وإذقال
ربك للملئكة إنى جاعل فى الأرض خليقة قالوا أتجعل فيها من يقسد فيها و يسقك
الدماء
ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك إني أعلم مالا تعلمون . {البقرة : .٣}\
Dan (ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khlifah di
bumi” mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan
menupahkan darah di sana, sedangka kami berasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?”
Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(Al-Baqarah : 30)
Jika
melihat ayat di atas, terma pentingya yaitu manusia, dimana Allah hendak
menjadikan Adam (manusia) sebagai khalifah. Kata khalifah pada mulanya berarti yang
menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebalumnya. Pada ayat 30 redaksi "Inni jâ'ilun fi al-ardh
khalifah.." (Sesungguhnya Aku ingin jadikan khalifah di muka bumi..) dan subyeknya
dapat dipahami bahwa pembicara adalah Allah yang menetapkan khalifah bagi-Nya
bukan untuk yang lain Allah Swt menjelaskan
bahwa manusia adalah khalifah-Nya. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk
lain dalam menghuni bumi.
Satu
konsep tentang manusia, menurut Islam, ialah bahwa ia merupakan makhluk tertinggi,
puncak ciptaan Tuhan. Karena keutamaan manusia itu, maka ia memperoleh status
mulia, yaitu sebagai “Khalifah Tuhan di bumi”. Status itulah yang pertama
diterangkan Tuhan tentang manusia. Khalifah berarti pengganti di belakang (successor).
Jadi, manusia adalah pengganti Tuhan di bumi: artinya urusan di bumi ini
diserahkan kepada umat manusia. Memang, untuk mengurus dunia itu, Tuhan
memberikan petunjukpetunjuk, tapi hanya dalam garis besar saja. Tuhan tidak
memberikan petunjuk-petunjuk terinci, tidak pula keterangan terinci tentang
dunia ini. Tetapi Tuhan memberikan suatu alat yang bakal memungkinkan manusia
memahami dan mencari pemecahan atas masalahmasalahnya di dunia ini, yaitu akal pikiran.
Menurut
Musthfa Al-Maraghi Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33 menceritakan tentang kisah
kejadian umat manusia. Menurutnya dalam kisah penciptaan Adam yang terdapat
dalam ayat tersebut mengandung hikmah dan rahasia yang oleh Allah diungkap
dalam bentuk dialok antara Allah dengan malaikat. Ayat ini termasuk ayat Mutasyabihat yang tidak cukup dipahami dari segi
dhahirnya ayat saja. Sebab jika demikian berarti Allah mengadakan musyawarah
dengan hambanya dalam melakukan penciptaan. Sementara hal ini adalah mustahil
bagi Allah. Karena ayat ini kemudian diartikan dengan pemberitaan Allah pada
para malaikat tentang penciptaan Khalifah di Bumi yang kemudian para Malaikat
mengadakan sanggahan. Berdasarkan tersebut, maka ayat diatas merupakan tamsil atau perumpamaan dari Allah agar mudah
dipahami oleh manusia, khususnya mengenai proses kejadian Adam dan
keistimewaannya. Untuk maksud tersebut Allah memberitahu kepada Malaikat
tentang akandicipakannya seorang Khalifah di bumi. Mendengar keputusan ini para
malaikat terkejut kemudian mereka bertanya kepada Allah dengan cara dialog. Ini
dimisalkan jika mereka berbicara sebagaimana manusia. Atau diungkapkan dalam
bentuk sikap yang menyatakan perasaan malaikat terhadap Allah. Mereka
menghadapa kepada Allah agar diberi pengetahuan tenang makhluknya ini.
Pernyataan malaikat tersebu seakan-akan mengatakan kenapa Tuhan meciptakan
makhluk jenis ini dengan bekal iradah danikhtiyar yang takterbatas. Sebab dalam pengertian
malaikat sangat mungkin manusia dengan potensi tersebu ia akan membuat
kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Untuk menjawab pertanyaan para
malaikat ini Allah memeri pengertian kepada mereka dengan cara ilham agar
mereka tunduk dan taat kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Jawaban seperti ini sudah cukup jelas dan tegas, bahwa ada rahasia dan hikmah
yang tidak diketahui oleh para malaikat yang terkandung dalam penciptaan Adam
(Manusia) sebagai Khalifah di bumi.
Dalam ayat selanjutnya, bahwa Allah mengajarkan nama-nama
kepada Adam, kemudian nama-nama itu ditunjukkan Adam kepada Malaikat atas
perintah Allah, akan tetapi malaikat tidak bisa menyebutkan kembali nama-nama
yang telah ditunjukkan Adam kepada mereka. Kejadian itu menyadarkan malikat
bahwa secara fitrah manusia mempunya isti’dad (bakat)
untuk mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui. Ringkasnya manusia dengan
kekuaan akal ilmu dan daya tangkap, iya bisa berbuat mengelola Alam Semesta
dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah perambangan dan
tumbuh-tumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat
merubah wajah bumi, yang tandus bisa menjadi subur, dan bukit-bukit terjal bisa
menjadi dataran atau lembah yang sangat subur. Dengan kemampuan akalnya manusia
dapat pula merubah jenis tnaman baru sebagai hasil cangkok sehigga tumbuh pohon
yang sebelumnya belum pernah ada. Semuanya ini diciptakan Allah untuk
kepentingan manusia, hal diatas merupakan bukti yang jelas hikmah menjadikan
manusia sebagai Khalifah di bumi. Dengan kemampuan yang ia miliki ia dapat
mengungkapkan keajaiban-keajaiban cipaan Allah dan rahasia-rahasia makhluknya.
Al-Maraghi menambahkan, dalam ayat diatas memberi gambaran bahwa Allah elah
melebihkan manusia dari maklhuk yang lain. Karena dalam diri manusia telah
disediakan “alat” yang dengannya manusia bisa meraih kematangan sacara sempurna
dibidang ilmu pengetahuan, lebih jauh jangkauannya dibanding makhluk lain
termasuk malaikat. Berdasarka inilah manusia lebih diutamakan menjadi khalifah
di bumi dibanding malaikat.
Rasyid
Ridha menjelaskan bahwa manusia bersamaan dengan kebodohan dan kelemahannya, ia
telah diberi kekuatan lain yang disebut “akal”. Dengan kekuatan ini manusia
menjadi makhluk yang memiliki kehendak dan kebebasan unuk berbuat. Hal itu
menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif. Telah banyak penemua
ilmiah atau rahasia-rahasia alam yang telah diungkap oleh manusia yang kemudian
melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Hal itu
merupakan bukti potensi kreatif yang dimiliki manusia. Agar potensi akal yang
diberikan Allah kepada manusia membawa kemanfaatan dan kemaslahatan, maka Allah
juga membeikan kepada manusia hukum-hukum syari’at yang membatasi amal
perbuatan serta akhlak manusia yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat dan
kerusakan. Hukum-hukum inilah yang akan membantu manusia untuk sampai kepada
kesempurnaan. Karena fungsi dari hukum atau syariat itu adalah untuk membimbing
atau mendidik (akal manusia) yang dalam batas-batas tertentu bisa berakibat
negatif. Potensi akal yang menyebabkan manusia menjadi makkhluk yang kreatif
inilah yang menjadikan dia berbeda dari makhluk yang lainnya, termasuk
malaikat. Atas hujjah ini pula Allah mengangkat manusia menjadi Khalifah di
bumi. Dalam kata penutupnya Rasyid Ridha memberikan tambahan bahwa pengangkatan
Adam sebagai Khalifah di bumi sekaligus pengajaran-Nya tenang nama-nama (ilmu)
merupakan cara Allah memuliakan manusia. Dan sujudnya para malaikat itu berarti
menghormati asal kejadian Adam (Manusia).
Perspektif Ke-Khilafahan
Pembahasan khalifah dalam dunia Islam tidak hanya berhenti pada
saat Nabi Adam dijadikan khalifah seperti dalam surat Al- Baqarah 30. Karena
arti khalifah sendiri adalah pengganti atau wakil, maka dalam sejarah
perkembangan Islam pasca Nabi Muhammad, kata khalifah sering kali di pakai oleh
pala pemikir kemudian. Generasi awal khalifah adalah khalifah yang empat (Abu
Bakar, Umar bin Khattab,Ustman Bin Affan dan Ali bin Abu Thalib), generasi ini
sering disebut al-khulafa al-rasyidin,
pasca generasi ini tidak disebut lagi khalifah
rasyidah, bahkan seringkali disebut Dinasti (Dinasti Umayah, Abbasiyah,
Saljuk, Buwaih, dll).
Khalifah sebagai orangnya (subjek), sedangkan khilafah lebih
kepada sistem. Jika melihat dari sejarah awal pasca meninggal Nabi menjadi
problema tersendiri bagi umat Islam, perpecahan di mulai, kubu khalifah
terpilih secara musyawarah di Saqifah banu Sa’idah (Abu Bakar) dan kubu Ali
yang mengklaim sebagai pengganti posisi Nabi, perbedaan ini meruncing ketika
masa khalifath ketiga dan keempat, yang mengkristal sampai sekarang menjadi
kubu Sunni dan Syiah.
Namun dalam pembahasan ini penulis akan memfokuskan pada
Khalifah itu sendiri (orangnya), dari tafsir surat al-baqarah ayat 30, bahwa
kenapa Tuhan memberikan Adam-bahkan juga anak cucu Adam- tugas sebagai wakilnya
di muka bumi, yang menurut malaikat, akan membuat kerusakan dan pertumpahan
darah di muka bumi. Dalam ayat selanjutnya Adam di beri tahun nama-nama dan
Adam mengingat nama itu, menurut penulis sebagai “ujian” kepada manusia
pertama, dan Adam bisa menyebutkan nam-nama itu kembali.
Ketika Tuhan menjadikan Adam (juga anak cucunya), sebagai wakil
Tuhan di muka bumi, tidak semana-mena menjadikannya, pasti dibekali engan
beberapa potensi, yaitu fihtrah,yaitu kecondongan kepada kebenaran. Dari sini
lah maka manusia akan selalu berusaha menuju Tuhan, karena Tuhan merupakan
puncak Kebenaran, dan tidak mungkin ada dua puncak Kebenaran, inilah nilai
pertama, ke-Tauhidan.
Dari tugas manusia sebagai pemegang amanat wakil Tuhan di muka
bumi ini, Ali Syariati mengutip pendapat Jalal Al-Din Rumi, bahwa Amanat itu
berarrti kehendak bebas (free will)
manusia. Namun secara logika, manusia tak mungkin bebas seutuhnya, jika bebas
seutuhnya, maka Tuhan akan terbatas dan tak mungkin Tuhan akan dibatasi oleh
ciptaannya, dari kebebasan yang seperti inilah akan memunculan rasa tanggung
jawab sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Lalu ketika Adam di beri “ujian”
menyebutkan nama-nama Adam hafal secara utuh, jika melihat teks tersebut bahwa
Adam di bekalai potensi ingatan, penurut penulis adalah rasio, dari rasiolah
manusia memiliki pengetahuan, dan ilmu pengetahuan akan menuntun manusia untuk
bisa membangun beradapan di muka bumi, sebagai salah satu pengejawantahan
memikul tugas wakil Tuhan di muka bumi.
Dalam uraian diatas penulis merangkum tiga karakteristik khalifah : Ke-Tauhidan yang implikasinya manusia akan
hidup merdeka (tiada ketakutan selain kepada Allah), dan akan selalu berusaha
menuju kebenaran, melalui proses pencarian (analisa) oleh akal (rasio). Dari ketiga proses di ataslah
maka manusia bisa mencapai peradaban yang adil makmur serta di ridhoi Allah
SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar