Selasa, 10 November 2015

BUTA HEJO VIS A VIS INSAN CITA


Legenda Buta Hejo biasanya selalu di ceritakan orang tua dahulu kepada anak kecil untuk menakut-nakuti, dia merupakan symbol kejahatan,keserakahan dan kebodohan. Dalam literature sunda, Buta adalah sesosok raksasa yang sangat jahat, kerjaannya adalah memakan manusia, dia juga acapkali berkoalisi dengan manusia durjana, hingga manusia durjana itu bisa memberi kan tumbal kepada sang buta tersebut. Mungkin sosok Buta Hejo ini hampir mirip dengan gundorewo (setan di tanah jawa).
Dalam tulisan lepas ini aku akan menambah perspektif lain terhadap sang buta, kalau dalam bahasa Indonesia kata buta, adalah manusia yang tidak bisa melihat (gelap,hitam), saya tidak akan menyinggung manusianya tapi gelapnya (hitam), kenapa hitam ?, ada banyak tafsiran mengenai warna hitam, ada yang menafsirkan dengan kedalaman ilmu pengetahuan, ada juga yang menafsirkan sebagai symbol kegelapan(kebodohan,kejahatan). Kali ini akan lebih cocok jika hitam di maknai dengan symbol kejahatan, kenapa kejahatan ? karena disini kita akan berbicara mengenai Buta Hejo.
Sebelum di lanjtukan, kiranya aku harus menceritakan dahulu pengalaman, (sebagai pengantar ke pembahasan selanjutnaya), ketika aku masuk salah satu organisasi ekstra kampus, yang telah banyak melahirkan manusia-manusia sakti, dan seringkali memberi warna terhadap perkembangan bangsa Indonesia ini, aku tidak akan menyebutkan nama organisasi nya, tapi ciri-ciri nya seperti ini, lambangnya perisai dengan dominasi warna hijau,hitam, dan sedikit garis putih. Disini aku mendapatkan sesuatu yang baru, dari sesuatu yang sangat baik hingga yang sangat buruk. Ada sebuah ritual yang harus dilewati, jika ingin menjadi anggota (kader) organisasi ini.
Misi organisasi ini, bagi aku sangatlah mulia, bagaiamana tidak mulia, aku akan coba tuliskan misinya “Terbinanya Insan akademis,pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Alla SWT”, mulia kan?, hanya orang gila yang tidak menyebut mulia !, bahkan anggotanya (kader) pun disebut sebagai kader ummat dan kader bangsa, tugas mereka begitu berat sekaligus mulia. Inilah Filsafat Manuisa versi organisasi Hijau Hitam, yang sering disebut dengan kualitas Insan Cita.
Dengan lima kualitas Insan Cita inilah organisasi ini membina kadernya menjadi manusia seutuhnya. Bagaiamana tidak, mari kita coba runtut satu persatu, Insan akademis, sangatlah jelas kadernya harus mahasiswa, dimana budaya membaca,menulis dan meniliti harus tetap hidup. Dari proses akademis inilah kader di tuntut untuk bisa mencipta, setalah itu membuat karya, dan karyanya tidak hanya didiamkan saja, tetapi harus di abdikan, dan yang paling utama adalah semua kegitannya harus berlandasakan Islam (kepasrahan kepada yang Maha Benar, Tuhan Allah), sehingga proses terakhirnya adalah bertanggung jawab untuk membangun estapeta peradaban umat manusia dengan segala potensi yang telah diberikan Allah.
 Di organisasi ini, orang akan di pandang ketika dia menguasai materi yang sangat controversial bagi para pemula, materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), kini orangnya sering disebut dengan NDP-er, salah satu teks ideologis bagi organisasi ini. Ada satu lagi, jika mau di pandang di organisasi ini, yaitu orang yang jago setingan politik, dari suksesi menjadi ketua komisarit hingga Pengurus Besar, dari tingkat HIMA Jurusan hingga ketua BEM Universitas. Masing-masing punya gaya dan budaya nya, tetapi sayangnya pada saat ini, sangat sedikit orang yang “mahir” dalam mengisi materi NDP. Dan yang lebih di sayangkan itu, ketika membuat setingan politik, kaidah-kaidah etika yang ada sering ditabrak, sehingga tak jarang ketika paska momen politik antara satu sama lain sering terjadi “perang dingin”.
Mungkin cukup uraian pengantarnya, lalu apa hubungannya antara buta hejo dengan organisasi yang mulia ini ?, aku di sini tidak akan membuat hubungan, tetapi membuat sebuah analisa (jika masih bisa disebut analisa), di awal tadi aku sebut buta hejo sebagi sosok jahat,serakah dan “bodoh”, selain sosok buta hejo aku juga menggambarkan sosok makhluk lain, insan cita, yang merupakan kumpulan lima kualitas diri manusia (Filsafat Manusia ala Sang Hijau Hitam).
Aku teringat dengan pembahasan NDP, bab 2, Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). Bagi aku, jika manusia menginsafi kemanusiaan nya, tidak perlu masuk organisasi Hijau Hitam untuk bisa menjadi Insan Cita, karena secara naluriah akan menjadi seperti itu, Man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu “ Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”, Tuhan Allah lah sumber Kebenaran, dan kita akan terus berenang (tasbih) menuju-Nya.
Muthahhari membagi potensi dasariah itu menjadi tiga : Pertama Watak,biasanya digunakan untuk benda-benda mati, tetapi bisa pula digunakan untuk benda-benda hidup. Kedua  Insting, istilah ini kebanyakan diguanakan untuk binatang, dan jarang sekali digunakan untuk manusia, serta tidak pernah digunakan untuk benda-benda mati dan tumbuhan. Di dalam insting tersebut tedapat kondisi setangah sadar yang dengan itu bintang-binatang dapat dibedakan perjalanan hidupnya. Ketiga  Fitrah, istilah ini digunakan untuk manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia, dan bukan sesuatu yang diperoleh melalu usaha, Fitrah mirip dengan kesadaran. Sebab, manusia mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui. Jadi, jika insting bersifat hewani, sedangkan Fitrah bersifat metahewani atau berkaitan dengan masalah-masalah kemanusiaan.
Lalu kenapa dalam perlanan sejarah umat manusia selalu saja ada manusia-manusia yang seringkali dipandang jahat oleh orang setelahnya, semisal Qabil yang membunuh Habil, Kan’an yang menolak ajakan bapaknya Nuh, Firaun Sang Tirani, atau cerita-cerita orang Sparta dan Troya, Ada Raja Gandara (Sengkuni) dalam Cerita Mahabarata, dan terlalu banyak lagi kejahatan yang tak perlu aku tulis. Mengapa demikian, jika merujuk kepada Muthahhari, karena manusia lebih mengedepankan insting di banding fitrah, Qabil membunuh saudaranya karena dia cemburu kepada Habil, yang istrinya lebih cantik dari istri Qabil, lalu Sengkuni memberi propaganda kepada Duryudana, untuk menguasai Kuru Setra agar dia punya posisi.
Seperti yang kita ketahui jika dalam pembahasan filsafat, dalam membahas manusia maka sering disebut dengan hayawan al-nathiq (hewan berfikir/sadar), maka tidak terlalu salah  mempunyai kesimpulan, jika kita melihat manuisa yang terlalu banyak mengedepankan sisi hewaninya maka dia akan bertindak seperti hewan,(mengecilkan atau bahkan menghilangkan rasio/kesadarannya), dan akan bertindak tidak berperikemanuisaan, Begitupun dengan Buta Hejo mungkin agak unik, kalau melihat mitologi yunani ada demigod (manusia setengah dewa), sentaurus (manusia setengah kuda/hewan), di kita ada buta hejo, sosok manusia tidak sempurna secara fisik dan mentalnya full hewan.
Nah,, waktunya aku menulis secara tersurat, kenapa aku membawa terma Buta Hejo, di awal aku membawa perspektif lain mengenai Buta (mungkin cocokolgi), yaitu Hitam, dan Hejo adalah warna Hijau, ada kesamaan dengan organisasi Hijau Hitam ini, bukan berarti Sang Hijau Hitam ini Buta Hejo, tetapi orang yang mengibarkan bendera sang hijau hitam bisa jadi dia Buta Hejo, atau aku pun bisa jadi Buta Hejo, karena boleh jadi kita memakai “seragam” hijau hitam tapi dari sisi mentalitas kita memakai mental hewani (insting). Karena dalam sejarah tak sedikit orang yang mengedepankan sisi hewaninya (jahat,serakah dan “bodoh”), begitupun di organisasi Hijau Hitam ini. Maka kualitas Insan Cita perlu kita insafi bersama, guna misi ideologis yang mulia ini, kecuali orang gila yang tidak menyebut mulia, dan kemuliaan ini tidak hanya teks dan konteks, tapi tanggung jawab, bagi ummat dan bangsa.

Bagi aku kualitas insan cita adalah persoalan Fitrah sedang kan Buta Hejo adalah persoalan insting. Tinggal bagaiaman setiap hati memilih mau Buta Hejo atau Insan Cita. 

4 komentar:

  1. Semoga kitabdapat menjadi kader yg mengedepankan 5 kwalitas insan cita dan d jauhkan dari sifat2 ke.buta hejo.an..

    Nuhun bah..

    BalasHapus
  2. Bagaimana setiap hati memilih mau jadi buta hejo atu insan cint...

    Lanjut Bah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap manusia diberi potensi oleh Tuhan, yaitu free will, dari itulah manusia bisa bertanggung jawab atas apa yang ia pilih...

      siap cim...

      Hapus

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.