Memang
fenomena asyura di dunia mempunyai banyak polemik yang akan merembes kepada
wilayah ketauhidan seseorang atau kelompok. Seseorang atau kelompok yang
menganut salah satu tradisi asyura menyalahkan tradisi asyuro yang berbeda
dengan mereka, itu dikarenakan kurangnya analisa terhadap fenomena-fenomena asyura
dan kefanatikan terahadap golongan tertentu. melalui tulisan ini Insya Allah
saya akan sedikit menganalisi fenomena-fenomena asyuro yang ada dan yang saya ketahu
juga implikasinya terhapda wilayah ketauhidan. dalam tulisan ini saya hanya
sedikit memaparkan polemik dari fenomena-fenomena asyuro yang kebanyakan
menjadi pembahasan-pembahsan yang sangat pelik.
Pertama,
ada yang menyebutkan bahwa asyuo telah ada sejak pra islam dan mereka
berpendapat bahwa pada hai asyura Tuhan menciptakan makhluk-makhlunya, hari
asyuro (bulan Muharram) adalah bulan bahagia dimana sang Khalilullah (Ibrahim
a.s) diselatkan dari pembakaran raja Namruz, selamatnya nabi Yunus dari perut
ikan paus, Nabi Musa membelah laut merah dan selamat dari kejaran firaun, juga
karena asyura ini terdapat pada bulan muharram yang pada bulan itu adalah awal
bulan dari perhitungan tahun hijri, jadi penuh dengan suka cita, dan di
indonesia ada sebagian kelompok yang sepaham dengan tradisi asyura di atas
(kebanyakan orang-orang di dataran Jawa) yang sering melakukan ritual-ritual
yang dianggap sakral oleh mereka diantaranya melakukan sesusuguh ke wilayah
pantai selatan, mengadakan arak-arakan dan lain-lain.
Sedangkan
pendapat kedua, berpendapat (menurut
literatur mereka dan kebanyakan umat islam) bahwasnya hari asyura (bulan
Muharram) adalah hari berkabung, karena pada hari itu Sayyidina Husain bin Ali
r.a , di bantai di bersama rombongannya di Karbala ketika dalam perjalanan
menuju ke Kuffah oleh pasukan pada penguasan saat itu (Yazid bin Muawiyyah),
yang berpemahaman seperti itu identik dengan golongan “syiah” (yang notabene
umat islam menyesatkan ajaran mereka). Biasanya orang-orang yang berpemahaman
seperti pendapat ke dua ini selalu mengadakan acara berkabung atas syahidnya
Husain bin Ali r.a dan mereka menjadikan penyemangat dalam kehidupan mereka
sampai berselogan “ Kullu yaumin Asyura wa kullu ardhin Karbal, Setiap hari
adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala”, dan di daerah timur tengah
biasnya mereka dalam berkabungya selalu menepuk dada dan kepala, dalam artian
ikut merasakan dan berkabung atas syahidnya Husain bin Ali r.a. Dan di Indonesia
ada pula yang melakukan tradisi dan ritual yang sepaham dengan pendapat kedua
di antaranya di daerah Sumatra yaitu tradisi Tabot atu Tabut, yang substansinya
sama seperti ritual di atas.
Dari
kedua argumentasi di atas, setidaknya kita mengetahui polemik dari
fenomena-fenomena Asyura. mari kita lakukan analisis fenomena yang mana yang
akan merembes kepada keimanan yang kurang benar?. setalah kita membaca kedua
argumentasi di atas, yang membuat saya janggal dari argumentasi pertama yaitu
ketika Tuhan mencipatkan makhluk, hemat saya ketika penciptaan makhluk,Tuhan
mempunyai sunnatullah di antaranya hukum tauliyyah(sebab-akitbat) dimana ada
akibat pasti ada sebabnya dan ketika kita uraikan sebabnya pasti akan berakhir
pada sebab utama yaitu wajibul wujud (Tuhan) dan yang perlu kita ingat
bahwasanya Tuhan tidak terikat oleh
ruang dan waktu jadi dalam penciptaan pun tidak terikat dalam ruang dan
waktu, dalam argument pertama bahwa
Tuhan menciptakan makhluk pada hari asyura, berarti dalam penciptaan makhluk,(dalam
argumen pertama) Tuhan masih terikat oleh waktu dan kalu lah Tuhan masih
terikat oleh ruang dan waktu berarti Tuhan masih membutuhkan sesuatu dari zat
dirinya, dalam artian ada zat lain lagi yang lebih berkuasa.jadi kalau
berpemahaman seperti itu sekirnya akan sedikit melenceng dari kaidah
ketauhidan, dan kalau melihat dari tradisi di Indonesia ada sesuguh biasnya
kebanyakan umat kalau mendengar kata sesuguh sudah pasti identik dengan
kesyirikan.Kalau melihat dari argumen ke dua yang janggal nya itu ketika orang
timur tengah menepuk dada dan kepala mereka, hemat saya hal itu tidak perlu
dilakukan karena itu hanya menzolimi diri mereka sendiri, dan kalau dari segi ketauhidan hal itu tidak
merembes dalam kesalahan berfikir ketauhidan. Jadi kita harus pintar memilah
dan memilih pemahaman dalam pengkajian ilmu keislaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar