Minggu, 13 September 2015

LEARN TO WRITE SHORT STORY 1



KU TUNGGU KAU DI LEMBAH KESUCIAN
Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Tulisan ini tidak elok jika disebut cerpen atau karangan yang lainnya tapi saya lebih enak menyebut dengan tulisan lepas.

Berawal ketika memasuki bulan ramadhan, dimana semua orang akan merindukannya baik orang muslim ataupun non-muslim dengan berbagai alasan, baik itu dengan alasan yang bersifat materialis ataupun alasan yang bersifat spirtualis, semisal para pedagang biasanya mendapatkan keuntungan yang lebih, maupun siswa yang jam pelajarannya di kurangi, atau juga karena di bulan Ramadhan Allah membuka pintu rahmat-Nya sangat lebar, sehingga orang-orang bisa beramal baik sosial maupun ritual dengan penuh pengharapan akan diberkati oleh Allah, namun bagi saya sebuah kemalangan, karena kalaupun termasuk golongan pertama tidak bisa mendapatkan keuntungan materil, jika di golongkan kedalam golongan kedua, masih jauh usaha dan rasa malu saya untuk di berkati oleh Allah, saya teringat ucapan seorang ustadz di kampung, bahwa Nabi pernah berkata, : “merugilah orang-orang yang tidak bisa mengambil keberkahan di Bulan Ramadhan”…..

Kata-kata itupun membuat kegalauan di hati pada saat Ramadhan, namun untungnya ada setitik harapan, bahwa terdapat sebuah tradisi di Bangsa Indonesia pada saat bulan Ramadhan, namun entah siapa yang mencetuskan ide-ide seperti ini, akan tetapi tradisi ini tergantung siapa, dimana dan bagaimana tradisi tersebut berlangsung, boleh jadi berakibat negative, maupun positif, andalah yang bisa menilai sendiri hal tersebut !!… oh iya.. tradisi itu adalah buka puasa bersama.. awalnya saya menentang tradisi tersebut, karena hal itu sangat tidak bermanfaat, namun dengan berkembangnya kedewasaan berfikir, akhirnya saya bisa mengambil pelajaran dari tradisi itu… yah..Silaturrahhiim,, ikatan kasih sayang…

Mungkin dua paragraph di atas sebagai pengantar untuk judul ini. Pada pertengahan bulan ramadhan 2015 saya mendapatkan surat undangan dari kawan-kawan semasa sekolah dasar, bahwa akan di adakan buka puasa bersama di Rest Area Nagreg, dan katanya sekitar 30-an orang sudang mengkonfirmasi akan menghadiri agenda tersebut, akhirnya saya membayar iuran sebesar Rp.30.000. Sebetulnya ada rasa ketakutan untuk menghadiri acara tersebut (karena sekaligus reunian SD), biasanya pada acara semacam itu, orang-orang agaknya sering membawa kebanggaan masing-masing, namun…. apa yang bisa saya banggakan sekarang ini??, kekayaan ?? aku tidak punya….,kedudukan?? apalagi.. masih jauh.., keilmuan ?? kuliah pun saya tidak benar… tapi karena semangat silaturrahiim (ikatan kasih sayang), aku beranikan diri, jika kata tokoh Eksistensialis Perancis Jean Paul Sartre “semua yang saya pilih dalam keadaan merdeka dan beri’tikad baik itulah nilai-nilai dan kebajikan”…..

Tak terasa tanggal yang ditetapkan untuk buka bersamapun tiba, saya berangkat dengan menggunkan sepeda motor, meskipun pada waktu itu nebeng ke kawan saya..terpangpanglah nama Rest Area Nagreg, saya pun masuk di area tersebut dan banyak orang-orang yang mengadakan buka puasa bersama, selain dari rombongan kami…. Dari kejauhan terlihat lambaian tangan dari salah satu gazebo, mungkin itu tempat kami mengadakan acara buka bersama, ternyata baru beberapa orang yang datang, harap di maklum orang Indonesia jika masalah waktu, tahu sendirilah…. saya pun menyalami satu persatu kawan yang sudah ada, lalu mengikuti obrolan-obrolan ringan..

Mendekati azan maghrib kawan-kawan pun mulai berdatangan, dan saling bertegur sapa sambil menanyakan beberapa hal. Mungkin ini kebiasaan saya, jika dalam sebuah majlis, saya sering mengamati ruang yang ada (percakapan,tampilan orang, dll), bahkan sering sambil mengkritisi keadaan meskipun dalam hati (tepatnya menggerutu), akan saya uraikan sedikit gerutuan saya pada saat itu…ternyata kawan sudah banyak berubah (termasuk saya) yang dahulunya masih anak kemarin sore, sekarang sudah menjadi anak sore.. ada yang berubah jadi so ganteng,so cantik, ada yang so banyak uang,ada yang so bijak..untung ga ada yang berubah jadi soziz haha.. tetapi ada juga yang benar-benar cantik (menurut saya), dan ada juga yang benar-benar ganteng (seperti saya J…) sudahlah…jangan terlalu banyak gerutuan saya tulis disini nanti takut ghibah…

Aku sempat termenung melihat seseorang yang menurut saya banyak sekali perubahan atau memang dia tidak banyak perubahan karena dulu saya jarang memperhatikan dia, yang pasti perempuan, yang membuat saya termenung pada waktu itu,, yah… dia namanya shafa, entah datang dari mana, pikiran saya mengawang jauh keruang hampa tanpa waktu,,, akhirnya kebiasaan ketika saya merenung pun terjadi yaitu membuat sajak, jika itu bisa disebut sajak :

Oh… apakah dia benar kawanku waktu sekolah dasar ??
Pakaian mu tak sama dengan pakaian perempuan lain
Engkau menutup aurat tanpa meninggalkan nilai estetika berhijab
Sebetulnya aku malu memandangmu,
Karena ku “anggap”…engkau telah menjaga kesucian sebagai perempuan
Tapi apakah rasa ini ???
Apakah rasa cinta,suka, sayang
Atau hubb,isyq,mawaddah…
Atau hanya kekaguman semata..
Apakah rasaku sama dengan Qais ketika memandang Laila???
Arggghh…Namun saat itu aku merasa berdosa… karena telah melanggar hak mu..
Aku menatap dengan berlebihan yang belum tentu engkau rela aku tatap…
Oh…maafkanlah aku…

Dan..tawa dari kawan-kawan pada saat itu mengagetkan saya, akhirnya aku hentikan membuat sajak,,lalu aku megikuti obrolan-obrolan ringan sambil menyantap makanan buka puasa,,ahh lagi-lagi saya sempat melirik dia ketika makan, begitu tenang, tampak kewibawaan seorang perempuan, beda dengan kawan perempuan lain yang ricuh,..acara pun berakhir tanpa doa dan mengalir begitu saja.. ketika pulang dia tidak ada yang mengantar, bahwa dia bisa pulang sendiri, di kala yang lain merengek untuk di antar, semakin tambah kekaguman saya, sempat rasa sesal pada saat itu, namun apa daya…biarlah!!, dia pilih merdeka sayapun akan pilih merdeka,, tapi pada akhirnya salah satu dari kami ada yang mengantarnya….ma’a al-salamah,hanya ucapan itu yang bisa saya hantarkann…

Esok harinya………….

Kebetulan pada waktu itu, di kampung halaman ada yang mengadakan pesantren kilat untuk siswa SMP dan SD, dan saya di tugaskan sebagai tutor (saya enggan di panggil guru,terlalu berat) untuk pelajaran sejarah peradaban Islam, materi waktu itu adalah sejarah Nabi Ibrahim A.S., seperti para tutor yang lainnya saya pun bercerita tentang sejarah Ibrahim, dan ketika sampai pada kisah Siti Hajar, pada saat beliu berlari-lari dari bukit Shafa dan Marwah, mencari air untuk sang buah hati Isma’il, yang akhirnya menjadi salah satu syariat berhaji yaitu sa’i…….mendengar nama bukit Shafa, teringat peristiwa kemari sore.. jika Tuhan mencirikan orang beriman itu ketika mendengar naman-Nya akan bergetar hati, malahan saya sebaliknya mendengar nama makhlu-Nya hati bergetar…Asytaghfirullah…

Waktu..buka puasa tiba..makanan yang manis pun di dahulukan yang konon Nabi pun berbuka dengan yang manis..dan ketika mulai menyantap makanan berat,,pikiran saya pada saat itu menerawang lagi, ke relung-relung hampa, dalam kehampaan itu, saya temui dia yang sedang makan dengan berwibawa, begitu tenang, terasa sejuk bila lama di pandang,,,tak terasa makanan saya pun habis, dan beranjak ke ruang 3x4 meter (kamar)…di lanjutkan dengan membaca beberapa buku, agar bisa menghilangkan bayang-bayang dia….

Beberapa hari setelah Idul Fitri……….

Selama bulan Ramadhan hingga pasca Idul Fitri saya belum bisa menghilangkan bayang-bayang dia di dalam otak, dan selama itu pun saya tidak jadi orang merdeka karena merasa ada hal yang tidak di mengerti… ketika aku rebah di kamar, ada broadcast BBM dari dia,,yang isinya untuk meng-invite temannya, pada saat itu saya memuali obrolan, dan mewawancarai dia (tepatnya kepo jika kata remaja alay), di hari-hari yang lain pun aku mencoba memulai obrolan di BBM (BlackBarry Mesengger), dari situlah saya ketahui bahwa dia seorang santriwati pondok pesantren,, ohhh semakin tambah kekaguman saya pada dia....

Sebagi informasi… saya justru mulai jengah kepada kebanyakan mahasiswi, karena sudah tidak bisa lagi mengemban tugas sebagai seorang perempuan,yang akan menjadi ibu jika kata orang sunda tunggul rahayu (pangkalnya kasih sayang), agaknya santri sebagai solusi, tetapi boleh jadi tidak semua santri juga, bisa menjadi sosok perempuan yang saya idamkan… tapi dia agaknya lebih mirip dengan perempuan yang saya idamkan, apalagi dia cukup handal berbahasa Arab….

Di hari-hari yang lain……..

Saya lebih sering memulai obrolan, kurang lebih satu kali sehari, yaa… kalau tiga kali sehari ya minum obat, bukan ngobrol haha…, dalam obrolan itu saya mencoba untuk mendalami karakter dia, dengan beberapa bekal ilmu psikologi yang pernah saya baca.., dia orangnya ramah, handap asor kalau dalam istilah bahasa Sunda, mudah “akrab”, dan memiliki kecerdasan yang bagus, tapi dia agak malas jika disodorkan pembahasan yang berat….
   
Shafa yang artinya kesucian
Tak salah orang tua mu memberi nama yang indah
Engkau bisa mengemban tanggung jawab seorang perempuan
Menjaga kesucian…….
Di kala arus moderenisasi menghantam bangsa..
Engkau bisa memadu padankannya
Estetika berhijab tanpa meninggalkan etika syariat
Yang memancarkan keindahan….
Engkau tak perlu berlebihan dalam busana
Cukuplah menjadi diri mu sendiri
Dan budi pekerti yang luhur sebagi landasan
Karena dengan itu, kecantikan terdalam seorang perempuan akan terpancar
Maafkan aku, jika telah lancang seperti ini…
Aku hanya ingin mensyukuri nikmat Tuhan
Faa biayyi aala-I rabbikumaa tukaddibaan,,

Lagi-lagi sajak keluar begitu saja, bahkan sempat saya tulis dalam secarik kertas, namun aku lempar, dengan harapan yang utopis, bahwa dia akan membaca sajak tersebut. Dan sampai tulisan lepas ini saya buat, belum bisa melupakan bayang-banyang dia, mungkin jika kebanyakan orang sudah bukan tahapan suka lagi, tapi cinta…tapi apa makna cinta tersebut?? Banyak ilmuwan pun belum ada kesamaan ketika menjabarkan arti cinta….mungkin aku masih skeptis terhadap makna cinta…

Saya pernah membaca buku Meraih Kebahagiaan karangan Jalalludin Rakhmat, bahwa : penyebab tidak bahagianya manusia modern di karenakan dia mencari cinta dari orang lain, yang akibatnya dia harus melakukan apapun demi orang-orang yang cinta kepada dia, semisal artis rela berpakaian minim karena dia ingin di cintai fans nya, politisi rela korupsi untuk di berikan kepada konstituennya untuk meraih cinta mereka, padahal ada yang lebih baik, memberi cinta kepada orang tanpa ingin di cinta oleh orang lain.

Dari situlah paradigma saya berubah, bahwa tak elok jika berharap kepada yang nisbi, karena ketercapaian harapan pun nisbi pula,berharaplah kepada yang mutlak (Tuhan), dan mencoba memberi pengharapan (cinta) pada yang lain. Dan untuk dia seorang perempun yang menurut saya masih menjaga kesucian akan saya tunggu dia dilembah kesucian, karena saya pilih bahagia, dan bahagia itu sederhana sebarlah cinta kasih kepada seluruh umat manusia. Dan saya hanya yakin pada ucapan Tuhan : Khalaqakum min nafsin wahidatin wa khalaqa minhaa zaujaha..(An-Nisa : 1).

Ma’a al-salamah…..
Ma’a al-salamah…..
Ma’a al-salamah…..
Ma’a al-salamah….

LEARN TO WRITE SHORT STORY



SANG OASE GURUN SAHARA
Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
Dikala jiwaku mulai tergoyahkan lagi, dengan hal-hal yang spekulatif, otakku lelah dengan kegiatan organisasi yang tak tentu arahnya, aku di landa keraguan, keraguan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari pada kaum shopis yang skeptis, kelelahan jiwa dan raga menimpaku, bingung dangan sebuah pencarian, pencarian tentang potensi diri, terngiang dengan sebuah ucapan, “ barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”, kalimat tersebut serasa menghantui, sehingga aku berani berkesimpulan bahwa, aku masih belum “mengenal” Tuhan.
Sejenak aku rebah di sudut kamar yang penuh kegelisahan, mencoba berfikir dan menganalisa dinamika kehidupan, kehidupan para mahasiswa,siswa, bahkan yang lainnya pun tak luput dari anlisa pikiran ku, teringatlah dengan sebuah hubungan yang sering di lakukan para pemuda-pemudi. Orang-orang, biasa menyebutnya dengan kata pacaran, kata tersebut sangat menggelikan otak ku, karena hanya dengan sebuah ungkapan dari seseorang kepada lawan jenisnya, entah itu kata sayang, cinta, atau yang lainnya, menjadikan adanya sebuah ikatan yang temporal dan menjijikan, “oh, mengapa aku menjadi sepeti ini ? berfikir yang tidak produktif,”. Sejenak kantuk pun menyerangku, akhirnya akupun lelap dalam sunyi.
Panonpoe carangcang tihang, ungkapan waktu tradisional orang Sunda, aku terbangun kala itu, masih dengan banyak kebingunan yang membingungkan, air sumber kehidupan membasahi wajahku, udara yang penuh polusi tak luput dari hirupku, dan sang Matahari yang selalu ikhlas menyinari makhluk, dari yang beradab hingga biadab, dari yang beriman sampai yang bajingan. Sebatang rokok dan segelas kopi, yang menemaniku di kala pagi, boleh jadi aku anggap pacar, karena kami selalu harmonis, aku ada maka mereka ada.
Teringat dengan tugasku sebagai manusia, yakni belajar, namun aku benci hal ini, karena belajarnya penuh aturan dan hukuman, dari apresiasi hingga di persekusi, tapi aku tetap bergegas, karena aku ingin melakasankan amanat orang tua, setibanya di gerbang kampus terlihat beberapa kawan sekelas, dan akhirnya kami berjalan bersama dengan tatapan ragu, tanpa arah tujuan yang pasti. Di sela perjalanan aku menatap mata seorang perempuan, namun aku merasa ada yang beda dengan matanya, aku seperti duduk didekat oase ditengah gurun sahara, dan aku ingin lama berdiam disana, karena jika aku beranjak, dahaga akan menyerangku, seperti ada sebuah keikhlasan didalam matanya. Ketermenunganku pada saat itu, teringat akan tulisan Muthahhari tentang potensi dasar manusia, salah satunya cinta!. “oh, mengapa diriku? Apakah aku cinta dia ? namun apa yang dimakusud cinta itu sendiri ?”
Suara klakson sepeda motor menyadarkanku, ternyata posisi aku memandang perempuan tersebut pas di tengah jalanan kampus, yang biasa di lalui kendaraan, sumpah serapah yang tak bermakna keluar begitu saja dari mulutku,  berlanjut dengan langkah kaki menuju ruang kuliah, kebetulan mata kuliah waktu itu membahas fikih nikah, dari ta’aruf,khitbah,dan nikah hingga talak pun di bahas secara komprehensif, dari persepektif abu ja’far,maliki,abu hanifah, syafi’i,hanbali, hingga para ulama modern, pembahasan memanjang, ketika membahas ta’aruf dan khitbah, para mahsiswa gaduh dengan argumetasi, ada yang menyamakan antara pacaran dan ta’aruf, khitbah dan tunangan, ada pula yang membedakannya. Tetapi kala itu aku tak bergairah diskusi, lamunan ku tertuju pada dua mata, yah…, sang oase gurun sahara.
Khayalan ku mengawang-ngawang keseluruh semesta, dan kemungkinan terbaik hingga terburuk tak luput dari angan-angan.
Wahai perempuan bermata menawan
Apakah engkau jelmaan Cleopatra ?
Ataukan engkau iblis berparas cantik ?
Karena matamu…..aku terpukau
Raut wajah keikhlasan terpancar, hingga aku merasa teduh memandang mu
Namun ingatlah… aku hanya melihat dirimu dari materi
Akankah esensimu sebanding dengan parasmu ?
Entahlah, hanya engkau dan Tuhan yang tahu.

Sajak mengalir begitu saja, sehingga kertas pun jadi korban coretan ku, tersadarkan dengan ucapan wallahua’lam dari bibir dosen, digulungya kertas itu dan aku lemparkan keluar melalui jendela, semoga perempuan itu bisa membaca sajak tersebut. Langkah kaki dilorong gedung kuliah menjadi irama harmonis dalam pendengaranku, namun suara harmonis itu aku hentikan, ketika melihat tingkah laku beberapa mahasiswa yang sangat menggelikan, lawan jenis berbincang begitu mesranya, melebihi kemesraan orang-orang yang sudah menikah.
“Betapa bodohnya mereka , bertindak seperti itu, seperti domba-domba yang tersesat jika menurut firman Yesus dalam Al-kitab. Apakah peng-ejawantahan cinta pada zaman ini seperti itu? Betapa rendahnya martabat cinta jika seperti itu?”
Ruang 3 x 2 meter pun menjadi tempat ku termenung, pada hari itu, perasaan dan kondisi tubuh tidak seperti biasa, memang rasa gelisah secara jiwa, dan lapar secara raga, sudah biasa, namun saat ini aku sangat gelisah, seperti aku sedang di landa kehausan di tengah sahara. “kegiatan apa yang harus ku lakukan?, hingga rasa seperti ini bisa aku hilangkan”. Aku lihat rak buku , dan mengambil salah satu buku, “Surat-Surat Cinta Khalil Gibran”, aku luput didalmnya, aku merasa menjadi Khalil Gibran yang sedang menulis surat cinta kepada Marry Haskell, namun aku terhenti ketika membaca sebuah paragraph :
aku akan menutup mataku, dan memalingkan wajahku ke dinding dan memikirkan, memikirkan engkau, engkau pendaki gunung, engkau pemburu kehidupan”
Seketika pikiranku, menerawang jauh ke dalam ruang hampa namun di ruang hampa aku temui sosok perempuan, yah….. perempuan yang tadi pagi aku lihat, bayang-bayang itu begitu jelas terlihat, aku ingin mendekap dan merengkuhnya dalam lamunanku, namun aku tak bisa, wajahnya terlalu ikhlas jika aku peluk, aku sungguh tak sanggup meskipun itu dalam bayang-bayang, memang aku terlalu naïf dan pecundang, yang hanya dalam bayangpun tak sanggup memeluk. Semakin dalam bayangku tentang perempuan itu, aku semakin luput dalam buaimu. “apkah ini cinta?, apakah majnun juga merasakan hal seperti ini?. Akal tak sanggup menjawabnya.
Matahari terus berpindah. Tepat satu minggu, ketika aku pertama kali melihat perempuan itu. Di belakang fakulats tepatnya di gazebo, aku sedang berbincang dengan kawan-kawan, mengenai apapun, ketika sedang asiknya berbincang mengenai organisasi yang tak tentu arah, yang diisi oleh para bajingan yang akan melanjutkan tradisi status quo para birokrat, aku melihat sesosok mata di depan ku, mata yang seminggu lalu aku lihat, namun saat itu di tidak sedang berjalan, tapi dia sama seperti ku, duduk dan berbincang dengan temannya, dan ada lagi yang membuatku terbuai, senyumnya, begitu manis, bahkan semutpun malu untuk mengigitnya.
Waktu itu, aku melamun sejenak, pandangan mataku seperti tak memandang, terdengar sayup-sayup panggilan di sekitar gazebo, “ Benazir, Benazir, Benazir Nadhifa Az-Zahra…..”, tak ku sangka ternyata panggilan tersebut di tujukan kepada sang Oase ku, dan akhirnya aku tahu nama dia…, Benazir Nadhifa Az-zahra….
Terngiang terus nama perempuan itu, begitu indah bagiku. Az-zahra, merupakan nama putri bungsu Sang Nabi, yang artinya karangan bunga, memang dia seperti karangan bunga,tak penting bunga apa, tetapi aku semakin terpana, hati ini semakin gelisah, bahkan tidak ada kata dalam bahasa indonesia untuk mengungkapkan hati ini.
Zahra nama yang indah..
Karangan bunga bak tertata di matamu…
Wajahmu bagaikan taman balqis
Engkau tak perlu permak wajah
Cukup saja tersenyum
Orang-orang akan terpukau
Bahkan semut pun akan malu
Memang aku terlalu berlebihan memujimu
Tetapi coba…… jika engkau melihat apa yang aku lihat
Engkau akan mengerti…
Nikmat apalagi yang akan engkau dustakan….
Aku mendadak membuat sebuah sajak lagi untuk mu, meskipun sajak ku tak sehangat Khalil Gibran, tak sama dengan Homereus dan tak sedalam Jalalludin Rumi, tapi inilah yang aku bisa, dengan segala kekurangan,lagi-lagi rasa ini semakin tak jelas dan aku lebih bingung,lebih gelisah, peluh keringat sering aku keluarkan ketika memikirkan dia, kantuk pun jarang menerkam, dan semua kegiatan rutin pun sering aku tinggalkan.
Di hari lain, aku mencoba mencari tahu tentang dia, ketika aku melihat wajah dia di salah satu situs jejaring sosial, rasaku tak bisa ku ungkapkan, beberapa menit aku terus memandang gambar itu, dan…. Setelah itu kepedihan melanda rasaku, teranyata dia melakukan sesuatu yang ku anggap menjijikan otak, yah…. dia pacaran!!!. Aku berhenti sejenak, dan terus berfikir, namun lama-lama rasa jijiku terhadap pacaran, mulai turun, dan akhirnya aku berkesimpulan, memang kondisi zaman sudah seperti ini, aku mau apalagi, sekuat-kuatnya idealitas pikiranku, itu hanya di pikiran subjektifku,dan setiap orang mempunyai idealitas masing-masing, rasakupun luluh, meski ada sedikit kekecewaan.
Nikmat Tuhan  mana lagi yang akan engkau dustakan
Keselamatan semoga menyertai mu
Wahai sang oase gurun sahara…..
Yang namanya berartikan karangan bunga
Yang senyumnya semanis kembang gula
Meskipun engkau tidak akan mengenal ku
Suatu saat engkau akan mengenangku…
Jalinlah hubungan cinta kasih dengan penuh etika dan estetika..
Buatlah sebuah ikatan, yang berujung janji suci..
Yang akan menjadi estapeta peradaban manusia
Maaf jika aku lancang…..
Aku nasehati kamu, aku gurui kamu..
Memang benar ucapan Jalalludin Rakhmat..
Janganlah Fall in Love but Learn to Love..
Sampai jumpa..
Semoga keberkahan,keselamat dan kesehatan menyertaimu…

Itulah mata sang Cleopatra, oase di gurun sahara yang mampu mengguncangkan rasaku,meskipun aku menanam beribu ekspektasi tentang dia, tidak bisa memaksakan kehendak subjektif, di kala aku mengusung kebebasan individu, biarlah hal ini menjadi pilihan di setiap hari dan setiap hati, merdekalah secara individu dan komunal, maka kehendak universal akan menyertai, sadar akan sejarah, sejarah cinta kasih umat manusia,yang tanpanya, Muhammad Sang nabi tidak akan bisa menegakan Agama kepasrahan (Islam), India tidak akan ada revolusi tanpa cinta kasih Mahatma Gandhi, dan Laila Majnun tidak akan di kenang.

Jumat, 04 September 2015

NATA DIRI UNTUK MEMBANGUN HARMONI




Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

           Di awali dengan melihat realita yang ada dengan ratusan dinamika di dalam tubuh mahasiswa siyasah, ketika berbicara siyasah tidak akan jauh dengan ruang lingkup Syariat Islam, ilmu politik,ilmu hukum, tatanan politik dan tatanan Negara,dll, dalam artian bahwa sarjana-sarjana siyasah harus proporsional ketika turun di masyarakat. Namun yang jadi pertanyaan apakah proses untuk menjadi proporsional sangat mudah ? apakah dengan ratusan dinamika yang ada proses itu bisa dikatakan baik ?, sangatlah jelas ! tidak semudah yang dibayangkan saudaraku, dan belum tentu akan baik-baik saja!.
Mari kita mulai dengan refleksi diri (nata diri) kita. Berbicara diri,bebicara manusia,berbicara manusia berarti berbicara makhluk sakti, kenapa dianggap sakti ? ya, sakti karena manusia makhluk yang sempurna diantara makhluk Tuhan yang lainnya, manusia memiliki fitrah, maksudanya fitrah berarti suci (hanif), yang geraknya cenderung kepada kebaikan. Fitrah inilah yang merupakan pancaran cahaya Ilahi, jika menurut Mutahhari bahwa fitrah  mirip denga kesadaran, sebab manusia mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui , artinya , dalam diri manusia terdapat sekumpulan hal yang bersifat fitri, dan manusia tahu betul tentang hal itu, jadi fitrah dapat menyingkap hakikat,potensi dan jati diri manusia,
Jika menurut Ali Syariati, manusia memiliki tiga potensi dasar, yaitu kesadaran,kehendak bebas, dan daya cipta. Kesadaran merupakan kepanjangan dari fitrah itu sendiri, dengan kesadaran itulah manusia bisa tumbuh dengan kerangka unik, yang akhirnya manusia dibedakan dengan makhluk lain, atau dalam kajian filsafat dan teologi (kalam) manusia itu adalah hewan yang berfikir (hayawan al-naathiq), inilah rasionalitas manusia, Hegel berkata  rasio adalah pemikiran yang mengkondisikan dirinya dengan kebebasan sempurna, jadi salah satu turunan dari kesadaran adalah berfikir, intelektual dan rasionalitas.
Dari proses berfikir inilah manusia memiliki kehendak bebas, bukan berarti bebas secara total (total freedom),yakni bertanggung jawab akan pilihannya, jika seseorang memilih untuk diam, dia harus bertanggung jawab dengan diamnya, dalam arti itulah kebebasan yang dia pilih. Karena jika bebas tanpa batas akan terjadi kontradiksi dengan fitrah manusia itu sendiri. Kehendak bebas inilah yang membuat manusia bisa beradab dan membangun peradaban, menurut Nurcholis Madjid, manusia mempunyai kehendak bebas (ikhtiar), untuk membangun peradaban, dengan dibarengai keharusan Universal Tuhan (Takdir), coba telaah matahari, dia tidak bisa mengubah dirinya jadi bulan, atau angin, berbeda dengan manuisa. karena mempunyai kehendak bebas dan potensi-potensi yang lainnya dia bisa berubah jadi apapun,selagi selaras dengan hukum-hukum Tuhan, manusia bisa lebih mulia dari  pada malaikat dan boleh jadi lebih hina daripada hewan.
Kehendak manusia bagaimanpun keadaannya tidak akan sama dengan kehendak Tuhan, maksudnya bahwa kehendak manusia merupakan secercah pancaran cahaya kehendak Tuhan, dari kehendak inilah muncul ekspektasi-ekspektasi manusia, yakni berproses dengan benar menuju zat yang maha benar, jadi jika beberapa keinginan manusia ada yang buruk, itu di karenakan tiadanya sebuah kebaikan,  
Dengan dikembangkannya kesadaran dan kehendak bebas (ikhtiar), akan muncul sebuah karya manusia, salah satunya peradaban dunia, karena hakikatnya manusia mampu berkarya, warisan dunia yang ada sekarang merupakan daya cipta manusia zaman dahulu, dan inilah puncak eksitensi manusia, tanpa sebuah karya manusia tidak akan dikenal, dan tanpa potensi untuk berkarya, manusia tidak akan menyanggupi tugas wakil Tuhan (Khalifah) di muka bumi ini.Tugas kita sekarang adalah membuat sebuah peradaban yang lebih baik, ada kata-kata yang bagus dari Jean Paul Sarte  semua yang saya pilih dalam keadaan diri saya bebas dan berniat baik, itulah nilai-nilai dan kebajikan.
Jadi dalam diri manusia sangatlah kompleks, hal itu baru dalam satu individu, bukan sebuah keniscayaan ketika berbicara kesadaran,kehendak dan daya cipta, akan berbeda kualitas tiap individu, yang harus di insafi oleh setiap manusia adalah keharusan akan keharmonisan antara satu dan yang lainnya, sehingga akan meminimalisir konflik-konflik yang ada. Penataan dirilah yang perlu di butuhkan oleh seluruh umat manusia, yang pada akhirnya dunia dipenuhi dengan bangsa yang gandrung keadilan,tanah air yang meniadakan penindasan, dan bahasa yang dipenuhi dengan kejujuran.

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.