Sabtu, 06 Agustus 2016

APA YANG DI PERJUANGKAN ?

Atas nama proses semua dihalalkan, konflik personal hingga komunal di pelihara, alibi untuk mematangkan kedewasaan.

Sebetulnya, apa yang diperjuangkan ?, ketika tanggung jawab di abaikan, kewajiban di lupakan dan hak tidak ditempatkan.

Atas nama ideologi, sikap tertutup di pelihara, atas nama solidaritas, kelompok lain di siksa dan di cerca. Rintihan kaum tertindas terabaikan.

Bukankah umat manusia pada dasarnya saudara ?, tapi kenapa teriakan "lebih dari saudara" selalu di dengungkan.

Jumat, 29 Juli 2016

Jadi Patani

Sudah tiga hari ini, aku mencoba mendalami narasi petani, dari mulai bangun hingga tidur. Sebuah kegiatan yang memerlukan kesabaran juga keuletan. Fenomenolgis menjadi kacamata ku saat ini. Betapa beratnya jadi petani, aku sempat berasumsi, bahwa petani hanya berat secara fisik saja, tapi tidak setelah tiga hari ini, aku pastikan, petanipun berat dalam kerja otak (berpikir).

Di sela-sela cangkulan tanah, dia memikirkan istri dan anaknya, apakah mereka bisa makan atau tidak ?, bisakah anaknya pendapat pendidikan yang layak ?, yang paling penting, sudahkah dia menjaga diri dan keluarganya, dari jilatan api neraka kelak ?. Dan aku pastikan lagi, tidak hanya itu yang dipikirkan oleh petani, terlalu kompleks bila di tuturkan.

Dengan uletnya petani menanam bibit, yang belum tentu bisa di panen, tapi dengan yakin dan sabar ,petani terus saja mencangkul, karena dengan itu, rahmat Tuhan akan tertuai.

Dari petani aku banyak belajar, siapa yang menanam maka ia yang akan menuai, itulah prinsip dasarnya. Hidup ini tak selamanya seperti makan cabe, saat itu di gigit, saat itu pula akibatnya terasa. Dari petani aku belajar pengetahuan tentang indahnya penantian. Menanti tak selamanya membosankan, justru di sela-sela penantian itu, banyak persiapan untuk berjumpa di hari yang dinanti. Bukankah kita menanti hari-hari yang indah ? Belajarlah pada petani.

Jumat, 01 Juli 2016

SIAPAKAH DIA

Siapakah dia ??...
Yang terus bermuka masam
Orang-orang memandang...
Tak sedikitpun ramah-tamah
Orang-orang mendekat..
Dia lari sekencang-kencangnya
Tak ada sapaan...bahkan senyuman...
Senyum sekali...tak terasa dihati

Oh siapakah dia...??
Aku penasaran...

Senin, 27 Juni 2016

Kunci-Kunci Tabir

Rambut di atas pundakmu
Mengalihkan alam pikiranku
Kantung matamu
Buatku jatuh dan tak berdaya
Ah..... Apakah ini fatamorgana

Bukankah Tuhan telah berucap
Nikmat yang mana lagi yang akan kamu dustakan ??!
Bukankah semua yang ada merupakan pancaran-Mu ??
Akankah daku tertipu ??
Sebab belum tersingkapnya tabir...

Anggap saja, perempuan itu kunciku untuk membuka tabir-Mu
Maka akan daku jaga rasa ini...
Sebagai bekal perjalanan panjang..

Semoga,semoga dan terus semoga...

Kamis, 02 Juni 2016

WIRID SANG KASIH

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Wirid biasanya selalu dinisbahkan ke dalam kegiatan berdzikir nama Allah, yah…minimalnya disebutkan 33 kali, semisal tasbih,tahmid, takbir, atau bahkan asma-al-husna. Sebetulnya aku malu untuk menulis cerita seorang anak muda ini karena begitu lancangnya aku, menyebut wirid tidak dinisbahkan kepada Sang Pencipta Semesta…

Ini adalah sepenggal kisah seorang pemuda yang begitu mudah jatuh perasaan, bahkan dia acapkali menjadi the secret admirer seorang perempuan, Lazuardi namanya, mungkin dia lahir dikala lembayung senja.

*****

Padatnya jadwal kuliah, menjadikan aku malas melakukan kegiatan yang lainnya, hanya kuliah dan pulang. Rutinintas ngumpul bareng kawan-kawan pun sedikit demi sedikit mulai kutinggalkan, karena aku mulai resah dan kebingungan…. Kebingunan akan masa depan kelak, mau jadi apakah aku nanti, dikala titel sarjana menjadi penghias dalam deretan namaku ?.

Akhir-akhir ini aku sering merenungkan sesuatu yang seharusnya tak aku renungkan (tepatnya, menghayal), dari mulai menjadi orang kaya, hinngga menjadi penguasa…… aku benamkan wajahku di atas bantal empuk, lambat laun kesadaran ku memudar, masuklah aku kedalam kesadaran semesta.

Sayup-sayup terdengar panggilan…hayya ‘ala sholah…. aku mulai tersadarkan kembali, kesadaran semesta aku tinggalkan, tubuh bergerak untuk mengambil kesejukan air, sumber kehidupan, yang tanpanya manusia takkan bisa hidup. Wajahku basuh, ngarai-ngarai mulai memberi jalan air, tirai kegaiban terbuka, bak pentas teatrikal, sujud sembahku pada Sang Penguasa Semesta !!, tak ada lagi yang bisa daku sombongkan, tak sanggup daku mencari tumpuan dan harapan, Wahai Tuhan semesta alam, daku sudah tak sanggup lagi menerima cobaan dan rintangan, daku takut masuk ke dalam jurang-jurang kemusyrikan, hanya Engkaulah harapan terakhirku.. Namun begitu lancanya daku ini.hingga terucap ungkapan “Akankah engkau masukan aku kepada siksa-Mu sedang aku meng-Esakan-Mu ?”…..

Pada saat mentari masih malu-malu memancarkan cahaya kehidupan, setiap itu pula aku baktikan hidupku untuk mengabdi kepada orang pertama yang mengucurkan darah untuku. Setelah itu aku siapkan diri untuk menyongsong masa depan yang masih samar-samar terlihat…

Seminar internasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di sebuah hotel di Kota Bandung. Aku pun ikut di dalamnya sekedar untuk mendapatkan sertifikat, dengan harapan kelak nanti akan terpakai. Season pertamapun usai, dan para peserta dipersilahkan untuk istirahat, aku duduk bersama kawan-kawan di loby hotel, hanya berbincang-bincang dengan secangkir kopi, yang bagiku tak akan sanggup untuk membelinya di kampus. Penglihatanku terus berkeliling di sekitar loby hotel, aku takjub dengan design yang bergitu mewahnya, serasa aku tinggal di sebuah istana dan melupakan para kaum papa.

Dikala pandangan ku tak lepas dari anak tangga yang sangat megah, pada saat itu pula turun seorang perempuan dengan langkah tegas, memakai pakaian rapih, dengan rambut sepundak, matanya yang sayu, dan senyumnya, bak embun di pagi hari yang syahdu. Mungkin ini adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak bisa di dustakan, pandanganku tak bisa lepas dari sosok perempuan itu.

Aku tak henti-hentinya memandang perempuan itu, aku temukan dia dalam samudra ingatanku, yah…. Dia kawan masa sekolahku dulu, dengan langkah ragu aku dekati dia, barang menanyakan kabar saja…. Ternyata dia sempat tertegun ketika ditanya, mungkin dia melihat banyak perbedaan dalam diri ku ini….. obrolan terus mengalir begitu saja, dan aku tahu sekarang, bahwa dia mengambil kuliah perhotelan di salah satu universitas ternama di Bandung, dan dia sekarang sedang melakukan penilitian untuk skripsi di hotel itu… ku akhiri obrolan dengan saling tukar contact person….

Seminar pun berakhir, aku mendapat sertifikat dan amplop dengan berisi uang Rp. 200.000, cukuplah unutk nongkrong di kampus selama tiga hari. Tapi semua itu tidak terlalu berharga, ketimbang pertemuan dengan kawan lama ku (perempuan), aku seperti bertemu dengan seluruh jiwa ragaku pada saat itu, ada sebuah gerakan esensial dalam diri, jika kata Carl Gustav Jung aku telah “berjumpa”. Dalam artian ada sebuah pengaruh pasca pertemuan tersebut. Akhirnya Ingatanku tak henti-hentinya menyebut nama perempuan itu, begitupun dengan bibir ku ini mengikuti apa yang di pikirkan.

Di waktu yang lain aku, mencoba membuka obrolan dalam dunia maya, dia responsive, apalagi aku, lebih responsive bahkan reaktif. Obrolan begitu cair. Dia seperti membuka peluang untuk aku bisa masuk di relung-relung hati perempuan itu. Ah… namun itu hanya pikiran ku saja, kalaupun iya, aku tak memiliki cukup keberanian untuk bisa masuk dan mengisi relung-relung itu, aku takut bukan relung yang aku isi, tapi malah labirin, yang nantinya kebingungan mencari jalan keluar.

Di usia kuliah yang sudah menginjak semester akhir, aku baru mulai menyukai buku, tapi hanya buku-buku novel saja, buku kuliah dan pemikiran terlalu berat bagi otak ku, novel Laila-Majnun menjadi novel pertama yang aku baca. Diri Qais seperti menjelama dalam diriku, nama perempuan itu menggema dalam gua ingatanku…

Ohh….dia…..oh….Dia…oh….Dia…Na…Oh….Dia…Dia…Na…Dia…Na…Dia…..Na…

Dalam kesempatan yang lain, perempuan itu mengajak bertemu, dan aku mengiyakannya. Dalam pertemuan itu dia becara begtiu dekat dan mesranya, tatapan matanya begitu menggoda, gerak bibirnya mengaruskan aku tunduk, dan suaranya seperti hembusan angin di kala fajar baru terbit, hingga burung-burung berkicau dengan  merdunya…… Dengan sikap dia seperti itu, justru aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ahanya bisa memandang, mendengar dan meresapi apa yang ada.

Dilema merunudng jiwaku, antara melawan perintah Tuhan, atau melawan perintah setan, yang aku tahu mengenai hubungan anatra perempuan dan laki-laki yang keduanya sudah dewasa (pacaran), tak ada yang mengharamkan dan tak ada juga yang menghalalkan. Aku gingung, harus bagaiamana?, jangankan untuk ijtihad, pemahaman keagamaan ku sangat minim.

Akhirnya aku ikuti apa kata hatiku,mungkin itulah pilihan yang tepat untuk saat ini, karena aku masih yakin manusia masih memiliki kecenderungan akan kebenaran, dalam setiap langkah hidupnya.......

OH..DIA….NA….DIA…NA….DIA…..NA…DIA….NA….DIA…NA..DIA….NA.DIA…NADIA…NADIA…NADIA…NADIA…NADIA…NADIA…






Senin, 30 Mei 2016

MELAMAUPAUI "KETINGGIAN"

Ada pepatah "semakin tinggi pohon menjulang semakin besar angin menerpa". Ya... itu memang pepatah yang arif !
Dan biasanya selalu diumbar oleh manusia-manusia yang beruntung mendapatkan "posisi" di atas (baik secara kultur maupun struktur). Alih-alih sebagai motivasi ! Itu tidak terlalu menjadi soal !!

Tapi aku mencoba membayangkan lebih jauh lagi, jika pohon itu menjulang lebih tinggi, bukan lagi angin besar menerpa, tapi lapisan atmosfer bumi, yang bisa mengikis meteor, apalagi pohon ? Mungkin jadi debu.

Coba bayangkan lebih jauh lagi, jika "pohon" menjulang lebih tinggi lagi, melampaui atmosfer !, sudah tak ada lagi hempasan, hanya ruang hampa ! Yang ada hanya tatanan kosmic, sudah tidak ada lagi posisi atas, bawah, samping !! Ya,, hanya ruang hampa, kita melebur dengan entitas-entitas lainnya.

Jadilah lebih "tinggi", tapi kalau masih merasa ada posisi atas,bawah,samping ! Kita belum melampaui "ketinggian" !

Ini bukan nasihat ataupun untaian kalimat arif !! Hanya khayalan semata ! Daripada melamun atau sesumbar, aku memilih untuk menuliskannya !!

Kamis, 26 November 2015

AKANKAH KAMU KELUAR DARI HMI ?!

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
 
Salam Sejahtera
Salam Se-Nusa Se-Bangsa,
Salam bagimu wahai Pecinta
Salam bagimu moyang bangsa Idonesia
Salam bagimu wahai leluhur Insan Cita
Salam bagi kader umat dan kader bangsa         

Tulisan lepas ini, hanya refleksi, mencoba insyafi diri, harapan para pengabdi, untuk bumi pertiwi, membangun peradaban islami.

Usiaku di HMI baru dua tahun, bak bayi yang baru di sapih oleh sang bunda, mungkin aku juga akan di sapih oleh HMI, sang bunda bukannya enggan untuk menyusui anaknya, tapi itulah kasih bunda untuk sang putra, untuk bisa beratahan hidup di alam raya, sebagai manusia, wakil Tuhan di semesta. Bagiku tahun ini, waktunya HMI untuk menyapihku, mungkin dengan cara lain, semesta ini samudera kemungkinan, aku harus pandai memilah dan memilih. Di sapih bukan berarti lepas, justru memberi kemerdekaan tanpa harus menghilangkan indentas, guna tercapainya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT, dengan karakter Insan Cita.
Di usia nya yang sudah tak muda lagi, HMI banyak digoncang dari berbagai arah, ada yang menggoncang sebab ingin membangun, ada pula yang menggoncang sebab ingin menghancurkan. Pada bulan ini (November 2015) HMI mengadakan hajatan besar dua tahunan, Kongres, penentu penguasa struktural, penentu arah juang, penentu perkarderan, penentu implementasi misi HMI.  Tapi propaganda media memperlihatkan wajah HMI dengan wajah lain, seolah-olah HMI perusak dan penghancur bangsa, atau.. itu bukan propaganda tapi fakta, entahlah…, coba tanyakan kepada kawan-kawan yang sedang berjuang di kongres. Sebagai kader HMI aku agak merinding melihat propaganda media masa, antara percaya atau tidak. Jika kata Choamsky, Politik adalah kuasa media. Mungkinkah itu dari agenda seting dari penguasa Indonseia?, bisa iya,bisa tidak. Bahkan ada yang bertanya dengan nada sinis, seolah-olah senang melihat HMI demikian, bahkan ada yang ekstrim, “coba lihat para kader HMI, kamu kader HMI-kan?, lebih baik keluar dari keanggotaan!”. Sangat mengerikan, akan ku jawab dalam tulisan lepas ini.
HMI lahir di Jogjakarta oleh beberapa mahasiswa, yang mempunyai cara pandang yang maju, mereka tidak berfikir lemah, mereka berfikir universal, tapi dalam gerak tidak melupakan yang parsial, dengan misi menyelamatkan bangsa dan Negara juga agama. Mungkin kalian lebih paham sejarah HMI ketimbang aku ini. Aku masih ingat dengan ritual pertama perkaderan HMI, yah..Basic Training LK 1, aku dibina disini, dari mulai dihancurkannya doktrin-doktrin selama ini yang dikira kurang tepat, hingga di dampar untuk mempertahankan gagasan. Pada waktu itu aku disuruh untuk mengafal sebuah kalimat “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab akan terwuwjudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.”.  Belakangan, aku tahu itu adalah mission HMI, sungguh mulia misi mu wahai sang Hijau Hitam.
Doktrin HMI yang paling fundamental adalah tentang Kebenaran, kita harus mempunyai kerangka tentang Kebenaran, setidaknya untuk diri kita sendiri, jika tak bisa untuk orang lain. Dalam sebuah kesempatan di pusgit di adakan diskusi tentang NDP (Nilai Dasar Perjuangan), teks ideologis bagi kader HMI, masih terngiang dalam benak ku paragraph ke-empat bab 1 :

“pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.”

Dengan keadaan kongres sekarang ini, mungkinkah HMI sudah melenceng dari tujuan awalnya?, lagi-lagi… bisa iya, bisa tidak. Aku bukanlah peserta kongres yang tahu situasi dan kondisi faktualnya, maka kurang tepat jika aku langsung menyimpulkan. Aku berbaik sangka pada kongres saat ini, mungkin aku memandang gejolak-gejolak yang ada di kongres, adalah berbedanya cara memandang dalam memperjuangkan kebenaran. Kalau demikian, apakah kebenaran itu relatif?, tergantung kebenaran mana yang kalian pegang, Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah, aku berkesimpulan bahwa, kalau lah yang di bawa adalah misi Tauhid, maka itu mutlak, selain dari misi Tauhid adalah relatif… Renungkanlah…!! Misi apa yang kita bawa ?!
Dalam konstitusi HMI disebutkan bahwa HMI sifatnya Independen, bagiku independensi HMI, adalah hanya “berkoalisi” dengan kebenaran yang mutlak yaitu Tuhan Allah, jadi koalisi HMI adalah “Koalisi Ilahiyah”. Status HMI adalah organisasi mahasiswa yang kental dengan budaya akademik (membaca,menulis,diskusi,mengabdi untuk bangsa), lalu fungsinya sebagai organisasi kader, dan kader itu sendiri menurut A.S. Hornby adalah Sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Mungkin inilah sebagian kecil ulasan mengenai HMI dari seorang kader yang usianya baru dua tahun di HMI… Maafkanlah !!
Lalu kembali pada pertanyaan awal, akankah keluar dari HMI ?, kalau lah ada lagi yang bertanya atau menyuruh seperti itu kepada ku, maka akan aku suruh dia keluar dari kelompoknya (baik dalam agama Islam,Kristen, hindu, budha, dll, atau organisasi baik intra maupun ekstra kampus, atau juga komunal-komunal yang lainnya). Karena, bagiku pertanyaan itu, mengandung kesalahan berfikir, yaitu over generalis, (Generalisasi tergesa-gesa), dalam logika, tak bisa kejadian-kejadian atau fakta-fakta parsial yang tidak cukup, atau karena tidak memakai batasan, di generalisasikan. Semisal : Ikmal  mahasiswa bodoh, Ikmal kader HMI, maka kader HMI bodoh. Selain over generalis, sekaligus kesalahan silogisme. Mungkin itulah anggapan aku pada orang yang bertanya seperti diatas. Ada kader HMI yang urakan, maka HMI urakan. Mengapa kamu tidak keluar dari HMI yang urakan ?, sekali lagi, bagiku itu adalah kesalahan berfikir !!
Indonesia merupakan Negara yang pendudukunya, beragama Islam. Lalu banyak sekali di Indonesia orang bajingan, dari Koruptor yang “beretika”, hinngga orang urakan pemerkosa. Kita juga orang Indonesia, banyak orang yang ingin berjasa sampai mencari penghasilan dengan memanipulasi data. Akan kah kamu keluar dari Islam dan Indonesia ?, tak usah dijawab dengan kata, itu kesalahan berfikir. Jawablah dengan karya, mungkin Socrates tidak akan dikenal jika tidak ada karya Plato. Kisah Laila Majnun tak akan abadi jika tak dituliskan, Nusantara terkikis karena karya nenek moyang tak dipertahankan. Karya apa yang akan kita persembahkan untuk HMI, Umat dan Bangsa ?!, Karya tidak hanya tulisan, tapi lebih dari itu semua ! Pengabdian.

Aku Rindu ketabahan Lafran Pane
Aku Rindu liarnya pikiran Wahib
Aku Rindu kedalaman pikiran Cak Nur
Aku ingin melihat kembali hangatnya senyum Sakib Mahmud
Aku belum membaca karya Endang Syaefudin Anshary
Aku ingin menjadi kader umat dan kader bangsa
Tapi aku belum bisa memantaskan diri untuk ADA…

Salam Sejahtera aku haturkan untuk Kakanda,Ayunda,Adinda, dan kawan-kawan seperjuangan HMI Se-Nusa dan Se-Bangsa. Kita berproses bersama, kita berjuang bersama, kita tumbuh bersama, kalau ada kesalahpahaman kendaknya saling memaafkan.


Bi-Allahi taufiq wa-al-hidayah.  

Selasa, 17 November 2015

BELAJAR KEHIDUPAN DARI KARINDING

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi

Sebelum masuk pada inti tulisan ini, aku mau bercerita dahulu bagaimana aku bisa kenal dan belajar karinding !

Waktu itu aku masih ingat awal tahun 2011, dalam sebuah kegiatan di SMA, kawan-kawan seangkatan menampilkan komposisi musik dari bambu, yang kata mereka adalah alat musik tradisional Sunda. Alat yang dimainkan pada saat itu, ada karinding,celempung, dan empet/toleat. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa masa SMA adalah masa yang indah, orang-orang sering bergerombol membuat geng, dll. Dan biasanya gaya hidup pada masa itu sering terbawa arus (ngikut sana, ngikut sini). Akulah salah satunya, yang ikut-ikutan tertarik untuk mengenal alat musik bambu tersbut. Mulailah aku bertanya-tanya alat musik itu, dari mulai apa itu namanya, belinya dimana, siapa pembutnya, bagaiman membuatnya dan bagaimana memainkannya. Sekedar informasi…pada waktu itu, di daerah cicalengka khususnya, umumnya Bandung, sedang ramai-ramainya mengembalikan budaya Sunda, dikalangan kaum muda, band-band modern pun sering disisipi alat musik tradisional, hingga pakaian-pakaian orang Sunda dahulu di munculkan kembali, semisal memakai ikat kepala.

Di waktu yang lain, ada kawanku yang menyuruh datang kesebuah rumah di Cikuya, masih daerah Cicalengka, yang kata dia merupakan seniman. Dua orang kawanku duluan kesana, pada hari itu aku tidak ikut, karena masih ada keperluan yang lain, dan kata dua kawanku, seniman itu agak aneh, katanya dikala orang-orang menjual karinding, dia tidak membolehkan menjual karinding, dan katanya karinding itu tidak hanya untuk tontonan tapi untuk dijadikan tuntunan. Tibalah waktunya aku dan kawan-kawan datang kerumahnya, pertama kali masuk di ruang tamunya aku di suguhi dengan berbagai macam karya seni, dari mulai lukisan, hingga alat musik pedesaan. Perbincangan pun dimulai pada saat itu, orangnya,ramah dan cukup akrab, namun pada saat itu aku sempat berfikir, orang itu (seniman) agaknya selalu keluar dari kebiasaan orang (mainstream), namanya Sabar Diana (orang-orang sering menyebutnya Apih). Dari dialah aku mengenal karinding, dan pada saat pertama kali aku datang dia tidak memperlihatkan karindingya, malah dia berbicara tentang karinding. Beberapa kali aku kesana (kurang lebih empat kali), dia tidak kunjung memperlihatkan karinding, dan selama itu kami hanya berdiskusi mengenai karinding dan Sunda, baru setelah itu dia memperlihatkan karinding, dan memberi kita karinding. Sejak saat itulah aku mulai tertarik kepada karinding, dan mulai sadar, mengapa Apih tidak memberi kami karinding waktu pertama kali datang.

Cukup ceritanya yah…, kalau di tuliskan akan jadi sebuah cerpen…..heheh.
Dalam tulisan ini, adalah hasil diskusi dan pengalaman aku selama ini, tentang karinding…, mungkin tidak ilmiah (karena belum ada referensi), tulisan ini seperti dialognya Plato dengan Socrates, yang menghasilkan buku Republic, karena Socrates tidak mempunyai tulisan, begitupun dengan Karinding, aku belum menemukan hasil studi mengenai sejarah karinding ….

Apih menuturkan kepada kami bahwa karinding itu adalah alat musik buhun (dulu/purba), yang belum bisa ditemukan siapa yang pertama kali menciptakannya. Dan alat musik seperti ini, hampir terdapat diseluruh belahan dunia, namun agak berbeda dari segi yang lainnya, tapi umumnya hampir sama, menurut dia (Apih), yang didapatkan informasinya dari Abah Entang (dia adalah maestro karinding, yang mengenalkan karinding kepada Apih), bahwa ada tiga filosofi karinding, yaitu yakin, sadar dan sabar. Dan tiga filosofi itu di ambil dari tiga bagian karinding yaitu ada bagian panyepeng (tempat memegang), cecet ucing (bagian diamana harus disimpan di mulut ketikka hendak memainkannnya), dan  pangkal laras (bagian untuk melaraskan nada waktu membuat, dan bagian yang dipukul ketika hendak dimainkan).

Bagian panyepeng adalah wilayahnya keyakinan, dalam artian ketika kita memiliki pegangan, kita harus meyakininya secara menyeluruh, karena kalau kita mempunyai pegangan tanpa adanya keyakinan, mungkin saja pegangan itu akan lepas. Dalam wilyah keagamaan sering disebut dengan iman. Lalu cecet ucing, adalah untuk wilayah kesadaran, karena wilayah itu ketika dimainkan jarum di bagian tengahnya tidak stagnan, tapi dinamis, karena untuk menghasilkan resonansi suara, dan pada proses pembuatan harus teliti,dan konsentrasi, kaena cukup rumit. Maka dari itu, ketika kita bergerak secara dinamis kita memerlukan kesadaran yang kuat, supaya terarah dan menghasilkan bunyi yang harmonis. Begitupun dalam kehidupan ketika kita bergerak dinamis, kalau kesadaran dihilangkan maka gerak kita sebagai manusia, akan tidak adan gunanya, semisal orang gila, dia bergerak namun sedikit gunanya, baik untuk indvidu maupun kelompok, baik spiritual maupun material. Dan yang terakhir, adalah pangkal laras, dan ini wilayah kesabaran, karena dalam proses pembuatan, kita harus teliti dalam menipiskan bambu pada wilayah itu, kalau tidak maka vibrasi yang dihasilkan akan kurang, dan pengaruhnya terhadap suara yang dihasilkan, lalu ketika memainkannya pun kita harus sabar, jika kita memukul dengan pukulan keras, maka karinding akan patah, kita harus tepat sasaran, meskipun tidak keras pukulan kita, maka akan menghasilkan getaran, jadi masalah kesabaran adalah sentuhan, ada kalanya sentuhan itu kasar tetapi tepat sasaran maka tidak akan menghasilkan kesakitan, tetapi jika sentuhan itu meskipun lembut, tapi tidak tepat sasaran, maka akan menghasilkan kesakitan. Dan lembut atau kasarnya masalah sentuhan, tergantun ritme kita memainkannya, itulah kesabaran.

Lalu ada lagi, falsafah karinding mengenai siklus kehidupan, ada tiga siklus kehidupan, yang diambil dari tiga bagian karinding, jikalau pembahasan diatas, diawali dari bagain panyepeng, sekarang di awali dari pangkal laras. Bagian pangkal laras merupakan kehidupan di alam rahim, ketika kita masih berada di janin ibunda kita, kenapa bagian ini, merupakan bagian kesabaran karena proses ini, kita dalam harus bisa sabara, terutama ibunda kita, dan baik buruk kehidupan diluar kita akan memperuhi kehidupan kita kita selanjutnya, khususnya dalam bentuk fisik kita,   makanya seringkali dokter memberi pantrangan,pantrangan kepaka ibu hamil. Bagian yang kedua adalah cecet ucing yang menandakan kehidupan kita di dunia, karena melihat bagian ini yang selalu dinamis,kadang pada posisi diatas, kadang pula di bawah. Maka diatas disebutkan bagian ini adalah wilayah kesadaran, jadi dalam kehidupan dunia ini kita memerlukan kesadaran (rasionalitas / atau intuisi), agar kita bisa memaknainya secara bijaksana yang akan menimbulakn keharmonisan. Dan yang terakhir, panyepeng, yang menandakan pasca kematian, atau dalam agama-agama sering disebut akhirat (kehidupan pasca kematian), dan disinalah kita akan berpulang kepada pegangan kita, keyakinan kita, yaitu Sang Mahak Kuasa, Tuhan Semesta Alam.

Setelah kita sedikit membahas bagaiamana falsafah karinding itu sendiri, lalu yang menjadi persoalan di masa sekarang ini, yaitu komersialitas… apakah karinding barang komersil ? pelajaran apa yang bisa kita ambil dari status karinding ?

Dalam masyarakat modern budaya komersilisem dan konsumerisme, sudah tidak asing lagi, kebanyakan orang sudah enggan melakukan proses yang rumit, yang mau dilakukan adalah proses cepat dan instan, sehingga orang-orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu apapun dengan cara cepat dan instan. Dari permasalahn inilah kita bisa mengambil pelajaran dari tidak di jualnya karinding. Kenapa demikian, mungkin orang sah-sah saja untuk menjual karinding dengan argumentasi bahwa dahulu belum ada uang kertas, yang ada hanya barter (tukar barang). Tapi bagi aku tidak sesederhana itu, dari tidak dijualnya karinding kita bisa selalu membangun persaudaraan. Dalam hal jual-beli di era modern, tidak ada sebuah ikatan persaudaraan antara penjual dan pembeli yang ada hanya ikatan kepentingan, begitupun kalau karinding di jual belikan, dampaknya  akan seperti demikian, setelah itu, tidak komunikasi antar penjual dan pembeli atas nama persaudaraan kemanusiaan. Dari tidak dijualnya karinding justru untuk menumbuhkan tali persaudaraan (duduluran) atau dalam istilahnya “jadi saudara sebab bambu satu jengkal (jadi dulur ku awi sajengkal). Mungkin, kenapa leluhur kita dahulu tidak menjadikan karinding sebagai barang komersil, tujuannya tidak lain, hanya untuk menjaga rasa persaudaraan antar sesama manusia, dan penghormatan terhadap alam.

Itulah pelajaran yang bisa aku ambil dari karinding dan tulisan ini kupersembahkan untuk semua orang agar bisa mengambil pelajaran. Mungkin tafsiran ini bisa jadi salah atau benar, tapi inilah pengetahuan yang aku terima dan pengalaman yang aku rasakan.

Hapunten anu kasuhun, bilih kumaha wantun ka Karuhun
Ampun paralun lain rek adigung
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wangi

Hampura,Hampura,Hampura
Rahayu



Jumat, 13 November 2015

NABI DAN RASUL : MANUSIA PILIHAN SEBAGAI KREATOR BUDAYA DAN PERADABAN ILAHIYAH

Oleh : Muhamad Ikmal Assidiqi
NABI DAN RASUL
Dalam khazanah ilmu ke-islaman terma Nabi dan Rasul sudah tidak asing lagi di dengar, dari sejak kecil kaum muslimin sudah di kenalkan kepada para Nabi yang wajib di ketahui dari mulai Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Hingga bermunculan banyak karya-karya yang membahas Nabi dari bentuk lagu hingga karya tulis ilmiah. Sejarah Nabi-nabi pun di kisahkan dari satu generasi ke generasi selanjutanya, dari Kisah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Kita ketahui bagaimana Nuh membuat perahu besar untuk menyelamatkan pengikutnya dari banjir yang sangat dahsyat, hingga saat ini para ilmuwan masih meneliti artefak tersebut, lalu kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Ibrahim, hinnga setelah mencapai pencerahan Ibrahim membuat tradisi, yang hingga hari ini tradisi tersebut dipakai oleh Umat Islam, yakni Haji.
Dari Ibrahim lah embrio ke-nabian semit bermula. Khususnya umat islam menyebut Ibrahim sebagai Bapaknya Para Nabi, dari istri pertama melahirkan Ishaq yang merupakan nenek moyang Bani Israil, dan dari Ishaq pula banyak muncul para Nabi, lalu dari Istri kedua lahir Ismail, namun tidak sama dengan saudaranya Ishaq, dari Ismail “lahir” seorang Nabi yang sangat jauh zamannya, yaitu Muhammad ibn Abdillah.
Seperti yang pada umumnya orang ketahui, sejarah para Nabi biasanya ditandai oleh satu kaum yang tatanan sosial dan kulturnya cukup semrawut, Nuh datang untuk menghilangkan tradisi menyembah berhala, Ibrahim membawa misi monotheisme, hingga dia menghancurkan patung-patung yang dibuat oleh ayahanya, Musa dengan semangat montheisme, yang mengharuskan kemerdekan, menentang kezaliman Fir’aun, dan Muhammad hadir untuk merevolusi tatanan bangsa Arab yang pada waktu itu, praktik-praktik Jahiliyah masih dilakukan.
Mari kita masuk ke dalam pengertian Nabi itu sendiri, bahwa kata Nabi berasal dari bahasa Ibrani, nabhi, ini tidak dikenal di lingkunan Arab pra Islam. Kata ini dalam bentukannya dan makan akar katanya dapat juga dilacak pada akar kata NB yang berasal dari zaman semitik kuno yang berarti “mengumumkan” atau “menyatakan”,. Kata naba yang banyak dipergunakan orang Arab pra-Islam dimaknai sebagai “ berita tentang sesuatu yang mengandung urusan yang penting atau berita yang besar manfaatnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu”.1
Sedang kata rasul  diterjemahkan sebagai “apostel”, “messenger of God” atau utusan. Kata ini berasal dari kata arsal,  yang artinya mengutus. Kata Nabi  muncul dalam Al-Quran lebih sering daripada kata-kata mubasysyirin atau basyir, mundzirin atau nadzir, dan mudzakkir, walaupun tidak sesering kata rasul. Menurut kronologi Noldeke, yang dikutip oleh Dadan Rusmana dan Yayan Rahtikawati, kata ini pertama kali muncul dalam periode Makkiyah tengah. Akan tetapi dalam penanggalan Richard Bell, keseluruah contoh penggunaan kata ini dimasukkan ke dalam ayat-ayat Madaniyyah dengan pengecualian Q.S. Al-Isra :17,. Menurut Watt, berdasar pada kronologi Bell, yang dikutip Dadan Rusamana dan Yayan Rahtika, hali ini dapat saja menunjukkan bahwa kaum muslim mulai akrab dengan kata nabi  tersebut melalu hubungannya dengan orang-orang Yahudi Madinah.2
Adapun menurut istilah, nabiyy dan rasul adalah seseorang yang diberi wahyu berisikan Syariat (wahyu), dan ditugaskan menyapaiakan wahyu tersebut kepada umatnya. Oleh karena itu, nabi dan rasul bermakna sama, artinya utusan atau orang yang mengemban risalah3. Adapun pendapat lain yang mebedaka antara nabi dan rasul. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu syariat dari Allah untuk dilaksanakan sendiri, sedang rasul adalah seerong yang mernerima wahyu syariat dari Allah untuk dilaksankan sendiri dan agar disampaikan kepada umatnya.4 Jika mengikuti pendapat yang kedua bahwa setiap rasul pasti nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul.
Dengan murujuk Al-Quran sebagai sumber primer umat Islam (Q.S Maryam ayat 51,54) Dadan Rusamana dan Yayan Rahtikawati berkesimpulan bahwa Al-Quran tidak pernah menerangkan perbedaan antara nabi dan rasul seperti di atas, tetapi menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, yang menunjukkan bahwa kara rasul merupakan sebutan lain untuk kata nabi. Orang yang sama, kadang-kadang disebut rasul, tetapi di tempat lain disebut nabi, kadang-kadang disebut rasul dan nabi sekaligus.

Kalaupun ada,  perbedaannya hanya terletak pada kenyataan bahwa para rasul itu mengandung arti yang lebih luas, yang maknanyay dapat diterapkan kepada sembarang utusan yang mengemban suatu pesan.5

MISI NUBUWWAH DAN HUBUNGANNYA SEBAGI KREATOR BUDAYA
1.           Misi ke Tauhidan.
Dalam surat Al-Anbiya ayat 25, yang artinya :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selai Aku, maka sembahlah Aku”.

Jika melihat teks ayat di atas sangat jelas sekali, bahwa di utusnya Nabi adalah untuk menyampaikan bahwa tidak ada sembahan selain Allah, inilah misi Tauhid jika menurut Nurcholis Madjid dalam Ensiklopedi Nurcholis Madjid yang disusun oleh Budy Munawwar-Racman :6
“Kata-kata itu merupakan kata benda kerja (verbal noun) aktif (yakni memerlukan pelengkap penderita atau objek), sebuah derivasi atau tashrîf dari kata-kata “wâhid” yang artinya “satu” atau “esa”. Maka makna harfiah “tawhîd ialah “menyatukan” atau “mengesakan”. Bahkan dalam makna generiknya juga digunakan untuk arti “mempersatukan” hal-hal yang terserak-serak atau terpecahpecah, misalnya, penggunaan dalam Bahasa Arab “tawhîd al-kalîmah” yang kurang lebih berarti “mempersatukan paham”, dan dalam ungkapan “tawhîd al-quwwah” yang berarti “mempersatukan kekuatan”. Sebagai istilah teknis dalam Ilmu Kalam (yang diciptakan oleh para mutakallim atau ahli teologi dialektis Islam), kata-kata “tawhîd”dimaksudkan sebagai paham “me-Maha Esa-kan Tuhan”, atau lebih sederhananya, paham “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atau “monoteisme”. Meskipun bentuk harfiah kata-kata “tawhîd” tidak terdapat dalam Kitab Suci Al-Quran (yang ada dalam Al-Quran ialah kata-kata “ahad” dan “wâhid”). Bahkan kata-kata tawhîd juga secara tepat menggambarkan inti ajaran semua nabi dan rasul Tuhan, yang mereka itu telah diutus untuk setiap kelompok manusia di bumi sampai tampilnya Nabi Muhammad Saw., yaitu ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Masalah dampak pembebasan semangat tawhîd dalam hidup manusia sering muncul dalam berbagai percakapan serius di masa masa akhir ini. Pembahasan itu biasanya merupakan bagian dari dambaan manusia, khususnya kaum Muslim, kepada pandangan hidup yang mampu membawa kebebasan dari berbagai belenggu zaman modern”.


Selain membawa misi ke-Tauhidan para Nabi pun membawa misi kebajikan dan kebijaksanaan, seperti yang di ungkapkan Ali ibn Abi Thalib dalam Khotbahnya yang di susun dalam Nahjul Balaghah :7
“Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya, untuk berhujah kepada mereka dengan tablig, untuk membukakan di hadapan mereka kebajikan-kebajikan dan kebijakasanaan yang tersembunyi, dan menunjukan kepada mareka tanda-tanda Kemahakuasaan-Nya, yakni langit yang dintinggikan di atas mereka, bumi yang ditempatkan di bawah mereka, rezeki yang memlihara mereka, ajal yang mematikan mereka, sakit yang menuakan mereka, dan kejadian susul menyusul yang menimpa mereka. Allah Yang Mahasuci tak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argument yang mengikat atau dalil yang kuat”.

Jadi misi pertama adalah Tauhid (meniadakan sembahan lain selain Allah), dan ini berlaku untuk semua nabi, ekses dari Tauhid inilah akan memunculkan kesamaan ketika memandang makhluk Allah, logika sederhananya, jika Allah satu maka selain Allah banyak (plural), jika Allah Mutlak maka makhluknya nisbi (relafif), maka tidak ada makhuk pun yang bisa dijadikan sandaran, karena akan menciderai nilai-nilai ke-Tauhidan itu sendiri. Dampak terhadap kehidupan sosial inilah maka manusia adalah sama, kecuali yang membedakannya adalah ketaqwaan, Q.S Al-Hujurat 13.
Maka dari itu, sejarah para nabi selalu berhadapan dengan kaum mustakbiriin (meminjam bahasa Ali Syari’ati). Seperti Musa melawan tirani Fira’aun yang begitu sombongnya hingga dia menganggap dirinya sebagai sembahan (Tuhan), dan Muhammad yang menentang perbudakan dalam atmosfer sosial kultur Arab Jahiliyah pada waktu itu.
2.           Misi Mewujudkan Keadilan
Persoalan Keadilan dalam Islam, sangatlah luas dan membentang sepanjang sejarah. Dari mulai membahas Keadilan Ilahi, yang merdampak terhadap munculnya mazhab kalam dalam Islam (theology). Dalam pembahasan kali ini penulis tidak akan membahas Keadilan Ilahi dalam perspektif kalam Islam, akan tetapi membahas misi nubuwwah yang salah satunya adalah mewujudkan keadilan, seperti dalam surat Al-Hadid : 25 :
“Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusai dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdpat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi tiu) dan suapaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padalah Allah tidak dilihatnya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa”.

Dalam ayat ini, nabi mengemban misi untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat manuisia, dan juga agar manusia bangkit menegakkan keadilan, jadi, menurut ayat ini, tugas Nabi dan Rasul adalah menegakkan keadailan di tengah-tengah masayarakat. Namun para Nabi pun memerlukan cara bagaimana keadilan ditengah-tengah masayarkat bisa diwujudakan.
Menurut Nurcholis Madjid keadilan merupakan misi suci nubuwwah, para nabi semit (ibrahimiyyah), dikelompokan dalam ajaran yang berorientasi pada sejarah, Yakni, para nabi mengarahkan sasaran ajaran mereka kepada usaha memperbaiki peri- kehidupan manusia sebagaimana terwujud dalam sejarah. Dan disebut sejarah, karena cita-cita perbaikan itu hendak diwujudkan dalam pengalaman nyata hidup kolektif manusia di dunia ini, dalam konteks ruang dan waktu. Jadi, dapat disebut bahwa tema pokok usaha perbaikan (ishlâh) masyarakat oleh para nabi bangsa bangsa Semit ialah menegakkan keadilan. Dengan kata-kata lain, keadilan merupakan inti tugas suci (risâlah) para nabi.8
Menurut Jalaluddin Rakhmat, ketika Nabi menegakkan (pemerintahan) di muka bumi ini, Nabi pun tidak hanya menggunakan al-bayyinah, al-kitab, dan al-mizan, tetapi juga al-hadid, sebab ada saja orang-orang dalam setiap masyarakat ketika kita hendak menegakkan keadilan- yang tidak bisa diyakinakan denga al-kitab, tidak bisa diajak kepada keadilan dengan al-mizan. Bagi orang-orang seperti ini, tidak ada cara lain untuk mengadapinya kecuali dengan bahasa binatang yakni al-hadid atau besi yang didalamnya ada kekuatan-kekuatan dahsyat.9
Maka perbaikan sejarah merupakan misi suci kenabian, dan salah satu perbaikan sejarah itu bisa dilakukan dengan menegakkah keadilan, bisa dengan al-bayan, al-kitab,al-mizan. Ataupun dengan al-hadid karena seperti dalam letiratur sejarah bahwa para nabi selalu berhadapan dengan kaum mustakbiriin (pembesar), dimana tradisi feodalistik masih dipertahankan, dan biasanya para nabi dilahirkan dari kaum yang sederhana (secara ekonomi), maka kaum mustakbiriin enggan untuk menerima ajaran-ajaran para nabi. Maka dari itu al-hadid dirasa perlu untuk di pakai, dalam artian menggunakan logika kekuatan.
Penulis menputip dua misi nubuwwah ; pertama ke-Tauhid-an untuk mencapainya tidak harus menggunakan dalil-dalil rasionalistik dan empiric, tapi ada dimensi-dimensi lain yang boleh jadi manusia belum bisa menemukannaya, sebagai pendapat, kalaulah hakikat ke-esaan Allah bisa dicapai oleh makhluk berarti Allah masihlah terbatasi oleh pengetahuan manusia, maka di sinilah letak perlunya nabi untuk memberi pencerahan kepada ummatnya. Kedua ke-Adil-an secara sosial, berangkat dari nilai-nilai ke-Tauhidan, bahwa manusia satu tidak boleh menindas manusia lain, manusia manapun tak ada yang layak disembah dalam artian kita harus terus tunduk dan patuh, tanpa menganalisa dan mengkritisi terlebih dahulu.
Ada kesimpulan yang menarik dari Ali Syari’ati ketika membahas misi nubuwwah, Nabi adalah juga seorang dengan dua wajah yang kontras yang mengejawantah secara indah dalam satu spirit. Wajah keduniaanya mengejawantah dalam perang dan aksi-aksi sosial, dalam memerangi kekuatan-kekuatan yang destruktif di tengah-tengah masyarakat. Sedangakan wajah sucinya menampakkan diri dalam menyampaiakan amanat-amanat Allah bagi umat manusia. Dalam dirinya kenabian dan kempemimpinan memadu dan menyatu secara sangat serasi, sebagai penuntun yang membimbing kemanusiaan kearah suatu tujuan tertentu dan sebagai seorang hamba yang saleh, yang selalu berdoa dan mengabdi.10
   
Peran Nabi Muhammad Sebagai Kreator Budaya
1.                       Ke-Tauhidan,Ke-Adilan dan Ke-Ummatan
Nabi Muhammad ibn Abdillah dilahirkan pada tahun gajah kurang lebih sekitar 570 M, (12 Rabiul Awal),12 tahun ketika pasukan Abrahah menyerang mekah untuk menghancurkan Ka’bah, namun bukan kemenangan yang dicapai malah kehancuran. Ayahnya Abdullah ibn Abd Muthallib meninggal di kala Muhammad masih dalam kandungan Ibunda nya Aminah binti Wahhab.
Tempat kelahiran Nabi Muhammad, yang menurut Karen Armstron merpukan daerah tak bertuhan dan tak satu agama pun yang lebih maju dan modern berhasil di daerah tersebut.13 Pada saat itu, ghazwu antar suku, merendahkan harkat perempuan, tidak ada pemerataan ekonomi, sudah menjadi kebiasaan Arab pada masa itu, jika umumnya orang menyebut bangsa Arab Jahiliyah, bukan berarti bodoh, tidak bisa baca tulis atau mengembangkan teknologi, tapi bodoh secara mental,moral dan spiritual.
Seperti dalam pembahasan sebelumnya misi nubuwwah adalah ke-Tauhidan dan ke-Adilan, sudah pasti karena Muhammad seorang Nabi, misi sucinya pun akan sama. Di kala atmosfer Arabia yang pemahaman ke-Tuhannannya masih polytheistic, Nabi Muhammad datang dengan konsep monotheistic, tidak ada yang wajib disembah kecuali  Allah, dan konsekuensi logisnya adalah berahala-berhala yang mengelilingi Ka’bah harus di hancurkan.
 Lalu tentang ke-Adilan, Jalaluddin Rakhmat dengan mengutip pendapat Karen Armstrong, bahwa Reformasi pertama yang dilakukan Rasulullah adalah mengubah masyarakat yang berdasarkan penindasan kepada masyarakat yang berdasarkan keadilan. Salah satu unsur masyarakat yang berdasakan keadilan adalah masyarakat yang tuduk kepada Hukum. Semua orang tunduk kepada hukum; tidak ada orang yang bisa lepas dari ketentuan hukum.14 Terbutki beliau membuat konstitusi berdasakan musyawarah dengan orang Yahudi , Nashara, dan orang kafir tidak beragama, yang disebut Piagama Madinah, dan Piagam itu menurut Robert Bellah sangat maju pada zamannya, bahkan konstitusi pertama di Dunia adalah Piagam Madinah.
 Ada satu lagi kontribusi Nabi Muhammad adalah membangun umat, yaitu mengubah masyarakat dari system sosial yang berdasarakan kesukuan, kekeluargaan, dan kelompok komunitas yang berdasarkan ideology Islam; dari tribalisme ke komunitas, dari perasaan kekabilahan ke sebuah system yang didasarkan pada ikatan keislaman atau ukhuwah Islamiyyah.15
2.                       Lemah Lembut dan Pemaaf
Ada karakteristik lain sebagai kontribusi Nabi Muhammad yaitu budi pekerti luhur (al-akhlaq al-karimah), seperti dalam Surat Al-Qalam ; 3-4.
“sesungguhnya, bagimu Muhammad, pahala yang tiada terbatas dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”

Salah satu karakteristik dari budi yang luhur adalah Lemah lembut, bahwa Pemimpin itu hendaklah dia bersiap-siap untuk kecewa melihat kinerja para pegikutnya. Namun, selain harus sipa kecewa, dia juga harus siap tidak marah, dan harus bersikap lemah-lembut. Itu sangat sulit. Bagaiamana mungkin ketika kecewa, seseorang harus bersikap lemah lembut. Orang tidak bisa melakukannya kecuali dengan Rahmat Allah.16
Yang kedua adalah memaafkan, karena dala Surat Al-Imran ; 59. “…maafkan mereka mohonkan ampunan buat mereka…” menurut sebagian ahli tafsir, kata “maafkan mereka” masih berlaku jika kesalahan mereka itu berkenaan dengan hak kita, misalnya, mengecewakan kita, menyakiti kita, mengkhianati kita. Jika kesalahannya seperti itu, mereka harus kita maafkan. Tetapi, kalau mereka itu berdosa terhadap Allah, mohonkanlah ampunan buat mereka.17
Itulah kreasi budaya oleh Nabi Muhammad, pada saat Arabia yang gersang dengan karakter manusianya yang keras dan pedendam, beliau mengusulkan perilaku yang lemah lembut lagi pemaaf. Siapa pun yang mempelajari kehidupan Nabi tak dapat tidak pasti akan terkesan oleh watak spiritualnya serta keterampilan  politik dan admnistrasinya, suatu hal yang demikikan luar biasa dalam kepemimpian ummat manusia yang dalam kasus Nabi keterampilan tersebut seluruhnya diabdikan kepada visi spiritual yang direalisirnya. Sesungguhnya, sekali kita telah megnakui kenyataan ini, maka kita telah mengakui keunikan utusan Tuhan ini,yang tidak mengklaim apa pun juga bagi dirinya kecuali bahwa ia hanyalah alat dari risalah yang dibwanya, dan dengan demikian kita menermia tema pokok Islam.18



_____________________________________________________________
1.Dadan Rusmana dan Yayan Rahtikawati, Tafisr ayat-ayat Sosial Budaya,Pustaka Setia,Bandung,2013. hlm 200
2. Ibid, hlm 200
3. Ibid, hlm 201
4. Ibid, hlm 201
5.Ibid, hlm 201
6.Budy Munawwar-Rachman,Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 4,Edisi Digital Democracy Project,Jakarta,2012. Hal 3327
7. Syarif Radhi, Sarah Syed Ali Raza, Terj. Hasyim Assagaf,Puncak Kefasihan,Pilihan khotbah,surat, dan ucapan Ali bin Abi Thalib r.a.,Lentera,Jakarta,1997. hlm 6
8. Budy Munawwar-Rachman,Ensiklopedi Nurcholis Madjid Jilid 2,Edisi Digital Democracy Project,Jakarta,2012. Hal 1296
9. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 53
10. Ali Syari’ati, Tugas Cendikiawan Muslim,terj. M.Amien Rais, Rajawali Press,Jakarta,1991. Hal 18
12.Dedi Supriyadi,Sejarah Peradaban Islam,Pustak Setia,Bandung,2008. Hal 59
13. Karen Armstrom, Muhammad Sang Nabi,Risalah Gusti, Surabaya,2001. Hal 55
14. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 81
15. Jalaluddin Rakhmat, The Road to Muhammad,Mizan,Bandung,2009. Hal 86
16.Ibid, 66
17.Ibid 69



Selasa, 10 November 2015

BUTA HEJO VIS A VIS INSAN CITA


Legenda Buta Hejo biasanya selalu di ceritakan orang tua dahulu kepada anak kecil untuk menakut-nakuti, dia merupakan symbol kejahatan,keserakahan dan kebodohan. Dalam literature sunda, Buta adalah sesosok raksasa yang sangat jahat, kerjaannya adalah memakan manusia, dia juga acapkali berkoalisi dengan manusia durjana, hingga manusia durjana itu bisa memberi kan tumbal kepada sang buta tersebut. Mungkin sosok Buta Hejo ini hampir mirip dengan gundorewo (setan di tanah jawa).
Dalam tulisan lepas ini aku akan menambah perspektif lain terhadap sang buta, kalau dalam bahasa Indonesia kata buta, adalah manusia yang tidak bisa melihat (gelap,hitam), saya tidak akan menyinggung manusianya tapi gelapnya (hitam), kenapa hitam ?, ada banyak tafsiran mengenai warna hitam, ada yang menafsirkan dengan kedalaman ilmu pengetahuan, ada juga yang menafsirkan sebagai symbol kegelapan(kebodohan,kejahatan). Kali ini akan lebih cocok jika hitam di maknai dengan symbol kejahatan, kenapa kejahatan ? karena disini kita akan berbicara mengenai Buta Hejo.
Sebelum di lanjtukan, kiranya aku harus menceritakan dahulu pengalaman, (sebagai pengantar ke pembahasan selanjutnaya), ketika aku masuk salah satu organisasi ekstra kampus, yang telah banyak melahirkan manusia-manusia sakti, dan seringkali memberi warna terhadap perkembangan bangsa Indonesia ini, aku tidak akan menyebutkan nama organisasi nya, tapi ciri-ciri nya seperti ini, lambangnya perisai dengan dominasi warna hijau,hitam, dan sedikit garis putih. Disini aku mendapatkan sesuatu yang baru, dari sesuatu yang sangat baik hingga yang sangat buruk. Ada sebuah ritual yang harus dilewati, jika ingin menjadi anggota (kader) organisasi ini.
Misi organisasi ini, bagi aku sangatlah mulia, bagaiamana tidak mulia, aku akan coba tuliskan misinya “Terbinanya Insan akademis,pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Alla SWT”, mulia kan?, hanya orang gila yang tidak menyebut mulia !, bahkan anggotanya (kader) pun disebut sebagai kader ummat dan kader bangsa, tugas mereka begitu berat sekaligus mulia. Inilah Filsafat Manuisa versi organisasi Hijau Hitam, yang sering disebut dengan kualitas Insan Cita.
Dengan lima kualitas Insan Cita inilah organisasi ini membina kadernya menjadi manusia seutuhnya. Bagaiamana tidak, mari kita coba runtut satu persatu, Insan akademis, sangatlah jelas kadernya harus mahasiswa, dimana budaya membaca,menulis dan meniliti harus tetap hidup. Dari proses akademis inilah kader di tuntut untuk bisa mencipta, setalah itu membuat karya, dan karyanya tidak hanya didiamkan saja, tetapi harus di abdikan, dan yang paling utama adalah semua kegitannya harus berlandasakan Islam (kepasrahan kepada yang Maha Benar, Tuhan Allah), sehingga proses terakhirnya adalah bertanggung jawab untuk membangun estapeta peradaban umat manusia dengan segala potensi yang telah diberikan Allah.
 Di organisasi ini, orang akan di pandang ketika dia menguasai materi yang sangat controversial bagi para pemula, materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), kini orangnya sering disebut dengan NDP-er, salah satu teks ideologis bagi organisasi ini. Ada satu lagi, jika mau di pandang di organisasi ini, yaitu orang yang jago setingan politik, dari suksesi menjadi ketua komisarit hingga Pengurus Besar, dari tingkat HIMA Jurusan hingga ketua BEM Universitas. Masing-masing punya gaya dan budaya nya, tetapi sayangnya pada saat ini, sangat sedikit orang yang “mahir” dalam mengisi materi NDP. Dan yang lebih di sayangkan itu, ketika membuat setingan politik, kaidah-kaidah etika yang ada sering ditabrak, sehingga tak jarang ketika paska momen politik antara satu sama lain sering terjadi “perang dingin”.
Mungkin cukup uraian pengantarnya, lalu apa hubungannya antara buta hejo dengan organisasi yang mulia ini ?, aku di sini tidak akan membuat hubungan, tetapi membuat sebuah analisa (jika masih bisa disebut analisa), di awal tadi aku sebut buta hejo sebagi sosok jahat,serakah dan “bodoh”, selain sosok buta hejo aku juga menggambarkan sosok makhluk lain, insan cita, yang merupakan kumpulan lima kualitas diri manusia (Filsafat Manusia ala Sang Hijau Hitam).
Aku teringat dengan pembahasan NDP, bab 2, Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief). Bagi aku, jika manusia menginsafi kemanusiaan nya, tidak perlu masuk organisasi Hijau Hitam untuk bisa menjadi Insan Cita, karena secara naluriah akan menjadi seperti itu, Man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu “ Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”, Tuhan Allah lah sumber Kebenaran, dan kita akan terus berenang (tasbih) menuju-Nya.
Muthahhari membagi potensi dasariah itu menjadi tiga : Pertama Watak,biasanya digunakan untuk benda-benda mati, tetapi bisa pula digunakan untuk benda-benda hidup. Kedua  Insting, istilah ini kebanyakan diguanakan untuk binatang, dan jarang sekali digunakan untuk manusia, serta tidak pernah digunakan untuk benda-benda mati dan tumbuhan. Di dalam insting tersebut tedapat kondisi setangah sadar yang dengan itu bintang-binatang dapat dibedakan perjalanan hidupnya. Ketiga  Fitrah, istilah ini digunakan untuk manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia, dan bukan sesuatu yang diperoleh melalu usaha, Fitrah mirip dengan kesadaran. Sebab, manusia mengetahui bahwa dirinya mengetahui apa yang ia ketahui. Jadi, jika insting bersifat hewani, sedangkan Fitrah bersifat metahewani atau berkaitan dengan masalah-masalah kemanusiaan.
Lalu kenapa dalam perlanan sejarah umat manusia selalu saja ada manusia-manusia yang seringkali dipandang jahat oleh orang setelahnya, semisal Qabil yang membunuh Habil, Kan’an yang menolak ajakan bapaknya Nuh, Firaun Sang Tirani, atau cerita-cerita orang Sparta dan Troya, Ada Raja Gandara (Sengkuni) dalam Cerita Mahabarata, dan terlalu banyak lagi kejahatan yang tak perlu aku tulis. Mengapa demikian, jika merujuk kepada Muthahhari, karena manusia lebih mengedepankan insting di banding fitrah, Qabil membunuh saudaranya karena dia cemburu kepada Habil, yang istrinya lebih cantik dari istri Qabil, lalu Sengkuni memberi propaganda kepada Duryudana, untuk menguasai Kuru Setra agar dia punya posisi.
Seperti yang kita ketahui jika dalam pembahasan filsafat, dalam membahas manusia maka sering disebut dengan hayawan al-nathiq (hewan berfikir/sadar), maka tidak terlalu salah  mempunyai kesimpulan, jika kita melihat manuisa yang terlalu banyak mengedepankan sisi hewaninya maka dia akan bertindak seperti hewan,(mengecilkan atau bahkan menghilangkan rasio/kesadarannya), dan akan bertindak tidak berperikemanuisaan, Begitupun dengan Buta Hejo mungkin agak unik, kalau melihat mitologi yunani ada demigod (manusia setengah dewa), sentaurus (manusia setengah kuda/hewan), di kita ada buta hejo, sosok manusia tidak sempurna secara fisik dan mentalnya full hewan.
Nah,, waktunya aku menulis secara tersurat, kenapa aku membawa terma Buta Hejo, di awal aku membawa perspektif lain mengenai Buta (mungkin cocokolgi), yaitu Hitam, dan Hejo adalah warna Hijau, ada kesamaan dengan organisasi Hijau Hitam ini, bukan berarti Sang Hijau Hitam ini Buta Hejo, tetapi orang yang mengibarkan bendera sang hijau hitam bisa jadi dia Buta Hejo, atau aku pun bisa jadi Buta Hejo, karena boleh jadi kita memakai “seragam” hijau hitam tapi dari sisi mentalitas kita memakai mental hewani (insting). Karena dalam sejarah tak sedikit orang yang mengedepankan sisi hewaninya (jahat,serakah dan “bodoh”), begitupun di organisasi Hijau Hitam ini. Maka kualitas Insan Cita perlu kita insafi bersama, guna misi ideologis yang mulia ini, kecuali orang gila yang tidak menyebut mulia, dan kemuliaan ini tidak hanya teks dan konteks, tapi tanggung jawab, bagi ummat dan bangsa.

Bagi aku kualitas insan cita adalah persoalan Fitrah sedang kan Buta Hejo adalah persoalan insting. Tinggal bagaiaman setiap hati memilih mau Buta Hejo atau Insan Cita. 

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Aku bukanlah Aku jika Aku tidak berfikir. Aku manusia yang berusaha mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri.