Sabtu, 20 Juli 2013

ORANG TUA

          Mendengar kata orang tua, pasti kita akan melihat sesosok manusia yang tua renta, rambut sudah beruban,jalan pun sudah sempoyongan, tapi dalam tulusian ini di khususkan untuk bapak dan ibu (saya biasa memanggil mereka  mamah & bapa). Kehidupan di dunia ini tak terlepas dari hukum alam, salah satu hukum alam adalah hukum kausalitas (sebab-akibat), dimana ada akibat pasti disana ada sebab, nah orang tua adalah salah satu sebab kita terlahir di dunia ini. mereka lah yang bisa membuat kita/saya bisa seperti ini, karena tanpa orang tua, mungkin kita/saya tidak akan bisa seperti sekaranga ini. Mereka bekerja tanpa lelah dan tanpa jasa sepeserpun, bekerja dengan sepenuh hati dan cinta kasih, karena orang tua adalah salah satu wakil Tuhan di muka bumi, bahkan seorang Nabi/Rasul pun tidak akan lahir tanpa adanya manusia yang kita sebut orang tua.
          Memang orang tua saya bukanlah orang nomer satu di Indonesia, bukan juga seorang priyai, bukan anggota badan legislatif,yudikatif, ataupan eksekutif, bukan juga seorang saintis, bahkan bukan pula seorang nabi atau rasul, meskipun orang tua saya bukan seorang seperti di atas tapi saya sangat bangga mempunyai orang tua seperti mereka. sedikit cerita ketika masa kecil saya, dulu ketika disuruh untuk mengisi data orang tua, saya selalu minder, mengapa ? ya, ketika melihat biodata orang tua teman-teman saya, mereka menulis nama orang tuanya ada yang dia awali dengan Drs., S.Ag, BA, M.BA, dan gelar-gelar yang lain, biasanya juga dalam tulisan biodata orang tua suka ada kolom jenjang pendidikan orang tua, teman-teman saya menulis dengan bangga, lulusan sarjana, SMA.Hal  iniliah yang membuat saya minder karena orang tua saya hanyalah lulusan SD dan SMP. Namun dengan berkembangnya kedewasaan, saya tidak merasa minder lagi, karena saya tahu orang tua saya, bagaimanapun mereka orang hebat, ketika orang lain mempunyai anak hanya 3,4 bahkan ada yang 1, karena ikut program pemerintah (KB), tapi orang tua saya memilki anak 11, jadi saya adalah seorang yang mempunyai 10 saudara. sekali lagi saya bangga dengan hal.
          Dan di tahun 2012, meskipun orang tua saya bukan seorang lulusan sarjana, tetapi dia bisa meluluskan anak pertamanya (kakak saya) menjadi seorang sarjana komunikasi di UIN SGD Bandung,anak keduanya sedang menyelesaikan kuliahnya di UPI jurusan PGSD, anak ketiganya (saya) sedang kuliah di UIN SDG Bandung, jurusasn Hukum Tata Negara Islam, dan adik-adik saya ada yang SMA,SMP, SD dan PAUD. kebanggaanku terhadap orang tua menjadi-jadi, di kala orang lain tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi padahal anakanya cuman 2,3atau 1, tetapi orang saya bisa meskipun soerang lulusan SD dan anaknya 11 mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya.
          Mungkin itulah sepenggal kebanggaanku kepada orang tua, mungkin kawan-kawan bisa mengambil ruh positif dari kehidupan orang tua saya yang hanya lululsan SD. Pesan saya, banggalah anda dengan orang tua bagaimanapun kondisi fisik,mental, jiwa, harta mereka, karena mereka jembatan kita antara dunia ruh dan dunia materi.saya tutup tulisan ini dengan kata mutiara sunda "Indung anu ngandung Bapa anu ngayuga"

MENGGAPAI PELAJARAN DI SETIAP TEMPAT

      Di dalam kehidupan sehari-hari  pasti ada yang namanya manfaat baik itu disadari ataupun tidak. biasanya para orang tua suka memberi wejangan kepada para putranya supaya bisa mendapat hal yang baik dari kehidupannya. Pada umumnya orang-orang berkata dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan kata pelajaran, kata pelajaran sudah tidak asing lagi bagi kita semua, dan saya tidak perlu membahas terlalu panjang tentang makna pelajaran, yang terpenting adalah dalam kehiduan kita bisa mengambil ruh positif untuk bisa berlanjut di kehidupan mendatang.
        Memang kehidupan tidak terlepas dari ruang dan waktu, karena kita masih berada di alam materi. jika seorang yang bijak akan memanfaatkan kehidupan di alam materi ini. semisal Socrates dia adalah seorang filsuf Yunani yang berhasil memetik pelajaran dalam hidup dia,(meskipun berakhir dengan hukum mati), dan dia tidak hanya berhaasil bagi dirinya sendiri, bahkan dia bisa memberi pelajaran kepada orang lain. manusia yang hidup di zaman pra-modern pun mereka bisa mengambil pelajaran yang sangat penting dalam kehidupannya terlebih bisa memberi juga kepada orang lain.
        Mari kita masuk kedalam paradigma manusai era modern, apakah kita bisa mengambil pelajaran dalam tiap hembusan nafas kita ? apakah kita bisa memberi kontribusi pelajaran hidup kepada orang lain? jawabannya terletak pada diri kita masing-masing, mungkin disini saya akan seditkit memamparkan bahwa pelajaran hiudp tidak ada sekat dan batasan, pelajaran tidak hanya bisa di ambil ketika kita disekolah, di kampus, di sekolah-sekolah agama, atau di seminar-seminar. yang pasti orang bijak bisa mengambil pelajaran di manapun dan kapanpun dia berada.
          Menurut pangalaman saya, yang namanya Rumah sakit, adalah tempat yang sangat "tidak disukai", itu sangat jelas sekali, siapa sih orang yang ingin di rawat di rumah sakit, jangankan berbulan-bulan, satu hari saja orang akan merasa bosan dan jenuh dengan kehidupan di rumah sakit, kecuali para perawat,dokter dan orang-orang yang mencari nafkah di rumah sakit. Tetapi apakah kita bisa mengambil pelajaran yang positif di rumah sakit ?, jawabannya tergantung. Manusia adalah makhluk yang sarat dengan keberfikiran, dan semestinya dia bisa mernungkan kejadian-kejadian yang dia alami, terlepas itu baik ataupun buruk. seperti uraian saya di atas orang bijak bisa mengambil ruh positif dimanapun dia berada.
          Sedikit berbagi pengalaman di rumah sakit (saya tidak merasa jadi orang bijak), saya mendapatkan ruh positif di Rumah sakit,(RSP, Dr. H. A Rotunsulu), ketika kakak perempuna saya terjangkit virus tubercolosis, dia di rawat di sana sampai tiga kali, dan yang paling lama ketika pertama kali di rawat, lamanya dua bulan. Apa ruh positif yang bisa saya ambil ?, pada saat kakak saya terjangkit penyakit paru-paru, saya merasa kakak saya adalah yang paling parah terkena paru-paru, namun apa yang saya rasa itu salah besar, di RSP Rotinsulu, banyak orang yang lebih parah dari kakak saya, bahkan ada yang di kasih selang di bagian rusuk, karena ada cairan di paru-paru, ada juga yang terdapat benjolan di paru-parunya (kanker) sampai dia mengalami kerontokan rambut, akibat kemoteraphy, dan banyak lagi yang lebih parah sampai menghembuskan nafas terkahirnya. lalu ketika melihat orang-orang yang menjaga yang sakitnya, ada di antara mereka anak, kakak, adik, suami,istri, bapak, ibu dari orang yang sakit, memang mereka bermacam-macam. Saya sangat salut kepada mereka, terlebih kakak pertama saya, yang sangat telaten mengurusi kakak perempuan saya. apa pelajaran yang bisa kita ambil ? dari uraaian pertama, janganlah menggap bahwa kita yang paling di kasih cobaan terberat oleh Tuhan, karena masih banyak orang yang lebih di kasih cobaan yang lebih berat, dalam al-qur'an di sebutkan "Tuhan tidak akan memberi cobaan kecuali dengan kapasitas manusianya". dan yang kedua, saya melihat kestian sebagai bukti kesetiakawanan sosial orang timur dunia (Indonesia), ada yang membuktikan kesetiannya suami kepada seorang istri meskipum mengalami penyakit yang begitu berat, berbaktinya seorang anak kepada orang tuanya sehingga begitu telaten mengurusi orang tua, cintak kasih seroang bapak,ibu dan kakak kepada seorang adik.
           Jadi, bahwa di dalam kehidupan kita sangat banyak sekali ruh positif yang bisa kita ambil, tidak hanya di lingkungan yang baik dan senangi bahkan di lingkungan yang jelek sekalipun dan tidak di senangi kita dapat mengambil ruh positif, saya tutup dengan ayat suci al-quran " Innaa ma'al 'usry yusro : sesungguhnya di balik keburukan selalu ada kemudan dan laa takhof wa laa tahzan inna Allah ma'ana : jangan sedih dan jangan takut sesungguhnya Tuhan bersama kita"


Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.