Oleh : Muhammad Ikmal Assidiqi
Politik, ketika kita kita mendengar hal itu, sudah pasti kebanyakan dari kita akan menganggap bahwa politik itu adalah barang yang paling menjijikan, sampai-sampai kita tidak mau bersentuhan dengan sesuatau yang namanya politik, mungkin saja karena kebanyakan manusia terutama di Indonesia memandang politik tidak secara substabsial tetapi melihat kepada para praktisi politik, yang kebanyakan di Indonesi berperilaku sangat "buruuk", bisa terlihat ketika dia akan jadi anggota pemerintahan para praktisi politik memberi harapan-harapan besar kepada rakyat, padahal ketika sudah jadi anggota birokrat, mereka tidak menepati janji-janji besar mereka, mungkin itu yang menjadi salah satu sebab pandangan "buruk" kepada politik.
Mari kita sejenak refleksikan jiwa kita kepada kebenaran, secara arti politik adalah usaha mencapai kehidupan yang baik, dalam sejarahnya sejak sebelum masehi banyak para filsuf-filsuf sudah memikirkan negara, dimana mengenai negara harus menggunakan cara-cara, salah satu yang di usahkannya adalah dengan menggunakan politik, seperti Plato dan Aristoteles yang di kemudian hari terkenal dengan "jargon" en dam onia atau the good life, sedangkan di nusantara sendiri sudah mempunyai pandangan tentang negara yang ada sangkut pautnya dengan politik, dengan adanya opini Negarakertagama yang ditulis mada masa Majapahit sekitat abad 13 dan 15 Masehdi dan Babad Tanah Jawi, namun perlu kita sayangkan tradisi ketatnegaraan Nusantara tergerus dengan datangnya orang-orang dari luar Nusantra yang membawa pemahaman-pemahaman mereka yang akhirnya karya-karya anak Nusantara tidak terlalu di kaji. Berarti salah satu tunggangan Negara atau lembaga yaitu salah satunya dengan politik, yaitu dengan usaha dan cara yang baik,untuk menjadi bangsa yang baik. Secara substansi politik adalah barang yang baik yang akan mengantarkan dan menjadikan suatu bangsa,negara atau lembaga, yang baik pula.
Permasalahannya, mengapa kebanyakan para praktisi politik berperilku tidak baik ? mungkin saja ada beberapa sebab, pertama, ada beberapa pemikir yang memahami bahwa politik adalah cara mencapai kekuasaan, yang berakibat kebanyakan para praktisi politik meyakini hal itu dan mempraktekannya pada keanyataan, yang boleh jadi cara mencapai kekuasaannya dengan cara yang tidak baik. kedua, insting manusia, salah satunya haus dengan kepuasan, ketika seseorang sudah mencapai kekuasaan yang segala sesuatunya dapat di dapatka, karena salah satu insting manusia seperti itu, sehingga cara yang buruk pun dilakukan untuk mencapai sesuatu yang dia inginkan. ketiga,terutama di Indonesia, pada akhir-akhir ini para praktisi politik, tidak proporsional dengan cara mencalonkan orang-orang yang tidak berkompeten dalam hal tata negara, untuk jadi anggota birokrat. ketiga, para sarjana atau orang yang berkompeten enggan turun jadi praktisi politik, mungkin dengan beberpa sebab, enggan memasuki dunia praktisi politik. dan banyak lagi sebab-sebab yang tidak mungkin saya tulis satu persatu.
Jadi, ketika kita mendegar kata politik jangan samakan substansi politik dengan para praktisi politik yang tidak baik, kaji lah politik itu dengan lapang dada dan penuh kesadaran intelektual supaya kelak negara kita dipenuhi oleh para birokrat yang berkompeten dalam bidangnya, karena para filsuf pun yang sangat berpengaruhh dalam kajian intelektual mereka semua "berpolitik".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar