pengembangan
spiritual manusia (society as human development spirituality) penjelmaan
spiritualitas posmodern, yakni masyarakat yang diekspresikan sebagai sejarah
dan mengkristal dalam institusi dan tradisi.
Teologi posmodern merupakan pencarian
masyarakat Barat yang berusaha menyelesaikan permasalahan spiritualitas mereka,
hubungan mareka dengan ‘Tuhan’ mereka. Sebelum gagasan ini muncul, telah muncul
beberapa gagasan tentang teologi Barat seperti gagasan ‘Civil Religion’ yang
ditawarkan oleh Robert N. Bellah dalam karya monumentalnya, Beyond Belief Gagasan
civil religion ini juga merupakan respon atas krisis spiritulitas Barat,
khususnya masyarakat Amerika.25
Bellah mencoba menangkap makna Tuhan
yang disampaikan oleh beberapa Presiden Amerika dalam pidato resminya dan
tokoh-tokoh penting negara Paman Sam tersebut yang tidak pernah menjelaskan
‘Tuhan’—dalam agama apa dan dalam konsep apa. Singkatnya, Bellah menyimpulkan
konsep tentang Tuhan yang disampaikan oleh para tokoh tersebut sebagai ‘Tuhan’
yang mungkin dipahami berbeda oleh masyarakat Amerika, namun merupakan ‘Tuhan’
yang menjadi ‘pemersatu’ mereka. Tuhan tersebut lebih berhubungan dengan
aturan, hukum, dan hak daripada terhadap keselamatan atau cinta.6 Dari sini,
konsep Tuhan tersebut terkesan jauh dari transendensi agama-agama semitik dan
lainnya.26
Kredo Postmodern
27
·
Terbukalah
·
Terbuka terhadap panggilan dan kehadiran
·
Hargailah Anugerah
·
Toleran terhadap orang lain dan
pandangan mereka
·
Apa yang menurut pikiran kita ada
mungkin tidak selalu benar
·
Jangan takut akan hal-hal besar
·
Cinta itu ada
·
Rasakan misteri berembus di wajahmu
·
Kehidupan bukannya bebas-untuk semuanya
secara acak
Eksistensi Filsafat Islam di
Pergualatan Pemkiran Postmodernisme
Seperti
yang telah penyusun uraikan di atas bahwa perkembangan filsafat dalam islam
begitu kompleks, bahkan di era sekrang tidak sedikit para filsuf, mengambil
ide-ide dasar dari kebijaksanaan para filsuf islam sebelumnya, khususnya
filsafat Iluminasi, yang belakangan di kaji oleh Henry Corbin.29
Di
era sekarang banyak yang menyebut era post-modern, meskipun istilah itu masih
banyak dipertanyakan salah satunya oleh Cak Nur30. Meskipun istilah
postmodern di awali dari bahasa seni dan merembes kepada istilah-istilah
sosial, Lytard lah yang membawa postmodern kepada ranah filsafat, yang
menentang Grand narasi (Narasi besar)
–nya modernism.
Syafwan
Rozi membuat klasifikasi pemikiran di era post-modern ini. Pertama, yang mervisi pemikir modernitas, namun cenderung kembali
ke pola permikiran pra modern seperti metafisika New Age. Tokohnya seperti
Capra,Zuvar,dan sebagianya. Kedua, pemikiran
yang mervisi modernisem tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan
perbaikan sana-sini yang dirasa perlu. Tokohnya Whitehead,Gademer,dan
sebgainya. Ketiga,pemikiran yang
memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekedar efek samping dari
pemikiran pencerahan, melainkan sebagi sesuatu yang melekat di dalamanya.31
Penyusun
mengambil konsep yang pertama ketika membahas postmodern dalam makalah ini,
asumsi yang di bangun bahwa filsafat tidak hanya membicarakan hal yang empirik
dan positivis saja, yang kedua aliran ini selalu di kritik oleh sebagian orang
disebut pemikir postmodern32. Jika melihat kepada klasifikasi pertama
postmodern juga cenderung kembali kepada metafisika NewAge yang tandai dengan
metafisikanya Plotinus.
Filsafat islam pun membahas beberapa metafisika, meskipun
filsuf-filsuf seperti Al-farabi dan Ibn Sina terperngaruh oleh metafisikanya
Aristoteles, yang berujung dengan aliran Paripatetiknya, filsafat islam tidak
berthenti disitu, Suhrawardi pengusung konsep Iluminasi dan ia pun memiliki
konsep metafisikanya tersendiri.
Suhrawardi merupakan failasuf
pertama dalam sejarah filsafat yang membedakan dua pembagian metafisiska : metaphysica generalis, sebagaimana yang
dipegang oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar
tentang subjek-subjek eksistensi,kesatuan, substansi,aksiden,waktu, gerak, dan
sebagainya. Metaphysic specialis, melibatkan
pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis masalah-masalah supra-rasional
seperti eksistensi dan pengetahuan Tuhan. “imajinasi” subjek yang mengetahui,
“pembuktian” terhadap yang riil, yang disebut mundus imaginalis (‘alam
al-khayal).33
Selain dalam masalah metaphysic
filsafat iluminasi juga berpengaruh dan memiliki dampak cukup besar dalam
bidang semantic. Masalah dalam logika ini antara lain adalah tipe penandaan;
hubungan antara nama-nama kelas dengan angggota kelas; tipe-tipe cara untuk memasukkan
anggota dalam kelas, dan mungkin yang paling
signifikan dari sudut pandang sejarah logika
teori pengandaian yang yang terdefinisi dengan baik (pemakaian
terbatas dan tak terbatas dalam kuantifikasi).34
Menurut Dr. A. Hasan Ridwan, dalam buku Dasar-dasar Epistemologi
Islam, Suhrawardi menggabungkan dua kebijaksanaan, yaitu kebijaksanaan
ekperensial, dan kebijaksanaan diskursif, adalah pemikiran yang secar aplikatif
akan membuat umat islam tidak hanyut dalam perkembangan zaman, tetapi
sebaliknya, dapat mengendalikan dan mewarnainya, baik dari segi materiil,
mental maupun spiritual.35.
Perspektif ini menyediakan kunci untuk memahami agama atau
agama-agama secara utuh dengan segala kompleksitas, teka-teki, dan
pluralitasnya. Selain itu, ia juga menghasilkan kunci-kunci tertentu untuk
membuka pintu-pintu yang menutup jalan manusia modern. Solusi yang mereka
usulkanuntuk menganggulangi maslah-masalah yang timbul dari studi agma dan
hubungan antar agama dalam konteks dunia sekuler modern patut dipertimbangkan
secara serius oleh semua yang tertarik dengan makna keagamaan dari studi agma
sekarang, juga merka yang mempunyai perhatian terhadap hakikat dan nasib
manusia sebagai makluk yang jati dirinya terbentuk dari realitas yang menjadi
perhatian agama yang dipahami secar perennial.36
Filsafat Iluminasi yang dibangun oleh Suhrawrdi terkesan sebagi
gerakan elektik, yang di dalamnya tergabung unsur-unsur Islam,Zoroasterianisme,
Hellenisme, dan lainnya.35 Sehingga gagasan filsafat Iluminasi
Suhrawardi masih cukup bergema sampai sekarang. Oleh karena itu, implikasinya
dapat menghasilkan nuansa harmoni dalam kehidupan, dan memberi fungsi filosofis
dan spiritual dalam memaknai hidup di tengah
ide-ide postmodernisme muncul seperti relatifisme
BAB IV
KESIMPULAN
Filsafat
Islam adalah bersifa isalam, bukan hanya kerna ia dibudidayakan di Dunia Islam
dan dilakukan oleh kaum Muslim, melinkan juga karena menjabarakan
prinsip-prinsp dan menimba inspirasi dari sumber-sumber wahyu Islam, sert
mengangai banyak permasalan denga sumber-sumber wahyu Islam, serta mengangi
banyak permasalahan dengan sumber-sumber Islam. Semua filosof Islam sejak
Al-Kindi hingga filosof terkini seperti ‘Allamah Thabathaba’I, hidup dan
bernapas di dalam sebuah dunia yang didominasi oleh realita Al-Quran dan Sunnah
Nabi.
Filsasfat
Islam pada dasarnya merupakan hemeneutika filosofis ats teks sakral di samping
memanfaatkan khazanah filsafat zaman purba, itulah sebabnya menganpa filsafat
Islam selama berabad-abad hingg hari ini tetap merupakan salah satu pespektif
intelektual utama dalm peradaban Islam dengan akar yang tertanam dalam Al-Quran
dan hadis, dan sama sekali bukanla sebuah fase asing dan sementara dalam
sejarah pemikiran Islam.
Sedangkan
Postmodernisme sendiri terbagi kedalam tiga kelas :
A. Pertama, yang
mervisi pemikir modernitas, namun cenderung kembali ke pola permikiran pra
modern seperti metafisika New Age.
B. Kedua, pemikiran
yang mervisi modernisem tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan
perbaikan sana-sini yang dirasa perlu.
C. Ketiga,pemikiran
yang memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekedar efek samping
dari pemikiran pencerahan, melainkan sebagi sesuatu yang melekat di dalamanya.
Lyotard
berargumentasi untuk meninggalkan metanarasi, tetapi ia membiarkan cahaya transcendental
memercikkan sinarnya. Ia menulis tentang pengalaman tentang yang luhur, hal
yang melampaui kata-kata dan bentuk,
semacam perasaan kagum dan terkena pralinguistik. Ini bagian dari kehidupan,
dan tidak boleh diabaikan, disangkal atau diedit diluar wacana. Itu adalah
misteri yang tak terungkapkan. Kita hidup dalam rangkulnya. Lyotard berteriak
demi masyarakat yang terbuka baik bagi rasa keadila maupun bagi yang tidak
diketahui. Dan salah satu kreso dari postmodernisme adalah : Cinta itu ada,
Rasakan misteri berembus di wajahmu, Hargailah Anugerah, Terbuka terhadap
panggilan dan kehadiran.
Meskipun Lyotard
mengkritik metanarasi,tetapi dia masih bingun untuk menjelaskan hal-hal yang
metafisika, sehingga dia menulis pengalaman pribadinya seperti diatas, hamper
ada kesamaan dengan doktrin iluminasi, akan tetapi dia masih memandang cahaya
dengan sisi transcenden (berada diluar), sedangkan doktrin iluminasi memandang
cahaya secara imanen (berada didalam).
Dari sinilah
penyusun, memandang eksistensi filsafat islam di pergulatan postmodern, ketika
krisis spiritual orang-orang modern tak terelakkan lagi. Seperti yang di
katakana oleh A.Hasan Ridwan, filsafat iluminasi dapat
menghasilkan nuansa harmoni dalam kehidupan, dan memberi fungsi filosofis dan
spiritual dalam memaknai hidup.
1. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, hal 403
2. Ensiklopedi Tematis Filsafat
Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah
mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 19
3.Ibid,35
2. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal xiii
4.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku
Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan,
Bandung, 2003, hal 2
5. Ibid, hal 29
6.Seyyed
Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, Terj. Maimun, Ircisod,
Jogjakarta, hal.103
7.ibid,
hal 107
8.Dasar-dasar
epistemology dalam Islam, Ahmad hasan ridwan dan Irfan Safrudin, Pustaka Setia,
Bandung, Hal.153
9.Ensiklopedi
Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj.
Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 552
10.
Ibid, 553
11. Ibid, hal 554
12.Seyyed Hossein Nasr, Tiga
Mazhab Utama Filsafat Islam, Terj. Maimun, Ircisod, Jogjakarta, hal.126
13.ibid, hal 127
14. .Ensiklopedi
Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim
penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal,553
15. Fazlur
Rahman,Islam, terj. Ahsim Mohammad, Pustaka, Bandung 2010, hal 178
16. Ibid, hal 123
18. Bambang Sugiharto, Postmodernisme:
Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 23
19. TEOLOGI
POSMODERN: MENIMBANG KONSEP NATURALISME-TEISTIK,Ghozi, Teosofi: Jurnal Tasawuf
dan Pemikiran Islam,Volume 01, Nomor 02, Desember 2011, hal 92
20.Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 3,
Budi Munawar-Rachman, Mizan, Bandung,2006, hal 2351
22.Postmodernisme,
Kevin O’Donnell, Kanisisu, Jogjakarta,2009,hal 70
23.Ibid, hal,
138
24. TEOLOGI POSMODERN:
MENIMBANG KONSEP NATURALISME-TEISTIK,Ghozi, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan
Pemikiran Islam,Volume 01, Nomor 02, Desember 2011, hal 138
26.
Ibid, hal 97
27. Postmodernisme, Kevin O’Donnell,
Kanisisu, Jogjakarta,2009,hal 152
28.Ensiklopedi
Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj.
Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal
39.
lihat hal 12
30.Syafwan Rozi,Agama
dan Postmdernisme : Menelusuri Metologi dan Pendekatan Studi-Studi Agama,
Jurnal Ilmu Ushuluddin, Volume 1, Nomor 3, Januari 2012, hal 233.
31.Ben Agger,
Critical Social Theories; An Introducing, Terj. Nurhadi, Kreasi Wacana,
Yogyakarta, 2003, hal 2
32. Ensiklopedi Tematis
Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim
penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal553
33.Ibid,
hal 554
34. A.Hasan
Ridwan, Dasar-dasar Epistemologi Islam, Pustaka Setia, Bandung,2011,hal 162
35. Ibid,hal 163
Tidak ada komentar:
Posting Komentar