Minggu, 13 September 2015

LEARN TO WRITE SHORT STORY



SANG OASE GURUN SAHARA
Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
Dikala jiwaku mulai tergoyahkan lagi, dengan hal-hal yang spekulatif, otakku lelah dengan kegiatan organisasi yang tak tentu arahnya, aku di landa keraguan, keraguan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari pada kaum shopis yang skeptis, kelelahan jiwa dan raga menimpaku, bingung dangan sebuah pencarian, pencarian tentang potensi diri, terngiang dengan sebuah ucapan, “ barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”, kalimat tersebut serasa menghantui, sehingga aku berani berkesimpulan bahwa, aku masih belum “mengenal” Tuhan.
Sejenak aku rebah di sudut kamar yang penuh kegelisahan, mencoba berfikir dan menganalisa dinamika kehidupan, kehidupan para mahasiswa,siswa, bahkan yang lainnya pun tak luput dari anlisa pikiran ku, teringatlah dengan sebuah hubungan yang sering di lakukan para pemuda-pemudi. Orang-orang, biasa menyebutnya dengan kata pacaran, kata tersebut sangat menggelikan otak ku, karena hanya dengan sebuah ungkapan dari seseorang kepada lawan jenisnya, entah itu kata sayang, cinta, atau yang lainnya, menjadikan adanya sebuah ikatan yang temporal dan menjijikan, “oh, mengapa aku menjadi sepeti ini ? berfikir yang tidak produktif,”. Sejenak kantuk pun menyerangku, akhirnya akupun lelap dalam sunyi.
Panonpoe carangcang tihang, ungkapan waktu tradisional orang Sunda, aku terbangun kala itu, masih dengan banyak kebingunan yang membingungkan, air sumber kehidupan membasahi wajahku, udara yang penuh polusi tak luput dari hirupku, dan sang Matahari yang selalu ikhlas menyinari makhluk, dari yang beradab hingga biadab, dari yang beriman sampai yang bajingan. Sebatang rokok dan segelas kopi, yang menemaniku di kala pagi, boleh jadi aku anggap pacar, karena kami selalu harmonis, aku ada maka mereka ada.
Teringat dengan tugasku sebagai manusia, yakni belajar, namun aku benci hal ini, karena belajarnya penuh aturan dan hukuman, dari apresiasi hingga di persekusi, tapi aku tetap bergegas, karena aku ingin melakasankan amanat orang tua, setibanya di gerbang kampus terlihat beberapa kawan sekelas, dan akhirnya kami berjalan bersama dengan tatapan ragu, tanpa arah tujuan yang pasti. Di sela perjalanan aku menatap mata seorang perempuan, namun aku merasa ada yang beda dengan matanya, aku seperti duduk didekat oase ditengah gurun sahara, dan aku ingin lama berdiam disana, karena jika aku beranjak, dahaga akan menyerangku, seperti ada sebuah keikhlasan didalam matanya. Ketermenunganku pada saat itu, teringat akan tulisan Muthahhari tentang potensi dasar manusia, salah satunya cinta!. “oh, mengapa diriku? Apakah aku cinta dia ? namun apa yang dimakusud cinta itu sendiri ?”
Suara klakson sepeda motor menyadarkanku, ternyata posisi aku memandang perempuan tersebut pas di tengah jalanan kampus, yang biasa di lalui kendaraan, sumpah serapah yang tak bermakna keluar begitu saja dari mulutku,  berlanjut dengan langkah kaki menuju ruang kuliah, kebetulan mata kuliah waktu itu membahas fikih nikah, dari ta’aruf,khitbah,dan nikah hingga talak pun di bahas secara komprehensif, dari persepektif abu ja’far,maliki,abu hanifah, syafi’i,hanbali, hingga para ulama modern, pembahasan memanjang, ketika membahas ta’aruf dan khitbah, para mahsiswa gaduh dengan argumetasi, ada yang menyamakan antara pacaran dan ta’aruf, khitbah dan tunangan, ada pula yang membedakannya. Tetapi kala itu aku tak bergairah diskusi, lamunan ku tertuju pada dua mata, yah…, sang oase gurun sahara.
Khayalan ku mengawang-ngawang keseluruh semesta, dan kemungkinan terbaik hingga terburuk tak luput dari angan-angan.
Wahai perempuan bermata menawan
Apakah engkau jelmaan Cleopatra ?
Ataukan engkau iblis berparas cantik ?
Karena matamu…..aku terpukau
Raut wajah keikhlasan terpancar, hingga aku merasa teduh memandang mu
Namun ingatlah… aku hanya melihat dirimu dari materi
Akankah esensimu sebanding dengan parasmu ?
Entahlah, hanya engkau dan Tuhan yang tahu.

Sajak mengalir begitu saja, sehingga kertas pun jadi korban coretan ku, tersadarkan dengan ucapan wallahua’lam dari bibir dosen, digulungya kertas itu dan aku lemparkan keluar melalui jendela, semoga perempuan itu bisa membaca sajak tersebut. Langkah kaki dilorong gedung kuliah menjadi irama harmonis dalam pendengaranku, namun suara harmonis itu aku hentikan, ketika melihat tingkah laku beberapa mahasiswa yang sangat menggelikan, lawan jenis berbincang begitu mesranya, melebihi kemesraan orang-orang yang sudah menikah.
“Betapa bodohnya mereka , bertindak seperti itu, seperti domba-domba yang tersesat jika menurut firman Yesus dalam Al-kitab. Apakah peng-ejawantahan cinta pada zaman ini seperti itu? Betapa rendahnya martabat cinta jika seperti itu?”
Ruang 3 x 2 meter pun menjadi tempat ku termenung, pada hari itu, perasaan dan kondisi tubuh tidak seperti biasa, memang rasa gelisah secara jiwa, dan lapar secara raga, sudah biasa, namun saat ini aku sangat gelisah, seperti aku sedang di landa kehausan di tengah sahara. “kegiatan apa yang harus ku lakukan?, hingga rasa seperti ini bisa aku hilangkan”. Aku lihat rak buku , dan mengambil salah satu buku, “Surat-Surat Cinta Khalil Gibran”, aku luput didalmnya, aku merasa menjadi Khalil Gibran yang sedang menulis surat cinta kepada Marry Haskell, namun aku terhenti ketika membaca sebuah paragraph :
aku akan menutup mataku, dan memalingkan wajahku ke dinding dan memikirkan, memikirkan engkau, engkau pendaki gunung, engkau pemburu kehidupan”
Seketika pikiranku, menerawang jauh ke dalam ruang hampa namun di ruang hampa aku temui sosok perempuan, yah….. perempuan yang tadi pagi aku lihat, bayang-bayang itu begitu jelas terlihat, aku ingin mendekap dan merengkuhnya dalam lamunanku, namun aku tak bisa, wajahnya terlalu ikhlas jika aku peluk, aku sungguh tak sanggup meskipun itu dalam bayang-bayang, memang aku terlalu naïf dan pecundang, yang hanya dalam bayangpun tak sanggup memeluk. Semakin dalam bayangku tentang perempuan itu, aku semakin luput dalam buaimu. “apkah ini cinta?, apakah majnun juga merasakan hal seperti ini?. Akal tak sanggup menjawabnya.
Matahari terus berpindah. Tepat satu minggu, ketika aku pertama kali melihat perempuan itu. Di belakang fakulats tepatnya di gazebo, aku sedang berbincang dengan kawan-kawan, mengenai apapun, ketika sedang asiknya berbincang mengenai organisasi yang tak tentu arah, yang diisi oleh para bajingan yang akan melanjutkan tradisi status quo para birokrat, aku melihat sesosok mata di depan ku, mata yang seminggu lalu aku lihat, namun saat itu di tidak sedang berjalan, tapi dia sama seperti ku, duduk dan berbincang dengan temannya, dan ada lagi yang membuatku terbuai, senyumnya, begitu manis, bahkan semutpun malu untuk mengigitnya.
Waktu itu, aku melamun sejenak, pandangan mataku seperti tak memandang, terdengar sayup-sayup panggilan di sekitar gazebo, “ Benazir, Benazir, Benazir Nadhifa Az-Zahra…..”, tak ku sangka ternyata panggilan tersebut di tujukan kepada sang Oase ku, dan akhirnya aku tahu nama dia…, Benazir Nadhifa Az-zahra….
Terngiang terus nama perempuan itu, begitu indah bagiku. Az-zahra, merupakan nama putri bungsu Sang Nabi, yang artinya karangan bunga, memang dia seperti karangan bunga,tak penting bunga apa, tetapi aku semakin terpana, hati ini semakin gelisah, bahkan tidak ada kata dalam bahasa indonesia untuk mengungkapkan hati ini.
Zahra nama yang indah..
Karangan bunga bak tertata di matamu…
Wajahmu bagaikan taman balqis
Engkau tak perlu permak wajah
Cukup saja tersenyum
Orang-orang akan terpukau
Bahkan semut pun akan malu
Memang aku terlalu berlebihan memujimu
Tetapi coba…… jika engkau melihat apa yang aku lihat
Engkau akan mengerti…
Nikmat apalagi yang akan engkau dustakan….
Aku mendadak membuat sebuah sajak lagi untuk mu, meskipun sajak ku tak sehangat Khalil Gibran, tak sama dengan Homereus dan tak sedalam Jalalludin Rumi, tapi inilah yang aku bisa, dengan segala kekurangan,lagi-lagi rasa ini semakin tak jelas dan aku lebih bingung,lebih gelisah, peluh keringat sering aku keluarkan ketika memikirkan dia, kantuk pun jarang menerkam, dan semua kegiatan rutin pun sering aku tinggalkan.
Di hari lain, aku mencoba mencari tahu tentang dia, ketika aku melihat wajah dia di salah satu situs jejaring sosial, rasaku tak bisa ku ungkapkan, beberapa menit aku terus memandang gambar itu, dan…. Setelah itu kepedihan melanda rasaku, teranyata dia melakukan sesuatu yang ku anggap menjijikan otak, yah…. dia pacaran!!!. Aku berhenti sejenak, dan terus berfikir, namun lama-lama rasa jijiku terhadap pacaran, mulai turun, dan akhirnya aku berkesimpulan, memang kondisi zaman sudah seperti ini, aku mau apalagi, sekuat-kuatnya idealitas pikiranku, itu hanya di pikiran subjektifku,dan setiap orang mempunyai idealitas masing-masing, rasakupun luluh, meski ada sedikit kekecewaan.
Nikmat Tuhan  mana lagi yang akan engkau dustakan
Keselamatan semoga menyertai mu
Wahai sang oase gurun sahara…..
Yang namanya berartikan karangan bunga
Yang senyumnya semanis kembang gula
Meskipun engkau tidak akan mengenal ku
Suatu saat engkau akan mengenangku…
Jalinlah hubungan cinta kasih dengan penuh etika dan estetika..
Buatlah sebuah ikatan, yang berujung janji suci..
Yang akan menjadi estapeta peradaban manusia
Maaf jika aku lancang…..
Aku nasehati kamu, aku gurui kamu..
Memang benar ucapan Jalalludin Rakhmat..
Janganlah Fall in Love but Learn to Love..
Sampai jumpa..
Semoga keberkahan,keselamat dan kesehatan menyertaimu…

Itulah mata sang Cleopatra, oase di gurun sahara yang mampu mengguncangkan rasaku,meskipun aku menanam beribu ekspektasi tentang dia, tidak bisa memaksakan kehendak subjektif, di kala aku mengusung kebebasan individu, biarlah hal ini menjadi pilihan di setiap hari dan setiap hati, merdekalah secara individu dan komunal, maka kehendak universal akan menyertai, sadar akan sejarah, sejarah cinta kasih umat manusia,yang tanpanya, Muhammad Sang nabi tidak akan bisa menegakan Agama kepasrahan (Islam), India tidak akan ada revolusi tanpa cinta kasih Mahatma Gandhi, dan Laila Majnun tidak akan di kenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.