Jumat, 04 September 2015

NATA DIRI UNTUK MEMBANGUN HARMONI




Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

           Di awali dengan melihat realita yang ada dengan ratusan dinamika di dalam tubuh mahasiswa siyasah, ketika berbicara siyasah tidak akan jauh dengan ruang lingkup Syariat Islam, ilmu politik,ilmu hukum, tatanan politik dan tatanan Negara,dll, dalam artian bahwa sarjana-sarjana siyasah harus proporsional ketika turun di masyarakat. Namun yang jadi pertanyaan apakah proses untuk menjadi proporsional sangat mudah ? apakah dengan ratusan dinamika yang ada proses itu bisa dikatakan baik ?, sangatlah jelas ! tidak semudah yang dibayangkan saudaraku, dan belum tentu akan baik-baik saja!.
Mari kita mulai dengan refleksi diri (nata diri) kita. Berbicara diri,bebicara manusia,berbicara manusia berarti berbicara makhluk sakti, kenapa dianggap sakti ? ya, sakti karena manusia makhluk yang sempurna diantara makhluk Tuhan yang lainnya, manusia memiliki fitrah, maksudanya fitrah berarti suci (hanif), yang geraknya cenderung kepada kebaikan. Fitrah inilah yang merupakan pancaran cahaya Ilahi, jika menurut Mutahhari bahwa fitrah  mirip denga kesadaran, sebab manusia mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui , artinya , dalam diri manusia terdapat sekumpulan hal yang bersifat fitri, dan manusia tahu betul tentang hal itu, jadi fitrah dapat menyingkap hakikat,potensi dan jati diri manusia,
Jika menurut Ali Syariati, manusia memiliki tiga potensi dasar, yaitu kesadaran,kehendak bebas, dan daya cipta. Kesadaran merupakan kepanjangan dari fitrah itu sendiri, dengan kesadaran itulah manusia bisa tumbuh dengan kerangka unik, yang akhirnya manusia dibedakan dengan makhluk lain, atau dalam kajian filsafat dan teologi (kalam) manusia itu adalah hewan yang berfikir (hayawan al-naathiq), inilah rasionalitas manusia, Hegel berkata  rasio adalah pemikiran yang mengkondisikan dirinya dengan kebebasan sempurna, jadi salah satu turunan dari kesadaran adalah berfikir, intelektual dan rasionalitas.
Dari proses berfikir inilah manusia memiliki kehendak bebas, bukan berarti bebas secara total (total freedom),yakni bertanggung jawab akan pilihannya, jika seseorang memilih untuk diam, dia harus bertanggung jawab dengan diamnya, dalam arti itulah kebebasan yang dia pilih. Karena jika bebas tanpa batas akan terjadi kontradiksi dengan fitrah manusia itu sendiri. Kehendak bebas inilah yang membuat manusia bisa beradab dan membangun peradaban, menurut Nurcholis Madjid, manusia mempunyai kehendak bebas (ikhtiar), untuk membangun peradaban, dengan dibarengai keharusan Universal Tuhan (Takdir), coba telaah matahari, dia tidak bisa mengubah dirinya jadi bulan, atau angin, berbeda dengan manuisa. karena mempunyai kehendak bebas dan potensi-potensi yang lainnya dia bisa berubah jadi apapun,selagi selaras dengan hukum-hukum Tuhan, manusia bisa lebih mulia dari  pada malaikat dan boleh jadi lebih hina daripada hewan.
Kehendak manusia bagaimanpun keadaannya tidak akan sama dengan kehendak Tuhan, maksudnya bahwa kehendak manusia merupakan secercah pancaran cahaya kehendak Tuhan, dari kehendak inilah muncul ekspektasi-ekspektasi manusia, yakni berproses dengan benar menuju zat yang maha benar, jadi jika beberapa keinginan manusia ada yang buruk, itu di karenakan tiadanya sebuah kebaikan,  
Dengan dikembangkannya kesadaran dan kehendak bebas (ikhtiar), akan muncul sebuah karya manusia, salah satunya peradaban dunia, karena hakikatnya manusia mampu berkarya, warisan dunia yang ada sekarang merupakan daya cipta manusia zaman dahulu, dan inilah puncak eksitensi manusia, tanpa sebuah karya manusia tidak akan dikenal, dan tanpa potensi untuk berkarya, manusia tidak akan menyanggupi tugas wakil Tuhan (Khalifah) di muka bumi ini.Tugas kita sekarang adalah membuat sebuah peradaban yang lebih baik, ada kata-kata yang bagus dari Jean Paul Sarte  semua yang saya pilih dalam keadaan diri saya bebas dan berniat baik, itulah nilai-nilai dan kebajikan.
Jadi dalam diri manusia sangatlah kompleks, hal itu baru dalam satu individu, bukan sebuah keniscayaan ketika berbicara kesadaran,kehendak dan daya cipta, akan berbeda kualitas tiap individu, yang harus di insafi oleh setiap manusia adalah keharusan akan keharmonisan antara satu dan yang lainnya, sehingga akan meminimalisir konflik-konflik yang ada. Penataan dirilah yang perlu di butuhkan oleh seluruh umat manusia, yang pada akhirnya dunia dipenuhi dengan bangsa yang gandrung keadilan,tanah air yang meniadakan penindasan, dan bahasa yang dipenuhi dengan kejujuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.