Oleh : Muhamad
Ikmal Assidiqi
Sebelum masuk
pada inti tulisan ini, aku mau bercerita dahulu bagaimana aku bisa kenal dan
belajar karinding !
Waktu itu aku
masih ingat awal tahun 2011, dalam sebuah kegiatan di SMA, kawan-kawan
seangkatan menampilkan komposisi musik dari bambu, yang kata mereka adalah alat
musik tradisional Sunda. Alat yang dimainkan pada saat itu, ada
karinding,celempung, dan empet/toleat. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa
masa SMA adalah masa yang indah, orang-orang sering bergerombol membuat geng, dll. Dan biasanya gaya hidup pada
masa itu sering terbawa arus (ngikut sana, ngikut sini). Akulah salah satunya,
yang ikut-ikutan tertarik untuk mengenal alat musik bambu tersbut. Mulailah aku
bertanya-tanya alat musik itu, dari mulai apa itu namanya, belinya dimana,
siapa pembutnya, bagaiman membuatnya dan bagaimana memainkannya. Sekedar
informasi…pada waktu itu, di daerah cicalengka khususnya, umumnya Bandung,
sedang ramai-ramainya mengembalikan budaya Sunda, dikalangan kaum muda,
band-band modern pun sering disisipi alat musik tradisional, hingga
pakaian-pakaian orang Sunda dahulu di munculkan kembali, semisal memakai ikat
kepala.
Di waktu yang
lain, ada kawanku yang menyuruh datang kesebuah rumah di Cikuya, masih daerah
Cicalengka, yang kata dia merupakan seniman. Dua orang kawanku duluan kesana,
pada hari itu aku tidak ikut, karena masih ada keperluan yang lain, dan kata
dua kawanku, seniman itu agak aneh, katanya dikala orang-orang menjual karinding,
dia tidak membolehkan menjual karinding, dan katanya karinding itu tidak hanya
untuk tontonan tapi untuk dijadikan tuntunan. Tibalah waktunya aku dan
kawan-kawan datang kerumahnya, pertama kali masuk di ruang tamunya aku di
suguhi dengan berbagai macam karya seni, dari mulai lukisan, hingga alat musik
pedesaan. Perbincangan pun dimulai pada saat itu, orangnya,ramah dan cukup
akrab, namun pada saat itu aku sempat berfikir, orang itu (seniman) agaknya
selalu keluar dari kebiasaan orang (mainstream),
namanya Sabar Diana (orang-orang sering menyebutnya Apih). Dari dialah aku
mengenal karinding, dan pada saat pertama kali aku datang dia tidak
memperlihatkan karindingya, malah dia berbicara tentang karinding. Beberapa
kali aku kesana (kurang lebih empat kali), dia tidak kunjung memperlihatkan
karinding, dan selama itu kami hanya berdiskusi mengenai karinding dan Sunda,
baru setelah itu dia memperlihatkan karinding, dan memberi kita karinding.
Sejak saat itulah aku mulai tertarik kepada karinding, dan mulai sadar, mengapa
Apih tidak memberi kami karinding waktu pertama kali datang.
Cukup ceritanya
yah…, kalau di tuliskan akan jadi sebuah cerpen…..heheh.
Dalam tulisan
ini, adalah hasil diskusi dan pengalaman aku selama ini, tentang karinding…,
mungkin tidak ilmiah (karena belum ada referensi), tulisan ini seperti
dialognya Plato dengan Socrates, yang menghasilkan buku Republic, karena Socrates tidak mempunyai tulisan, begitupun dengan
Karinding, aku belum menemukan hasil studi mengenai sejarah karinding ….
Apih menuturkan
kepada kami bahwa karinding itu adalah alat musik buhun (dulu/purba), yang belum bisa ditemukan siapa yang pertama
kali menciptakannya. Dan alat musik seperti ini, hampir terdapat diseluruh
belahan dunia, namun agak berbeda dari segi yang lainnya, tapi umumnya hampir
sama, menurut dia (Apih), yang didapatkan informasinya dari Abah Entang (dia
adalah maestro karinding, yang mengenalkan karinding kepada Apih), bahwa ada
tiga filosofi karinding, yaitu yakin, sadar dan sabar. Dan tiga filosofi itu di
ambil dari tiga bagian karinding yaitu ada bagian panyepeng (tempat memegang), cecet
ucing (bagian diamana harus disimpan di mulut ketikka hendak
memainkannnya), dan pangkal laras (bagian untuk melaraskan
nada waktu membuat, dan bagian yang dipukul ketika hendak dimainkan).
Bagian panyepeng adalah wilayahnya keyakinan,
dalam artian ketika kita memiliki pegangan, kita harus meyakininya secara
menyeluruh, karena kalau kita mempunyai pegangan tanpa adanya keyakinan,
mungkin saja pegangan itu akan lepas. Dalam wilyah keagamaan sering disebut
dengan iman. Lalu cecet ucing, adalah untuk wilayah kesadaran, karena wilayah itu ketika dimainkan jarum
di bagian tengahnya tidak stagnan, tapi dinamis, karena untuk menghasilkan
resonansi suara, dan pada proses pembuatan harus teliti,dan konsentrasi, kaena
cukup rumit. Maka dari itu, ketika kita bergerak secara dinamis kita memerlukan
kesadaran yang kuat, supaya terarah dan menghasilkan bunyi yang harmonis.
Begitupun dalam kehidupan ketika kita bergerak dinamis, kalau kesadaran dihilangkan
maka gerak kita sebagai manusia, akan tidak adan gunanya, semisal orang gila,
dia bergerak namun sedikit gunanya, baik untuk indvidu maupun kelompok, baik
spiritual maupun material. Dan yang terakhir, adalah pangkal laras, dan ini wilayah kesabaran, karena dalam proses
pembuatan, kita harus teliti dalam menipiskan bambu pada wilayah itu, kalau
tidak maka vibrasi yang dihasilkan akan kurang, dan pengaruhnya terhadap suara
yang dihasilkan, lalu ketika memainkannya pun kita harus sabar, jika kita memukul
dengan pukulan keras, maka karinding akan patah, kita harus tepat sasaran,
meskipun tidak keras pukulan kita, maka akan menghasilkan getaran, jadi masalah
kesabaran adalah sentuhan, ada kalanya sentuhan itu kasar tetapi tepat sasaran
maka tidak akan menghasilkan kesakitan, tetapi jika sentuhan itu meskipun
lembut, tapi tidak tepat sasaran, maka akan menghasilkan kesakitan. Dan lembut
atau kasarnya masalah sentuhan, tergantun ritme kita memainkannya, itulah
kesabaran.
Lalu ada lagi,
falsafah karinding mengenai siklus kehidupan, ada tiga siklus kehidupan, yang
diambil dari tiga bagian karinding, jikalau pembahasan diatas, diawali dari
bagain panyepeng, sekarang di awali
dari pangkal laras. Bagian pangkal laras merupakan kehidupan di
alam rahim, ketika kita masih berada di janin ibunda kita, kenapa bagian ini,
merupakan bagian kesabaran karena proses ini, kita dalam harus bisa sabara,
terutama ibunda kita, dan baik buruk kehidupan diluar kita akan memperuhi
kehidupan kita kita selanjutnya, khususnya dalam bentuk fisik kita, makanya
seringkali dokter memberi pantrangan,pantrangan kepaka ibu hamil. Bagian yang
kedua adalah cecet ucing yang
menandakan kehidupan kita di dunia, karena melihat bagian ini yang selalu
dinamis,kadang pada posisi diatas, kadang pula di bawah. Maka diatas disebutkan
bagian ini adalah wilayah kesadaran, jadi dalam kehidupan dunia ini kita
memerlukan kesadaran (rasionalitas / atau intuisi), agar kita bisa memaknainya
secara bijaksana yang akan menimbulakn keharmonisan. Dan yang terakhir, panyepeng, yang menandakan pasca
kematian, atau dalam agama-agama sering disebut akhirat (kehidupan pasca
kematian), dan disinalah kita akan berpulang kepada pegangan kita, keyakinan
kita, yaitu Sang Mahak Kuasa, Tuhan Semesta Alam.
Setelah kita
sedikit membahas bagaiamana falsafah karinding itu sendiri, lalu yang menjadi
persoalan di masa sekarang ini, yaitu komersialitas… apakah karinding barang
komersil ? pelajaran apa yang bisa kita ambil dari status karinding ?
Dalam masyarakat
modern budaya komersilisem dan konsumerisme, sudah tidak asing lagi, kebanyakan
orang sudah enggan melakukan proses yang rumit, yang mau dilakukan adalah
proses cepat dan instan, sehingga orang-orang akan melakukan apa saja untuk
mendapatkan sesuatu apapun dengan cara cepat dan instan. Dari permasalahn
inilah kita bisa mengambil pelajaran dari tidak di jualnya karinding. Kenapa
demikian, mungkin orang sah-sah saja untuk menjual karinding dengan argumentasi
bahwa dahulu belum ada uang kertas, yang ada hanya barter (tukar barang). Tapi
bagi aku tidak sesederhana itu, dari tidak dijualnya karinding kita bisa selalu
membangun persaudaraan. Dalam hal jual-beli di era modern, tidak ada sebuah
ikatan persaudaraan antara penjual dan pembeli yang ada hanya ikatan
kepentingan, begitupun kalau karinding di jual belikan, dampaknya akan seperti demikian, setelah itu, tidak
komunikasi antar penjual dan pembeli atas nama persaudaraan kemanusiaan. Dari
tidak dijualnya karinding justru untuk menumbuhkan tali persaudaraan (duduluran) atau dalam istilahnya “jadi
saudara sebab bambu satu jengkal (jadi
dulur ku awi sajengkal). Mungkin, kenapa leluhur kita dahulu tidak
menjadikan karinding sebagai barang komersil, tujuannya tidak lain, hanya untuk
menjaga rasa persaudaraan antar sesama manusia, dan penghormatan terhadap alam.
Itulah pelajaran
yang bisa aku ambil dari karinding dan tulisan ini kupersembahkan untuk semua
orang agar bisa mengambil pelajaran. Mungkin tafsiran ini bisa jadi salah atau
benar, tapi inilah pengetahuan yang aku terima dan pengalaman yang aku rasakan.
Hapunten anu kasuhun, bilih kumaha wantun ka Karuhun
Ampun paralun lain rek adigung
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangi
Hampura,Hampura,Hampura
Rahayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar