Legenda Buta
Hejo biasanya selalu di ceritakan orang tua dahulu kepada anak kecil untuk
menakut-nakuti, dia merupakan symbol kejahatan,keserakahan dan kebodohan. Dalam
literature sunda, Buta adalah sesosok raksasa yang sangat jahat, kerjaannya
adalah memakan manusia, dia juga acapkali berkoalisi dengan manusia durjana,
hingga manusia durjana itu bisa memberi kan tumbal kepada sang buta tersebut.
Mungkin sosok Buta Hejo ini hampir mirip dengan gundorewo (setan di tanah jawa).
Dalam tulisan
lepas ini aku akan menambah perspektif lain terhadap sang buta, kalau dalam
bahasa Indonesia kata buta, adalah manusia yang tidak bisa melihat
(gelap,hitam), saya tidak akan menyinggung manusianya tapi gelapnya (hitam),
kenapa hitam ?, ada banyak tafsiran mengenai warna hitam, ada yang menafsirkan
dengan kedalaman ilmu pengetahuan, ada juga yang menafsirkan sebagai symbol
kegelapan(kebodohan,kejahatan). Kali ini akan lebih cocok jika hitam di maknai
dengan symbol kejahatan, kenapa kejahatan ? karena disini kita akan berbicara
mengenai Buta Hejo.
Sebelum di
lanjtukan, kiranya aku harus menceritakan dahulu pengalaman, (sebagai pengantar
ke pembahasan selanjutnaya), ketika aku masuk salah satu organisasi ekstra
kampus, yang telah banyak melahirkan manusia-manusia sakti, dan seringkali
memberi warna terhadap perkembangan bangsa Indonesia ini, aku tidak akan
menyebutkan nama organisasi nya, tapi ciri-ciri nya seperti ini, lambangnya
perisai dengan dominasi warna hijau,hitam, dan sedikit garis putih. Disini aku
mendapatkan sesuatu yang baru, dari sesuatu yang sangat baik hingga yang sangat
buruk. Ada sebuah ritual yang harus dilewati, jika ingin menjadi anggota
(kader) organisasi ini.
Misi organisasi
ini, bagi aku sangatlah mulia, bagaiamana tidak mulia, aku akan coba tuliskan
misinya “Terbinanya Insan
akademis,pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas
terbentuknya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Alla SWT”, mulia kan?,
hanya orang gila yang tidak menyebut mulia !, bahkan anggotanya (kader) pun
disebut sebagai kader ummat dan kader bangsa, tugas mereka begitu berat
sekaligus mulia. Inilah Filsafat Manuisa versi organisasi Hijau Hitam, yang
sering disebut dengan kualitas Insan Cita.
Dengan lima
kualitas Insan Cita inilah organisasi ini membina kadernya menjadi manusia
seutuhnya. Bagaiamana tidak, mari kita coba runtut satu persatu, Insan
akademis, sangatlah jelas kadernya harus mahasiswa, dimana budaya
membaca,menulis dan meniliti harus tetap hidup. Dari proses akademis inilah
kader di tuntut untuk bisa mencipta, setalah itu membuat karya, dan karyanya tidak
hanya didiamkan saja, tetapi harus di abdikan, dan yang paling utama adalah
semua kegitannya harus berlandasakan Islam (kepasrahan kepada yang Maha Benar,
Tuhan Allah), sehingga proses terakhirnya adalah bertanggung jawab untuk
membangun estapeta peradaban umat manusia dengan segala potensi yang telah
diberikan Allah.
Di organisasi ini, orang akan di pandang
ketika dia menguasai materi yang sangat controversial bagi para pemula, materi
Nilai Dasar Perjuangan (NDP), kini orangnya sering disebut dengan NDP-er, salah
satu teks ideologis bagi organisasi ini. Ada satu lagi, jika mau di pandang di
organisasi ini, yaitu orang yang jago setingan politik, dari suksesi menjadi
ketua komisarit hingga Pengurus Besar, dari tingkat HIMA Jurusan hingga ketua
BEM Universitas. Masing-masing punya gaya dan budaya nya, tetapi sayangnya pada
saat ini, sangat sedikit orang yang “mahir” dalam mengisi materi NDP. Dan yang
lebih di sayangkan itu, ketika membuat setingan politik, kaidah-kaidah etika
yang ada sering ditabrak, sehingga tak jarang ketika paska momen politik antara
satu sama lain sering terjadi “perang dingin”.
Mungkin cukup
uraian pengantarnya, lalu apa hubungannya antara buta hejo dengan organisasi
yang mulia ini ?, aku di sini tidak akan membuat hubungan, tetapi membuat
sebuah analisa (jika masih bisa disebut analisa), di awal tadi aku sebut buta
hejo sebagi sosok jahat,serakah dan “bodoh”, selain sosok buta hejo aku juga
menggambarkan sosok makhluk lain, insan cita, yang merupakan kumpulan lima
kualitas diri manusia (Filsafat Manusia ala
Sang Hijau Hitam).
Aku teringat
dengan pembahasan NDP, bab 2, Sesuatu yang membuat manusia yang
menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya,
melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan
yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia
berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). Bagi
aku, jika manusia menginsafi kemanusiaan nya, tidak perlu masuk organisasi
Hijau Hitam untuk bisa menjadi Insan Cita, karena secara naluriah akan menjadi
seperti itu, Man ‘arafa nafsahu fa qad
‘arafa Rabbahu “ Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal
Tuhannya”, Tuhan Allah lah sumber Kebenaran, dan kita akan terus berenang (tasbih) menuju-Nya.
Muthahhari
membagi potensi dasariah itu menjadi tiga : Pertama
Watak,biasanya digunakan untuk benda-benda mati, tetapi bisa pula digunakan
untuk benda-benda hidup. Kedua Insting, istilah ini kebanyakan diguanakan
untuk binatang, dan jarang sekali digunakan untuk manusia, serta tidak pernah
digunakan untuk benda-benda mati dan tumbuhan. Di dalam insting tersebut
tedapat kondisi setangah sadar yang dengan itu bintang-binatang dapat dibedakan
perjalanan hidupnya. Ketiga Fitrah, istilah ini digunakan untuk manusia.
Hal ini merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia, dan bukan sesuatu
yang diperoleh melalu usaha, Fitrah mirip dengan kesadaran. Sebab, manusia
mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui. Jadi, jika insting
bersifat hewani, sedangkan Fitrah bersifat metahewani atau berkaitan dengan
masalah-masalah kemanusiaan.
Lalu
kenapa dalam perlanan sejarah umat manusia selalu saja ada manusia-manusia yang
seringkali dipandang jahat oleh orang setelahnya, semisal Qabil yang membunuh
Habil, Kan’an yang menolak ajakan bapaknya Nuh, Firaun Sang Tirani, atau
cerita-cerita orang Sparta dan Troya, Ada Raja Gandara (Sengkuni) dalam Cerita
Mahabarata, dan terlalu banyak lagi kejahatan yang tak perlu aku tulis. Mengapa
demikian, jika merujuk kepada Muthahhari, karena manusia lebih mengedepankan
insting di banding fitrah, Qabil membunuh saudaranya karena dia cemburu kepada
Habil, yang istrinya lebih cantik dari istri Qabil, lalu Sengkuni memberi
propaganda kepada Duryudana, untuk menguasai Kuru Setra agar dia punya posisi.
Seperti
yang kita ketahui jika dalam pembahasan filsafat, dalam membahas manusia maka
sering disebut dengan hayawan al-nathiq (hewan
berfikir/sadar), maka tidak terlalu salah mempunyai kesimpulan, jika kita melihat
manuisa yang terlalu banyak mengedepankan sisi hewaninya maka dia akan
bertindak seperti hewan,(mengecilkan atau bahkan menghilangkan rasio/kesadarannya),
dan akan bertindak tidak berperikemanuisaan, Begitupun dengan Buta Hejo mungkin
agak unik, kalau melihat mitologi yunani ada demigod (manusia setengah dewa), sentaurus (manusia setengah kuda/hewan), di kita ada buta hejo,
sosok manusia tidak sempurna secara fisik dan mentalnya full hewan.
Nah,,
waktunya aku menulis secara tersurat, kenapa aku membawa terma Buta Hejo, di
awal aku membawa perspektif lain mengenai Buta (mungkin cocokolgi), yaitu Hitam, dan Hejo adalah warna Hijau, ada kesamaan
dengan organisasi Hijau Hitam ini, bukan berarti Sang Hijau Hitam ini Buta
Hejo, tetapi orang yang mengibarkan bendera sang hijau hitam bisa jadi dia Buta
Hejo, atau aku pun bisa jadi Buta Hejo, karena boleh jadi kita memakai
“seragam” hijau hitam tapi dari sisi mentalitas kita memakai mental hewani (insting). Karena dalam sejarah tak
sedikit orang yang mengedepankan sisi hewaninya (jahat,serakah dan “bodoh”),
begitupun di organisasi Hijau Hitam ini. Maka kualitas Insan Cita perlu kita
insafi bersama, guna misi ideologis yang mulia ini, kecuali orang gila yang
tidak menyebut mulia, dan kemuliaan ini tidak hanya teks dan konteks, tapi
tanggung jawab, bagi ummat dan bangsa.
Bagi
aku kualitas insan cita adalah persoalan Fitrah sedang kan Buta Hejo adalah persoalan
insting. Tinggal bagaiaman setiap hati memilih mau Buta Hejo atau Insan Cita.
Semoga kitabdapat menjadi kader yg mengedepankan 5 kwalitas insan cita dan d jauhkan dari sifat2 ke.buta hejo.an..
BalasHapusNuhun bah..
Amiin Tum..
HapusYAKUSA
Bagaimana setiap hati memilih mau jadi buta hejo atu insan cint...
BalasHapusLanjut Bah..
Setiap manusia diberi potensi oleh Tuhan, yaitu free will, dari itulah manusia bisa bertanggung jawab atas apa yang ia pilih...
Hapussiap cim...