Selasa, 10 November 2015

Tafsir Surat Al-baqarah ayat 30 dalam perspektif Ke-Khilafahan dengan pembanding Tafsir Al-Maraghi



وإذقال ربك للملئكة إنى جاعل فى الأرض خليقة قالوا أتجعل فيها من يقسد فيها و يسقك 
الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك إني أعلم مالا تعلمون . {البقرة : }\

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khlifah di bumi” mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menupahkan darah di sana, sedangka kami berasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah : 30)

Jika melihat ayat di atas, terma pentingya yaitu manusia, dimana Allah hendak menjadikan Adam (manusia) sebagai khalifah. Kata khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebalumnya. Pada ayat 30 redaksi "Inni jâ'ilun fi al-ardh khalifah.." (Sesungguhnya Aku ingin jadikan khalifah di muka bumi..) dan subyeknya dapat dipahami bahwa pembicara adalah Allah yang menetapkan khalifah bagi-Nya bukan untuk yang lain Allah Swt menjelaskan bahwa manusia adalah khalifah-Nya. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi.
Satu konsep tentang manusia, menurut Islam, ialah bahwa ia merupakan makhluk tertinggi, puncak ciptaan Tuhan. Karena keutamaan manusia itu, maka ia memperoleh status mulia, yaitu sebagai “Khalifah Tuhan di bumi”. Status itulah yang pertama diterangkan Tuhan tentang manusia. Khalifah berarti pengganti di belakang (successor). Jadi, manusia adalah pengganti Tuhan di bumi: artinya urusan di bumi ini diserahkan kepada umat manusia. Memang, untuk mengurus dunia itu, Tuhan memberikan petunjukpetunjuk, tapi hanya dalam garis besar saja. Tuhan tidak memberikan petunjuk-petunjuk terinci, tidak pula keterangan terinci tentang dunia ini. Tetapi Tuhan memberikan suatu alat yang bakal memungkinkan manusia memahami dan mencari pemecahan atas masalahmasalahnya di dunia ini, yaitu akal pikiran.
Menurut Musthfa Al-Maraghi Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33 menceritakan tentang kisah kejadian umat manusia. Menurutnya dalam kisah penciptaan Adam yang terdapat dalam ayat tersebut mengandung hikmah dan rahasia yang oleh Allah diungkap dalam bentuk dialok antara Allah dengan malaikat. Ayat ini termasuk ayat Mutasyabihat yang tidak cukup dipahami dari segi dhahirnya ayat saja. Sebab jika demikian berarti Allah mengadakan musyawarah dengan hambanya dalam melakukan penciptaan. Sementara hal ini adalah mustahil bagi Allah. Karena ayat ini kemudian diartikan dengan pemberitaan Allah pada para malaikat tentang penciptaan Khalifah di Bumi yang kemudian para Malaikat mengadakan sanggahan. Berdasarkan tersebut, maka ayat diatas merupakan tamsil atau perumpamaan dari Allah agar mudah dipahami oleh manusia, khususnya mengenai proses kejadian Adam dan keistimewaannya. Untuk maksud tersebut Allah memberitahu kepada Malaikat tentang akandicipakannya seorang Khalifah di bumi. Mendengar keputusan ini para malaikat terkejut kemudian mereka bertanya kepada Allah dengan cara dialog. Ini dimisalkan jika mereka berbicara sebagaimana manusia. Atau diungkapkan dalam bentuk sikap yang menyatakan perasaan malaikat terhadap Allah. Mereka menghadapa kepada Allah agar diberi pengetahuan tenang makhluknya ini. Pernyataan malaikat tersebu seakan-akan mengatakan kenapa Tuhan meciptakan makhluk jenis ini dengan bekal iradah danikhtiyar yang takterbatas. Sebab dalam pengertian malaikat sangat  mungkin manusia dengan potensi tersebu ia akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Untuk menjawab pertanyaan para malaikat ini Allah memeri pengertian kepada mereka dengan cara ilham agar mereka tunduk dan taat kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Jawaban seperti ini sudah cukup jelas dan tegas, bahwa ada rahasia dan hikmah yang tidak diketahui oleh para malaikat yang terkandung dalam penciptaan Adam (Manusia) sebagai Khalifah di bumi.
Dalam  ayat  selanjutnya, bahwa Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam, kemudian nama-nama itu ditunjukkan Adam kepada Malaikat atas perintah Allah, akan tetapi malaikat tidak bisa menyebutkan kembali nama-nama yang telah ditunjukkan Adam kepada mereka. Kejadian itu menyadarkan malikat bahwa secara fitrah manusia mempunya isti’dad (bakat) untuk mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui. Ringkasnya manusia dengan kekuaan akal ilmu dan daya tangkap, iya bisa berbuat mengelola Alam Semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah perambangan dan tumbuh-tumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat merubah wajah bumi, yang tandus bisa menjadi subur, dan bukit-bukit terjal bisa menjadi dataran atau lembah yang sangat subur. Dengan kemampuan akalnya manusia dapat pula merubah jenis tnaman baru sebagai hasil cangkok sehigga tumbuh pohon yang sebelumnya belum pernah ada. Semuanya ini diciptakan Allah untuk kepentingan manusia, hal diatas merupakan bukti yang jelas hikmah menjadikan manusia sebagai Khalifah di bumi. Dengan kemampuan yang ia miliki ia dapat mengungkapkan keajaiban-keajaiban cipaan Allah dan rahasia-rahasia makhluknya. Al-Maraghi menambahkan, dalam ayat diatas memberi gambaran bahwa Allah elah melebihkan manusia dari maklhuk yang lain. Karena dalam diri manusia telah disediakan “alat” yang dengannya manusia bisa meraih kematangan sacara sempurna dibidang ilmu pengetahuan, lebih jauh jangkauannya dibanding makhluk lain termasuk malaikat. Berdasarka inilah manusia lebih diutamakan menjadi khalifah di bumi dibanding malaikat.
Rasyid Ridha menjelaskan bahwa manusia bersamaan dengan kebodohan dan kelemahannya, ia telah diberi kekuatan lain yang disebut “akal”. Dengan kekuatan ini manusia menjadi makhluk yang memiliki kehendak dan kebebasan unuk berbuat. Hal itu menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif. Telah banyak penemua ilmiah atau rahasia-rahasia alam yang telah diungkap oleh manusia yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Hal itu merupakan bukti potensi kreatif yang dimiliki manusia. Agar potensi akal yang diberikan Allah kepada manusia membawa kemanfaatan dan kemaslahatan, maka Allah juga membeikan kepada manusia hukum-hukum syari’at yang membatasi amal perbuatan serta akhlak manusia yang dapat mencegahnya dari berbuat maksiat dan kerusakan. Hukum-hukum inilah yang akan membantu manusia untuk sampai kepada kesempurnaan. Karena fungsi dari hukum atau syariat itu adalah untuk membimbing atau mendidik (akal manusia) yang dalam batas-batas tertentu bisa berakibat negatif. Potensi akal yang menyebabkan manusia menjadi makkhluk yang kreatif inilah yang menjadikan dia berbeda dari makhluk yang lainnya, termasuk malaikat. Atas hujjah ini pula Allah mengangkat manusia menjadi Khalifah di bumi. Dalam kata penutupnya Rasyid Ridha memberikan tambahan bahwa pengangkatan Adam sebagai Khalifah di bumi sekaligus pengajaran-Nya tenang nama-nama (ilmu) merupakan cara Allah memuliakan manusia. Dan sujudnya para malaikat itu berarti menghormati asal kejadian Adam (Manusia).

Perspektif Ke-Khilafahan

Pembahasan khalifah dalam dunia Islam tidak hanya berhenti pada saat Nabi Adam dijadikan khalifah seperti dalam surat Al- Baqarah 30. Karena arti khalifah sendiri adalah pengganti atau wakil, maka dalam sejarah perkembangan Islam pasca Nabi Muhammad, kata khalifah sering kali di pakai oleh pala pemikir kemudian. Generasi awal khalifah adalah khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar bin Khattab,Ustman Bin Affan dan Ali bin Abu Thalib), generasi ini sering disebut al-khulafa al-rasyidin, pasca generasi ini tidak disebut lagi khalifah rasyidah, bahkan seringkali disebut Dinasti (Dinasti Umayah, Abbasiyah, Saljuk, Buwaih, dll).
Khalifah sebagai orangnya (subjek), sedangkan khilafah lebih kepada sistem. Jika melihat dari sejarah awal pasca meninggal Nabi menjadi problema tersendiri bagi umat Islam, perpecahan di mulai, kubu khalifah terpilih secara musyawarah di Saqifah banu Sa’idah (Abu Bakar) dan kubu Ali yang mengklaim sebagai pengganti posisi Nabi, perbedaan ini meruncing ketika masa khalifath ketiga dan keempat, yang mengkristal sampai sekarang menjadi kubu Sunni dan Syiah.
Namun dalam pembahasan ini penulis akan memfokuskan pada Khalifah itu sendiri (orangnya), dari tafsir surat al-baqarah ayat 30, bahwa kenapa Tuhan memberikan Adam-bahkan juga anak cucu Adam- tugas sebagai wakilnya di muka bumi, yang menurut malaikat, akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi. Dalam ayat selanjutnya Adam di beri tahun nama-nama dan Adam mengingat nama itu, menurut penulis sebagai “ujian” kepada manusia pertama, dan Adam bisa menyebutkan nam-nama itu kembali.
Ketika Tuhan menjadikan Adam (juga anak cucunya), sebagai wakil Tuhan di muka bumi, tidak semana-mena menjadikannya, pasti dibekali engan beberapa potensi, yaitu fihtrah,yaitu kecondongan kepada kebenaran. Dari sini lah maka manusia akan selalu berusaha menuju Tuhan, karena Tuhan merupakan puncak Kebenaran, dan tidak mungkin ada dua puncak Kebenaran, inilah nilai pertama, ke-Tauhidan.
Dari tugas manusia sebagai pemegang amanat wakil Tuhan di muka bumi ini, Ali Syariati mengutip pendapat Jalal Al-Din Rumi, bahwa Amanat itu berarrti kehendak bebas (free will) manusia. Namun secara logika, manusia tak mungkin bebas seutuhnya, jika bebas seutuhnya, maka Tuhan akan terbatas dan tak mungkin Tuhan akan dibatasi oleh ciptaannya, dari kebebasan yang seperti inilah akan memunculan rasa tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Lalu ketika Adam di beri “ujian” menyebutkan nama-nama Adam hafal secara utuh, jika melihat teks tersebut bahwa Adam di bekalai potensi ingatan, penurut penulis adalah rasio, dari rasiolah manusia memiliki pengetahuan, dan ilmu pengetahuan akan menuntun manusia untuk bisa membangun beradapan di muka bumi, sebagai salah satu pengejawantahan memikul tugas wakil Tuhan di muka bumi.
Dalam uraian diatas penulis merangkum tiga karakteristik khalifah :  Ke-Tauhidan yang implikasinya manusia akan hidup merdeka (tiada ketakutan selain kepada Allah), dan akan selalu berusaha menuju kebenaran, melalui proses pencarian (analisa) oleh akal (rasio). Dari ketiga proses di ataslah maka manusia bisa mencapai peradaban yang adil makmur serta di ridhoi Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.