Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
Di
awali dengan melihat realita yang ada dengan ratusan dinamika di dalam tubuh
mahasiswa siyasah, ketika berbicara siyasah tidak akan jauh dengan ruang
lingkup Syariat Islam, ilmu politik,ilmu hukum, tatanan politik dan tatanan
Negara,dll, dalam artian bahwa sarjana-sarjana siyasah harus proporsional
ketika turun di masyarakat. Namun yang jadi pertanyaan apakah proses untuk
menjadi proporsional sangat mudah ? apakah dengan ratusan dinamika yang ada proses
itu bisa dikatakan baik ?, sangatlah jelas ! tidak semudah yang dibayangkan
saudaraku, dan belum tentu akan baik-baik saja!.
Mari kita mulai dengan refleksi diri
(nata diri) kita. Berbicara diri,bebicara manusia,berbicara manusia berarti berbicara
makhluk sakti, kenapa dianggap sakti ? ya, sakti karena manusia makhluk yang
sempurna diantara makhluk Tuhan yang lainnya, manusia memiliki fitrah,
maksudanya fitrah berarti suci (hanif), yang geraknya cenderung kepada
kebaikan. Fitrah inilah yang merupakan pancaran cahaya Ilahi, jika menurut
Mutahhari bahwa fitrah mirip denga
kesadaran, sebab manusia mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia
ketahui , artinya , dalam diri manusia terdapat sekumpulan hal yang bersifat
fitri, dan manusia tahu betul tentang hal itu, jadi fitrah dapat menyingkap hakikat,potensi
dan jati diri manusia,
Jika menurut Ali Syariati, manusia
memiliki tiga potensi dasar, yaitu kesadaran,kehendak bebas, dan daya cipta.
Kesadaran merupakan kepanjangan dari fitrah itu sendiri, dengan kesadaran
itulah manusia bisa tumbuh dengan kerangka unik, yang akhirnya manusia
dibedakan dengan makhluk lain, atau dalam kajian filsafat dan teologi (kalam)
manusia itu adalah hewan yang berfikir (hayawan
al-naathiq), inilah rasionalitas manusia, Hegel berkata rasio adalah pemikiran yang mengkondisikan
dirinya dengan kebebasan sempurna, jadi salah satu turunan dari kesadaran
adalah berfikir, intelektual dan rasionalitas.
Dari proses berfikir inilah manusia
memiliki kehendak bebas, bukan berarti bebas secara total (total freedom),yakni bertanggung jawab akan pilihannya, jika
seseorang memilih untuk diam, dia harus bertanggung jawab dengan diamnya, dalam
arti itulah kebebasan yang dia pilih. Karena jika bebas tanpa batas akan
terjadi kontradiksi dengan fitrah manusia itu sendiri. Kehendak bebas inilah
yang membuat manusia bisa beradab dan membangun peradaban, menurut Nurcholis
Madjid, manusia mempunyai kehendak bebas (ikhtiar),
untuk membangun peradaban, dengan dibarengai keharusan Universal Tuhan (Takdir), coba telaah matahari, dia tidak
bisa mengubah dirinya jadi bulan, atau angin, berbeda dengan manuisa. karena
mempunyai kehendak bebas dan potensi-potensi yang lainnya dia bisa berubah jadi
apapun,selagi selaras dengan hukum-hukum Tuhan, manusia bisa lebih mulia
dari pada malaikat dan boleh jadi lebih
hina daripada hewan.
Kehendak manusia bagaimanpun keadaannya
tidak akan sama dengan kehendak Tuhan, maksudnya bahwa kehendak manusia
merupakan secercah pancaran cahaya kehendak Tuhan, dari kehendak inilah muncul
ekspektasi-ekspektasi manusia, yakni berproses dengan benar menuju zat yang
maha benar, jadi jika beberapa keinginan manusia ada yang buruk, itu di
karenakan tiadanya sebuah kebaikan,
Dengan dikembangkannya kesadaran dan
kehendak bebas (ikhtiar), akan muncul
sebuah karya manusia, salah satunya peradaban dunia, karena hakikatnya manusia
mampu berkarya, warisan dunia yang ada sekarang merupakan daya cipta manusia
zaman dahulu, dan inilah puncak eksitensi manusia, tanpa sebuah karya manusia
tidak akan dikenal, dan tanpa potensi untuk berkarya, manusia tidak akan
menyanggupi tugas wakil Tuhan (Khalifah)
di muka bumi ini.Tugas kita sekarang adalah membuat sebuah peradaban yang lebih
baik, ada kata-kata yang bagus dari Jean Paul Sarte semua
yang saya pilih dalam keadaan diri saya bebas dan berniat baik, itulah
nilai-nilai dan kebajikan.
Jadi dalam diri manusia sangatlah kompleks,
hal itu baru dalam satu individu, bukan sebuah keniscayaan ketika berbicara
kesadaran,kehendak dan daya cipta, akan berbeda kualitas tiap individu, yang
harus di insafi oleh setiap manusia adalah keharusan akan keharmonisan antara
satu dan yang lainnya, sehingga akan meminimalisir konflik-konflik yang ada.
Penataan dirilah yang perlu di butuhkan oleh seluruh umat manusia, yang pada
akhirnya dunia dipenuhi dengan bangsa yang gandrung keadilan,tanah air yang
meniadakan penindasan, dan bahasa yang dipenuhi dengan kejujuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar