Oleh : Muhamad
Ikmal Assidiqi
Salam
Sejahtera
Salam
Se-Nusa Se-Bangsa,
Salam
bagimu wahai Pecinta
Salam
bagimu moyang bangsa Idonesia
Salam
bagimu wahai leluhur Insan Cita
Salam
bagi kader umat dan kader bangsa
Tulisan lepas
ini, hanya refleksi, mencoba insyafi diri, harapan para pengabdi, untuk bumi
pertiwi, membangun peradaban islami.
Usiaku di HMI
baru dua tahun, bak bayi yang baru di sapih oleh sang bunda, mungkin aku juga
akan di sapih oleh HMI, sang bunda bukannya enggan untuk menyusui anaknya, tapi
itulah kasih bunda untuk sang putra, untuk bisa beratahan hidup di alam raya,
sebagai manusia, wakil Tuhan di semesta. Bagiku tahun ini, waktunya HMI untuk
menyapihku, mungkin dengan cara lain, semesta ini samudera kemungkinan, aku
harus pandai memilah dan memilih. Di sapih bukan berarti lepas, justru memberi
kemerdekaan tanpa harus menghilangkan indentas, guna tercapainya masyarakat
adil makmur yang di ridhoi Allah SWT, dengan karakter Insan Cita.
Di usia nya yang
sudah tak muda lagi, HMI banyak digoncang dari berbagai arah, ada yang
menggoncang sebab ingin membangun, ada pula yang menggoncang sebab ingin
menghancurkan. Pada bulan ini (November 2015) HMI mengadakan hajatan besar dua
tahunan, Kongres, penentu penguasa struktural, penentu arah juang, penentu
perkarderan, penentu implementasi misi HMI.
Tapi propaganda media memperlihatkan wajah HMI dengan wajah lain,
seolah-olah HMI perusak dan penghancur bangsa, atau.. itu bukan propaganda tapi
fakta, entahlah…, coba tanyakan kepada kawan-kawan yang sedang berjuang di
kongres. Sebagai kader HMI aku agak merinding melihat propaganda media masa,
antara percaya atau tidak. Jika kata Choamsky, Politik adalah kuasa media. Mungkinkah
itu dari agenda seting dari penguasa Indonseia?, bisa iya,bisa tidak. Bahkan
ada yang bertanya dengan nada sinis, seolah-olah senang melihat HMI demikian,
bahkan ada yang ekstrim, “coba lihat para
kader HMI, kamu kader HMI-kan?, lebih baik keluar dari keanggotaan!”.
Sangat mengerikan, akan ku jawab dalam tulisan lepas ini.
HMI lahir di
Jogjakarta oleh beberapa mahasiswa, yang mempunyai cara pandang yang maju,
mereka tidak berfikir lemah, mereka berfikir universal, tapi dalam gerak tidak
melupakan yang parsial, dengan misi menyelamatkan bangsa dan Negara juga agama.
Mungkin kalian lebih paham sejarah HMI ketimbang aku ini. Aku masih ingat
dengan ritual pertama perkaderan HMI, yah..Basic
Training LK 1, aku dibina disini, dari mulai dihancurkannya doktrin-doktrin
selama ini yang dikira kurang tepat, hingga di dampar untuk mempertahankan
gagasan. Pada waktu itu aku disuruh untuk mengafal sebuah kalimat “Terbinanya Insan akademis, pencipta,
pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab akan terwuwjudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.”. Belakangan, aku tahu itu adalah mission HMI,
sungguh mulia misi mu wahai sang Hijau Hitam.
Doktrin HMI yang
paling fundamental adalah tentang Kebenaran, kita harus mempunyai kerangka
tentang Kebenaran, setidaknya untuk diri kita sendiri, jika tak bisa untuk
orang lain. Dalam sebuah kesempatan di pusgit di adakan diskusi tentang NDP
(Nilai Dasar Perjuangan), teks ideologis bagi kader HMI, masih terngiang dalam
benak ku paragraph ke-empat bab 1 :
“pada
dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu
bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang
tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan
kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah
kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan.
Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.”
Dengan keadaan
kongres sekarang ini, mungkinkah HMI sudah melenceng dari tujuan awalnya?,
lagi-lagi… bisa iya, bisa tidak. Aku bukanlah peserta kongres yang tahu situasi
dan kondisi faktualnya, maka kurang tepat jika aku langsung menyimpulkan. Aku
berbaik sangka pada kongres saat ini, mungkin aku memandang gejolak-gejolak
yang ada di kongres, adalah berbedanya cara memandang dalam memperjuangkan
kebenaran. Kalau demikian, apakah kebenaran itu relatif?, tergantung kebenaran
mana yang kalian pegang, Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah, aku
berkesimpulan bahwa, kalau lah yang di bawa adalah misi Tauhid, maka itu
mutlak, selain dari misi Tauhid adalah relatif… Renungkanlah…!! Misi apa yang
kita bawa ?!
Dalam
konstitusi HMI disebutkan bahwa HMI sifatnya Independen, bagiku independensi
HMI, adalah hanya “berkoalisi” dengan kebenaran yang mutlak yaitu Tuhan Allah,
jadi koalisi HMI adalah “Koalisi Ilahiyah”. Status HMI adalah
organisasi mahasiswa yang kental dengan budaya akademik (membaca,menulis,diskusi,mengabdi
untuk bangsa), lalu fungsinya sebagai organisasi kader, dan kader itu sendiri
menurut A.S. Hornby adalah Sekelompok orang yang
terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi
kelompok yang lebih besar.
Mungkin inilah sebagian kecil ulasan mengenai HMI dari seorang kader yang
usianya baru dua tahun di HMI… Maafkanlah !!
Lalu kembali pada
pertanyaan awal, akankah keluar dari HMI ?, kalau lah ada lagi yang bertanya
atau menyuruh seperti itu kepada ku, maka akan aku suruh dia keluar dari
kelompoknya (baik dalam agama Islam,Kristen, hindu, budha, dll, atau organisasi
baik intra maupun ekstra kampus, atau juga komunal-komunal yang lainnya).
Karena, bagiku pertanyaan itu, mengandung kesalahan berfikir, yaitu over
generalis, (Generalisasi tergesa-gesa), dalam logika, tak bisa
kejadian-kejadian atau fakta-fakta parsial yang tidak cukup, atau karena tidak
memakai batasan, di generalisasikan. Semisal : Ikmal mahasiswa bodoh, Ikmal kader HMI, maka
kader HMI bodoh. Selain over generalis, sekaligus kesalahan silogisme.
Mungkin itulah anggapan aku pada orang yang bertanya seperti diatas. Ada kader
HMI yang urakan, maka HMI urakan. Mengapa kamu tidak keluar dari HMI yang
urakan ?, sekali lagi, bagiku itu adalah kesalahan berfikir !!
Indonesia merupakan Negara
yang pendudukunya, beragama Islam. Lalu banyak sekali di Indonesia orang
bajingan, dari Koruptor yang “beretika”, hinngga orang urakan pemerkosa. Kita
juga orang Indonesia, banyak orang yang ingin berjasa sampai mencari
penghasilan dengan memanipulasi data. Akan kah kamu keluar dari Islam dan
Indonesia ?, tak usah dijawab dengan kata, itu kesalahan berfikir. Jawablah dengan
karya, mungkin Socrates tidak akan dikenal jika tidak ada karya Plato. Kisah
Laila Majnun tak akan abadi jika tak dituliskan, Nusantara terkikis karena
karya nenek moyang tak dipertahankan. Karya apa yang akan kita persembahkan
untuk HMI, Umat dan Bangsa ?!, Karya tidak hanya tulisan, tapi lebih dari itu
semua ! Pengabdian.
Aku Rindu ketabahan Lafran Pane
Aku Rindu liarnya pikiran Wahib
Aku Rindu kedalaman pikiran Cak Nur
Aku ingin melihat kembali hangatnya senyum Sakib
Mahmud
Aku belum membaca karya Endang Syaefudin Anshary
Aku ingin menjadi kader umat dan kader bangsa
Tapi aku belum bisa memantaskan diri untuk ADA…
Salam Sejahtera aku
haturkan untuk Kakanda,Ayunda,Adinda, dan kawan-kawan seperjuangan HMI Se-Nusa
dan Se-Bangsa. Kita berproses bersama, kita berjuang bersama, kita tumbuh
bersama, kalau ada kesalahpahaman kendaknya saling memaafkan.
Bi-Allahi taufiq wa-al-hidayah.

Menarik, berdiskusi lewat tulisan, melepaskan keluh kesah realita
BalasHapus