Kamis, 26 November 2015

AKANKAH KAMU KELUAR DARI HMI ?!

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
 
Salam Sejahtera
Salam Se-Nusa Se-Bangsa,
Salam bagimu wahai Pecinta
Salam bagimu moyang bangsa Idonesia
Salam bagimu wahai leluhur Insan Cita
Salam bagi kader umat dan kader bangsa         

Tulisan lepas ini, hanya refleksi, mencoba insyafi diri, harapan para pengabdi, untuk bumi pertiwi, membangun peradaban islami.

Usiaku di HMI baru dua tahun, bak bayi yang baru di sapih oleh sang bunda, mungkin aku juga akan di sapih oleh HMI, sang bunda bukannya enggan untuk menyusui anaknya, tapi itulah kasih bunda untuk sang putra, untuk bisa beratahan hidup di alam raya, sebagai manusia, wakil Tuhan di semesta. Bagiku tahun ini, waktunya HMI untuk menyapihku, mungkin dengan cara lain, semesta ini samudera kemungkinan, aku harus pandai memilah dan memilih. Di sapih bukan berarti lepas, justru memberi kemerdekaan tanpa harus menghilangkan indentas, guna tercapainya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT, dengan karakter Insan Cita.
Di usia nya yang sudah tak muda lagi, HMI banyak digoncang dari berbagai arah, ada yang menggoncang sebab ingin membangun, ada pula yang menggoncang sebab ingin menghancurkan. Pada bulan ini (November 2015) HMI mengadakan hajatan besar dua tahunan, Kongres, penentu penguasa struktural, penentu arah juang, penentu perkarderan, penentu implementasi misi HMI.  Tapi propaganda media memperlihatkan wajah HMI dengan wajah lain, seolah-olah HMI perusak dan penghancur bangsa, atau.. itu bukan propaganda tapi fakta, entahlah…, coba tanyakan kepada kawan-kawan yang sedang berjuang di kongres. Sebagai kader HMI aku agak merinding melihat propaganda media masa, antara percaya atau tidak. Jika kata Choamsky, Politik adalah kuasa media. Mungkinkah itu dari agenda seting dari penguasa Indonseia?, bisa iya,bisa tidak. Bahkan ada yang bertanya dengan nada sinis, seolah-olah senang melihat HMI demikian, bahkan ada yang ekstrim, “coba lihat para kader HMI, kamu kader HMI-kan?, lebih baik keluar dari keanggotaan!”. Sangat mengerikan, akan ku jawab dalam tulisan lepas ini.
HMI lahir di Jogjakarta oleh beberapa mahasiswa, yang mempunyai cara pandang yang maju, mereka tidak berfikir lemah, mereka berfikir universal, tapi dalam gerak tidak melupakan yang parsial, dengan misi menyelamatkan bangsa dan Negara juga agama. Mungkin kalian lebih paham sejarah HMI ketimbang aku ini. Aku masih ingat dengan ritual pertama perkaderan HMI, yah..Basic Training LK 1, aku dibina disini, dari mulai dihancurkannya doktrin-doktrin selama ini yang dikira kurang tepat, hingga di dampar untuk mempertahankan gagasan. Pada waktu itu aku disuruh untuk mengafal sebuah kalimat “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab akan terwuwjudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.”.  Belakangan, aku tahu itu adalah mission HMI, sungguh mulia misi mu wahai sang Hijau Hitam.
Doktrin HMI yang paling fundamental adalah tentang Kebenaran, kita harus mempunyai kerangka tentang Kebenaran, setidaknya untuk diri kita sendiri, jika tak bisa untuk orang lain. Dalam sebuah kesempatan di pusgit di adakan diskusi tentang NDP (Nilai Dasar Perjuangan), teks ideologis bagi kader HMI, masih terngiang dalam benak ku paragraph ke-empat bab 1 :

“pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.”

Dengan keadaan kongres sekarang ini, mungkinkah HMI sudah melenceng dari tujuan awalnya?, lagi-lagi… bisa iya, bisa tidak. Aku bukanlah peserta kongres yang tahu situasi dan kondisi faktualnya, maka kurang tepat jika aku langsung menyimpulkan. Aku berbaik sangka pada kongres saat ini, mungkin aku memandang gejolak-gejolak yang ada di kongres, adalah berbedanya cara memandang dalam memperjuangkan kebenaran. Kalau demikian, apakah kebenaran itu relatif?, tergantung kebenaran mana yang kalian pegang, Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah, aku berkesimpulan bahwa, kalau lah yang di bawa adalah misi Tauhid, maka itu mutlak, selain dari misi Tauhid adalah relatif… Renungkanlah…!! Misi apa yang kita bawa ?!
Dalam konstitusi HMI disebutkan bahwa HMI sifatnya Independen, bagiku independensi HMI, adalah hanya “berkoalisi” dengan kebenaran yang mutlak yaitu Tuhan Allah, jadi koalisi HMI adalah “Koalisi Ilahiyah”. Status HMI adalah organisasi mahasiswa yang kental dengan budaya akademik (membaca,menulis,diskusi,mengabdi untuk bangsa), lalu fungsinya sebagai organisasi kader, dan kader itu sendiri menurut A.S. Hornby adalah Sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Mungkin inilah sebagian kecil ulasan mengenai HMI dari seorang kader yang usianya baru dua tahun di HMI… Maafkanlah !!
Lalu kembali pada pertanyaan awal, akankah keluar dari HMI ?, kalau lah ada lagi yang bertanya atau menyuruh seperti itu kepada ku, maka akan aku suruh dia keluar dari kelompoknya (baik dalam agama Islam,Kristen, hindu, budha, dll, atau organisasi baik intra maupun ekstra kampus, atau juga komunal-komunal yang lainnya). Karena, bagiku pertanyaan itu, mengandung kesalahan berfikir, yaitu over generalis, (Generalisasi tergesa-gesa), dalam logika, tak bisa kejadian-kejadian atau fakta-fakta parsial yang tidak cukup, atau karena tidak memakai batasan, di generalisasikan. Semisal : Ikmal  mahasiswa bodoh, Ikmal kader HMI, maka kader HMI bodoh. Selain over generalis, sekaligus kesalahan silogisme. Mungkin itulah anggapan aku pada orang yang bertanya seperti diatas. Ada kader HMI yang urakan, maka HMI urakan. Mengapa kamu tidak keluar dari HMI yang urakan ?, sekali lagi, bagiku itu adalah kesalahan berfikir !!
Indonesia merupakan Negara yang pendudukunya, beragama Islam. Lalu banyak sekali di Indonesia orang bajingan, dari Koruptor yang “beretika”, hinngga orang urakan pemerkosa. Kita juga orang Indonesia, banyak orang yang ingin berjasa sampai mencari penghasilan dengan memanipulasi data. Akan kah kamu keluar dari Islam dan Indonesia ?, tak usah dijawab dengan kata, itu kesalahan berfikir. Jawablah dengan karya, mungkin Socrates tidak akan dikenal jika tidak ada karya Plato. Kisah Laila Majnun tak akan abadi jika tak dituliskan, Nusantara terkikis karena karya nenek moyang tak dipertahankan. Karya apa yang akan kita persembahkan untuk HMI, Umat dan Bangsa ?!, Karya tidak hanya tulisan, tapi lebih dari itu semua ! Pengabdian.

Aku Rindu ketabahan Lafran Pane
Aku Rindu liarnya pikiran Wahib
Aku Rindu kedalaman pikiran Cak Nur
Aku ingin melihat kembali hangatnya senyum Sakib Mahmud
Aku belum membaca karya Endang Syaefudin Anshary
Aku ingin menjadi kader umat dan kader bangsa
Tapi aku belum bisa memantaskan diri untuk ADA…

Salam Sejahtera aku haturkan untuk Kakanda,Ayunda,Adinda, dan kawan-kawan seperjuangan HMI Se-Nusa dan Se-Bangsa. Kita berproses bersama, kita berjuang bersama, kita tumbuh bersama, kalau ada kesalahpahaman kendaknya saling memaafkan.


Bi-Allahi taufiq wa-al-hidayah.  

1 komentar:

  1. Menarik, berdiskusi lewat tulisan, melepaskan keluh kesah realita

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.