Selasa, 17 November 2015

BELAJAR KEHIDUPAN DARI KARINDING

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Sebelum masuk pada inti tulisan ini, aku mau bercerita dahulu bagaimana aku bisa kenal dan belajar karinding !

Waktu itu aku masih ingat awal tahun 2011, dalam sebuah kegiatan di SMA, kawan-kawan seangkatan menampilkan komposisi musik dari bambu, yang kata mereka adalah alat musik tradisional Sunda. Alat yang dimainkan pada saat itu, ada karinding,celempung, dan empet/toleat. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa masa SMA adalah masa yang indah, orang-orang sering bergerombol membuat geng, dll. Dan biasanya gaya hidup pada masa itu sering terbawa arus (ngikut sana, ngikut sini). Akulah salah satunya, yang ikut-ikutan tertarik untuk mengenal alat musik bambu tersbut. Mulailah aku bertanya-tanya alat musik itu, dari mulai apa itu namanya, belinya dimana, siapa pembutnya, bagaiman membuatnya dan bagaimana memainkannya. Sekedar informasi…pada waktu itu, di daerah cicalengka khususnya, umumnya Bandung, sedang ramai-ramainya mengembalikan budaya Sunda, dikalangan kaum muda, band-band modern pun sering disisipi alat musik tradisional, hingga pakaian-pakaian orang Sunda dahulu di munculkan kembali, semisal memakai ikat kepala.

Di waktu yang lain, ada kawanku yang menyuruh datang kesebuah rumah di Cikuya, masih daerah Cicalengka, yang kata dia merupakan seniman. Dua orang kawanku duluan kesana, pada hari itu aku tidak ikut, karena masih ada keperluan yang lain, dan kata dua kawanku, seniman itu agak aneh, katanya dikala orang-orang menjual karinding, dia tidak membolehkan menjual karinding, dan katanya karinding itu tidak hanya untuk tontonan tapi untuk dijadikan tuntunan. Tibalah waktunya aku dan kawan-kawan datang kerumahnya, pertama kali masuk di ruang tamunya aku di suguhi dengan berbagai macam karya seni, dari mulai lukisan, hingga alat musik pedesaan. Perbincangan pun dimulai pada saat itu, orangnya,ramah dan cukup akrab, namun pada saat itu aku sempat berfikir, orang itu (seniman) agaknya selalu keluar dari kebiasaan orang (mainstream), namanya Sabar Diana (orang-orang sering menyebutnya Apih). Dari dialah aku mengenal karinding, dan pada saat pertama kali aku datang dia tidak memperlihatkan karindingya, malah dia berbicara tentang karinding. Beberapa kali aku kesana (kurang lebih empat kali), dia tidak kunjung memperlihatkan karinding, dan selama itu kami hanya berdiskusi mengenai karinding dan Sunda, baru setelah itu dia memperlihatkan karinding, dan memberi kita karinding. Sejak saat itulah aku mulai tertarik kepada karinding, dan mulai sadar, mengapa Apih tidak memberi kami karinding waktu pertama kali datang.

Cukup ceritanya yah…, kalau di tuliskan akan jadi sebuah cerpen…..heheh.
Dalam tulisan ini, adalah hasil diskusi dan pengalaman aku selama ini, tentang karinding…, mungkin tidak ilmiah (karena belum ada referensi), tulisan ini seperti dialognya Plato dengan Socrates, yang menghasilkan buku Republic, karena Socrates tidak mempunyai tulisan, begitupun dengan Karinding, aku belum menemukan hasil studi mengenai sejarah karinding ….

Apih menuturkan kepada kami bahwa karinding itu adalah alat musik buhun (dulu/purba), yang belum bisa ditemukan siapa yang pertama kali menciptakannya. Dan alat musik seperti ini, hampir terdapat diseluruh belahan dunia, namun agak berbeda dari segi yang lainnya, tapi umumnya hampir sama, menurut dia (Apih), yang didapatkan informasinya dari Abah Entang (dia adalah maestro karinding, yang mengenalkan karinding kepada Apih), bahwa ada tiga filosofi karinding, yaitu yakin, sadar dan sabar. Dan tiga filosofi itu di ambil dari tiga bagian karinding yaitu ada bagian panyepeng (tempat memegang), cecet ucing (bagian diamana harus disimpan di mulut ketikka hendak memainkannnya), dan  pangkal laras (bagian untuk melaraskan nada waktu membuat, dan bagian yang dipukul ketika hendak dimainkan).

Bagian panyepeng adalah wilayahnya keyakinan, dalam artian ketika kita memiliki pegangan, kita harus meyakininya secara menyeluruh, karena kalau kita mempunyai pegangan tanpa adanya keyakinan, mungkin saja pegangan itu akan lepas. Dalam wilyah keagamaan sering disebut dengan iman. Lalu cecet ucing, adalah untuk wilayah kesadaran, karena wilayah itu ketika dimainkan jarum di bagian tengahnya tidak stagnan, tapi dinamis, karena untuk menghasilkan resonansi suara, dan pada proses pembuatan harus teliti,dan konsentrasi, kaena cukup rumit. Maka dari itu, ketika kita bergerak secara dinamis kita memerlukan kesadaran yang kuat, supaya terarah dan menghasilkan bunyi yang harmonis. Begitupun dalam kehidupan ketika kita bergerak dinamis, kalau kesadaran dihilangkan maka gerak kita sebagai manusia, akan tidak adan gunanya, semisal orang gila, dia bergerak namun sedikit gunanya, baik untuk indvidu maupun kelompok, baik spiritual maupun material. Dan yang terakhir, adalah pangkal laras, dan ini wilayah kesabaran, karena dalam proses pembuatan, kita harus teliti dalam menipiskan bambu pada wilayah itu, kalau tidak maka vibrasi yang dihasilkan akan kurang, dan pengaruhnya terhadap suara yang dihasilkan, lalu ketika memainkannya pun kita harus sabar, jika kita memukul dengan pukulan keras, maka karinding akan patah, kita harus tepat sasaran, meskipun tidak keras pukulan kita, maka akan menghasilkan getaran, jadi masalah kesabaran adalah sentuhan, ada kalanya sentuhan itu kasar tetapi tepat sasaran maka tidak akan menghasilkan kesakitan, tetapi jika sentuhan itu meskipun lembut, tapi tidak tepat sasaran, maka akan menghasilkan kesakitan. Dan lembut atau kasarnya masalah sentuhan, tergantun ritme kita memainkannya, itulah kesabaran.

Lalu ada lagi, falsafah karinding mengenai siklus kehidupan, ada tiga siklus kehidupan, yang diambil dari tiga bagian karinding, jikalau pembahasan diatas, diawali dari bagain panyepeng, sekarang di awali dari pangkal laras. Bagian pangkal laras merupakan kehidupan di alam rahim, ketika kita masih berada di janin ibunda kita, kenapa bagian ini, merupakan bagian kesabaran karena proses ini, kita dalam harus bisa sabara, terutama ibunda kita, dan baik buruk kehidupan diluar kita akan memperuhi kehidupan kita kita selanjutnya, khususnya dalam bentuk fisik kita,   makanya seringkali dokter memberi pantrangan,pantrangan kepaka ibu hamil. Bagian yang kedua adalah cecet ucing yang menandakan kehidupan kita di dunia, karena melihat bagian ini yang selalu dinamis,kadang pada posisi diatas, kadang pula di bawah. Maka diatas disebutkan bagian ini adalah wilayah kesadaran, jadi dalam kehidupan dunia ini kita memerlukan kesadaran (rasionalitas / atau intuisi), agar kita bisa memaknainya secara bijaksana yang akan menimbulakn keharmonisan. Dan yang terakhir, panyepeng, yang menandakan pasca kematian, atau dalam agama-agama sering disebut akhirat (kehidupan pasca kematian), dan disinalah kita akan berpulang kepada pegangan kita, keyakinan kita, yaitu Sang Mahak Kuasa, Tuhan Semesta Alam.

Setelah kita sedikit membahas bagaiamana falsafah karinding itu sendiri, lalu yang menjadi persoalan di masa sekarang ini, yaitu komersialitas… apakah karinding barang komersil ? pelajaran apa yang bisa kita ambil dari status karinding ?

Dalam masyarakat modern budaya komersilisem dan konsumerisme, sudah tidak asing lagi, kebanyakan orang sudah enggan melakukan proses yang rumit, yang mau dilakukan adalah proses cepat dan instan, sehingga orang-orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu apapun dengan cara cepat dan instan. Dari permasalahn inilah kita bisa mengambil pelajaran dari tidak di jualnya karinding. Kenapa demikian, mungkin orang sah-sah saja untuk menjual karinding dengan argumentasi bahwa dahulu belum ada uang kertas, yang ada hanya barter (tukar barang). Tapi bagi aku tidak sesederhana itu, dari tidak dijualnya karinding kita bisa selalu membangun persaudaraan. Dalam hal jual-beli di era modern, tidak ada sebuah ikatan persaudaraan antara penjual dan pembeli yang ada hanya ikatan kepentingan, begitupun kalau karinding di jual belikan, dampaknya  akan seperti demikian, setelah itu, tidak komunikasi antar penjual dan pembeli atas nama persaudaraan kemanusiaan. Dari tidak dijualnya karinding justru untuk menumbuhkan tali persaudaraan (duduluran) atau dalam istilahnya “jadi saudara sebab bambu satu jengkal (jadi dulur ku awi sajengkal). Mungkin, kenapa leluhur kita dahulu tidak menjadikan karinding sebagai barang komersil, tujuannya tidak lain, hanya untuk menjaga rasa persaudaraan antar sesama manusia, dan penghormatan terhadap alam.

Itulah pelajaran yang bisa aku ambil dari karinding dan tulisan ini kupersembahkan untuk semua orang agar bisa mengambil pelajaran. Mungkin tafsiran ini bisa jadi salah atau benar, tapi inilah pengetahuan yang aku terima dan pengalaman yang aku rasakan.

Hapunten anu kasuhun, bilih kumaha wantun ka Karuhun
Ampun paralun lain rek adigung
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangi

Hampura,Hampura,Hampura
Rahayu



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.