KU TUNGGU KAU DI
LEMBAH KESUCIAN
Oleh : Muhamad
Ikmal Assidiqi
Tulisan ini tidak elok jika disebut cerpen atau
karangan yang lainnya tapi saya lebih enak menyebut dengan tulisan lepas.
Berawal ketika
memasuki bulan ramadhan, dimana semua orang akan merindukannya baik orang
muslim ataupun non-muslim dengan berbagai alasan, baik itu dengan alasan yang
bersifat materialis ataupun alasan yang bersifat spirtualis, semisal para
pedagang biasanya mendapatkan keuntungan yang lebih, maupun siswa yang jam
pelajarannya di kurangi, atau juga karena di bulan Ramadhan Allah membuka pintu
rahmat-Nya sangat lebar, sehingga orang-orang bisa beramal baik sosial maupun
ritual dengan penuh pengharapan akan diberkati oleh Allah, namun bagi saya
sebuah kemalangan, karena kalaupun termasuk golongan pertama tidak bisa
mendapatkan keuntungan materil, jika di golongkan kedalam golongan kedua, masih
jauh usaha dan rasa malu saya untuk di berkati oleh Allah, saya teringat ucapan
seorang ustadz di kampung, bahwa Nabi pernah berkata, : “merugilah orang-orang yang tidak bisa mengambil keberkahan di Bulan
Ramadhan”…..
Kata-kata itupun
membuat kegalauan di hati pada saat Ramadhan, namun untungnya ada setitik
harapan, bahwa terdapat sebuah tradisi di Bangsa Indonesia pada saat bulan
Ramadhan, namun entah siapa yang mencetuskan ide-ide seperti ini, akan tetapi
tradisi ini tergantung siapa, dimana dan bagaimana tradisi tersebut
berlangsung, boleh jadi berakibat negative, maupun positif, andalah yang bisa
menilai sendiri hal tersebut !!… oh iya.. tradisi itu adalah buka puasa bersama..
awalnya saya menentang tradisi tersebut, karena hal itu sangat tidak
bermanfaat, namun dengan berkembangnya kedewasaan berfikir, akhirnya saya bisa
mengambil pelajaran dari tradisi itu… yah..Silaturrahhiim,, ikatan kasih
sayang…
Mungkin dua
paragraph di atas sebagai pengantar untuk judul ini. Pada pertengahan bulan
ramadhan 2015 saya mendapatkan surat undangan dari kawan-kawan semasa sekolah
dasar, bahwa akan di adakan buka puasa bersama di Rest Area Nagreg, dan katanya
sekitar 30-an orang sudang mengkonfirmasi akan menghadiri agenda tersebut,
akhirnya saya membayar iuran sebesar Rp.30.000. Sebetulnya ada rasa ketakutan
untuk menghadiri acara tersebut (karena sekaligus reunian SD), biasanya pada
acara semacam itu, orang-orang agaknya sering membawa kebanggaan masing-masing,
namun…. apa yang bisa saya banggakan sekarang ini??, kekayaan ?? aku tidak
punya….,kedudukan?? apalagi.. masih jauh.., keilmuan ?? kuliah pun saya tidak
benar… tapi karena semangat silaturrahiim (ikatan kasih sayang), aku beranikan
diri, jika kata tokoh Eksistensialis Perancis Jean Paul Sartre “semua yang saya pilih dalam keadaan merdeka
dan beri’tikad baik itulah nilai-nilai dan kebajikan”…..
Tak terasa
tanggal yang ditetapkan untuk buka bersamapun tiba, saya berangkat dengan
menggunkan sepeda motor, meskipun pada waktu itu nebeng ke kawan
saya..terpangpanglah nama Rest Area Nagreg, saya pun masuk di area tersebut dan
banyak orang-orang yang mengadakan buka puasa bersama, selain dari rombongan kami….
Dari kejauhan terlihat lambaian tangan dari salah satu gazebo, mungkin itu
tempat kami mengadakan acara buka bersama, ternyata baru beberapa orang yang
datang, harap di maklum orang Indonesia jika masalah waktu, tahu sendirilah…. saya
pun menyalami satu persatu kawan yang sudah ada, lalu mengikuti obrolan-obrolan
ringan..
Mendekati azan
maghrib kawan-kawan pun mulai berdatangan, dan saling bertegur sapa sambil
menanyakan beberapa hal. Mungkin ini kebiasaan saya, jika dalam sebuah majlis,
saya sering mengamati ruang yang ada (percakapan,tampilan orang, dll), bahkan
sering sambil mengkritisi keadaan meskipun dalam hati (tepatnya menggerutu),
akan saya uraikan sedikit gerutuan saya pada saat itu…ternyata kawan sudah
banyak berubah (termasuk saya) yang dahulunya masih anak kemarin sore, sekarang
sudah menjadi anak sore.. ada yang berubah jadi so ganteng,so cantik, ada yang
so banyak uang,ada yang so bijak..untung ga ada yang berubah jadi soziz haha..
tetapi ada juga yang benar-benar cantik (menurut saya), dan ada juga yang
benar-benar ganteng (seperti saya J…) sudahlah…jangan
terlalu banyak gerutuan saya tulis disini nanti takut ghibah…
Aku sempat
termenung melihat seseorang yang menurut saya banyak sekali perubahan atau
memang dia tidak banyak perubahan karena dulu saya jarang memperhatikan dia,
yang pasti perempuan, yang membuat saya termenung pada waktu itu,, yah… dia
namanya shafa, entah datang dari mana, pikiran saya mengawang jauh keruang
hampa tanpa waktu,,, akhirnya kebiasaan ketika saya merenung pun terjadi yaitu
membuat sajak, jika itu bisa disebut sajak :
Oh… apakah dia benar kawanku waktu sekolah dasar ??
Pakaian mu tak sama dengan pakaian perempuan lain
Engkau menutup aurat tanpa meninggalkan nilai
estetika berhijab
Sebetulnya aku malu memandangmu,
Karena ku “anggap”…engkau telah menjaga kesucian
sebagai perempuan
Tapi apakah rasa ini ???
Apakah rasa cinta,suka, sayang
Atau hubb,isyq,mawaddah…
Atau hanya kekaguman semata..
Apakah rasaku sama dengan Qais ketika memandang
Laila???
Arggghh…Namun saat itu aku merasa berdosa… karena
telah melanggar hak mu..
Aku menatap dengan berlebihan yang belum tentu
engkau rela aku tatap…
Oh…maafkanlah aku…
Dan..tawa dari
kawan-kawan pada saat itu mengagetkan saya, akhirnya aku hentikan membuat
sajak,,lalu aku megikuti obrolan-obrolan ringan sambil menyantap makanan buka
puasa,,ahh lagi-lagi saya sempat melirik dia ketika makan, begitu tenang, tampak
kewibawaan seorang perempuan, beda dengan kawan perempuan lain yang
ricuh,..acara pun berakhir tanpa doa dan mengalir begitu saja.. ketika pulang
dia tidak ada yang mengantar, bahwa dia bisa pulang sendiri, di kala yang lain
merengek untuk di antar, semakin tambah kekaguman saya, sempat rasa sesal pada
saat itu, namun apa daya…biarlah!!, dia pilih merdeka sayapun akan pilih
merdeka,, tapi pada akhirnya salah satu dari kami ada yang mengantarnya….ma’a al-salamah,hanya ucapan itu yang
bisa saya hantarkann…
Esok
harinya………….
Kebetulan pada
waktu itu, di kampung halaman ada yang mengadakan pesantren kilat untuk siswa
SMP dan SD, dan saya di tugaskan sebagai tutor (saya enggan di panggil
guru,terlalu berat) untuk pelajaran sejarah peradaban Islam, materi waktu itu
adalah sejarah Nabi Ibrahim A.S., seperti para tutor yang lainnya saya pun
bercerita tentang sejarah Ibrahim, dan ketika sampai pada kisah Siti Hajar,
pada saat beliu berlari-lari dari bukit Shafa dan Marwah, mencari air untuk
sang buah hati Isma’il, yang akhirnya menjadi salah satu syariat berhaji yaitu sa’i…….mendengar nama bukit Shafa,
teringat peristiwa kemari sore.. jika Tuhan mencirikan orang beriman itu ketika
mendengar naman-Nya akan bergetar hati, malahan saya sebaliknya mendengar nama
makhlu-Nya hati bergetar…Asytaghfirullah…
Waktu..buka
puasa tiba..makanan yang manis pun di dahulukan yang konon Nabi pun berbuka
dengan yang manis..dan ketika mulai menyantap makanan berat,,pikiran saya pada
saat itu menerawang lagi, ke relung-relung hampa, dalam kehampaan itu, saya
temui dia yang sedang makan dengan berwibawa, begitu tenang, terasa sejuk bila
lama di pandang,,,tak terasa makanan saya pun habis, dan beranjak ke ruang 3x4
meter (kamar)…di lanjutkan dengan membaca beberapa buku, agar bisa
menghilangkan bayang-bayang dia….
Beberapa hari
setelah Idul Fitri……….
Selama bulan
Ramadhan hingga pasca Idul Fitri saya belum bisa menghilangkan bayang-bayang
dia di dalam otak, dan selama itu pun saya tidak jadi orang merdeka karena
merasa ada hal yang tidak di mengerti… ketika aku rebah di kamar, ada broadcast BBM dari dia,,yang isinya
untuk meng-invite temannya, pada saat itu saya memuali obrolan, dan
mewawancarai dia (tepatnya kepo jika kata remaja alay), di hari-hari yang lain
pun aku mencoba memulai obrolan di BBM (BlackBarry Mesengger), dari situlah
saya ketahui bahwa dia seorang santriwati pondok pesantren,, ohhh semakin
tambah kekaguman saya pada dia....
Sebagi
informasi… saya justru mulai jengah kepada kebanyakan mahasiswi, karena sudah
tidak bisa lagi mengemban tugas sebagai seorang perempuan,yang akan menjadi ibu
jika kata orang sunda tunggul rahayu
(pangkalnya kasih sayang), agaknya santri sebagai solusi, tetapi boleh jadi
tidak semua santri juga, bisa menjadi sosok perempuan yang saya idamkan… tapi
dia agaknya lebih mirip dengan perempuan yang saya idamkan, apalagi dia cukup
handal berbahasa Arab….
Di hari-hari yang
lain……..
Saya lebih
sering memulai obrolan, kurang lebih satu kali sehari, yaa… kalau tiga kali
sehari ya minum obat, bukan ngobrol haha…, dalam obrolan itu saya mencoba untuk
mendalami karakter dia, dengan beberapa bekal ilmu psikologi yang pernah saya
baca.., dia orangnya ramah, handap asor kalau
dalam istilah bahasa Sunda, mudah “akrab”, dan memiliki kecerdasan yang bagus,
tapi dia agak malas jika disodorkan pembahasan yang berat….
Shafa yang artinya kesucian
Tak salah orang tua mu memberi nama yang indah
Engkau bisa mengemban tanggung jawab seorang
perempuan
Menjaga kesucian…….
Di kala arus moderenisasi menghantam bangsa..
Engkau bisa memadu padankannya
Estetika berhijab tanpa meninggalkan etika syariat
Yang memancarkan keindahan….
Engkau tak perlu berlebihan dalam busana
Cukuplah menjadi diri mu sendiri
Dan budi pekerti yang luhur sebagi landasan
Karena dengan itu, kecantikan terdalam seorang
perempuan akan terpancar
Maafkan aku, jika telah lancang seperti ini…
Aku hanya ingin mensyukuri nikmat Tuhan
Faa biayyi aala-I rabbikumaa tukaddibaan,,
Lagi-lagi sajak
keluar begitu saja, bahkan sempat saya tulis dalam secarik kertas, namun aku
lempar, dengan harapan yang utopis, bahwa dia akan membaca sajak tersebut. Dan
sampai tulisan lepas ini saya buat, belum bisa melupakan bayang-banyang dia,
mungkin jika kebanyakan orang sudah bukan tahapan suka lagi, tapi cinta…tapi
apa makna cinta tersebut?? Banyak ilmuwan pun belum ada kesamaan ketika
menjabarkan arti cinta….mungkin aku masih skeptis terhadap makna cinta…
Saya pernah
membaca buku Meraih Kebahagiaan karangan Jalalludin Rakhmat, bahwa : penyebab
tidak bahagianya manusia modern di karenakan dia mencari cinta dari orang lain,
yang akibatnya dia harus melakukan apapun demi orang-orang yang cinta kepada
dia, semisal artis rela berpakaian minim karena dia ingin di cintai fans nya,
politisi rela korupsi untuk di berikan kepada konstituennya untuk meraih cinta
mereka, padahal ada yang lebih baik, memberi cinta kepada orang tanpa ingin di
cinta oleh orang lain.
Dari situlah
paradigma saya berubah, bahwa tak elok jika berharap kepada yang nisbi, karena
ketercapaian harapan pun nisbi pula,berharaplah kepada yang mutlak (Tuhan), dan
mencoba memberi pengharapan (cinta) pada yang lain. Dan untuk dia seorang perempun
yang menurut saya masih menjaga kesucian akan saya tunggu dia dilembah
kesucian, karena saya pilih bahagia, dan bahagia itu sederhana sebarlah cinta
kasih kepada seluruh umat manusia. Dan saya hanya yakin pada ucapan Tuhan : Khalaqakum min nafsin wahidatin wa khalaqa
minhaa zaujaha..(An-Nisa : 1).
Ma’a al-salamah…..
Ma’a al-salamah…..
Ma’a al-salamah…..
Ma’a al-salamah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar