SANG
OASE GURUN SAHARA
Oleh
: Muhamad Ikmal Assidiqi
Dikala
jiwaku mulai tergoyahkan lagi, dengan hal-hal yang spekulatif, otakku lelah
dengan kegiatan organisasi yang tak tentu arahnya, aku di landa keraguan,
keraguan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari pada kaum shopis yang skeptis,
kelelahan jiwa dan raga menimpaku, bingung dangan sebuah pencarian, pencarian
tentang potensi diri, terngiang dengan sebuah ucapan, “ barang siapa yang
mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”, kalimat tersebut serasa
menghantui, sehingga aku berani berkesimpulan bahwa, aku masih belum “mengenal”
Tuhan.
Sejenak
aku rebah di sudut kamar yang penuh kegelisahan, mencoba berfikir dan
menganalisa dinamika kehidupan, kehidupan para mahasiswa,siswa, bahkan yang
lainnya pun tak luput dari anlisa pikiran ku, teringatlah dengan sebuah
hubungan yang sering di lakukan para pemuda-pemudi. Orang-orang, biasa
menyebutnya dengan kata pacaran, kata tersebut sangat menggelikan otak ku,
karena hanya dengan sebuah ungkapan dari seseorang kepada lawan jenisnya, entah
itu kata sayang, cinta, atau yang lainnya, menjadikan adanya sebuah ikatan yang
temporal dan menjijikan, “oh, mengapa aku menjadi sepeti ini ? berfikir yang
tidak produktif,”. Sejenak kantuk pun menyerangku, akhirnya akupun lelap
dalam sunyi.
Panonpoe
carangcang tihang, ungkapan waktu tradisional orang
Sunda, aku terbangun kala itu, masih dengan banyak kebingunan yang
membingungkan, air sumber kehidupan membasahi wajahku, udara yang penuh polusi
tak luput dari hirupku, dan sang Matahari yang selalu ikhlas menyinari makhluk,
dari yang beradab hingga biadab, dari yang beriman sampai yang bajingan.
Sebatang rokok dan segelas kopi, yang menemaniku di kala pagi, boleh jadi aku
anggap pacar, karena kami selalu harmonis, aku ada maka mereka ada.
Teringat
dengan tugasku sebagai manusia, yakni belajar, namun aku benci hal ini, karena
belajarnya penuh aturan dan hukuman, dari apresiasi hingga di persekusi, tapi
aku tetap bergegas, karena aku ingin melakasankan amanat orang tua, setibanya
di gerbang kampus terlihat beberapa kawan sekelas, dan akhirnya kami berjalan
bersama dengan tatapan ragu, tanpa arah tujuan yang pasti. Di sela perjalanan
aku menatap mata seorang perempuan, namun aku merasa ada yang beda dengan
matanya, aku seperti duduk didekat oase ditengah gurun sahara, dan aku ingin
lama berdiam disana, karena jika aku beranjak, dahaga akan menyerangku, seperti
ada sebuah keikhlasan didalam matanya. Ketermenunganku pada saat itu, teringat
akan tulisan Muthahhari tentang potensi dasar manusia, salah satunya cinta!. “oh,
mengapa diriku? Apakah aku cinta dia ? namun apa yang dimakusud cinta itu
sendiri ?”
Suara
klakson sepeda motor menyadarkanku, ternyata posisi aku memandang perempuan
tersebut pas di tengah jalanan kampus, yang biasa di lalui kendaraan, sumpah
serapah yang tak bermakna keluar begitu saja dari mulutku, berlanjut dengan langkah kaki menuju ruang
kuliah, kebetulan mata kuliah waktu itu membahas fikih nikah, dari ta’aruf,khitbah,dan
nikah hingga talak pun di bahas secara komprehensif, dari persepektif abu
ja’far,maliki,abu hanifah, syafi’i,hanbali, hingga para ulama modern,
pembahasan memanjang, ketika membahas ta’aruf dan khitbah, para mahsiswa gaduh
dengan argumetasi, ada yang menyamakan antara pacaran dan ta’aruf, khitbah dan
tunangan, ada pula yang membedakannya. Tetapi kala itu aku tak bergairah
diskusi, lamunan ku tertuju pada dua mata, yah…, sang oase gurun sahara.
Khayalan
ku mengawang-ngawang keseluruh semesta, dan kemungkinan terbaik hingga terburuk
tak luput dari angan-angan.
Wahai perempuan bermata menawan
Apakah engkau jelmaan Cleopatra ?
Ataukan engkau iblis berparas cantik ?
Karena matamu…..aku terpukau
Raut wajah keikhlasan terpancar, hingga
aku merasa teduh memandang mu
Namun ingatlah… aku hanya melihat dirimu
dari materi
Akankah esensimu sebanding dengan
parasmu ?
Entahlah, hanya engkau dan Tuhan yang
tahu.
Sajak
mengalir begitu saja, sehingga kertas pun jadi korban coretan ku, tersadarkan
dengan ucapan wallahua’lam dari bibir dosen, digulungya kertas itu dan
aku lemparkan keluar melalui jendela, semoga perempuan itu bisa membaca sajak
tersebut. Langkah kaki dilorong gedung kuliah menjadi irama harmonis dalam
pendengaranku, namun suara harmonis itu aku hentikan, ketika melihat tingkah
laku beberapa mahasiswa yang sangat menggelikan, lawan jenis berbincang begitu
mesranya, melebihi kemesraan orang-orang yang sudah menikah.
“Betapa
bodohnya mereka , bertindak seperti itu, seperti domba-domba yang tersesat jika
menurut firman Yesus dalam Al-kitab. Apakah peng-ejawantahan cinta pada zaman
ini seperti itu? Betapa rendahnya martabat cinta jika seperti itu?”
Ruang
3 x 2 meter pun menjadi tempat ku termenung, pada hari itu, perasaan dan
kondisi tubuh tidak seperti biasa, memang rasa gelisah secara jiwa, dan lapar
secara raga, sudah biasa, namun saat ini aku sangat gelisah, seperti aku sedang
di landa kehausan di tengah sahara. “kegiatan apa yang harus ku lakukan?,
hingga rasa seperti ini bisa aku hilangkan”. Aku lihat rak buku , dan
mengambil salah satu buku, “Surat-Surat Cinta Khalil Gibran”, aku luput
didalmnya, aku merasa menjadi Khalil Gibran yang sedang menulis surat cinta
kepada Marry Haskell, namun aku terhenti ketika membaca sebuah paragraph :
“aku
akan menutup mataku, dan memalingkan wajahku ke dinding dan memikirkan,
memikirkan engkau, engkau pendaki gunung, engkau pemburu kehidupan”
Seketika
pikiranku, menerawang jauh ke dalam ruang hampa namun di ruang hampa aku temui
sosok perempuan, yah….. perempuan yang tadi pagi aku lihat, bayang-bayang itu
begitu jelas terlihat, aku ingin mendekap dan merengkuhnya dalam lamunanku,
namun aku tak bisa, wajahnya terlalu ikhlas jika aku peluk, aku sungguh tak
sanggup meskipun itu dalam bayang-bayang, memang aku terlalu naïf dan pecundang,
yang hanya dalam bayangpun tak sanggup memeluk. Semakin dalam bayangku tentang
perempuan itu, aku semakin luput dalam buaimu. “apkah ini cinta?, apakah
majnun juga merasakan hal seperti ini?. Akal tak sanggup menjawabnya.
Matahari
terus berpindah. Tepat satu minggu, ketika aku pertama kali melihat perempuan
itu. Di belakang fakulats tepatnya di gazebo, aku sedang berbincang dengan
kawan-kawan, mengenai apapun, ketika sedang asiknya berbincang mengenai
organisasi yang tak tentu arah, yang diisi oleh para bajingan yang akan melanjutkan
tradisi status quo para birokrat, aku melihat sesosok mata di depan ku, mata
yang seminggu lalu aku lihat, namun saat itu di tidak sedang berjalan, tapi dia
sama seperti ku, duduk dan berbincang dengan temannya, dan ada lagi yang
membuatku terbuai, senyumnya, begitu manis, bahkan semutpun malu untuk
mengigitnya.
Waktu
itu, aku melamun sejenak, pandangan mataku seperti tak memandang, terdengar
sayup-sayup panggilan di sekitar gazebo, “ Benazir,
Benazir, Benazir Nadhifa Az-Zahra…..”, tak ku sangka ternyata panggilan tersebut
di tujukan kepada sang Oase ku, dan akhirnya aku tahu nama dia…, Benazir Nadhifa Az-zahra….
Terngiang
terus nama perempuan itu, begitu indah bagiku. Az-zahra, merupakan nama putri
bungsu Sang Nabi, yang artinya karangan bunga, memang dia seperti karangan
bunga,tak penting bunga apa, tetapi aku semakin terpana, hati ini semakin
gelisah, bahkan tidak ada kata dalam bahasa indonesia untuk mengungkapkan hati
ini.
Zahra nama yang
indah..
Karangan bunga
bak tertata di matamu…
Wajahmu bagaikan
taman balqis
Engkau tak perlu
permak wajah
Cukup saja
tersenyum
Orang-orang akan
terpukau
Bahkan semut pun
akan malu
Memang aku
terlalu berlebihan memujimu
Tetapi coba……
jika engkau melihat apa yang aku lihat
Engkau akan
mengerti…
Nikmat
apalagi yang akan engkau dustakan….
Aku
mendadak membuat sebuah sajak lagi untuk mu, meskipun sajak ku tak sehangat
Khalil Gibran, tak sama dengan Homereus dan tak sedalam Jalalludin Rumi, tapi
inilah yang aku bisa, dengan segala kekurangan,lagi-lagi rasa ini semakin tak
jelas dan aku lebih bingung,lebih gelisah, peluh keringat sering aku keluarkan
ketika memikirkan dia, kantuk pun jarang menerkam, dan semua kegiatan rutin pun
sering aku tinggalkan.
Di
hari lain, aku mencoba mencari tahu tentang dia, ketika aku melihat wajah dia
di salah satu situs jejaring sosial, rasaku tak bisa ku ungkapkan, beberapa
menit aku terus memandang gambar itu, dan…. Setelah itu kepedihan melanda
rasaku, teranyata dia melakukan sesuatu yang ku anggap menjijikan otak, yah….
dia pacaran!!!. Aku berhenti sejenak, dan terus berfikir, namun lama-lama rasa
jijiku terhadap pacaran, mulai turun, dan akhirnya aku berkesimpulan, memang
kondisi zaman sudah seperti ini, aku mau apalagi, sekuat-kuatnya idealitas
pikiranku, itu hanya di pikiran subjektifku,dan setiap orang mempunyai
idealitas masing-masing, rasakupun luluh, meski ada sedikit kekecewaan.
Nikmat
Tuhan mana lagi yang akan engkau
dustakan
Keselamatan
semoga menyertai mu
Wahai
sang oase gurun sahara…..
Yang
namanya berartikan karangan bunga
Yang
senyumnya semanis kembang gula
Meskipun
engkau tidak akan mengenal ku
Suatu
saat engkau akan mengenangku…
Jalinlah
hubungan cinta kasih dengan penuh etika dan estetika..
Buatlah
sebuah ikatan, yang berujung janji suci..
Yang
akan menjadi estapeta peradaban manusia
Maaf
jika aku lancang…..
Aku
nasehati kamu, aku gurui kamu..
Memang
benar ucapan Jalalludin Rakhmat..
Janganlah
Fall in Love but Learn to Love..
Sampai
jumpa..
Semoga
keberkahan,keselamat dan kesehatan menyertaimu…
Itulah
mata sang Cleopatra, oase di gurun sahara yang mampu mengguncangkan
rasaku,meskipun aku menanam beribu ekspektasi tentang dia, tidak bisa
memaksakan kehendak subjektif, di kala aku mengusung kebebasan individu,
biarlah hal ini menjadi pilihan di setiap hari dan setiap hati, merdekalah
secara individu dan komunal, maka kehendak universal akan menyertai, sadar akan
sejarah, sejarah cinta kasih umat manusia,yang tanpanya, Muhammad Sang nabi
tidak akan bisa menegakan Agama kepasrahan (Islam), India tidak akan ada
revolusi tanpa cinta kasih Mahatma Gandhi, dan Laila Majnun tidak akan di
kenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar