Kamis, 08 November 2012

ASYURA DAN IMPLIKASI KEPADA WILAYAH KE-TAUHIDAN



Memang fenomena asyura di dunia mempunyai banyak polemik yang akan merembes kepada wilayah ketauhidan seseorang atau kelompok. Seseorang atau kelompok yang menganut salah satu tradisi asyura menyalahkan tradisi asyuro yang berbeda dengan mereka, itu dikarenakan kurangnya analisa terhadap fenomena-fenomena asyura dan kefanatikan terahadap golongan tertentu. melalui tulisan ini Insya Allah saya akan sedikit menganalisi fenomena-fenomena asyuro yang ada dan yang saya ketahu juga implikasinya terhapda wilayah ketauhidan. dalam tulisan ini saya hanya sedikit memaparkan polemik dari fenomena-fenomena asyuro yang kebanyakan menjadi pembahasan-pembahsan yang sangat pelik.
Pertama, ada yang menyebutkan bahwa asyuo telah ada sejak pra islam dan mereka berpendapat bahwa pada hai asyura Tuhan menciptakan makhluk-makhlunya, hari asyuro (bulan Muharram) adalah bulan bahagia dimana sang Khalilullah (Ibrahim a.s) diselatkan dari pembakaran raja Namruz, selamatnya nabi Yunus dari perut ikan paus, Nabi Musa membelah laut merah dan selamat dari kejaran firaun, juga karena asyura ini terdapat pada bulan muharram yang pada bulan itu adalah awal bulan dari perhitungan tahun hijri, jadi penuh dengan suka cita, dan di indonesia ada sebagian kelompok yang sepaham dengan tradisi asyura di atas (kebanyakan orang-orang di dataran Jawa) yang sering melakukan ritual-ritual yang dianggap sakral oleh mereka diantaranya melakukan sesusuguh ke wilayah pantai selatan, mengadakan arak-arakan dan lain-lain.
Sedangkan pendapat kedua, berpendapat  (menurut literatur mereka dan kebanyakan umat islam) bahwasnya hari asyura (bulan Muharram) adalah hari berkabung, karena pada hari itu Sayyidina Husain bin Ali r.a , di bantai di bersama rombongannya di Karbala ketika dalam perjalanan menuju ke Kuffah oleh pasukan pada penguasan saat itu (Yazid bin Muawiyyah), yang berpemahaman seperti itu identik dengan golongan “syiah” (yang notabene umat islam menyesatkan ajaran mereka). Biasanya orang-orang yang berpemahaman seperti pendapat ke dua ini selalu mengadakan acara berkabung atas syahidnya Husain bin Ali r.a dan mereka menjadikan penyemangat dalam kehidupan mereka sampai berselogan “ Kullu yaumin Asyura wa kullu ardhin Karbal, Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala”, dan di daerah timur tengah biasnya mereka dalam berkabungya selalu menepuk dada dan kepala, dalam artian ikut merasakan dan berkabung atas syahidnya Husain bin Ali r.a. Dan di Indonesia ada pula yang melakukan tradisi dan ritual yang sepaham dengan pendapat kedua di antaranya di daerah Sumatra yaitu tradisi Tabot atu Tabut, yang substansinya sama seperti ritual di atas.
Dari kedua argumentasi di atas, setidaknya kita mengetahui polemik dari fenomena-fenomena Asyura. mari kita lakukan analisis fenomena yang mana yang akan merembes kepada keimanan yang kurang benar?. setalah kita membaca kedua argumentasi di atas, yang membuat saya janggal dari argumentasi pertama yaitu ketika Tuhan mencipatkan makhluk, hemat saya ketika penciptaan makhluk,Tuhan mempunyai sunnatullah di antaranya hukum tauliyyah(sebab-akitbat) dimana ada akibat pasti ada sebabnya dan ketika kita uraikan sebabnya pasti akan berakhir pada sebab utama yaitu wajibul wujud (Tuhan) dan yang perlu kita ingat bahwasanya Tuhan tidak terikat oleh  ruang dan waktu jadi dalam penciptaan pun tidak terikat dalam ruang dan waktu, dalam argument  pertama bahwa Tuhan menciptakan makhluk pada hari asyura, berarti dalam penciptaan makhluk,(dalam argumen pertama) Tuhan masih terikat oleh waktu dan kalu lah Tuhan masih terikat oleh ruang dan waktu berarti Tuhan masih membutuhkan sesuatu dari zat dirinya, dalam artian ada zat lain lagi yang lebih berkuasa.jadi kalau berpemahaman seperti itu sekirnya akan sedikit melenceng dari kaidah ketauhidan, dan kalau melihat dari tradisi di Indonesia ada sesuguh biasnya kebanyakan umat kalau mendengar kata sesuguh sudah pasti identik dengan kesyirikan.Kalau melihat dari argumen ke dua yang janggal nya itu ketika orang timur tengah menepuk dada dan kepala mereka, hemat saya hal itu tidak perlu dilakukan karena itu hanya menzolimi diri mereka sendiri, dan  kalau dari segi ketauhidan hal itu tidak merembes dalam kesalahan berfikir ketauhidan. Jadi kita harus pintar memilah dan memilih pemahaman dalam pengkajian ilmu keislaman.  

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.