Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
Wirid biasanya selalu dinisbahkan ke dalam kegiatan berdzikir nama Allah, yah…minimalnya disebutkan 33 kali, semisal tasbih,tahmid, takbir, atau bahkan asma-al-husna. Sebetulnya aku malu untuk menulis cerita seorang anak muda ini karena begitu lancangnya aku, menyebut wirid tidak dinisbahkan kepada Sang Pencipta Semesta…
Ini adalah sepenggal kisah seorang pemuda yang begitu mudah jatuh perasaan, bahkan dia acapkali menjadi the secret admirer seorang perempuan, Lazuardi namanya, mungkin dia lahir dikala lembayung senja.
*****
Padatnya jadwal kuliah, menjadikan aku malas melakukan kegiatan yang lainnya, hanya kuliah dan pulang. Rutinintas ngumpul bareng kawan-kawan pun sedikit demi sedikit mulai kutinggalkan, karena aku mulai resah dan kebingungan…. Kebingunan akan masa depan kelak, mau jadi apakah aku nanti, dikala titel sarjana menjadi penghias dalam deretan namaku ?.
Akhir-akhir ini aku sering merenungkan sesuatu yang seharusnya tak aku renungkan (tepatnya, menghayal), dari mulai menjadi orang kaya, hinngga menjadi penguasa…… aku benamkan wajahku di atas bantal empuk, lambat laun kesadaran ku memudar, masuklah aku kedalam kesadaran semesta.
Sayup-sayup terdengar panggilan…hayya ‘ala sholah…. aku mulai tersadarkan kembali, kesadaran semesta aku tinggalkan, tubuh bergerak untuk mengambil kesejukan air, sumber kehidupan, yang tanpanya manusia takkan bisa hidup. Wajahku basuh, ngarai-ngarai mulai memberi jalan air, tirai kegaiban terbuka, bak pentas teatrikal, sujud sembahku pada Sang Penguasa Semesta !!, tak ada lagi yang bisa daku sombongkan, tak sanggup daku mencari tumpuan dan harapan, Wahai Tuhan semesta alam, daku sudah tak sanggup lagi menerima cobaan dan rintangan, daku takut masuk ke dalam jurang-jurang kemusyrikan, hanya Engkaulah harapan terakhirku.. Namun begitu lancanya daku ini.hingga terucap ungkapan “Akankah engkau masukan aku kepada siksa-Mu sedang aku meng-Esakan-Mu ?”…..
Pada saat mentari masih malu-malu memancarkan cahaya kehidupan, setiap itu pula aku baktikan hidupku untuk mengabdi kepada orang pertama yang mengucurkan darah untuku. Setelah itu aku siapkan diri untuk menyongsong masa depan yang masih samar-samar terlihat…
Seminar internasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di sebuah hotel di Kota Bandung. Aku pun ikut di dalamnya sekedar untuk mendapatkan sertifikat, dengan harapan kelak nanti akan terpakai. Season pertamapun usai, dan para peserta dipersilahkan untuk istirahat, aku duduk bersama kawan-kawan di loby hotel, hanya berbincang-bincang dengan secangkir kopi, yang bagiku tak akan sanggup untuk membelinya di kampus. Penglihatanku terus berkeliling di sekitar loby hotel, aku takjub dengan design yang bergitu mewahnya, serasa aku tinggal di sebuah istana dan melupakan para kaum papa.
Dikala pandangan ku tak lepas dari anak tangga yang sangat megah, pada saat itu pula turun seorang perempuan dengan langkah tegas, memakai pakaian rapih, dengan rambut sepundak, matanya yang sayu, dan senyumnya, bak embun di pagi hari yang syahdu. Mungkin ini adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak bisa di dustakan, pandanganku tak bisa lepas dari sosok perempuan itu.
Aku tak henti-hentinya memandang perempuan itu, aku temukan dia dalam samudra ingatanku, yah…. Dia kawan masa sekolahku dulu, dengan langkah ragu aku dekati dia, barang menanyakan kabar saja…. Ternyata dia sempat tertegun ketika ditanya, mungkin dia melihat banyak perbedaan dalam diri ku ini….. obrolan terus mengalir begitu saja, dan aku tahu sekarang, bahwa dia mengambil kuliah perhotelan di salah satu universitas ternama di Bandung, dan dia sekarang sedang melakukan penilitian untuk skripsi di hotel itu… ku akhiri obrolan dengan saling tukar contact person….
Seminar pun berakhir, aku mendapat sertifikat dan amplop dengan berisi uang Rp. 200.000, cukuplah unutk nongkrong di kampus selama tiga hari. Tapi semua itu tidak terlalu berharga, ketimbang pertemuan dengan kawan lama ku (perempuan), aku seperti bertemu dengan seluruh jiwa ragaku pada saat itu, ada sebuah gerakan esensial dalam diri, jika kata Carl Gustav Jung aku telah “berjumpa”. Dalam artian ada sebuah pengaruh pasca pertemuan tersebut. Akhirnya Ingatanku tak henti-hentinya menyebut nama perempuan itu, begitupun dengan bibir ku ini mengikuti apa yang di pikirkan.
Di waktu yang lain aku, mencoba membuka obrolan dalam dunia maya, dia responsive, apalagi aku, lebih responsive bahkan reaktif. Obrolan begitu cair. Dia seperti membuka peluang untuk aku bisa masuk di relung-relung hati perempuan itu. Ah… namun itu hanya pikiran ku saja, kalaupun iya, aku tak memiliki cukup keberanian untuk bisa masuk dan mengisi relung-relung itu, aku takut bukan relung yang aku isi, tapi malah labirin, yang nantinya kebingungan mencari jalan keluar.
Di usia kuliah yang sudah menginjak semester akhir, aku baru mulai menyukai buku, tapi hanya buku-buku novel saja, buku kuliah dan pemikiran terlalu berat bagi otak ku, novel Laila-Majnun menjadi novel pertama yang aku baca. Diri Qais seperti menjelama dalam diriku, nama perempuan itu menggema dalam gua ingatanku…
Ohh….dia…..oh….Dia…oh….Dia…Na…Oh….Dia…Dia…Na…Dia…Na…Dia…..Na…
Dalam kesempatan yang lain, perempuan itu mengajak bertemu, dan aku mengiyakannya. Dalam pertemuan itu dia becara begtiu dekat dan mesranya, tatapan matanya begitu menggoda, gerak bibirnya mengaruskan aku tunduk, dan suaranya seperti hembusan angin di kala fajar baru terbit, hingga burung-burung berkicau dengan merdunya…… Dengan sikap dia seperti itu, justru aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ahanya bisa memandang, mendengar dan meresapi apa yang ada.
Dilema merunudng jiwaku, antara melawan perintah Tuhan, atau melawan perintah setan, yang aku tahu mengenai hubungan anatra perempuan dan laki-laki yang keduanya sudah dewasa (pacaran), tak ada yang mengharamkan dan tak ada juga yang menghalalkan. Aku gingung, harus bagaiamana?, jangankan untuk ijtihad, pemahaman keagamaan ku sangat minim.
Akhirnya aku ikuti apa kata hatiku,mungkin itulah pilihan yang tepat untuk saat ini, karena aku masih yakin manusia masih memiliki kecenderungan akan kebenaran, dalam setiap langkah hidupnya.......
OH..DIA….NA….DIA…NA….DIA…..NA…DIA….NA….DIA…NA..DIA….NA.DIA…NADIA…NADIA…NADIA…NADIA…NADIA…NADIA…