Kamis, 26 November 2015

AKANKAH KAMU KELUAR DARI HMI ?!

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
 
Salam Sejahtera
Salam Se-Nusa Se-Bangsa,
Salam bagimu wahai Pecinta
Salam bagimu moyang bangsa Idonesia
Salam bagimu wahai leluhur Insan Cita
Salam bagi kader umat dan kader bangsa         

Tulisan lepas ini, hanya refleksi, mencoba insyafi diri, harapan para pengabdi, untuk bumi pertiwi, membangun peradaban islami.

Usiaku di HMI baru dua tahun, bak bayi yang baru di sapih oleh sang bunda, mungkin aku juga akan di sapih oleh HMI, sang bunda bukannya enggan untuk menyusui anaknya, tapi itulah kasih bunda untuk sang putra, untuk bisa beratahan hidup di alam raya, sebagai manusia, wakil Tuhan di semesta. Bagiku tahun ini, waktunya HMI untuk menyapihku, mungkin dengan cara lain, semesta ini samudera kemungkinan, aku harus pandai memilah dan memilih. Di sapih bukan berarti lepas, justru memberi kemerdekaan tanpa harus menghilangkan indentas, guna tercapainya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT, dengan karakter Insan Cita.
Di usia nya yang sudah tak muda lagi, HMI banyak digoncang dari berbagai arah, ada yang menggoncang sebab ingin membangun, ada pula yang menggoncang sebab ingin menghancurkan. Pada bulan ini (November 2015) HMI mengadakan hajatan besar dua tahunan, Kongres, penentu penguasa struktural, penentu arah juang, penentu perkarderan, penentu implementasi misi HMI.  Tapi propaganda media memperlihatkan wajah HMI dengan wajah lain, seolah-olah HMI perusak dan penghancur bangsa, atau.. itu bukan propaganda tapi fakta, entahlah…, coba tanyakan kepada kawan-kawan yang sedang berjuang di kongres. Sebagai kader HMI aku agak merinding melihat propaganda media masa, antara percaya atau tidak. Jika kata Choamsky, Politik adalah kuasa media. Mungkinkah itu dari agenda seting dari penguasa Indonseia?, bisa iya,bisa tidak. Bahkan ada yang bertanya dengan nada sinis, seolah-olah senang melihat HMI demikian, bahkan ada yang ekstrim, “coba lihat para kader HMI, kamu kader HMI-kan?, lebih baik keluar dari keanggotaan!”. Sangat mengerikan, akan ku jawab dalam tulisan lepas ini.
HMI lahir di Jogjakarta oleh beberapa mahasiswa, yang mempunyai cara pandang yang maju, mereka tidak berfikir lemah, mereka berfikir universal, tapi dalam gerak tidak melupakan yang parsial, dengan misi menyelamatkan bangsa dan Negara juga agama. Mungkin kalian lebih paham sejarah HMI ketimbang aku ini. Aku masih ingat dengan ritual pertama perkaderan HMI, yah..Basic Training LK 1, aku dibina disini, dari mulai dihancurkannya doktrin-doktrin selama ini yang dikira kurang tepat, hingga di dampar untuk mempertahankan gagasan. Pada waktu itu aku disuruh untuk mengafal sebuah kalimat “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab akan terwuwjudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.”.  Belakangan, aku tahu itu adalah mission HMI, sungguh mulia misi mu wahai sang Hijau Hitam.
Doktrin HMI yang paling fundamental adalah tentang Kebenaran, kita harus mempunyai kerangka tentang Kebenaran, setidaknya untuk diri kita sendiri, jika tak bisa untuk orang lain. Dalam sebuah kesempatan di pusgit di adakan diskusi tentang NDP (Nilai Dasar Perjuangan), teks ideologis bagi kader HMI, masih terngiang dalam benak ku paragraph ke-empat bab 1 :

“pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.”

Dengan keadaan kongres sekarang ini, mungkinkah HMI sudah melenceng dari tujuan awalnya?, lagi-lagi… bisa iya, bisa tidak. Aku bukanlah peserta kongres yang tahu situasi dan kondisi faktualnya, maka kurang tepat jika aku langsung menyimpulkan. Aku berbaik sangka pada kongres saat ini, mungkin aku memandang gejolak-gejolak yang ada di kongres, adalah berbedanya cara memandang dalam memperjuangkan kebenaran. Kalau demikian, apakah kebenaran itu relatif?, tergantung kebenaran mana yang kalian pegang, Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah, aku berkesimpulan bahwa, kalau lah yang di bawa adalah misi Tauhid, maka itu mutlak, selain dari misi Tauhid adalah relatif… Renungkanlah…!! Misi apa yang kita bawa ?!
Dalam konstitusi HMI disebutkan bahwa HMI sifatnya Independen, bagiku independensi HMI, adalah hanya “berkoalisi” dengan kebenaran yang mutlak yaitu Tuhan Allah, jadi koalisi HMI adalah “Koalisi Ilahiyah”. Status HMI adalah organisasi mahasiswa yang kental dengan budaya akademik (membaca,menulis,diskusi,mengabdi untuk bangsa), lalu fungsinya sebagai organisasi kader, dan kader itu sendiri menurut A.S. Hornby adalah Sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Mungkin inilah sebagian kecil ulasan mengenai HMI dari seorang kader yang usianya baru dua tahun di HMI… Maafkanlah !!
Lalu kembali pada pertanyaan awal, akankah keluar dari HMI ?, kalau lah ada lagi yang bertanya atau menyuruh seperti itu kepada ku, maka akan aku suruh dia keluar dari kelompoknya (baik dalam agama Islam,Kristen, hindu, budha, dll, atau organisasi baik intra maupun ekstra kampus, atau juga komunal-komunal yang lainnya). Karena, bagiku pertanyaan itu, mengandung kesalahan berfikir, yaitu over generalis, (Generalisasi tergesa-gesa), dalam logika, tak bisa kejadian-kejadian atau fakta-fakta parsial yang tidak cukup, atau karena tidak memakai batasan, di generalisasikan. Semisal : Ikmal  mahasiswa bodoh, Ikmal kader HMI, maka kader HMI bodoh. Selain over generalis, sekaligus kesalahan silogisme. Mungkin itulah anggapan aku pada orang yang bertanya seperti diatas. Ada kader HMI yang urakan, maka HMI urakan. Mengapa kamu tidak keluar dari HMI yang urakan ?, sekali lagi, bagiku itu adalah kesalahan berfikir !!
Indonesia merupakan Negara yang pendudukunya, beragama Islam. Lalu banyak sekali di Indonesia orang bajingan, dari Koruptor yang “beretika”, hinngga orang urakan pemerkosa. Kita juga orang Indonesia, banyak orang yang ingin berjasa sampai mencari penghasilan dengan memanipulasi data. Akan kah kamu keluar dari Islam dan Indonesia ?, tak usah dijawab dengan kata, itu kesalahan berfikir. Jawablah dengan karya, mungkin Socrates tidak akan dikenal jika tidak ada karya Plato. Kisah Laila Majnun tak akan abadi jika tak dituliskan, Nusantara terkikis karena karya nenek moyang tak dipertahankan. Karya apa yang akan kita persembahkan untuk HMI, Umat dan Bangsa ?!, Karya tidak hanya tulisan, tapi lebih dari itu semua ! Pengabdian.

Aku Rindu ketabahan Lafran Pane
Aku Rindu liarnya pikiran Wahib
Aku Rindu kedalaman pikiran Cak Nur
Aku ingin melihat kembali hangatnya senyum Sakib Mahmud
Aku belum membaca karya Endang Syaefudin Anshary
Aku ingin menjadi kader umat dan kader bangsa
Tapi aku belum bisa memantaskan diri untuk ADA…

Salam Sejahtera aku haturkan untuk Kakanda,Ayunda,Adinda, dan kawan-kawan seperjuangan HMI Se-Nusa dan Se-Bangsa. Kita berproses bersama, kita berjuang bersama, kita tumbuh bersama, kalau ada kesalahpahaman kendaknya saling memaafkan.


Bi-Allahi taufiq wa-al-hidayah.  

Selasa, 17 November 2015

BELAJAR KEHIDUPAN DARI KARINDING

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Sebelum masuk pada inti tulisan ini, aku mau bercerita dahulu bagaimana aku bisa kenal dan belajar karinding !

Waktu itu aku masih ingat awal tahun 2011, dalam sebuah kegiatan di SMA, kawan-kawan seangkatan menampilkan komposisi musik dari bambu, yang kata mereka adalah alat musik tradisional Sunda. Alat yang dimainkan pada saat itu, ada karinding,celempung, dan empet/toleat. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa masa SMA adalah masa yang indah, orang-orang sering bergerombol membuat geng, dll. Dan biasanya gaya hidup pada masa itu sering terbawa arus (ngikut sana, ngikut sini). Akulah salah satunya, yang ikut-ikutan tertarik untuk mengenal alat musik bambu tersbut. Mulailah aku bertanya-tanya alat musik itu, dari mulai apa itu namanya, belinya dimana, siapa pembutnya, bagaiman membuatnya dan bagaimana memainkannya. Sekedar informasi…pada waktu itu, di daerah cicalengka khususnya, umumnya Bandung, sedang ramai-ramainya mengembalikan budaya Sunda, dikalangan kaum muda, band-band modern pun sering disisipi alat musik tradisional, hingga pakaian-pakaian orang Sunda dahulu di munculkan kembali, semisal memakai ikat kepala.

Di waktu yang lain, ada kawanku yang menyuruh datang kesebuah rumah di Cikuya, masih daerah Cicalengka, yang kata dia merupakan seniman. Dua orang kawanku duluan kesana, pada hari itu aku tidak ikut, karena masih ada keperluan yang lain, dan kata dua kawanku, seniman itu agak aneh, katanya dikala orang-orang menjual karinding, dia tidak membolehkan menjual karinding, dan katanya karinding itu tidak hanya untuk tontonan tapi untuk dijadikan tuntunan. Tibalah waktunya aku dan kawan-kawan datang kerumahnya, pertama kali masuk di ruang tamunya aku di suguhi dengan berbagai macam karya seni, dari mulai lukisan, hingga alat musik pedesaan. Perbincangan pun dimulai pada saat itu, orangnya,ramah dan cukup akrab, namun pada saat itu aku sempat berfikir, orang itu (seniman) agaknya selalu keluar dari kebiasaan orang (mainstream), namanya Sabar Diana (orang-orang sering menyebutnya Apih). Dari dialah aku mengenal karinding, dan pada saat pertama kali aku datang dia tidak memperlihatkan karindingya, malah dia berbicara tentang karinding. Beberapa kali aku kesana (kurang lebih empat kali), dia tidak kunjung memperlihatkan karinding, dan selama itu kami hanya berdiskusi mengenai karinding dan Sunda, baru setelah itu dia memperlihatkan karinding, dan memberi kita karinding. Sejak saat itulah aku mulai tertarik kepada karinding, dan mulai sadar, mengapa Apih tidak memberi kami karinding waktu pertama kali datang.

Cukup ceritanya yah…, kalau di tuliskan akan jadi sebuah cerpen…..heheh.
Dalam tulisan ini, adalah hasil diskusi dan pengalaman aku selama ini, tentang karinding…, mungkin tidak ilmiah (karena belum ada referensi), tulisan ini seperti dialognya Plato dengan Socrates, yang menghasilkan buku Republic, karena Socrates tidak mempunyai tulisan, begitupun dengan Karinding, aku belum menemukan hasil studi mengenai sejarah karinding ….

Apih menuturkan kepada kami bahwa karinding itu adalah alat musik buhun (dulu/purba), yang belum bisa ditemukan siapa yang pertama kali menciptakannya. Dan alat musik seperti ini, hampir terdapat diseluruh belahan dunia, namun agak berbeda dari segi yang lainnya, tapi umumnya hampir sama, menurut dia (Apih), yang didapatkan informasinya dari Abah Entang (dia adalah maestro karinding, yang mengenalkan karinding kepada Apih), bahwa ada tiga filosofi karinding, yaitu yakin, sadar dan sabar. Dan tiga filosofi itu di ambil dari tiga bagian karinding yaitu ada bagian panyepeng (tempat memegang), cecet ucing (bagian diamana harus disimpan di mulut ketikka hendak memainkannnya), dan  pangkal laras (bagian untuk melaraskan nada waktu membuat, dan bagian yang dipukul ketika hendak dimainkan).

Bagian panyepeng adalah wilayahnya keyakinan, dalam artian ketika kita memiliki pegangan, kita harus meyakininya secara menyeluruh, karena kalau kita mempunyai pegangan tanpa adanya keyakinan, mungkin saja pegangan itu akan lepas. Dalam wilyah keagamaan sering disebut dengan iman. Lalu cecet ucing, adalah untuk wilayah kesadaran, karena wilayah itu ketika dimainkan jarum di bagian tengahnya tidak stagnan, tapi dinamis, karena untuk menghasilkan resonansi suara, dan pada proses pembuatan harus teliti,dan konsentrasi, kaena cukup rumit. Maka dari itu, ketika kita bergerak secara dinamis kita memerlukan kesadaran yang kuat, supaya terarah dan menghasilkan bunyi yang harmonis. Begitupun dalam kehidupan ketika kita bergerak dinamis, kalau kesadaran dihilangkan maka gerak kita sebagai manusia, akan tidak adan gunanya, semisal orang gila, dia bergerak namun sedikit gunanya, baik untuk indvidu maupun kelompok, baik spiritual maupun material. Dan yang terakhir, adalah pangkal laras, dan ini wilayah kesabaran, karena dalam proses pembuatan, kita harus teliti dalam menipiskan bambu pada wilayah itu, kalau tidak maka vibrasi yang dihasilkan akan kurang, dan pengaruhnya terhadap suara yang dihasilkan, lalu ketika memainkannya pun kita harus sabar, jika kita memukul dengan pukulan keras, maka karinding akan patah, kita harus tepat sasaran, meskipun tidak keras pukulan kita, maka akan menghasilkan getaran, jadi masalah kesabaran adalah sentuhan, ada kalanya sentuhan itu kasar tetapi tepat sasaran maka tidak akan menghasilkan kesakitan, tetapi jika sentuhan itu meskipun lembut, tapi tidak tepat sasaran, maka akan menghasilkan kesakitan. Dan lembut atau kasarnya masalah sentuhan, tergantun ritme kita memainkannya, itulah kesabaran.

Lalu ada lagi, falsafah karinding mengenai siklus kehidupan, ada tiga siklus kehidupan, yang diambil dari tiga bagian karinding, jikalau pembahasan diatas, diawali dari bagain panyepeng, sekarang di awali dari pangkal laras. Bagian pangkal laras merupakan kehidupan di alam rahim, ketika kita masih berada di janin ibunda kita, kenapa bagian ini, merupakan bagian kesabaran karena proses ini, kita dalam harus bisa sabara, terutama ibunda kita, dan baik buruk kehidupan diluar kita akan memperuhi kehidupan kita kita selanjutnya, khususnya dalam bentuk fisik kita,   makanya seringkali dokter memberi pantrangan,pantrangan kepaka ibu hamil. Bagian yang kedua adalah cecet ucing yang menandakan kehidupan kita di dunia, karena melihat bagian ini yang selalu dinamis,kadang pada posisi diatas, kadang pula di bawah. Maka diatas disebutkan bagian ini adalah wilayah kesadaran, jadi dalam kehidupan dunia ini kita memerlukan kesadaran (rasionalitas / atau intuisi), agar kita bisa memaknainya secara bijaksana yang akan menimbulakn keharmonisan. Dan yang terakhir, panyepeng, yang menandakan pasca kematian, atau dalam agama-agama sering disebut akhirat (kehidupan pasca kematian), dan disinalah kita akan berpulang kepada pegangan kita, keyakinan kita, yaitu Sang Mahak Kuasa, Tuhan Semesta Alam.

Setelah kita sedikit membahas bagaiamana falsafah karinding itu sendiri, lalu yang menjadi persoalan di masa sekarang ini, yaitu komersialitas… apakah karinding barang komersil ? pelajaran apa yang bisa kita ambil dari status karinding ?

Dalam masyarakat modern budaya komersilisem dan konsumerisme, sudah tidak asing lagi, kebanyakan orang sudah enggan melakukan proses yang rumit, yang mau dilakukan adalah proses cepat dan instan, sehingga orang-orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu apapun dengan cara cepat dan instan. Dari permasalahn inilah kita bisa mengambil pelajaran dari tidak di jualnya karinding. Kenapa demikian, mungkin orang sah-sah saja untuk menjual karinding dengan argumentasi bahwa dahulu belum ada uang kertas, yang ada hanya barter (tukar barang). Tapi bagi aku tidak sesederhana itu, dari tidak dijualnya karinding kita bisa selalu membangun persaudaraan. Dalam hal jual-beli di era modern, tidak ada sebuah ikatan persaudaraan antara penjual dan pembeli yang ada hanya ikatan kepentingan, begitupun kalau karinding di jual belikan, dampaknya  akan seperti demikian, setelah itu, tidak komunikasi antar penjual dan pembeli atas nama persaudaraan kemanusiaan. Dari tidak dijualnya karinding justru untuk menumbuhkan tali persaudaraan (duduluran) atau dalam istilahnya “jadi saudara sebab bambu satu jengkal (jadi dulur ku awi sajengkal). Mungkin, kenapa leluhur kita dahulu tidak menjadikan karinding sebagai barang komersil, tujuannya tidak lain, hanya untuk menjaga rasa persaudaraan antar sesama manusia, dan penghormatan terhadap alam.

Itulah pelajaran yang bisa aku ambil dari karinding dan tulisan ini kupersembahkan untuk semua orang agar bisa mengambil pelajaran. Mungkin tafsiran ini bisa jadi salah atau benar, tapi inilah pengetahuan yang aku terima dan pengalaman yang aku rasakan.

Hapunten anu kasuhun, bilih kumaha wantun ka Karuhun
Ampun paralun lain rek adigung
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangi

Hampura,Hampura,Hampura
Rahayu



Jumat, 13 November 2015

NABI DAN RASUL : MANUSIA PILIHAN SEBAGAI KREATOR BUDAYA DAN PERADABAN ILAHIYAH

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
NABI DAN RASUL
Dalam khazanah ilmu ke-islaman terma Nabi dan Rasul sudah tidak asing lagi di dengar, dari sejak kecil kaum muslimin sudah di kenalkan kepada para Nabi yang wajib di ketahui dari mulai Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Hingga bermunculan banyak karya-karya yang membahas Nabi dari bentuk lagu hingga karya tulis ilmiah. Sejarah Nabi-nabi pun di kisahkan dari satu generasi ke generasi selanjutanya, dari Kisah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Kita ketahui bagaimana Nuh membuat perahu besar untuk menyelamatkan pengikutnya dari banjir yang sangat dahsyat, hingga saat ini para ilmuwan masih meneliti artefak tersebut, lalu kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Ibrahim, hinnga setelah mencapai pencerahan Ibrahim membuat tradisi, yang hingga hari ini tradisi tersebut dipakai oleh Umat Islam, yakni Haji.
Dari Ibrahim lah embrio ke-nabian semit bermula. Khususnya umat islam menyebut Ibrahim sebagai Bapaknya Para Nabi, dari istri pertama melahirkan Ishaq yang merupakan nenek moyang Bani Israil, dan dari Ishaq pula banyak muncul para Nabi, lalu dari Istri kedua lahir Ismail, namun tidak sama dengan saudaranya Ishaq, dari Ismail “lahir” seorang Nabi yang sangat jauh zamannya, yaitu Muhammad ibn Abdillah.
Seperti yang pada umumnya orang ketahui, sejarah para Nabi biasanya ditandai oleh satu kaum yang tatanan sosial dan kulturnya cukup semrawut, Nuh datang untuk menghilangkan tradisi menyembah berhala, Ibrahim membawa misi monotheisme, hingga dia menghancurkan patung-patung yang dibuat oleh ayahanya, Musa dengan semangat montheisme, yang mengharuskan kemerdekan, menentang kezaliman Fir’aun, dan Muhammad hadir untuk merevolusi tatanan bangsa Arab yang pada waktu itu, praktik-praktik Jahiliyah masih dilakukan.
Mari kita masuk ke dalam pengertian Nabi itu sendiri, bahwa kata Nabi berasal dari bahasa Ibrani, nabhi, ini tidak dikenal di lingkunan Arab pra Islam. Kata ini dalam bentukannya dan makan akar katanya dapat juga dilacak pada akar kata NB yang berasal dari zaman semitik kuno yang berarti “mengumumkan” atau “menyatakan”,. Kata naba yang banyak dipergunakan orang Arab pra-Islam dimaknai sebagai “ berita tentang sesuatu yang mengandung urusan yang penting atau berita yang besar manfaatnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu”.1
Sedang kata rasul  diterjemahkan sebagai “apostel”, “messenger of God” atau utusan. Kata ini berasal dari kata arsal,  yang artinya mengutus. Kata Nabi  muncul dalam Al-Quran lebih sering daripada kata-kata mubasysyirin atau basyir, mundzirin atau nadzir, dan mudzakkir, walaupun tidak sesering kata rasul. Menurut kronologi Noldeke, yang dikutip oleh Dadan Rusmana dan Yayan Rahtikawati, kata ini pertama kali muncul dalam periode Makkiyah tengah. Akan tetapi dalam penanggalan Richard Bell, keseluruah contoh penggunaan kata ini dimasukkan ke dalam ayat-ayat Madaniyyah dengan pengecualian Q.S. Al-Isra :17,. Menurut Watt, berdasar pada kronologi Bell, yang dikutip Dadan Rusamana dan Yayan Rahtika, hali ini dapat saja menunjukkan bahwa kaum muslim mulai akrab dengan kata nabi  tersebut melalu hubungannya dengan orang-orang Yahudi Madinah.2
Adapun menurut istilah, nabiyy dan rasul adalah seseorang yang diberi wahyu berisikan Syariat (wahyu), dan ditugaskan menyapaiakan wahyu tersebut kepada umatnya. Oleh karena itu, nabi dan rasul bermakna sama, artinya utusan atau orang yang mengemban risalah3. Adapun pendapat lain yang mebedaka antara nabi dan rasul. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu syariat dari Allah untuk dilaksanakan sendiri, sedang rasul adalah seerong yang mernerima wahyu syariat dari Allah untuk dilaksankan sendiri dan agar disampaikan kepada umatnya.4 Jika mengikuti pendapat yang kedua bahwa setiap rasul pasti nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul.
Dengan murujuk Al-Quran sebagai sumber primer umat Islam (Q.S Maryam ayat 51,54) Dadan Rusamana dan Yayan Rahtikawati berkesimpulan bahwa Al-Quran tidak pernah menerangkan perbedaan antara nabi dan rasul seperti di atas, tetapi menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, yang menunjukkan bahwa kara rasul merupakan sebutan lain untuk kata nabi. Orang yang sama, kadang-kadang disebut rasul, tetapi di tempat lain disebut nabi, kadang-kadang disebut rasul dan nabi sekaligus.

Kalaupun ada,  perbedaannya hanya terletak pada kenyataan bahwa para rasul itu mengandung arti yang lebih luas, yang maknanyay dapat diterapkan kepada sembarang utusan yang mengemban suatu pesan.5

MISI NUBUWWAH DAN HUBUNGANNYA SEBAGI KREATOR BUDAYA
1.           Misi ke Tauhidan.
Dalam surat Al-Anbiya ayat 25, yang artinya :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selai Aku, maka sembahlah Aku”.

Jika melihat teks ayat di atas sangat jelas sekali, bahwa di utusnya Nabi adalah untuk menyampaikan bahwa tidak ada sembahan selain Allah, inilah misi Tauhid jika menurut Nurcholis Madjid dalam Ensiklopedi Nurcholis Madjid yang disusun oleh Budy Munawwar-Racman :6
“Kata-kata itu merupakan kata benda kerja (verbal noun) aktif (yakni memerlukan pelengkap penderita atau objek), sebuah derivasi atau tashrîf dari kata-kata “wâhid” yang artinya “satu” atau “esa”. Maka makna harfiah “tawhîd ialah “menyatukan” atau “mengesakan”. Bahkan dalam makna generiknya juga digunakan untuk arti “mempersatukan” hal-hal yang terserak-serak atau terpecahpecah, misalnya, penggunaan dalam Bahasa Arab “tawhîd al-kalîmah” yang kurang lebih berarti “mempersatukan paham”, dan dalam ungkapan “tawhîd al-quwwah” yang berarti “mempersatukan kekuatan”. Sebagai istilah teknis dalam Ilmu Kalam (yang diciptakan oleh para mutakallim atau ahli teologi dialektis Islam), kata-kata “tawhîd”dimaksudkan sebagai paham “me-Maha Esa-kan Tuhan”, atau lebih sederhananya, paham “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atau “monoteisme”. Meskipun bentuk harfiah kata-kata “tawhîd” tidak terdapat dalam Kitab Suci Al-Quran (yang ada dalam Al-Quran ialah kata-kata “ahad” dan “wâhid”). Bahkan kata-kata tawhîd juga secara tepat menggambarkan inti ajaran semua nabi dan rasul Tuhan, yang mereka itu telah diutus untuk setiap kelompok manusia di bumi sampai tampilnya Nabi Muhammad Saw., yaitu ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Masalah dampak pembebasan semangat tawhîd dalam hidup manusia sering muncul dalam berbagai percakapan serius di masa masa akhir ini. Pembahasan itu biasanya merupakan bagian dari dambaan manusia, khususnya kaum Muslim, kepada pandangan hidup yang mampu membawa kebebasan dari berbagai belenggu zaman modern”.


Selain membawa misi ke-Tauhidan para Nabi pun membawa misi kebajikan dan kebijaksanaan, seperti yang di ungkapkan Ali ibn Abi Thalib dalam Khotbahnya yang di susun dalam Nahjul Balaghah :7
“Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya, untuk berhujah kepada mereka dengan tablig, untuk membukakan di hadapan mereka kebajikan-kebajikan dan kebijakasanaan yang tersembunyi, dan menunjukan kepada mareka tanda-tanda Kemahakuasaan-Nya, yakni langit yang dintinggikan di atas mereka, bumi yang ditempatkan di bawah mereka, rezeki yang memlihara mereka, ajal yang mematikan mereka, sakit yang menuakan mereka, dan kejadian susul menyusul yang menimpa mereka. Allah Yang Mahasuci tak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argument yang mengikat atau dalil yang kuat”.

Jadi misi pertama adalah Tauhid (meniadakan sembahan lain selain Allah), dan ini berlaku untuk semua nabi, ekses dari Tauhid inilah akan memunculkan kesamaan ketika memandang makhluk Allah, logika sederhananya, jika Allah satu maka selain Allah banyak (plural), jika Allah Mutlak maka makhluknya nisbi (relafif), maka tidak ada makhuk pun yang bisa dijadikan sandaran, karena akan menciderai nilai-nilai ke-Tauhidan itu sendiri. Dampak terhadap kehidupan sosial inilah maka manusia adalah sama, kecuali yang membedakannya adalah ketaqwaan, Q.S Al-Hujurat 13.
Maka dari itu, sejarah para nabi selalu berhadapan dengan kaum mustakbiriin (meminjam bahasa Ali Syari’ati). Seperti Musa melawan tirani Fira’aun yang begitu sombongnya hingga dia menganggap dirinya sebagai sembahan (Tuhan), dan Muhammad yang menentang perbudakan dalam atmosfer sosial kultur Arab Jahiliyah pada waktu itu.
2.           Misi Mewujudkan Keadilan
Persoalan Keadilan dalam Islam, sangatlah luas dan membentang sepanjang sejarah. Dari mulai membahas Keadilan Ilahi, yang merdampak terhadap munculnya mazhab kalam dalam Islam (theology). Dalam pembahasan kali ini penulis tidak akan membahas Keadilan Ilahi dalam perspektif kalam Islam, akan tetapi membahas misi nubuwwah yang salah satunya adalah mewujudkan keadilan, seperti dalam surat Al-Hadid : 25 :
“Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusai dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdpat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi tiu) dan suapaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padalah Allah tidak dilihatnya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa”.

Dalam ayat ini, nabi mengemban misi untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manuisia, dan juga agar manusia bangkit menegakkan keadilan, jadi, menurut ayat ini, tugas Nabi dan Rasul adalah menegakkan keadailan di tengah-tengah masayarakat. Namun para Nabi pun memerlukan cara bagaimana keadilan ditengah-tengah masayarkat bisa diwujudakan.
Menurut Nurcholis Madjid keadilan merupakan misi suci nubuwwah, para nabi semit (ibrahimiyyah), dikelompokan dalam ajaran yang berorientasi pada sejarah, Yakni, para nabi mengarahkan sasaran ajaran mereka kepada usaha memperbaiki peri- kehidupan manusia sebagaimana terwujud dalam sejarah. Dan disebut sejarah, karena cita-cita perbaikan itu hendak diwujudkan dalam pengalaman nyata hidup kolektif manusia di dunia ini, dalam konteks ruang dan waktu. Jadi, dapat disebut bahwa tema pokok usaha perbaikan (ishlâh) masyarakat oleh para nabi bangsa bangsa Semit ialah menegakkan keadilan. Dengan kata-kata lain, keadilan merupakan inti tugas suci (risâlah) para nabi.8
Menurut Jalaluddin Rakhmat, ketika Nabi menegakkan (pemerintahan) di muka bumi ini, Nabi pun tidak hanya menggunakan al-bayyinah, al-kitab, dan al-mizan, tetapi juga al-hadid, sebab ada saja orang-orang dalam setiap masyarakat ketika kita hendak menegakkan keadilan- yang tidak bisa diyakinakan denga al-kitab, tidak bisa diajak kepada keadilan dengan al-mizan. Bagi orang-orang seperti ini, tidak ada cara lain untuk mengadapinya kecuali dengan bahasa binatang yakni al-hadid atau besi yang didalamnya ada kekuatan-kekuatan dahsyat.9
Maka perbaikan sejarah merupakan misi suci kenabian, dan salah satu perbaikan sejarah itu bisa dilakukan dengan menegakkah keadilan, bisa dengan al-bayan, al-kitab,al-mizan. Ataupun dengan al-hadid karena seperti dalam letiratur sejarah bahwa para nabi selalu berhadapan dengan kaum mustakbiriin (pembesar), dimana tradisi feodalistik masih dipertahankan, dan biasanya para nabi dilahirkan dari kaum yang sederhana (secara ekonomi), maka kaum mustakbiriin enggan untuk menerima ajaran-ajaran para nabi. Maka dari itu al-hadid dirasa perlu untuk di pakai, dalam artian menggunakan logika kekuatan.
Penulis menputip dua misi nubuwwah ; pertama ke-Tauhid-an untuk mencapainya tidak harus menggunakan dalil-dalil rasionalistik dan empiric, tapi ada dimensi-dimensi lain yang boleh jadi manusia belum bisa menemukannaya, sebagai pendapat, kalaulah hakikat ke-esaan Allah bisa dicapai oleh makhluk berarti Allah masihlah terbatasi oleh pengetahuan manusia, maka di sinilah letak perlunya nabi untuk memberi pencerahan kepada ummatnya. Kedua ke-Adil-an secara sosial, berangkat dari nilai-nilai ke-Tauhidan, bahwa manusia satu tidak boleh menindas manusia lain, manusia manapun tak ada yang layak disembah dalam artian kita harus terus tunduk dan patuh, tanpa menganalisa dan mengkritisi terlebih dahulu.
Ada kesimpulan yang menarik dari Ali Syari’ati ketika membahas misi nubuwwah, Nabi adalah juga seorang dengan dua wajah yang kontras yang mengejawantah secara indah dalam satu spirit. Wajah keduniaanya mengejawantah dalam perang dan aksi-aksi sosial, dalam memerangi kekuatan-kekuatan yang destruktif di tengah-tengah masyarakat. Sedangakan wajah sucinya menampakkan diri dalam menyampaiakan amanat-amanat Allah bagi umat manusia. Dalam dirinya kenabian dan kempemimpinan memadu dan menyatu secara sangat serasi, sebagai penuntun yang membimbing kemanusiaan kearah suatu tujuan tertentu dan sebagai seorang hamba yang saleh, yang selalu berdoa dan mengabdi.10
   
Peran Nabi Muhammad Sebagai Kreator Budaya
1.                       Ke-Tauhidan,Ke-Adilan dan Ke-Ummatan
Nabi Muhammad ibn Abdillah dilahirkan pada tahun gajah kurang lebih sekitar 570 M, (12 Rabiul Awal),12 tahun ketika pasukan Abrahah menyerang mekah untuk menghancurkan Ka’bah, namun bukan kemenangan yang dicapai malah kehancuran. Ayahnya Abdullah ibn Abd Muthallib meninggal di kala Muhammad masih dalam kandungan Ibunda nya Aminah binti Wahhab.
Tempat kelahiran Nabi Muhammad, yang menurut Karen Armstron merpukan daerah tak bertuhan dan tak satu agama pun yang lebih maju dan modern berhasil di daerah tersebut.13 Pada saat itu, ghazwu antar suku, merendahkan harkat perempuan, tidak ada pemerataan ekonomi, sudah menjadi kebiasaan Arab pada masa itu, jika umumnya orang menyebut bangsa Arab Jahiliyah, bukan berarti bodoh, tidak bisa baca tulis atau mengembangkan teknologi, tapi bodoh secara mental,moral dan spiritual.
Seperti dalam pembahasan sebelumnya misi nubuwwah adalah ke-Tauhidan dan ke-Adilan, sudah pasti karena Muhammad seorang Nabi, misi sucinya pun akan sama. Di kala atmosfer Arabia yang pemahaman ke-Tuhannannya masih polytheistic, Nabi Muhammad datang dengan konsep monotheistic, tidak ada yang wajib disembah kecuali  Allah, dan konsekuensi logisnya adalah berahala-berhala yang mengelilingi Ka’bah harus di hancurkan.
 Lalu tentang ke-Adilan, Jalaluddin Rakhmat dengan mengutip pendapat Karen Armstrong, bahwa Reformasi pertama yang dilakukan Rasulullah adalah mengubah masyarakat yang berdasarkan penindasan kepada masyarakat yang berdasarkan keadilan. Salah satu unsur masyarakat yang berdasakan keadilan adalah masyarakat yang tuduk kepada Hukum. Semua orang tunduk kepada hukum; tidak ada orang yang bisa lepas dari ketentuan hukum.14 Terbutki beliau membuat konstitusi berdasakan musyawarah dengan orang Yahudi , Nashara, dan orang kafir tidak beragama, yang disebut Piagama Madinah, dan Piagam itu menurut Robert Bellah sangat maju pada zamannya, bahkan konstitusi pertama di Dunia adalah Piagam Madinah.
 Ada satu lagi kontribusi Nabi Muhammad adalah membangun umat, yaitu mengubah masyarakat dari system sosial yang berdasarakan kesukuan, kekeluargaan, dan kelompok komunitas yang berdasarkan ideology Islam; dari tribalisme ke komunitas, dari perasaan kekabilahan ke sebuah system yang didasarkan pada ikatan keislaman atau ukhuwah Islamiyyah.15
2.                       Lemah Lembut dan Pemaaf
Ada karakteristik lain sebagai kontribusi Nabi Muhammad yaitu budi pekerti luhur (al-akhlaq al-karimah), seperti dalam Surat Al-Qalam ; 3-4.
“sesungguhnya, bagimu Muhammad, pahala yang tiada terbatas dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”

Salah satu karakteristik dari budi yang luhur adalah Lemah lembut, bahwa Pemimpin itu hendaklah dia bersiap-siap untuk kecewa melihat kinerja para pegikutnya. Namun, selain harus sipa kecewa, dia juga harus siap tidak marah, dan harus bersikap lemah-lembut. Itu sangat sulit. Bagaiamana mungkin ketika kecewa, seseorang harus bersikap lemah lembut. Orang tidak bisa melakukannya kecuali dengan Rahmat Allah.16
Yang kedua adalah memaafkan, karena dala Surat Al-Imran ; 59. “…maafkan mereka mohonkan ampunan buat mereka…” menurut sebagian ahli tafsir, kata “maafkan mereka” masih berlaku jika kesalahan mereka itu berkenaan dengan hak kita, misalnya, mengecewakan kita, menyakiti kita, mengkhianati kita. Jika kesalahannya seperti itu, mereka harus kita maafkan. Tetapi, kalau mereka itu berdosa terhadap Allah, mohonkanlah ampunan buat mereka.17
Itulah kreasi budaya oleh Nabi Muhammad, pada saat Arabia yang gersang dengan karakter manusianya yang keras dan pedendam, beliau mengusulkan perilaku yang lemah lembut lagi pemaaf. Siapa pun yang mempelajari kehidupan Nabi tak dapat tidak pasti akan terkesan oleh watak spiritualnya serta keterampilan  politik dan admnistrasinya, suatu hal yang demikikan luar biasa dalam kepemimpian ummat manusia yang dalam kasus Nabi keterampilan tersebut seluruhnya diabdikan kepada visi spiritual yang direalisirnya. Sesungguhnya, sekali kita telah megnakui kenyataan ini, maka kita telah mengakui keunikan utusan Tuhan ini,yang tidak mengklaim apa pun juga bagi dirinya kecuali bahwa ia hanyalah alat dari risalah yang dibwanya, dan dengan demikian kita menermia tema pokok Islam.18



_____________________________________________________________
1.Dadan Rusmana dan Yayan Rahtikawati, Tafisr ayat-ayat Sosial Budaya,Pustaka Setia,Bandung,2013. hlm 200
2. Ibid, hlm 200
3. Ibid, hlm 201
4. Ibid, hlm 201
5.Ibid, hlm 201
6.Budy Munawwar-Rachman,Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 4,Edisi Digital Democracy Project,Jakarta,2012. Hal 3327
7. Syarif Radhi, Sarah Syed Ali Raza, Terj. Hasyim Assagaf,Puncak Kefasihan,Pilihan khotbah,surat, dan ucapan Ali bin Abi Thalib r.a.,Lentera,Jakarta,1997. hlm 6
8. Budy Munawwar-Rachman,Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 2,Edisi Digital Democracy Project,Jakarta,2012. Hal 1296
9. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 53
10. Ali Syari’ati, Tugas Cendikiawan Muslim,terj. M.Amien Rais, Rajawali Press,Jakarta,1991. Hal 18
12.Dedi Supriyadi,Sejarah Peradaban Islam,Pustak Setia,Bandung,2008. Hal 59
13. Karen Armstrom, Muhammad Sang Nabi,Risalah Gusti, Surabaya,2001. Hal 55
14. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 81
15. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 86
16.Ibid, 66
17.Ibid 69



Selasa, 10 November 2015

BUTA HEJO VIS A VIS INSAN CITA


Legenda Buta Hejo biasanya selalu di ceritakan orang tua dahulu kepada anak kecil untuk menakut-nakuti, dia merupakan symbol kejahatan,keserakahan dan kebodohan. Dalam literature sunda, Buta adalah sesosok raksasa yang sangat jahat, kerjaannya adalah memakan manusia, dia juga acapkali berkoalisi dengan manusia durjana, hingga manusia durjana itu bisa memberi kan tumbal kepada sang buta tersebut. Mungkin sosok Buta Hejo ini hampir mirip dengan gundorewo (setan di tanah jawa).
Dalam tulisan lepas ini aku akan menambah perspektif lain terhadap sang buta, kalau dalam bahasa Indonesia kata buta, adalah manusia yang tidak bisa melihat (gelap,hitam), saya tidak akan menyinggung manusianya tapi gelapnya (hitam), kenapa hitam ?, ada banyak tafsiran mengenai warna hitam, ada yang menafsirkan dengan kedalaman ilmu pengetahuan, ada juga yang menafsirkan sebagai symbol kegelapan(kebodohan,kejahatan). Kali ini akan lebih cocok jika hitam di maknai dengan symbol kejahatan, kenapa kejahatan ? karena disini kita akan berbicara mengenai Buta Hejo.
Sebelum di lanjtukan, kiranya aku harus menceritakan dahulu pengalaman, (sebagai pengantar ke pembahasan selanjutnaya), ketika aku masuk salah satu organisasi ekstra kampus, yang telah banyak melahirkan manusia-manusia sakti, dan seringkali memberi warna terhadap perkembangan bangsa Indonesia ini, aku tidak akan menyebutkan nama organisasi nya, tapi ciri-ciri nya seperti ini, lambangnya perisai dengan dominasi warna hijau,hitam, dan sedikit garis putih. Disini aku mendapatkan sesuatu yang baru, dari sesuatu yang sangat baik hingga yang sangat buruk. Ada sebuah ritual yang harus dilewati, jika ingin menjadi anggota (kader) organisasi ini.
Misi organisasi ini, bagi aku sangatlah mulia, bagaiamana tidak mulia, aku akan coba tuliskan misinya “Terbinanya Insan akademis,pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Alla SWT”, mulia kan?, hanya orang gila yang tidak menyebut mulia !, bahkan anggotanya (kader) pun disebut sebagai kader ummat dan kader bangsa, tugas mereka begitu berat sekaligus mulia. Inilah Filsafat Manuisa versi organisasi Hijau Hitam, yang sering disebut dengan kualitas Insan Cita.
Dengan lima kualitas Insan Cita inilah organisasi ini membina kadernya menjadi manusia seutuhnya. Bagaiamana tidak, mari kita coba runtut satu persatu, Insan akademis, sangatlah jelas kadernya harus mahasiswa, dimana budaya membaca,menulis dan meniliti harus tetap hidup. Dari proses akademis inilah kader di tuntut untuk bisa mencipta, setalah itu membuat karya, dan karyanya tidak hanya didiamkan saja, tetapi harus di abdikan, dan yang paling utama adalah semua kegitannya harus berlandasakan Islam (kepasrahan kepada yang Maha Benar, Tuhan Allah), sehingga proses terakhirnya adalah bertanggung jawab untuk membangun estapeta peradaban umat manusia dengan segala potensi yang telah diberikan Allah.
 Di organisasi ini, orang akan di pandang ketika dia menguasai materi yang sangat controversial bagi para pemula, materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), kini orangnya sering disebut dengan NDP-er, salah satu teks ideologis bagi organisasi ini. Ada satu lagi, jika mau di pandang di organisasi ini, yaitu orang yang jago setingan politik, dari suksesi menjadi ketua komisarit hingga Pengurus Besar, dari tingkat HIMA Jurusan hingga ketua BEM Universitas. Masing-masing punya gaya dan budaya nya, tetapi sayangnya pada saat ini, sangat sedikit orang yang “mahir” dalam mengisi materi NDP. Dan yang lebih di sayangkan itu, ketika membuat setingan politik, kaidah-kaidah etika yang ada sering ditabrak, sehingga tak jarang ketika paska momen politik antara satu sama lain sering terjadi “perang dingin”.
Mungkin cukup uraian pengantarnya, lalu apa hubungannya antara buta hejo dengan organisasi yang mulia ini ?, aku di sini tidak akan membuat hubungan, tetapi membuat sebuah analisa (jika masih bisa disebut analisa), di awal tadi aku sebut buta hejo sebagi sosok jahat,serakah dan “bodoh”, selain sosok buta hejo aku juga menggambarkan sosok makhluk lain, insan cita, yang merupakan kumpulan lima kualitas diri manusia (Filsafat Manusia ala Sang Hijau Hitam).
Aku teringat dengan pembahasan NDP, bab 2, Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). Bagi aku, jika manusia menginsafi kemanusiaan nya, tidak perlu masuk organisasi Hijau Hitam untuk bisa menjadi Insan Cita, karena secara naluriah akan menjadi seperti itu, Man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu “ Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”, Tuhan Allah lah sumber Kebenaran, dan kita akan terus berenang (tasbih) menuju-Nya.
Muthahhari membagi potensi dasariah itu menjadi tiga : Pertama Watak,biasanya digunakan untuk benda-benda mati, tetapi bisa pula digunakan untuk benda-benda hidup. Kedua  Insting, istilah ini kebanyakan diguanakan untuk binatang, dan jarang sekali digunakan untuk manusia, serta tidak pernah digunakan untuk benda-benda mati dan tumbuhan. Di dalam insting tersebut tedapat kondisi setangah sadar yang dengan itu bintang-binatang dapat dibedakan perjalanan hidupnya. Ketiga  Fitrah, istilah ini digunakan untuk manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia, dan bukan sesuatu yang diperoleh melalu usaha, Fitrah mirip dengan kesadaran. Sebab, manusia mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui. Jadi, jika insting bersifat hewani, sedangkan Fitrah bersifat metahewani atau berkaitan dengan masalah-masalah kemanusiaan.
Lalu kenapa dalam perlanan sejarah umat manusia selalu saja ada manusia-manusia yang seringkali dipandang jahat oleh orang setelahnya, semisal Qabil yang membunuh Habil, Kan’an yang menolak ajakan bapaknya Nuh, Firaun Sang Tirani, atau cerita-cerita orang Sparta dan Troya, Ada Raja Gandara (Sengkuni) dalam Cerita Mahabarata, dan terlalu banyak lagi kejahatan yang tak perlu aku tulis. Mengapa demikian, jika merujuk kepada Muthahhari, karena manusia lebih mengedepankan insting di banding fitrah, Qabil membunuh saudaranya karena dia cemburu kepada Habil, yang istrinya lebih cantik dari istri Qabil, lalu Sengkuni memberi propaganda kepada Duryudana, untuk menguasai Kuru Setra agar dia punya posisi.
Seperti yang kita ketahui jika dalam pembahasan filsafat, dalam membahas manusia maka sering disebut dengan hayawan al-nathiq (hewan berfikir/sadar), maka tidak terlalu salah  mempunyai kesimpulan, jika kita melihat manuisa yang terlalu banyak mengedepankan sisi hewaninya maka dia akan bertindak seperti hewan,(mengecilkan atau bahkan menghilangkan rasio/kesadarannya), dan akan bertindak tidak berperikemanuisaan, Begitupun dengan Buta Hejo mungkin agak unik, kalau melihat mitologi yunani ada demigod (manusia setengah dewa), sentaurus (manusia setengah kuda/hewan), di kita ada buta hejo, sosok manusia tidak sempurna secara fisik dan mentalnya full hewan.
Nah,, waktunya aku menulis secara tersurat, kenapa aku membawa terma Buta Hejo, di awal aku membawa perspektif lain mengenai Buta (mungkin cocokolgi), yaitu Hitam, dan Hejo adalah warna Hijau, ada kesamaan dengan organisasi Hijau Hitam ini, bukan berarti Sang Hijau Hitam ini Buta Hejo, tetapi orang yang mengibarkan bendera sang hijau hitam bisa jadi dia Buta Hejo, atau aku pun bisa jadi Buta Hejo, karena boleh jadi kita memakai “seragam” hijau hitam tapi dari sisi mentalitas kita memakai mental hewani (insting). Karena dalam sejarah tak sedikit orang yang mengedepankan sisi hewaninya (jahat,serakah dan “bodoh”), begitupun di organisasi Hijau Hitam ini. Maka kualitas Insan Cita perlu kita insafi bersama, guna misi ideologis yang mulia ini, kecuali orang gila yang tidak menyebut mulia, dan kemuliaan ini tidak hanya teks dan konteks, tapi tanggung jawab, bagi ummat dan bangsa.

Bagi aku kualitas insan cita adalah persoalan Fitrah sedang kan Buta Hejo adalah persoalan insting. Tinggal bagaiaman setiap hati memilih mau Buta Hejo atau Insan Cita. 

EKSISTENSI FILSAFAT ISLAM DALAM PERGULATAN PEMIKIRAN POSTMODERNISME

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Mempersoalkan Filsafat Islam di era sekarng ini, kita akan diajak dahulu bernostalgia ke abad awal dan pertengahan masehi, dimana Hellenistis yang merupakan kelanjutan dari Filsafat klasik.  Pada era pasca Aristoteles tidak ada perkembangan dari orisinalitas filsafat, pembahasannya masih sama dengan filsuf sebelumnya, akan tetapi puncak dari Era Hellenis ini adalah munculnya seorang filsuf yang merupakan pendiri mazhab Neo-Platonis, yakni Plotinus.
Seperti yang diungkapkan Bertrand Russell, Plotinus sekaligus adalah awal dan akhir –sebagi akhir dalam kaitannya dengan Yunani, sebagai awal dalam kaitannya dengan umat Kristen.1 Plotinus sendiri mengusung metaphisyca monistic, dan “doktrin” inilah yang kelak di diamini oleh beberapa filsuf Islam.
Di belahan dunia yang lain,  ada sebuah monarci yang menggunakan doktrin agama, dimana mereka terus menginvasi wilayah-wilayah lain, guna menyebarkan misi keagamaan mereka. Monarki itu adalah Dinasti Abbasiyah, seperti para pendahulunya pada masa Abbasiyah melakukan Islamisasi di daerah-daerah lain. Dari proses inilah kaum muslimin bertemu dengan filsafat.
Jika pada masa pertengahan masehi, dunia Barat mengalami kemunduran secara filosofis dan peradaban karena beberapa factor internal dan eksternal, di dunia Islam justru pada era ini, mencapai kemajuan, di tandai dengan bermunculan para filsus,ilmuwan dan pemikir, dari awal Al-Kindi hingga Ibn Rusyd. Namun beberapa sejarawan barat mengatakan bahwa tradisi filsafat berakhir di tubuh Ibn Sina, yang titandai dengan kritik ortodoksi dari al-Ghazali.
Sedangkan menurut Seyyed Hossein Nasr, Filsafat islam tidak berakhir sampai Ibn Sina dengan filsafat Paripatetik nya saja, ada tradisi lain pasca Ibn Sina, yakni tradisi Filsafat Iluminasi (Isyraaqy), yang cukup berpengaruh di era selanjutnya, terlebih dalam filsafat Syadru al-Din Syirazi (Mulla Shadra).2 Ada beberapa keengganan barat untuk menerjamahkan karya-karya filsuf Iluminasi, salah satunya adala filsafat timur berakhir di Ibn Sina, dan terma-terma Iluminasi terlalu dekat dengan “agama”, tradisi mystic (tasawuf).
Akan tetapi di era sekarang, barat memulai terjemahan karya-karya filsuf Iluminasi khususnya karya Syaikh Isyraaq (Suhrawardi), salah satu penggiatnya adalah Henry Corbin yang terus konsen dalam terjemahan pengumpulan karya-karya Iluminasi. Dan menurut Hossein Nasr, tradisi filsafat dalam islam tidak berakhir sampai Ibn Sina. Perjalanan filsafat islam masih dilakukan, khususnya di kalangan ulama-ulama syiah, terbukti dengan terbentuknya Mazhab Isfahan di Persia (Iran, sekarang), yang dipelopori oleh Mir Damad, selain itu masih di Persia, muncul Mulla Shadra dengan Hikmah Muta’aliyah (teosofi transcendental).
Selain di Persia tradisi-tradisi filsafat islam juga muncul di India salah satu filsufnya adalah Syah Waliiullaah, di dunia Arab ada Mushtafa ‘Abd Al-Raziq.3dalam era sekrang pun filsafat di dunia Islam masih digandrungi, tokohnya ada Jamaluddin Afghani, Mohammed Arkoun, Murtadha Muthahhari, Allamah Husein Thabathabi, Hossein Nasr, Misbah Yazdi. Terma-terma filsafat merka pun masih relevan dengan Islam, dan tidak melupakan tradisi filsafat di dunia.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa filsafat islam itu ?
2.      Bagaimana perkembangan filsafat dalam islam ?
3.      Apa Postmodernisme ?
4.      Bagaimana Filsafat Islam di dalam dinamika Postmodernisme?
C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Untuk memahami makna dan sifat filsafat dalam khazanah intelektual Islam
2.      Untuk memahami Filsafat khususnya perkembangan filsafat dalam Islam
3.      Untuk memahami makna dan perkembangan Postmodernisme
4.      Untuk menganalisa relevansi dan eksistensi makna filsafat islam dalam dinamika Postmodernisme

D.    KERANGKA PENULISAN
Penulisan makalah  ini, terdiri dari tiga Bab
1.      BAB I.PENDAHULUAN
a.       LATAR BELAKANG
b.      RUMUSAN MASALAH
c.       TUJUAN PEMBAHASAN
d.      KERANGKA PENULISAN
2.      BAB II PEMBAHASAN
a.       FILSAFAT ISLAM
b.      POST-MODERNISME
c.       EKSISTENSI FILSAFAT ISLAM DI PERGUALATAN PEMKIRAN POSTMODERNISME
3.      BAB III KESIMPULAN





BAB II
PEMBAHASAN
A.    FILSAFAT ISLAM
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philo artinya cinta dan shopia artinya kebijaksanaan. Filsafat pada mulanya berarti memandang benda-benda di sekitar dengan penuh perhatian. Kata filsafat digunakan dengan banyak cara, sebagain secara luas dan sebagain secara sempit. Dan pembahasan-pembahasan filsafat biasanya diawali dengan pertanyaan-pertanyaan  radikal dan membutuhkan jawaban-jawaban radikal pula, dan itu tidak lah mudah harus melalui perenungan-perenungan dan wawasan yang luas.
Berbicara mengenai terma filsafat tidak akan pernah lepas dari peradaban dan kebudayaan Yunani Kuno, di era ini muncul beberapa orang yang mempertanyakan hakikat wujud, sumber wujud, semesta (universe), sehingga dari permasalahan seperti yang demikian itu  hadir para filosof seperti Thales, Anaximenes, Anaximandros, Phyatgoras yang biasa disebut dengan para Filsuf Alam yang pembahasan filsafatnya berpusat pada kosmos. Pasca Filsuf Alam, muncul Socrates,Plato,Aristoteles, yang pembahasannya lebih kepada manusia itu sendiri (microcosmos). Jika Socrates menekankan bahwa dialog merupakan subsastansi dari kemanusiaan, Plato dengan Idealisme,imortalitas semestan dan konsep mengenai Negara Utopia, lalu Aristoteles dengan Metafisika, Etika, dan yang paling penting dari Aristoteles adalah mengani Logika, sehingga apabila kita membahas logika tidak akan lepas dari pendapat-pendapat Aristoteles.
Pasca filsafat Aristotelian (meskipun jarak zaman mereka cukup jauh) ada seorang filsuf yaitu Plotinus yang merupakan pengikut mazhab Plato dan sering tulis dalam sejarah sebagi pendiri mazhab Neo-Platonis, menurut penulis perlu disinggung dalam makalah ini, karena doktrin Neo-Platonik sangat berpengaruh dalam perkembangan filsafat di dunia Islam, selain doktrin Aristotelian. Metafisika Plotinus berangkat dari suatu Trinitas Suci : Yang Esa, Ruh, dan Jiwa. Ketiganaya berbeda dangan pribadi-pribdi dlam Trinitas Kristiani, yang esa adalah yang tertinggi, Ruh di tempat berikutnya, dan Jiwa yang terakahir.1

Latar belakang Filsafat Islam

Seperti yang telah diungkapakan sebelumnya terma filsafat sangatlah dinamis jika diperbincangkan, bahkan di era sekarang pun filsafat masih di gandrungi oleh para pengkajinya. Lalu bagaimana dunia Islam sendiri ketika membahas filsafat ?, dalam menjawab persoalan tersebut tidaklah mudah, Bertrand Russel mengungkapkan Filsafat adalah adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah, antara teologi dan sains, semua pengetahuna definitive –dalam istilah Russel- termasuk sains, semua dogma  yang melampaui pengatahuan definitive, termasuk ke dalam teologi. Akan tetapi di antara teologi dan sains terdapat sebuah wilayah yang tidak dimiliki oleh seorang mansiapun, yang tidak terlindungi dari serangan di kedua sisinya, wilayah tak bertuan ini adalah filsafat.2
Jiika melihat kepada Russel, ada teologi dan sains, dalam islam pun ada teologi (kalam). Kalam islam dalam perkembangan sejarahanya sangatlah dinamis sehingga bermunculan mazhab-mazhab kalam dari yang sangat rasional hingga scriptural. Filsafat muncul dalam khazanah intelektual islam adalah ketika Islam mulai menyebar keseluruh penjuru dunia, dan berkenalan dengan agama lain bahkan dengan filsafat,juga theology skolastik awal. Menurut Fazlur Rahman pada saa itu juga dipengaruhi karya-karya filsafat dan sains Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab pada abad ke-2 H/8 M, bercabang dan berkembang menjadi suatu gerakan pemikiran filosofis dan ilmiah yang cemerlang dan kuat, yang menghasilkan karya-karya yang orisinalnya bernilai tinggi di abad ke-3H/9M sampai abad ke-6 H/ 12 M.3
Dari proses perkenalan itu terjadi dialektika, satu sisi umat islam harus mempertahankan aqidahnya sisi lain dia juga menerima kerangka filsafat dari non-islam yang tidak sama dengan kerangka islam sebelumnya, dari proses terjemahan karya-karya filsafat yunani inilah, para filsuf islam mulai mengomentari bahkan ada yang mengaimini dengan sedikit elaborasi.
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim, namun menurut Oliver Leaman dalam di sesederhana itu, dalam perkembangannya ada juga orang non-muslim yang berkerja dengan gaya dan dalam tradisi filsafat Islam.4 Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam5
Dalam tradisi Islam istilah-istilah yang digunakan bagi filsafat Islam dan juga perdebatan antara filosof, teolog, dan terkadang sufi, mengenai makna istilah-istilah Falsafah dan Hikmah, dalam beberapa hal, cukup bervariasi dari satu periode ke periode lain, meskipun tidak selamnya demikian.
Hikmah dan falsafah  tetap digunakan, namun yang menjadi perdebatan besar adalah hikmah, yang diklaim banyak oleh kaum sufi, mutakallimun, maupun filosof. Tokoh Sufi Ibn ‘Arabi menyebut kebijkasanaan yang terpapar melalui setiap manifestasi (pengejawantahan) logos sebagai hikmah. Sedang mutakallimun Fkhr Al-Din Al-Razi mengkalim kalam  dan bukan falsafah-lah yang dimaksud dengan hikmah.
Beberapa definisi yang berasal dari Yunani dan yang paling lazim di kalangan filosof Islam adalah sebagai berikut :

·         Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud
·         Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiah dan yang insaniah
·         Filsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian
·         Filsafat prasyarat bagi hikmah
Para Filosof Isalm memikirkan benar-benar definisi-definisi tentang falsafah ini, yang mereka warisi dari sumber-sumber kuno dan yang mereka identifikasi dengan istilah Quran hikmah karena merka percaya bahwa asal-usul hikmah bersifat Ilahi. Filosof Islam pertama Abu Ya’qub Al-Kindi menulis dalam Fi Al-Falsafah al-Ula, “Filsafat adalah pengetahuan tentang realitas hal-hal yang mungkin bagi manusia, karena tujuan puncak filosof dalam pengetahuan teoritis adalah untuk memperoleh kebenaran, dan dalam pengetahuan praktis untuk berperilaku sesuai dengan kebenaran.
Al-Farabi, menerima definisi filsafat Al-Kindi, akan tetapi dia menambahkan perbedaaan antara filsafat yang didasarakan pada kepastian atau keyakinan (al-yaqiiniyyah) dan filsafat yang didasarkan pada opoini atau dugaan (al-mazhnuunah), kemudaian menegaskan bahwa filsafat adalah induk ilmu-ilmu dan mengkaji segala yang ada. Menurut Ibn Sina “Al-Hikmat adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan Jiwa melalu koseptualisasi (tashawwur) atas segala hal dan pembenaran (tashdiq) realitas-realitas reoretis dan praktis berdsarkan ukuran kemampuan manusia. Ada yang dengan Ibn Sina ialah Ikhwan Al-Shafa menurut dia “Permulaan Filsafat adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan tentnag reaitas wujud sesuai ukuran kemampuan manusia, dan pamungkasanya adalah kata dan perbuatan yang sesuai denga pengetahuan itu.
Bersama Suhrawardi, kita memasuki bukan hanya periode baru, melainkan juga dunia lain filsafat Islam, sebagai pendiri perspektif intelektual baru dalam Islam, Suhrawardi lebih suka menggunakan istilah hikmal al-isyraaq  daripada falsafah al-isyraaq. Bahwa Suhrwardi dan semua filosof islam sesudahnya memandang hikmah pertama-tama dan terutama sebagai al-hikmah al-ilaahiyyah (secara harfiah, kebijaksanaan Ilahi atau teosofi) yang harus direalisasikan dalam sosok utuh manusia dan bukan hanya secara mental.
Lalu ada Mulla Shadra yang merangkum sebagian dari definisi para pendahulunya, “Falsafah adalah upaya penyempurnaan atas jiwa melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala sesuatu, sebagaiamana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka yang ditetapkan atas dasar demosntrasi (Burhan) dan bukan diturunkan dari opini atau dugaan”.
Dalam buku pertama dari Asfaar-nya Mulla Shadra membicarakan definisi hikmah : “Hikmah bukan hanya pengetahuan teoretis dan menjadi sebuah dunia intelijibel yang mencitrakan dunia intelijibel yang objektif, melainkan juga keterceraian dari nafsu dan kesucian jiwa dari cemaran-cemaran materiilnya  yang oleh filosof sebelumnya disebut sebagai tajarrud atu katarsis.
Mulla Shadra menerima makna hikmah  sebagai mana yang dipahami oleh Surhawardi, dan kemudian mengembangkan dan  memperluas makna falsafah dengan memasukkan dimensi iluminasi (pencerahan) dan realisasi yang diimplikasikan oleh pmehamana kaum Isyraqi dan kaum sufi terhadap istilah itu. Menurutnya, Falsafah atau filsafat dinilai sebagai ilmu tertinggi yang berasal-usul dari azali dari Tuhan, yang bersal dari “ceruk kenabian” dan hukama, yang dipandang sebagai sosok manusia paling sempurna dan mempunyai keududkan hanya, di bawah para nabi dan imam.
Baik karya maupun kehidupan para filosof muslim bukan hanya menjadi saksi dan bukti atas perhatian panjang mereka selama lebih dari seribu tahun terhadap konsep dan istilah filsafat, melainkan juga menunjukan signifikansi definisi dari Islam tentang filsafat sebagi realitas yang mengubah pikiran dan sekaligus jiwa, serta realitas yang pada hakikatnya tidak pernah bisa dipisahkan dari kemurnian dan kesucian spiritual tertinggi yang merupakan implikasi dari istilah hikmah dalam konteks Islam.
Sekilas Tentang Iluminasi (Al-Isyraaqy)
Dalam pembahasan sebelumnya penyusun  sudah singgung sedikit tentang Filsafat Iluminasi yang di ususng oleh Suhrawardi. Syaikh Al-Isyraq nama yang dinisbahkan kepada Suhrawardi, di lahir di Desa Suhraward di dekak kota Zanjan  dalam Persia modern pada tahun 549/1153. Ia menermi pendidikan awalnya bersama Majd Al-Din Al-Jili di Maraghah lalu pergi ke Isfahan menempuh pendidikan formalnya bersama Dhahir Al-Din al-Qari, setalah itu melancong ke Persia dan menemui beberapa guru sufi.6
Pada tahun 587/1191 ia meninggal dan sebab langsung kematiannya tidak diketahui, yang memang sebelumnya ia dijebloskan ke penjara, dengan dalih menyelewangan terhadap agama. Dalam jengkal kehidupannya yang pendek, Suhrawrdi menulis hampir lima puluh karya baik dalam bahasa Arab atau Persia yang sebagian besarnya masih ada.7
Makna Iluminasi (Isyraaqy)
Dalam bahasa Filsafat, Illumination mempunyai pengeritan sumber kontemplasi, perubahan bentuk dari kehidupan emosional untuk mencapai tindakan dan harmoni. Kata isyraaqy  diartikan ilminasi sekaligus cahaya pertama pada saat pagi hari, seperti cahaya matahari dari timur.8 Akan tetapi Filsfata iluminai tidak boleh dianggap “Timur” dalam pengertian cultural ataupun geografis, tetapi lebih menekankan “iluminasionis” (isyraaqy, agar tak terkacaukan dengan masyriiq).9
Suhrawardi merupakan failasuf pertama dalam sejarah filsafat yang membedakan dua pembagian metafisiska : metaphysica generalis, sebagaimana yang dipegang oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar tentang subjek-subjek eksistensi,kesatuan, substansi,aksiden,waktu, gerak, dan sebagainya.
Metaphysic specialis, melibatkan pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis masalah-masalah supra-rasional seperti eksistensi dan pengetahuan Tuhan. “imajinasi” subjek yang mengetahui, “pembuktian” terhadap yang riil, yang disebut mundus imaginalis (‘alam al-khayal).10
Selain dalam masalah metaphysic filsafat iluminasi juga berpengaruh dan memiliki dampak cukup besar dalam bidang semantic. Masalah dalam logika ini antara lain adalah tipe penandaan; hubungan antara nama-nama kelas dengan angggota kelas; tipe-tipe cara untuk memasukkan anggota dalam kelas, dan mungkin yang paling  signifikan dari sudut pandang sejarah logika teori pengandaian yang  terdefinisi dengan baik (pemakaian terbatas dan tak terbatas dalam kuantifikasi).11
Menurut Suhrawardi, seluruh realitas tak lain dari cahaya yang memiliki beragam tindakan dan intensitas. Ia tidak memerlukan definisi, karena orang selalu mendefinisikan ketidakjelasan dan tidak ada yang leibh jelas dan lebih jernih dari cahaya. Maka tidak ada apapun yang bisa didefinsikan dalam istilah-istilah.12
Esensi Cahaya Mutlak Pertama, Tuhan, memberikan penyinaran konstan, yang dengan  itu ia termanifestsi dan membawa segala sesuatu pada keberadaan (eksistensi). Memberikan kehiupan kepadanya dengan sinarnya. Segala sesuatu di dunia berasal dari cahaya esensi-Nya dan segala keindahan dan kesempurnaan merupakan karunia dari rahmat-Nya, yang pencapian sepenuhnya pada iluminasi ini merupakan penyelamatan (salvation).13
Tujuan dasar filsafat Ilumnias Suhrawrdi adalah merumuskan jalan yang jelas menuju suatu kehidupan filosif sekaligus merupakan saran yang secara “ilmiah” lebih valid untuk meneliti sifat dan hakikat sesuatu serta sarana untuk mencapai kebahagiaan, dan juga jalan untuk meraih kebijaksanaan yang lebih praktis yang dapat dan harus digunakan untuk mengabdi kepada kekuasaan yang adil.14
Tradisi Kritik Iluminasi Suhrawardi
Meskipun Filsafat Iluminasi Suhrawardi terlahir dari embrio Filsafat Paripatetik, ia tidak menghilangkan kritik terhdap filsafat paripatetik. Ia menngkritik theisi Ibnu Sina mengenai pembedaan antara esensi dan eksistensi,15 eksistensi merupakan prinsip dan realitas esensi tergantung pada eksisetinsi. Bagi Suhrawardi, setidaknya sesuai dengan interpretasi umum atas pernyataa-pernyataan, esesni sesuati itulah yang memiliik realita dan merupakan prinsip, sedang eksistensi memainkan peran sampingan dari aksiden yang ditammbahkan pada esensi.16
Ia juga menyingkirakn dasar pembedaan yang dibuat para filosof antara Tuhan dan manusia. Sejajar denga itu, ia menyangkal pembedaan antar kemungkinan dan kemestian dan menyatakan pembedaan-pembedaan ini sebagai semata-mata bersifat mental dan subyektif. Lebih lanjut, ia menyerang ide dualita antar materi dan bentuk dan merusukan suatu doktrin tentang eksistensi murni yang hanya mentolelir perbedaan satu-satunya dalam eksistensi itu sendiri yang menyangkut ‘lebih atau kurang’ atau ‘lebih sempurna dan kurang sempurna’.17
B.     POST-MODERNISME
Istilah Posmodernisme sangat membingungkan, bahkan meragukan. Asal usulnya adalah dari wilayah seni: Musik, seni rupa, roman dan novel, drama, fotografi, dan arsitektur. Dan dari situ merembet menjadi istilah mode yang dipakai oleh beberapa wakil dari beberapa ilmu.18
Istilah ‘postmodernisme’ memang tidak mudah didefinisikan, ambigu dan mengundang perdebatan. Kaya Yilmaz 19 memaparkan tiga alasan utama mengapa istilah ‘postmodernisme’ tidak mudah untuk didefinisikan.
 Pertama, karakter dasardi dalam postmodernisme yang anti fondasional dan anti esensial mengisyaratkan suatu penolakan terhadap definisi. Dalam pengertian konvensional ‘definisi’ selalu mengandung makna fondasional (memaparkan hal-hal yang mendasar) dan esensial (mencari hal-hal yang hakiki dan bukan artifisial). Nicholson, menyatakan: ‘berbeda dengan modernism, postmodernisme harus menolak suatu deskripsi tentang dirinya sebagai serangkaian ideal yang tak terikat dengan waktu,; postmodernisme harus dipahami sebagai serangkaian sudut pandang pada suatu waktu, hanya absah di dalam waktunya sendiri.’
 Kedua, postmodernisme bukanlah teori, perspektif atau kacamata tunggal, sistematis dan koheren, tetapi lebih merupakan kecenderungan intelektual atau gabungan perspektif intelektual yang ditarik dari berbagai teori dan gerakan semisal fenomenologi, hermeneutika, poststrukturalisme, semiotika, teori kritis dan neopragmatisme, yang memiliki kesamaan pandangan di dalam menyoal asumsi-asumsi dasar di dalam modernism.
Ketiga, tokoh-tokoh utama yang menyembulkan dan menyemai ide-ide postmodernisme seperti Derrida, Lyotard, Foucault, Baudrilard, Lacan, Jameson, Kristeva, atau Rorty tidak memberikan uraian atau gambaran ringkas tentang postmodernisme. Mereka menulis sesuai dengan fokusnya masing-masing.
Cak Nur memberikan pandanganya mengenai post-modernisme yang hampir sama dengan pandangan-pandangan di atas; “Namun, seperti para pemikir pascamodernisme sendiri telah mengakui dan memang mustahil mengingkari, ada kesinambungan organik antara modernitas dan pascamodernitas. Garis kelanjutan itu telah terlebih dahulu melahirkan situasi dilematis di kalangan mereka sendiri, karena mereka, sementara berkehendak untuk melakukan “dekonstruksi” kemapanan-kemapanan,namun kemampuan melakukan dekonstruksi itu sendiri masih merupakan fungsi dari modernitas. Dengan kata lain, agaknya hanya orang, komunitas atau bangsa modern yang mampu mengembangkan pascamodernisme sebagai suatu kelanjutan wajarnya, mereka yang telah menyertai pandangan Humaniora Pencerahan”.20
Dalam makalah ini penyusun mencoba untuk melihat postmodernisme dari sadut pandang yang mungkin tidak terlalu popular, biasanya postmodernisme membahas gejala-gejala sosilogis, dan “narasi besar” modernism.
Kevin O’Donnell menyinggung Carl Gustav Jung seoranng Psikoanalis, O’Donnell menugngkapkan; Jung berbeda paham dengan Freud tentang tafsiran mimpi, dan ia menjabarakan teori yang bebeda tentang bawah sadar. Ia memberi peran sentral dalam hidup manusia pada symbol, misteri, roh dan yang tak dapat dikatakan. Penemuan kembali hal-hal penuh rahasia, tidak sempurna dan puitis merupakan aspek kunci posmodernisme. 21
Ketika membahas alam bawah sadar menurut Jung yang di kutip ole Kevin O’Donnell, bahwa diri yang dasar merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan ia berbicara tentang “Diri” dan “diri”. Diri (dengan capital) dipandang sebagai pengalaman kolektif manusia, yang darinya kita semua dapat menyadap. Diri (dengan capital) merupakan lilitan satu lingkaran, di mana diri berada tegak di tengahnya. Konsep Diri sebagi lapisan terdalam keberadaan kita diambil alih oleh berbagai aliran terapi. Mistsme Era Baru mengklaim istilah itu untuk hakikat spiritual kita, dan meminjam dari pemikiran Timur, mendeklarasikan Diri Sebagai bagian dari Allah.22
Lyotard berargumentasi untuk meninggalkan metanarasi, tetapi ia membiarkan cahaya transcendental memercikkan sinarnya. Ia menulis tentang pengalaman tentang yang luhur, hal yang melampaui  kata-kata dan bentuk, semacam perasaan kagum dan terkena pralinguistik. Ini bagian dari kehidupan, dan tidak boleh diabaikan, disangkal atau diedit diluar wacana. Karena ia melampaui bentuk, maka paling baik orang mengacunya dalam tulisan avant-grade dan seni abstrak. Itu adalah misteri yang tak terungkapkan. Kita hidup dalam rangkulnya. Lyotard berteriak demi masyarakat yang terbuka baik bagi rasa keadila maupun bagi yang tidak diketahui 23
Dalam salah satu Jurnal Teosofi : Jurnal Tasawuf dan pemikiran Islam karya Ghozi, ada yang menyinggung spiritualitas posmodern, dia membagi dua Spiritualitas, dalam arti sempit yakni spritualits dalam kerangka agama atau ordo tertentu dan arti luas yakni spiritualitas kemausiaan, tanpa harus ada agama atau ordo.
Dalam teologi posmodernisme Griffin24, terdapat empat prinsip spiritual postmodern:
·       keutamaan energi spiritual (primacy of spiritual energy) pondasi dari seluruh energi sosial—termasuk juga ekonomi, politik, dan budaya—adalah spiritual. Spiritualitas merupakan sumber legitimasi dan tranformasi sosial terdalam.;
·  spiritual sebagai perwujudan (embodied spirituality) Spiritualitas posmodern dapat digambarkan sebagai sebuah perwujudan. Hal ini berbeda dengan pemikiran klasik tentang transendensi tanpa wujud. Spiritualitas posmodern tidak memungkiri tentang kebenaran transendensi visi Tuhan. Akan tetapi, saat ini dibutuhkan energi spiritual yang mengakar dalam materi: pertama,-dalam diri, selanjutnya dalam konteks masyarakat, dan terakhir dalam alam semesta. Tubuh, masyarakat, dan alam adalah mediator utama ‘misteri’ pada kita.
·      alam sebagai perwujudan spiritual (nature as spiritual embodied) alam sebagai perwujudan spiritual. Dalam pandangan spiritualitas posmodern, tubuh manusia merupakan titik awal keterlibatan dan perwujudan sejarah dengan seluruh proses duniawi dan, bahkan, seluruh alam semesta;
·         masyarakat sebagai pengembangan spiritual manusia (society as human development spirituality) penjelmaan spiritualitas posmodern, yakni masyarakat yang diekspresikan sebagai sejarah dan mengkristal dalam institusi dan tradisi.
Teologi posmodern merupakan pencarian masyarakat Barat yang berusaha menyelesaikan permasalahan spiritualitas mereka, hubungan mareka dengan ‘Tuhan’ mereka. Sebelum gagasan ini muncul, telah muncul beberapa gagasan tentang teologi Barat seperti gagasan ‘Civil Religion’ yang ditawarkan oleh Robert N. Bellah dalam karya monumentalnya, Beyond Belief Gagasan civil religion ini juga merupakan respon atas krisis spiritulitas Barat, khususnya masyarakat Amerika.25
Bellah mencoba menangkap makna Tuhan yang disampaikan oleh beberapa Presiden Amerika dalam pidato resminya dan tokoh-tokoh penting negara Paman Sam tersebut yang tidak pernah menjelaskan ‘Tuhan’—dalam agama apa dan dalam konsep apa. Singkatnya, Bellah menyimpulkan konsep tentang Tuhan yang disampaikan oleh para tokoh tersebut sebagai ‘Tuhan’ yang mungkin dipahami berbeda oleh masyarakat Amerika, namun merupakan ‘Tuhan’ yang menjadi ‘pemersatu’ mereka. Tuhan tersebut lebih berhubungan dengan aturan, hukum, dan hak daripada terhadap keselamatan atau cinta.6 Dari sini, konsep Tuhan tersebut terkesan jauh dari transendensi agama-agama semitik dan lainnya.26



Kredo Postmodern 27
·         Terbukalah
·         Terbuka terhadap panggilan dan kehadiran
·         Hargailah Anugerah
·         Toleran terhadap orang lain dan pandangan mereka
·         Apa yang menurut pikiran kita ada mungkin tidak selalu benar
·         Jangan takut akan hal-hal besar
·         Cinta itu ada
·         Rasakan misteri berembus di wajahmu
·         Kehidupan bukannya bebas-untuk semuanya secara acak

Eksistensi Filsafat Islam di Pergualatan Pemkiran Postmodernisme
Seperti yang telah penyusun uraikan di atas bahwa perkembangan filsafat dalam islam begitu kompleks, bahkan di era sekrang tidak sedikit para filsuf, mengambil ide-ide dasar dari kebijaksanaan para filsuf islam sebelumnya, khususnya filsafat Iluminasi, yang belakangan di kaji oleh Henry Corbin.29
Di era sekarang banyak yang menyebut era post-modern, meskipun istilah itu masih banyak dipertanyakan salah satunya oleh Cak Nur30. Meskipun istilah postmodern di awali dari bahasa seni dan merembes kepada istilah-istilah sosial, Lytard lah yang membawa postmodern kepada ranah filsafat, yang menentang Grand narasi (Narasi besar) –nya modernism.
Syafwan Rozi membuat klasifikasi pemikiran di era post-modern ini. Pertama, yang mervisi pemikir modernitas, namun cenderung kembali ke pola permikiran pra modern seperti metafisika New Age. Tokohnya seperti Capra,Zuvar,dan sebagianya. Kedua, pemikiran yang mervisi modernisem tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan perbaikan sana-sini yang dirasa perlu. Tokohnya Whitehead,Gademer,dan sebgainya. Ketiga,pemikiran yang memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekedar efek samping dari pemikiran pencerahan, melainkan sebagi sesuatu yang melekat di dalamanya.31
Penyusun mengambil konsep yang pertama ketika membahas postmodern dalam makalah ini, asumsi yang di bangun bahwa filsafat tidak hanya membicarakan hal yang empirik dan positivis saja, yang kedua aliran ini selalu di kritik oleh sebagian orang disebut pemikir postmodern32. Jika melihat kepada klasifikasi pertama postmodern juga cenderung kembali kepada metafisika NewAge yang tandai dengan metafisikanya Plotinus.
Filsafat islam pun membahas beberapa metafisika, meskipun filsuf-filsuf seperti Al-farabi dan Ibn Sina terperngaruh oleh metafisikanya Aristoteles, yang berujung dengan aliran Paripatetiknya, filsafat islam tidak berthenti disitu, Suhrawardi pengusung konsep Iluminasi dan ia pun memiliki konsep metafisikanya tersendiri.
Suhrawardi merupakan failasuf pertama dalam sejarah filsafat yang membedakan dua pembagian metafisiska : metaphysica generalis, sebagaimana yang dipegang oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar tentang subjek-subjek eksistensi,kesatuan, substansi,aksiden,waktu, gerak, dan sebagainya. Metaphysic specialis, melibatkan pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis masalah-masalah supra-rasional seperti eksistensi dan pengetahuan Tuhan. “imajinasi” subjek yang mengetahui, “pembuktian” terhadap yang riil, yang disebut mundus imaginalis (‘alam al-khayal).33
Selain dalam masalah metaphysic filsafat iluminasi juga berpengaruh dan memiliki dampak cukup besar dalam bidang semantic. Masalah dalam logika ini antara lain adalah tipe penandaan; hubungan antara nama-nama kelas dengan angggota kelas; tipe-tipe cara untuk memasukkan anggota dalam kelas, dan mungkin yang paling  signifikan dari sudut pandang sejarah logika teori pengandaian yang yang terdefinisi dengan baik (pemakaian terbatas dan tak terbatas dalam kuantifikasi).34
Menurut Dr. A. Hasan Ridwan, dalam buku Dasar-dasar Epistemologi Islam, Suhrawardi menggabungkan dua kebijaksanaan, yaitu kebijaksanaan ekperensial, dan kebijaksanaan diskursif, adalah pemikiran yang secar aplikatif akan membuat umat islam tidak hanyut dalam perkembangan zaman, tetapi sebaliknya, dapat mengendalikan dan mewarnainya, baik dari segi materiil, mental maupun spiritual.35.
Perspektif ini menyediakan kunci untuk memahami agama atau agama-agama secara utuh dengan segala kompleksitas, teka-teki, dan pluralitasnya. Selain itu, ia juga menghasilkan kunci-kunci tertentu untuk membuka pintu-pintu yang menutup jalan manusia modern. Solusi yang mereka usulkanuntuk menganggulangi maslah-masalah yang timbul dari studi agma dan hubungan antar agama dalam konteks dunia sekuler modern patut dipertimbangkan secara serius oleh semua yang tertarik dengan makna keagamaan dari studi agma sekarang, juga merka yang mempunyai perhatian terhadap hakikat dan nasib manusia sebagai makluk yang jati dirinya terbentuk dari realitas yang menjadi perhatian agama yang dipahami secar perennial.36
Filsafat Iluminasi yang dibangun oleh Suhrawrdi terkesan sebagi gerakan elektik, yang di dalamnya tergabung unsur-unsur Islam,Zoroasterianisme, Hellenisme, dan lainnya.35 Sehingga gagasan filsafat Iluminasi Suhrawardi masih cukup bergema sampai sekarang. Oleh karena itu, implikasinya dapat menghasilkan nuansa harmoni dalam kehidupan, dan memberi fungsi filosofis dan spiritual dalam memaknai hidup di tengah  ide-ide postmodernisme muncul seperti relatifisme


BAB IV
KESIMPULAN
Filsafat Islam adalah bersifa isalam, bukan hanya kerna ia dibudidayakan di Dunia Islam dan dilakukan oleh kaum Muslim, melinkan juga karena menjabarakan prinsip-prinsp dan menimba inspirasi dari sumber-sumber wahyu Islam, sert mengangai banyak permasalan denga sumber-sumber wahyu Islam, serta mengangi banyak permasalahan dengan sumber-sumber Islam. Semua filosof Islam sejak Al-Kindi hingga filosof terkini seperti ‘Allamah Thabathaba’I, hidup dan bernapas di dalam sebuah dunia yang didominasi oleh realita Al-Quran dan Sunnah Nabi.
Filsasfat Islam pada dasarnya merupakan hemeneutika filosofis ats teks sakral di samping memanfaatkan khazanah filsafat zaman purba, itulah sebabnya menganpa filsafat Islam selama berabad-abad hingg hari ini tetap merupakan salah satu pespektif intelektual utama dalm peradaban Islam dengan akar yang tertanam dalam Al-Quran dan hadis, dan sama sekali bukanla sebuah fase asing dan sementara dalam sejarah pemikiran Islam.
Sedangkan Postmodernisme sendiri terbagi kedalam tiga kelas :
A.    Pertama, yang mervisi pemikir modernitas, namun cenderung kembali ke pola permikiran pra modern seperti metafisika New Age.
B.     Kedua, pemikiran yang mervisi modernisem tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan perbaikan sana-sini yang dirasa perlu.
C.     Ketiga,pemikiran yang memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekedar efek samping dari pemikiran pencerahan, melainkan sebagi sesuatu yang melekat di dalamanya.
Lyotard berargumentasi untuk meninggalkan metanarasi, tetapi ia membiarkan cahaya transcendental memercikkan sinarnya. Ia menulis tentang pengalaman tentang yang luhur, hal yang melampaui  kata-kata dan bentuk, semacam perasaan kagum dan terkena pralinguistik. Ini bagian dari kehidupan, dan tidak boleh diabaikan, disangkal atau diedit diluar wacana. Itu adalah misteri yang tak terungkapkan. Kita hidup dalam rangkulnya. Lyotard berteriak demi masyarakat yang terbuka baik bagi rasa keadila maupun bagi yang tidak diketahui. Dan salah satu kreso dari postmodernisme adalah : Cinta itu ada, Rasakan misteri berembus di wajahmu, Hargailah Anugerah, Terbuka terhadap panggilan dan kehadiran.
Meskipun Lyotard mengkritik metanarasi,tetapi dia masih bingun untuk menjelaskan hal-hal yang metafisika, sehingga dia menulis pengalaman pribadinya seperti diatas, hamper ada kesamaan dengan doktrin iluminasi, akan tetapi dia masih memandang cahaya dengan sisi transcenden (berada diluar), sedangkan doktrin iluminasi memandang cahaya secara imanen (berada didalam). 
Dari sinilah penyusun, memandang eksistensi filsafat islam di pergulatan postmodern, ketika krisis spiritual orang-orang modern tak terelakkan lagi. Seperti yang di katakana oleh A.Hasan Ridwan, filsafat iluminasi dapat menghasilkan nuansa harmoni dalam kehidupan, dan memberi fungsi filosofis dan spiritual dalam memaknai hidup.


1. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal 403
2. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 19
3.Ibid,35
1.Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal 392
2. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal xiii
4.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 2
5. Ibid, hal 29
6.Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, Terj. Maimun, Ircisod, Jogjakarta, hal.103
7.ibid, hal 107
8.Dasar-dasar epistemology dalam Islam, Ahmad hasan ridwan dan Irfan Safrudin, Pustaka Setia, Bandung, Hal.153
9.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal 552
10. Ibid, 553
11. Ibid, hal 554
12.Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, Terj. Maimun, Ircisod, Jogjakarta, hal.126
13.ibid, hal 127
14. .Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal,553
15. Fazlur Rahman,Islam, terj. Ahsim Mohammad, Pustaka, Bandung 2010, hal 178
16. Ibid, hal 123
18. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 23
19. TEOLOGI POSMODERN: MENIMBANG KONSEP NATURALISME-TEISTIK,Ghozi, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam,Volume 01, Nomor 02, Desember 2011, hal 92
20.Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 3, Budi Munawar-Rachman, Mizan, Bandung,2006, hal 2351
22.Postmodernisme, Kevin O’Donnell, Kanisisu, Jogjakarta,2009,hal 70
23.Ibid, hal, 138
24. TEOLOGI POSMODERN: MENIMBANG KONSEP NATURALISME-TEISTIK,Ghozi, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam,Volume 01, Nomor 02, Desember 2011, hal 138
26. Ibid, hal 97
27. Postmodernisme, Kevin O’Donnell, Kanisisu, Jogjakarta,2009,hal 152
28.Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal
39. lihat hal 12
30.Syafwan Rozi,Agama dan Postmdernisme : Menelusuri Metologi dan Pendekatan Studi-Studi Agama, Jurnal Ilmu Ushuluddin, Volume 1, Nomor 3, Januari 2012, hal 233.
31.Ben Agger, Critical Social Theories; An Introducing, Terj. Nurhadi, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003, hal 2
32. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Buku Pertama, Editor S.H. Nasr dan Oliver Leaman, terj. Tim penerjemah mizan, Mizan, Bandung, 2003, hal553
33.Ibid, hal 554
34. A.Hasan Ridwan, Dasar-dasar Epistemologi Islam, Pustaka Setia, Bandung,2011,hal 162
35. Ibid,hal 163

  1.  

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.